DOMINIQUE LEGACY #Bab 1

picsart_09-16-12-06

copyright © 2016 icecreamgyu.wordpress.com

Gyu’s Story

Proudly Present

DOMINIQUE LEGACY

 —–oooooo—–

Author                  : tatadap

Title                       : DOMINIQUE LEGACY

Main Cast             : -Cho Kyu Hyun –Park Hyuna

Genre                    : Fantasy, Romance

Rating                    : 17 0r (+)

Length                   : Chapter

Desclimer             : Typo itu, BUMBU! Don’t try to copy-paste without permission!

Happy Reading!

 

—–oooooo—–

 

Salju yang turun lagi lagi tak mengurangi kehangatan yang berada disebuah rumah sederhana itu. Didalamnya, dipenuh dengan cinta dan kasih sayang yang di tebarkan disetiap sudut. Makan malam pun menjadi lebih bermakna ketika diselipi dengan beberapa canda dari anak tertua mereka, lalu si bungsu yang masih kecil menyahut dengan marah ketika kakaknya menggodanya hingga membuat kedua orang tua mereka tertawa.

 

Sebuah ketukan di pintu membuat sang Ibu berdiri untuk menyambut tamu mereka. Namun aneh, saat sebelumnya wajah wanita itu telah diselimuti rasa was was ketika hendak beranjak dari kursinya. Dia menatap suaminya yang dibalas dengan tatapan siaga pula. Kemudian, ketika pintu itu terbuka semuanya terjadi begitu cepat.

 

Pintu rumah terbuka lebar hingga angin malam beserta butiran salju masuk dengan kencang. Dua orang tergeletak tak bernyawa di ruang tengah dan sepasang mata itu menatap nanar dari balik tempatnya bersembunyi. Menangkap siluet seseorang yang keluar dari rumah mereka dengan berpakaian putih putih. Dia menggerang pelan.

 

“Ayah.. Ibu..” tangisnya

 

-o0o-

 

Park Hyuna membelalakan matanya lebar dan menarik nafasnya secepat yang dia bisa. Mimpinya barusan kembali membuatnya sulit bernafas dan gelagapan.

 

Delapan tahun berlalu sejak kejadian itu, kejadian mengerikan yang menimpanya dan dia tidak bisa lepas dengan setiap detik yang terjadi malam itu. Semua terasa semakin jelas dan jelas ketika setiap malam, Hyuna mendapatkan mimpi yang sama. Membuatnya terkadang tidak memilih untuk tidur demi mencegah datangnya mimpi itu.

 

Setelah mengecek jam, gadis itu beranjak dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. 05.15 pagi masih terlalu dini untuk matahari menampakkan dirinya.

 

Hyuna berkutat di dapur setelah sebelumnya membereskan rumah kecilnya yang dia tinggali selama kurang lebih satu tahun ini. Dan inilah yang menjadi rutinitasnya sehari hari. Bangun pagi, membereskan rumah, menyiapkan sarapan untuknya dan adiknya, lalu berangkat kerja.

 

Ngomong ngomong, ini sudah jam tujuh kurang lima belas dan gadis itu belum melihat Hyun Seung keluar dari kamarnya. Hyuna menggeleng, ini hari pertama Hyun Seung masuk ke senior high school dan tentunya dia tidak boleh terlambat!

 

Hyuna beranjak ke kamar Hyun Seung setelah memastikan kompornya mati. Gadis itu membuka lebar daun pintu dan melihat adiknya masih bergelung nyaman di dalam selimut. Hyuna mendekat ke jendela di dekat meja belajar Hyun Seung dan membukanya, sehingga matahari pagi berangsur masuk.

 

Hyuna berjongkok demi melihat adiknya yang tidur di kasur lipat putih dan terasa sangat nyaman. Tapi tidak, dia tidak akan membiarkan Hyun Seung kali ini. Bukan di hari pertama adiknya masuk senior high school. Hyun Seung harus segera bangun!

 

Hyuna menarik kasar selimut adiknya dalam satu kali hentakan, gadis itu mengangkat alisnya saat melihat tak ada gerakan apapun dari Hyun Seung.

 

“Bangunlah Tuan Muda! Hari liburmu telah habis!” Hyuna berkata sedikit berteriak dan berhasil. Hyun Seung menggerakan badannya lalu mengintip sedikit dari matanya. Melayangkan tatapan protes pada Hyuna. Bisa gadis itu lihat warna gradasi pada mata Hyun Seung yang terlihat mencolok padanya.

 

“Oh, tidak tidak. Jangan buat aku menceramahimu di pagi yang indah ini Hyun Seung. Bangun dan bersiaplah. Sarapan sudah tersedia seperti biasa”

 

Hyun Seung mengangguk lemah. Hyuna yang merasa adiknya butuh waktu sebentar untuk mengumpulkan nyawa berangsur menjauh kembali menuju dapur. Namun setelah lima belas menit gadis itu tidak juga melihat Hyun Seung keluar, dia menarik nafas jengkel.

 

“Bangun sekarang juga atau aku akan menyiram mu dengan air dingin, Joshua!!”

 

Dan Hyun Seung lari terbirit menuju kamar mandi, membuat Hyuna terkekeh “Jangan lupa pakai softlens mu Hyun Seung~ah” Jeritnya.

 

-o0o-

Khamsahamnida~

 

Hyuna tersenyum setelah melayani pembelinya. Dia kemudian duduk dan mengambil korannya yang dia letakan begitu saja tadi. Di belakang meja kasir minimarket inilah, dia sibuk mencari lowongan kerja di perusahaan perusahaan yang membutuhkan pegawai baru.

 

Tidak mudah mencari pekerjaan. Sejak lulus satu tahun yang lalu, gadis itu terus melamar di berbagai perusahaan namun belum ada satupun panggilan kerja untuknya. Saat ini dia merasa harus mendapatkan uang yang lebih untuk membiayai hidupnya. Terlebih dengan Hyun Seung yang telah menjadi pelajar sekolah menengah atas, dan tidak butuh waktu lama untuk adiknya itu melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Untuk itu Hyuna berusaha mengumpulkan uang. Dan dengan pekerjaannya saat ini, hanya akan cukup untuk biaya sehari hari.

 

Hyuna melihat jam tangannya dan terlonjak kaget. Sudah waktunya untuk pergi ke tempat kerja selanjutnya.

 

Eonnie! Aku pergi dulu!” Serunya pada rekan kerja di mini market sambil memakai jaket serta topinya dan berlari.

 

Hyuna telah rapih dengan seragam merahnya. Dan bersiap untuk mengantar pesanan beberapa saat lagi. Gadis itu berjalan mengepak ayam pesanan pelanggan mereka. Matanya tak sengaja melihat berita di TV.

.

.

 

“… terus melakukan pendekatan strategis sehingga bisa mencapai posisi yang memuaskan. Meskipun perusahaan ini masih terbilang baru, tetapi pergerakan mereka bisa dikatakan sukses dengan bantuan tangan tangan ahli yang berada di dalanya. DominiqueCorp. sendiri telah memberi kabar akan mengakuisisi perusahaan oncology, Pharmacyclics…”

.

.

 

“Hyuna antarkan pesanannya sekarang” Hyuna menyudahi acara menonontonnya dan bergegas menuju motor delivery. Memasukan lima box paket ayam dan berjalan mengantar pesanan. Gadis itu menghela nafas. Semua ini terasa sangat melelahkan untuknya. Sangat amat.

 

-o0o-

 

Hyuna merebahkan tubuhnya dan berbaring nyaman. Matanya nyalang menatap langit lagit kamarnya dan menerawang. Menerka nerka bagaimana kah kehidupannya selanjutnya. Akan lebih baik, atau malah menjadi lebih buruk.

 

Semuanya tidak pernah menjadi baik di kehidupannya setelah tragedi mengerikan yang secara tiba tiba datang padanya, kecuali pertemuannya dengan sosok dermawan itu, Hyuna tidak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang dia lakukan saat ini di Missisipi.

 

Dia memilih untuk tidur walaupun dia tahu mimpi itu akan datang. Tetapi Hyuna juga tidak bisa membiarkan tubuhnya kelelahan karena rutinitasnya yang melelahkan telah menunggu di hari esok.

 

“Ibu! Aku mau meniup lilinnya~”

 

“Joshua, ini ulang tahunku dan ini kue ku. Kenapa kau ribut sekali” Hyuna mendengus melihat adiknya mencoba menyulut amarah  adiknya itu.

 

“Aku tahu, noona! Kau sudah lima belas tahun. Bersikaplah yang benar, jangan menggodaku terus!” Hyun Seung merengut. Bocah sembilan tahun itu menatapnya jengkel. Kedua orang tua mereka tertawa.

 

“Baiklah, Hyuna ayo tiup lilinmu” Ayah Hyuna menatap anaknya dan tersenyum, Hyuna membalasnya “Ayah, Ibu, sejujurnya aku tidak membutuhkan kue ini. Aku sudah lima belas tahun”

 

“Hey, apa lima belas tahun tidak boleh mempunyai kue dan lilin untuk perayaan?”

 

“Bukan begitu—“ Hyuna menatap kedua orang tuanya “Ini cukup bagiku. Ada ayah, Ibu dan Joshua disini, bersamaku. Itu lebih berharga dari sepotong kue ulang tahun”

 

“Ibu! Noona tidak mau, kue nya untuk ku saja!” Joshua menarik kue itu mendekat padanya, Hyuna mencegah“Aku tidak bilang akan memberikannya padamu kan, adik manis”

 

“Huh! Kau menyebalkan”

 

“Well, kuanggap itu ucapan selamat ulang tahun untukku”

.

.

 

Lalu kemudian, semua berjalan begitu cepat hingga saat semua itu terjadi …

 

Hyuna terbangun dengan nafas yang kembali tak beraturan. Dia menghela nafas lalu kemudian menangis. Air matanya keluar terus menerus hingga gadis itu terisak. Dia lelah dan semua ini terasa menyaikitkan.

 

-o0o-

 

Noona! Ada surat untukmu!” Hyuna mengalihkan pandangannya dari nasi goreng kimchi yang sedang ia buat di atas kompor. Hyun Seng menunjukannya pada Hyuna.

 

“Letakkan disitu Hyun Seung~ah, dan lekas mandi”

 

Sepeninggal Hyun Seung, Hyuna menyelesaikan masakannya dan meletakkanya di atas meja makan. Gadis itu kemudian duduk di kursi dan mulai membuka amplop cokelat yang dibawa Hyun Seung. Merasa sedikit was was dengan kop surat yang berlabel DominiqueCorp. tertera disana.

 

Dengan jeli, gadis itu membaca satu persatu baris hingga nyaris tidak ada yang terlewat. Senyumnya mengudara dan giginya semakin terlihat. Hyun Seung yang keluar dari kamar mandi dan menggosok rambutnya menatap kakaknya heran.

 

“Kenapa? Surat dari siapa?” Hyun Seung duduk di depan kakaknya.

 

“Aku akan melakukan wawancara kerja” Kata Hyuna terdengar senang.

 

“Benarkah? Dimana?” Hyun Seung merebut surat itu dari tangan kakaknya “DominiqueCorp. ?”

 

“Aha~” Hyuna meletakan sendok di atas piring Hyun Seung dan mengambil satu untuknya.

 

“Aku tidak tahu kau mengajukan lamaran pekerjaan disana”

 

“Aku melakukannya”

 

“Tapi noona, apa kau yakin? Bukankah DominiqueCorp. merupakan perusahaan farmasi? Kau kan bukan lulusan farmasi atau.. sejenesinya”

 

Hyuna mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya “Kufikir aku akan ditempatkan di divisi lain. Karena aku tidak melamar untuk menjadi, peneliti atau pembuat obat atau apalah itu” Hyuna menelan makanannya.

 

“Ahh, begitu” Hyun Seung mengangguk angguk mengerti.  Lalu melihat kakaknya dan mendengus “Kau senang, huh?”

 

Hyuna menyuap satu sendok besar “Tentu saja!” jawabnya dengan mulut penuh.

 

“Cepat sarapan dan ganti dengan seragamu. Kau akan telat jika mengulur waktu” Hyuna melirik jam dinding dan menemukan waktu sudah pukul 07.05.

 

Softlens mu!” tambah Hyuna ketika melihat adiknya belum memakai barang berharganya hari ini hingga warna gradasi itu terlihat jelas.

 

“Berhenti khawatir padaku, khawatirkan saja dirimu”

 

“Aku? Kenapa?”

 

“Wawancaranya hari ini, kan?” Hyuna mengangguk atas pertanyaan Hyun Seung. Pria itu kemudian tersenyum jahil “Pukul 07.30” Hyuna terbatuk keras ketika dia meminum air putihnya. Membuat Hyun Seung tampak puas dan terkekeh di kursinya.

 

Hyuna beranjak ke kamarnya secepat kilat dan menghiraukan Hyun Seung yang masih terus tertawa. “Kenapa kau baru memberitahuku tentang surat itu!” Hyuna berteriak menyalahkan Hyun Seung dari kamarnya sambil bersusah payah mengenakan satu satunya kemeja terbaik yang dia punya.

 

“Kurasa ini sudah ada sejak kemarin di kotak surat, kau saja tidak mengambilnya. Lagipula kau juga terlihat sangat santai setelah membaca jadwal wawancaranya hari ini! Apa kau membacanya dengan teliti?” jawab Hyun Seung masih dengan kekehan.

 

Sial! Dia pulang sangat larut semalam dan sudah terlalu lelah untuk mengecek kotak suratnya!

 

“Aku tidak tahu itu sudah ada sejak kemarin, dan aku juga tidak tahu bahwa sepagi itu untuk melakukan wawancara. Hyun Seuuung! Hentikan tawamu dan bantu aku!”

 

“Kufikir kau memintaku bergegas kesekolah”

 

“Diam!”

 

“Hahahaha”

 

-o0o-

 

Perjalanan Hyuna menuju DominiqueCrop. tak berjalan lancar. Kecelakaan lalu lintas sempat menghambat jalan raya dan waktunya terbuang sepuluh menit terdiam di bus dengan gelisah. Parahnya, hujan turun tepat ketika dia keluar dari rumah pagi ini dan membuat rambutnya lepek karena basah.  Penampilannya terkesan sangat tidak sopan untuk ukuran orang yang sedang mencari kerja, apalagi melakukan wawancara.

 

Ketika kini dia memasuki lobi, Hyuna mengigil karena dinginnya AC menyapanya yang memang masih sedikit lembab karena hujan tadi. Jam ditangannya telah menunjukan waktu 07.45. Benar benar sial yang luar biasa.

 

Hyuna menemui receptionist dan pegawai dibalik meja itu menyuruhnya untuk naik ke lantai tiga. Di dalam lift, Hyuna melihat pantulan dirinya di cermin lalu menghela nafas “Benar benar kesan pertama yang sempurna Park Hyuna” sindirnya pada diri sendiri.

 

Pintu lift terbuka dan Hyuna disambut dengan ruangan serba putih dengan bau yang cukup khas. Disisi kirinya, dia melihat sebuah meja receptionist lagi dan ketika melihat ke kanan, Hyuna melihat lorong yang panjang yang diapit dengan bermacam macam ruangan dengan kaca tembus pandang. Sehingga dia bisa melihat semua aktifitas disana.

 

Banyak orang orang menggenakan jas lab berwarna putih dan sibuk dengan tugas mereka sendiri. Hyuna tak sadar terkesima dengan pemandangan itu dan membuatnya takjub. Banyak alat alat yang tak diketahui olehnya –kecuali satu, microscop- terpajang disana sini, digunakan oleh setiap orang dengan sarung tangan di tangan mereka. Benar benar sesuatu yang baru.

 

“Maaf, nona. Ada yang bisa saya bantu?”

 

“Oh!” Hyuna tersentak saat wanita di balik meja di samping kirinya menegur. Gadis itu lalu menghampirinya “Saya mendapat panggilan untuk wawancara pagi ini”

 

“Boleh saya lihat suratnya”

 

“Ah, iya” Hyuna membuka tas selempangnya dan mencari surat itu. Namun aneh, ketika dia tidak segera menemukannya di dalam tas, Hyuna menelan ludahnya tegang. ‘Aku tidak mungkin meninggalkannya dirumah, kan?’ lirihnya.

 

“Nona?”

 

Hyuna tersentak, kemudian menggigit bibirnya. Surat itu tidak ada didalam tasnya!

 

“Eum.. begini, aku—surat itu, surat itu–” Hyuna menghentikan kalimatnya ketika seseorang menyodorkan sebuah surat padanya. Gadis itu dengan lemah mengambilnya dan terkejut, itu surat panggilan wawancara miliknya!

 

Dia mengangkat kepalanya demi melihat siapa yang telah memberikan surat itu padanya, dan disanalah gadis itu merasa kakinya tertanam jauh, sehingga dia tidak bisa lari.

 

Pria itu—

 

“Lain kali, hati hati” dan dia berbalik pergi.

 

Hyuna berkedip pelan masih menatap punggung tegap yang menjauh dari pandangannya itu. Siapa dia?

 

“Nona, suratnya”

 

Hyuna dengan kaku memberikan surat itu kepada receptionist yang telah menunggu cukup lama untuk itu. Hyuna masih terdiam di tempatnya dan melirik ke arah dimana pria tadi menghilang. Suaranya.. sangat berat dan berwibawa. Dari tampilannya, pria itu sangat berkelas dan modern.

 

“Maaf, apa aku boleh bertanya” Hyuna bertanya pada receptionist di depannya.

 

“Silahkan”

 

“Pria itu tadi, apakah dia pegawai disini juga?”

 

Receptionist itu mengangkat satu alisnya tampak heran, membuat Hyuna gelagapan “A-aku hanya penasaran, bagaimana suratku bisa ada padanya. Aku ingin bertanya sekaligus mengucapkan terimakasih padanya”

 

“Kufikir, kau tidak akan bisa melakukan itu”

 

Hyuna tersentak “Kenapa?”

 

“Dia Cho Kyu Hyun. Mustahil untukmu bericara langsung padanya karena hanya pegawai atas yang bisa berkomunikasi langsung dengan beliau. Kecuali jika dia sedang patroli sendiri seperti tadi”

 

“Pegawai atas?Patroli?”

 

“Nona, setidaknya kau harus tahu siapa CEO di tempat yang mungkin akan menerimamu untuk bekerja ini”

 

‘Dia… CEO DominiqueCorp.’ Hyuna membeo dalam hati

 

“Dan ya, dia sedang patroli. Sejenis inspeksi. Melihat pekerjaan yang tengah berlangsung di berbagai lab”

 

Hyuna terdiam kemudian. Cho Kyu Hyun.

 

Auranya…

 

-o0o-

 

Wawancara kerjanya minggu lalu sangat lancar dan hari ini adalah hari pertama bagi Hyuna pergi ke kantor untuk bekerja. Dia telah melepas semua pekerjaan paruh waktunya dan menuju kantor dengan bahagia.

 

Tepat seperti dugaannya, Hyuna tidak berada dalam posisi yang menyulitkan. Gadis itu masuk dalam divisi pemasaran yang membuatnya merasa sedikit bangga. Setidaknya, dia bisa menyalurkan apa yang dia dapat semasa kuliah.

 

Hyuna duduk di kursi tempatnya bekerja dan gadis itu tidak bisa menyembunyikan ekspresi gembira dari wajahnya. Dia mengeluarkan barang barang sederhana miliknya dan menata meja kecil itu senyaman mungkin. Ini adalah hari pertamanya bekerja, dia tidak mau membuat kesalahan dan walaupun sedikit tegang, Hyuna berusaha menghadapinya.

 

BRAK!

 

Seseorang meletakkan setumpuk berkas di mejanya membuat gadis itu tersentak. Dengan sigap Hyuna berdiri dan menatap sedikit takut pada wanita di depannya.

 

“Kuharap, boss pendek itu tak salah menerima orang” Ujarnya sinis pada Hyuna membuat gadis itu menelan ludah “Kerjakan tugasmu dengan benar. Serahkan padaku setelah tiga puluh menit”

 

Ye, algeseumnida” Hyuna menunduk dan wanita berwajah angkuh itu berlalu dari hadapannya

 

“Ini baru permulaan Park Hyuna. Semangat!” ujarnya pada diri sendiri.

 

Hyuna mulai menekuni pekerjaannya, dia terlalu larut hingga tak sadar seseorang telah berada terlalu dekat disampingnya.

 

Annyeong!”

 

“Ah!”

 

Hyuna menggerakan tangannya menyentuh dada demi meredakan denyutan tiba tiba itu. Gadis itu melirik canggung, sedikit kesal sejujurnya.

 

“Aku Hwang Bora. Neon?”

 

“Hyuna imnida” Hyuna membalas dengan mencoba tersenyum -kaku , lawan bicaranya itu terlihat sangat tertarik untuk bicara dengannya.

 

“Senang berkenalan denganmu. Kau, nenek sihir itu membuatmu sulit, ya?”

 

Hyuna mengernyitkan dahinya “Nu-gu?”

 

Bora menggerakkan dagunya “Gadis kasar yang meletakan semua berkas ini. Dia, manajer pemasaran yang selalu dipercaya atasan. Tidak heran tingkahnya menyebalkan. Sombong, cih!”

 

Hyuna tidak tertarik dengan pembicaraan ini. Dia bukan type gadis yang suka menggosipkan orang. Gadis itu menghiraukan Bora dan kembali fokus pada pekerjaannya.

 

“Aku serius nona muda. Berhati hatilah bekerja denganya”

 

Hyuna menoleh pada Bora jengah “Lalu kau? Bukankah kita sama sama bekerja dengannya? Dibawah campur tangannya juga?”

 

“Eyy” Bora mengibaskan tangannya “Aku mengatakannya karena sudah merasakannya. Pokoknya, sebisa mungkin hindari hal yang akan membuatmu bermasalah dengan nyonya besar, Ahn Yoora itu”

 

“Wah, terimakasih telah memberitahuku hal ini”

 

Bora menatap Hyuna tak berkedip. Sungguh, gadis itu terlihat sekali menghiraukannya.

 

Tapi tiba tiba, Hyuna tersentak karena Bora menggerakan kursi nya agar dia berputar. Hyuna protes “Hey!”

 

“Kau sangat keren! Aku menyukaimu” dan Bora, gadis itu berlalu begitu saja membuat Hyuna harus menarik nafasnya kembali menahan kesal.

 

-o0o-

 

Hyuna mengetuk  pintu sebelum gadis itu masuk untuk menemui atasannya yang mengerikan –menurut Bora- . Gadis itu masuk setelah yakin Yoora mengijinkannya dari dalam. Saat Hyuna masuk, Yoora terlihat sangat sibuk di mejanya dan ponsel di telinganya. Namun gadis itu menyadari kehadiran Hyuna.

 

“Letakan disana, kau boleh pergi”

 

Ye

 

Hyuna meletakkan berkasnya seperti yang diperintahkan lalu gadis itu melangkah keluar . Saat mencapai daun pintu, Yoora memanggilnya sehingga gadis itu berbalik.

 

“Bawa semua file ini ke lantai delapan. Aku harus mengurus client yang menyebalkan” Yoora mengambil tas dan kunci mobilnya lalu beranjak keluar dari tempat duduk.

 

Merasa belum ada pergerakan dari Hyuna, gadis itu menatapnya tajam “Mwohae? Cepat lakukan!” Katanya dengan nada tinggi.

 

Hyuna mulai ragu, lantai delapan. Bukannya hanya ada satu ruangan disana. Dan itu milik..

 

“Cepat pergi dan berikan file itu pada Kyu Hyun sajangnim!” suara Yoora masih meninggi.

 

“S-saya?”

 

Yoora menatap Hyuna jengkel “Lalu apa kau yang akan menemui client ini?”

 

Hyuna bergegas mengambil file lalu menunduk dan berjalan cepat menuju lift yang akan membawanya ke  lantai delapan. Menemui Kyu Hyun? Dia fikir akan sulit untuk bisa bertemu dengan boss besar nya itu. Tapi ternyata, hal ini juga bisa terjadi ditempat kerja. Ah, apa Kyu Hyun mengingat nya?

 

Tidak, ini tidak seperti Hyuna yang biasanya. Tapi kenapa, kenapa saat memikirkan bahwa dia akan pergi untuk bertatap muka dengan Kyu Hyun membuatnya linglung dan hilang arah. Dia kebingungan dan merasa cemas sendiri.

 

Saat pintu lift terbuka, Hyuna melangkahkan satu kakinya yang terasa canggung. Tidak, dia merasa kaku seketika membuat daya berjalannya melambat.

 

Gadis itu tidak menemukan siapapun kecuali space yang berkarpet abu abu dan langsung menghubungkannya ke sebuah pintu besar. Hyuna sadar dibalik pintu itu ada Kyu Hyun dan kehidupan kerjanya yang menganggumkan –pikirnya.

 

Dengan langkah yang semakin berat, Hyuna mendekat dan mulai mengetuk. Tangannya bergetar  hebat ketika dia memegang pegangan pintu dan mendorongnya.

 

Dan.. gadis itu semakin tidak tahu dengan dirinya. Kerongkongannya kering seketika kala memasuki ruangan besar yang elegant itu dan mendapati Kyu Hyun duduk di balik meja kerjanya.

 

Hyuna sadar, seratus persen sadar bahwa CEO nya ini memiliki daya tarik yang luar biasa besar dari penampilannya. Lihat wajah itu, orang mana yang tidak akan menyebutnya tampan?

 

Tapi bagi Hyuna, terlalu klise untuk menyukai orang hanya dari tampang apalagi menyukai orang sejak pandangan pertama. Konyol. Sejak dulu, Hyuna hanya memikirkan hal hal tersebut sebagai hal yang tidak masuk akal, semua itu bullshit baginya .

 

Hyuna meyakinkan dirinya, ini bukan perasaan suka. Dia hanya terintimadasi, karena wajah tampan itu telah berhasil membuat nya tertarik, setidaknya begitu.

 

Ya, terintimidasi karena wajah tampan, Hyuna~ya. Kau berfikiran cukup jenius.

 

“Apa kau akan kemari menyerahkan file itu atau aku yang harus berjalan kesana?”

 

Hyuna tersadar dia masih berada di daun pintu. Gadis itu mengendalikan ekspresinya dan berjalan mendekat ke arah Kyu Hyun. Setiap langkah yang dia ambil menjadi semakin berat karena tatapan Kyu Hyun yang dirasa sangat tajam tak lepas darinya.

 

“Maafkan saya, sajangnim” Hyuna menunduk meminta maaf lalu menyerahkan filenya.

 

Kyu Hyun melihatnya untuk beberapa detik, lalu mengambil berkasnya dari Hyuna. Sementara pria itu membukanya, Hyuna menunggu dengan sabar. Sejujurnya, gadis itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Menunggu, atau pergi?

 

“Pegawai baru?”

 

Ne, sajangnim

 

Dari gelagat dan pertanyaanya, Hyuna yakin bahwa Kyu Hyun tidak mengingat pertemuan mereka kemarin. Ini membuatnya mengurungkan niat yang sempat terpikir olehnya untuk bertanya bagaimana bisa pria itu memiliki surat panggilan wawancaranya saat itu.

 

“Ada yang lain?”

 

Ye?” Hyuna tak yakin dengan dirinya hari ini. Kenapa dia cepat sekali kehilangan konsentrasi disaat yang tidak tepat.

 

“Apa kau memerlukan hal lain? Karena kau masih berdiri disini”

 

“Ah” Hyuna tersadar akan kesalahannya. Lalu dia menunduk pamit dan pergi dari ruangan itu. Dengan ketidaksadaran bahwa Kyu Hyun, menatap langkahnya lama hingga gadis itu hilang di balik pintu.

 

Sepeninggal Hyuna, suasana tiba tiba mencekam di ruangan itu. Raut wajah Kyu Hyun berubah serius dan sejujurnya, dia merasa agak terganggu.

 

Kyu Hyun membuka laci mejanya. Ada dua ponsel disana, satu berwarna hitam dan satunya berwarna silver. Pria itu mengambil satu yang hitam dan menekan speed dial. Seseorang tersambung dengannya.

 

“Dia.. sudah ada disini”

 

-o0o-

 

Cho Kyu Hyun memasuki pekarangan rumahnya yang tidak terlalu besar, tapi sangat berkelas dengan tampilan yang sederhana. Semua lampu yang telah menyala –termasuk lampu berdiri di taman kecilnya- membuat pria itu sedikit mendapat ketenangannya kembali. Rumah adalah tempat paling nyaman, bagi Kyu Hyun.

 

Masuk ke dalam rumah, Kyu Hyun menghela nafas seketika saat melihat apa yang terjadi di ruang tengah. Tempat nyaman-nya telah berubah menjadi kapal pecah! Bagaimana mungkin setiap orang itu ada, maka semua akan menjadi berantakan!

 

“Oo, wasseo?” Sapa nya. Kyu Hyun berjalan dan kemudian menempatkan pantatnya dengan nyaman di sofa empuk, lalu ikut menonton televisi

 

‘Oo, wasseo?’ Hanya itu?” Kyu Hyun mencibir

 

Merasa tidak direspon, Kyu Hyun mengambil bantalan sofa dan melemparkannya tepat ke wajah “KIM HEE CHUL!”

 

“Yaish!” Hee Chul merengut lalu melirik Kyu Hyun dengan kesal. Pria itu mengambil sebuah bandana berwarna merah yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk, lalu memakainya. Sehingga kini, dahinya benar benar terekspos.

 

“Lalu aku harus apa? Memelukmu dan menangis haru? Kita berdua tahu itu tidak akan pernah terjadi!” sungutnya

 

Kyu Hyun mendengus “Kau mungkin melakukannya”

 

Hee Chul berdecak lalu meraba raba sampingnya. Tak menemukan minuman kaleng yang masih utuh, pria itu  berdecak lebih parah.

 

“Hwang Bora! Bawakan aku soda lagi!” Teriaknya.

 

“Berhenti makan dan minum! Kau mengubah rumahku menjadi tempat pembuangan sampah” Kyu Hyun menatap tak habis pikir. Rumah yang pagi ini dia tinggal dengan keadaan rapih, sekarang menjadi tempat kumuh dengan banyaknya bungkusa snack dan kaleng bekas minuman.

 

Eonnie,  apa ini tidak keterlaluan?! Apa kau datang hanya untuk merepotkanku?!” Bora datang dengan beberapa kaleng minuman soda dingin sambil bersungut sungut. Gadis itu teduduk di samping Hee Chul, lalu menatap Kyu Hyun dengan wajah memelas minta pertolongan.

 

Oppa~” rengeknya pada Kyu Hyun membuat Hee Chul menatap gadis itu ngeri “Kupikir kau sudah melepaskan bahasa menjijikanmu itu”

 

“YA!”

 

“Kapan kau datang?” Kyu Hyun mengabaikan acara ‘melepas rindu’ Hee Chul dan Bora

 

“Saat aku pulang kantor tadi sore, dia memintaku menjemput di bandara” Bora membeo. Mengambil makanan ringan Hee Chul dan mulai mengunyah.

 

“Aku sampai sore ini–” Hee Chul menoleh kebelakang dan tatapan jenaka itu hilang dari wajahnya membuat Kyu Hyun mengerti. Pria itu menangkap sinyal, bahwa pasti ada sesuatu ketika tiba tiba Hee Chul kembali ke Korea dan menemuinya.

 

Kyu Hyun berdiri dari duduknya “Aku akan mandi, setelah itu berada diruang kerja” katanya dengan tatapan arti pada Hee Chul. Pria itu mengangguk, mengerti.

 

Satu jam berlalu dan ketika Kyu Hyun masuk ke dalam ruang kerjanya dengan pakaian tidur, dia menemukan Hee Chul yang berada disana dengan sebuah buku ditangannya.

 

Kyu Hyun berjalan menuju kursinya “Aku tidak tahu kau membaca novel”

 

Hee Chul menutup bukunya “Hanya saat aku bosan”

 

Kyu Hyun menyamankan duduknya di kursi, lalu pria itu menatap Hee Chul “Jadi–?”

 

“Ya. Kantor pusat memintaku kemari, untuk menemanimu”

 

Kyu Hyun mengerutkan alisnya.

 

“Mereka fikir pekerjaan ini terlalu bahaya untuk dilakukan seorang diri. Makanya mereka mengirimku”

 

Satu kekehan keluar dari mulut Kyu Hyun. Pria itu menatap Hee Chul skeptis “Omong kosong” ucapnya pelan, sangat pelan. Tapi Hee Chul dapat mendengarnya.

 

“Jadi mereka tidak percaya padaku, ya?”

 

Hee Chul mendekat, duduk di pinggiran meja Kyu Hyun “Kejadian yang lalu membuat mereka meragukanmu”

 

Kyu Hyun mengangguk membenarkan “Dan karena itu, mengirimu dengan alasan konyol membuatku tak habis pikir. Apa katanya ‘terlalu bahaya dilakukan sendiri?’?” Kyu Hyun tertawa hambar  “Aku tahu maksud mereka mengirimu padaku”

 

“Untuk mengawasimu” Hee Chul melanjutkan, dan disetuji langsung oleh Kyu Hyun. Kemudian pria itu menoleh pada Kyu Hyun. Mereka berpandangan beberapa saat, lalu tertawa bersama. Kali ini, tawa lepas yang penuh jenaka.

 

“Wajahmu mengerikan, Cho Kyu Hyun!” tuding Hee Chul

 

“Kau yang membuatnya terlalu mendamatisir” Kyu Hyun bangkit dari duduknya dan memutari meja, berdiri di depan Hee Chul dengan tatapan konyol.

 

“Jadi, berapa lama kau akan menghabiskan liburanmu disini, hyung?”

 

“Hmm” Hee Chul nampak berfikir dan dia menikmati waktunya “Sampai kau menyelesaikan tugas ini?” Kata Hee Chul dan kembali mereka tertawa.

 

“Ya, liburan lebih baik daripada mengawasimu. Mereka pikir kau anak kecil yang harus dijaga apa?” Hee Chul bersungut sungut, kali ini ditujukan untuk orang orang pusat yang menyebalkan itu.

 

“Kupikir kau akan mendapat masalah, Hee Chul~ssi” Kyu Hyun menggodanya.

 

“Oh ya? Waaah, aku takut sekali” Hee Chul membuat pose yang dibuat buat dan kembali mereka tertawa.

 

Keduanya tersentak saat tiba tiba pintu ruangan itu terbuka, menampilkan Bora yang kini bersender di daun pintu “Hebat. Sekarang aku harus mengurus 2 ahjusshi”

 

Hee Chul dan Kyu Hyun bertukar pandang, dan berpura pura mengabaikan Bora “Makan malam sudah siap. Dan—eonnie, bisakah kau turun dari meja itu? Tidak sopan!” Lalu Bora berlalu dari hadapan mereka.

 

“YA! Sudah kubilang berhenti memanggilku eonnie eonnie eonnie!!”

 

“Kurasa itu memang cocok untukmu” Kyu Hyun menimpali membuat Hee Chul mendengus.

 

“Sepupumu itu, masih tidak tahu apapun kan?” Hee Chul bertanya dengan suara yang rendah.

 

Kyu Hyun mengangguk “Masih tidak tahu, dan jangan sampai dia tahu”

 

-o0o-

 

Hari kesepuluh Hyuna bekerja.

 

Hari ini pun tidak lebih baik dari hari hari sebelumnya. Yah, atasanya, Yoora, selalu membuatnya sibuk dengan setumpuk pekerjaan. Hyuna tahu itu adalah kewajibannya juga mengingat dia sekarang adalah pegawai tetap, tapi sempat terlintas difikirannya apa tidak ada orang lain selain dia yang harus mengerjakannya? Bukan mau mengeluh, toh Hyuna telah melakukan banyak pekerjaan dan lebih melelahkan daripada ini, tapi dia sempat merasa bahwa Yoora memang sengaja melakukan itu padanya. Tatapan wanita itu juga tidak pernah bersahabat, membuat Hyuna harus pintar pintar membaca situasi untuk sekedar melaporkan pekerjaanya.

 

Ya, simple saja. Gadis itu berfikir bahwa ini adalah syndrome new comer. Oh, yaampun!

 

Hyuna berjalan lesu ke dapur staff. Duduk di depan komputer dari pagi cukup membuat seluruh badannya kaku. Dia melemaskan ototnya sebelum mengambil cangkir untuk membuat kopi.

 

Ini sudah pukul 6 sore  dan seharusnya dia bisa pulang. Tetapi setumpuk berkas yang baru lima menit  lalu di letakkan Yoora di mejanya membuat Hyuna harus menelan harapannya untuk bisa pulang sekarang.

 

Hyuna menikmati hangat kopi mengalir di kerongkogannya. Aromanya membuat gadis itu rileks dan dia mendesah lega. Kopi juga membuatnya untuk tetap terjaga, karena sepertinya di akan lembur.

 

Ah, lembur! Dia harus memberi tahu Hyun Seung.

 

Gadis itu mengambil ponsel dari saku blazer dan mengetik pesan, memberi kabar pada Hyun Seung bahwa dia akan pulang larut dan menyuruh adiknya memesan makan untuk makan malamnya.

 

Hyuna kembali memasukan ponselnya dan menikmati kopi. Tak lama, seorang pekerja dapur muncul  dengan raut khawatir, dan itu menarik perhatiannya.

 

Ahjumma, ada apa?”

 

Dengan gelisah, wanita paruh baya itu menjawab “Aku baru saja mendapat telepon bahwa anakku kecelakaan dan sekarang berada di UGD”

 

“Ya Tuhan! Kalau begitu, ahjuma bisa pergi sekarang” Hyuna bersuara penuh simpati.

 

“Ya, aku bisa pergi. Tapi sajangnim memintaku untuk membuat minum. Dia sedang ada tamu. Aku akan membuatnya sebelum pergi”

 

“Tidak, tidak” Hyuna mencegah wanita itu yang beranjak dari hadapannya “Ahjumma pergi saja. Minuman itu, biar aku yang buat”

 

“Ah, benarkah?” Hyuna mengangguk

 

“Terimakasih nona muda. Kau baik sekali”

 

“Sama sama ahjumma. Kau bisa pergi sekarang. Semoga anakmu baik baik saja!”

 

Setelah wanita itu pergi, Hyuna menghela nafas. Dia masih terdiam selama kurang lebih sepuluh detik sampai dia tersadar “Minuman!”

 

Dan gadis itu bergegas mengambil cangkir, namun sesaat kemudian Hyuna meringis “Ya Tuhan, aku tidak tahu dia ingin minum apa!” Sesalnya.

 

Hyuna kelabakan sendiri. Dia bisa saja mengabaikan hal ini dan kembali ke tempatnya seolah tidak ada yang terjadi. Tapi dia tidak mungkin membiarkan wanita tadi terkena masalah karena dirinya. Lagipula, jelas jelas dia yang menawarkan diri untuk membantu.

 

 

“Kupikir para pria lebih menyukai kopi” ujarnya pada diri sendiri.

 

Pada akhirnya, Hyuna membawa dua cangkir kopi dengan nampan ditangannya. Langkah gadis itu semakin dekat menuju ruangan Kyu Hyun. Pintu kokoh yang berdiri angkuh telah berada didepannya.

 

Lagi lagi dia merasa tidak nyaman.

 

Pintu tidak selebihnya tertutup, tapi gadis itu masih tahu aturan kerja. Hyuna menelan ludahnya sebelum mengetuk. Namun, tangannya berhenti diudara ketika samar dia mendengar pembicaraan orang di dalamnya.

 

‘Hyuna’

 

‘Hyun Seung’

 

Dan

 

‘mata’

 

Gadis itu berdiri kaku. Sesuatu menyangkut dirinya kah?

 

Dan—ada apa dengan penggalan kata yang dia dengar itu? Tiba tiba perasannya menjadi gelisah.

 

 

 

 

 

To be Continued

#Comeback! Hooorraayyy !

 

Advertisements

37 thoughts on “DOMINIQUE LEGACY #Bab 1

Add yours

  1. Jd penasaraaann … sebenarnya siapa Kyuhyun, dan apa yg terjadi dgn keluarga Hyuna, trs kenapa dgn warna mata hyunseung ?? 😱
    Banyak pertanyaan merajalela di otakku. 😣
    Semoga update nya gak lama2 . Biar segera terjawab rasa penasarannya … wkwk … 😀

  2. Waaaaaaaahhhh keren eon knp sm mata hyun seung y bs gt beda dr yg lain ? Rahasia apa yg ada dibaliknya ?? Ortu mrk kemana ?? Sp kyuhyun sbnrny ??? Kyaaaaaaa dtunggu neeeeeeext eon fighting 🙂

  3. wuihh ff baru genre fantasi.

    keluarhga hyuna, bukan keluarga manusia biasa ya??
    warna mata hyun seung? hyuna bisa baca aura? atau cuma kebetulan aja?

    ini kyuhyun antara iya tidajkmmk

  4. Annyeong,, aku pendatang baru ini. Slam kenal buat author.
    Aku penasaran bnget ama cerita nya terlàlu bnyak pertanyaan yg berkelebat di otak ku. Siapa kyuhyun itu sebenarnya ???
    Semoga kljutannya gk lma. ☺😊

  5. hwawawawawa apa ini apaaaaa iniiiiiii jd kyuhyun udah kenal hyuna sebelumnya? ah! dari percakapan kyuhyun heechul sih mah ya mereka lagi jalanin misi gitu ya? ah gils penasaran bgt parah ini kalo updatenua lama sedih bgt tp gapapa tetep ditungguin hahahaha

  6. kyuhyunkah yang ngebunuh ortu hyuna? dia seorang pembunuh yang menyamar jadi seorang Ceo kah? hahaha.
    hyunseung matanya kenapa?.
    oh tuhannnn penasaran banget, baru part satu aja udah bikin penasaran kayak gini, cepet di post lanjutannya ya kak, fighting!!!!!!

  7. Penasaran dgn kejadian ttg orang tua ny hyuna …?
    blum dijelaskan penyebab kematian ke dua org tua hyuna ttg prnyakit pa tu…?
    mata ny hyunseung knpa tu …?
    Ad kejadian pa kyuhyun dan hyuna d masa lalu mrka iia

  8. Sebenernya kyuhyun sama heechul itu siapa? apa mereka ada sangkut paut kematian keluarga hyuna? terus pekerjaan hyuna itu udah direncanain?
    itu mata hyunseung juga unik, kenapa dia?

  9. eiiiii ini udah di post dan aku gak tau huh menyebalkan sekali

    hmmm kyuhyun siapa
    hyuna siapa
    karena genrenya fantasy aku rasa mereka ada sesuatu lah

    mata
    kenapa dengan mata
    aish aku penasaraaaan ><

  10. Penasaran banget atas kematian ortu hyuna dan ada apa dengan warna mata adik nyh hyuna ( hyun seung ) ? Dan apa hubungan kyuhyun dengan keluarga hyuna ?

    Oia aku reader baru
    salam kenal buat kak thor 😀

  11. kyuhyu ngincer hyuna n adik y ?kenap coba?trs mata hyun seung knpa pula berbeda?penasaran kenap kedua orng tua hyuna meninggl dngn cra sperti itu….
    Takut kyuhyun bkaln jhat sma hyuna n adik y, mudah2 sbalik y kyuhyun bakalan ngelindungi hyuna n adik y……

  12. Aku baca mundur tapi masih abu-abu gini. Kyuhyun terlibat dalam suatu kasus kah? Ada hubungan sama kematian orang tua Hyuna sepertinya. Kalo dari sikap Hee Chul gak ada bau2 jahat dia moodmaker sih cocok jadi rekan Kyuhyun biar gak tegang2 banget.

  13. hehh loo… apaa yang diaa dengerr…sesuatuu yg jahat kajh?
    jdii alasan hyuna keterima disituu ad alasannyaa kahh??
    mkasud jahat bukann??

  14. aku masih kurang faham sama awal part ini, kyuhyun siapa juga sebenernya? Dan yang meninggal di depan pintu itu orangtuanya hyuna atau bukan? Banyak pertanyaan ini kak dan dan dan ada apa sama matanya hyunseong? Kenapa harus make softlens?

  15. Part satu udh banyak tekateki ini mah.
    Kenapa adek nya hyuna harus make soflen matanya minus or ad yg laen ini
    Kyuhyun udh tau Hyuna dan adeknya penasaran dah
    Ahjuma ketemu lagi deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: