Allure of The Seas #Bab11

1431590600124

copyright © 2015 icecreamgyu.wordpress.com

Gyu’s Story

Proudly Present

ALLURE OF THE SEAS

 —–oooooo—–

Author                  : tatadap

Title                       : Allure of The Seas / 가장 큰 크루즈 선박

Main Cast             : -Cho Kyu Hyun –Park Hyuna

Genre                    : Romance

Rating                    : 15

Length                   : Chapter

Desclimer             : Story and plot are mine! Don’t try to copy and paste this without my permission!!!

Happy Reading!

—–oooooo—–

BAB 11 : The Silent Killer

 

Hyuna menghela nafas, lagi. Untuk yang kesekian kalinya. Dia masih belum memutuskan pandagannya dari Kyu Hyun lewat layar kamera depan ponselnya. Pria itu juga malah terdiam, entah. Bingung. Adakah obat untuk malarindu selain bertemu? Tapi itu masih belum mungkin. Mereka terpisah laut, berada di dua benua berbeda.

 

Ketika masih belum ada percakapan kembali, Hyuna menyadari sesuatu. Dia bangun terduduk dari posisi tiduran nyamannya di ranjang.

 

“Kyu, apa kau masih bekerja?” Tanya gadis itu ketika melihat berkas berkas berserakan di sekitar Kyu Hyun dan pria itu jelas masih duduk di kursi.

 

“Oo—iya”

 

“Apa kau makan hari ini?”

 

“Tentu saja” Kyu Hyun melirik kesampingnya “Bekasnya saja masih ada disini” tambahnya agar meyakinkan.

 

“Sssshhh.. kau tidak  makan makanan cepat saji lagi kan?” Hyuna menyipitkan matanya

 

Pria itu lebih memilih bungkam. “Tunjukan padaku isi meja kerjamu”

 

Kyu Hyun menghela nafasnya kemudian menuruti perintah Hyuna. Dia mengalihkan ponselnya dan menyoroti seisi ruangan, terutama meja kerja itu. Ya Tuhan, Hyuna hanya bisa menggeleng pasrah. Berantakan sekali.

 

“Bajumu berserakan dimana mana. Kertas kertas, dan bungkusan makanan cepat saji. Aku kan sudah menyarankanmu untuk mencari pekerja rumah tangga. Apa kau sudah mencarinya?”

 

Kyu Hun menggaruk kepalanya salah tingkah “Aku lupa yang satu itu”

 

“Cho Kyu Hyun” Hyuna mendelik padanya “Kalau aku bisa, aku yang akan senang hati melakukan itu semua. Tapi itu tidak mungkin, aku ada disini dan kau disana” Hyuna mengerutkan alisnya, kalimatnya barusan masuk akal kan?

 

“Aku tahu. Baiklah, aku akan menghubungi Hee Chul hyung untuk meminta bantuan”

 

“Begitu lebih baik”

 

“Bagaimana pekerjaanmu? Apa ada liputan yang sedang booming?”

 

“Emm, kasus lengsernya anggota dewan yang terlibat korupsi saham. Sudah seminggu beritanya tak memudar juga”

 

“Hati hati jika bekerja, mereka bisa buas jika sudah tidak ada jalan untuk kabur. Dan sasaran utamanya ya para pengejar berita. Kalau dipikir pikir, sekarang aku kurang setuju dengan pekerjaanmu”

 

Ya! Apa kau tega memisahkan aku dengan dunia yang kucintai?” Hyuna mengerucutkan bibirnya dan membuat Kyu Hyun tertawa.

 

Aigoo, jika kau bertingkah seperti itu aku tidak akan bisa membantahmu sayang”

 

Blush. Apa ini? Sejak kapan dirinya gampang merona karena termakan rayuan gombal cap Cho Kyu Hyun?

 

“Kyu, ini sudah tiga bulan. Apa kau masih akan menetap disana?” Ya, begitu. Alihkan topik pembicaraan agar wajahmu tidak bertambah merah  Park Hyuna.

 

Umm, aku rasa begitu” Kyu Hyun bergumam.

 

Arraseo. Yang terpenting, jaga dirimu baik baik disana. Kau terlihat kurus. Aku tidak suka pipi gembulmu menghilang. Makan makanan yang bergizi, arra?”

 

Arra

 

“Dan jangan tidur terlalu larut”

 

Arraseo. Sekarang kau tidurlah, sudah pukul 10.15 malam kan disana?” Hyuna mengangguk

 

Kemudia gadis itu menghela nafas “Annyeong?” Dia melambai kecil di depan ponselnya. Kyu Hyun tersenyum “Jalja

 

Dan sambungan video call pun terputus.

 

Hyuna meletakkan ponselnya di nakas tempat tidur disamping ranjangnya. Dia bergelung di dalam selimutnya dan menatap kosong ke atas. Mengingat bagaimana tiga bulan ini dia menjalani long distance relationshipnya bersama Kyu Hyun.

 

Yang dia tahu, Kyu Hyun pergi ke Seattle untuk kembali membangun usahanya. Ya, dia akan sabar menunggu. Tentu itu yang terbaik. Ketimbang harus merengek pada Kyu Hyun untuk tetap tinggal demi mengabulkan ego nya yang dengan tidak tahu diri selalu muncul.

 

Lelah? Tentu saja. Dia lelah termakan rindu. Walaupun mereka tidak pernah sekalipun melewatkan waktu bertukar pesan, tapi tetap saja. Namun, terlepas dari itu semua Hyuna merasa lega karena Kyu Hyun tidak menghilang tanpa kabar. Mereka selalu ada jadwal untuk bertukar pesan dan mengabari satu sama lain. Bukankah itu adalah landasan dari sebuah hubungan? Komunikasi yang baik.

 

“Baiklah Hyuna, lebih baik kau tidur sekarang jika tidak ingin diteriaki si botak itu besok” Ujarnya pada diri sendiri kemudian gadis itu menutup mata menjelajah alam mimpi

 

-o0o-

 

Waktu makan siang telah datang dan Blues Cafe tampak ramai seperti biasa. Berada di kawasan perkantoran membuatnya sangat strategis dan mendapatkan banyak keuntungan.

 

Hyuna masuk dan mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Dia ada janji makan siang bersama Ji Soo hari ini dan ketika matanya menemukan gadis itu berada di tengah ruangan, Hyuna menghampirinya.

 

Ya, mian. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku”

 

“Pekerjaan mendadak karena si botak itu?”

 

Hyuna menampilkan tampang melas “Tepat sekali”

 

Ji Soo tertawa “Hey, bahagialah dengan pak boss. Dia yang memberimu gaji”

 

“Kurasa” Hyuna melepas coatnya dan meletakkannya disamping dia duduk bersamaan dengan tas tangan merahnya “Kau sudah memesan”

 

“Eum. Your favorite like always

 

Thanks. Aaah, kurasa aku akan mati kelaparan”

 

Wae? Kau belum makan dari pagi?”

 

Hyuna menggeleng “Kasus dewan yang korupsi itu sangat menyita waktuku. Apa kau tahu hari ini aku pergi jam berapa? Jam 4 pagi! Haah, kurasa juga aku kurang tidur. Aaah.. melelahkan sekali”

 

“Apa yang kau lakukan semalam?”

 

Pesanan mereka sampai dan Hyuna langsung menyambar Vanilla milkshake nya “Yah, kau tahulah”

 

“Melepas rindu bersama Kyu Hyun? Cih”

 

Hyuna tertawa cekikikan “Kau bisa menyebutnya seperti itu”

 

Mereka kemudian mulai memakan santap siang yang sudah lengkap terhidang “Bagaimana denganmu? Akhir akhir ini sulit sekali menemuimu. Apa kau sangat sibuk di kantor?”

 

Ji Soo mengangguk semangat “Semenjak oppa kembali mengurus JM Group di Jerman, aku harus menangani yang disini. Ah iya, dua hari yang lalu dia terbang ke Seattle. Kurasa menemui Kyu Hyun”

 

Hyuna mengunyah makanannya dan tampak berfikir. Gadis itu ingin tahu sesuatu tapi ragu untuk bertanya “Ji Soo~ya

 

“Hmm?”

 

“Kenapa sepertinya, kakakmu sangat antusias membantu Kyu Hyun? Bukankah mereka belum lama mengenal”

 

Ji Soo kelu, dia tidak tahu harus berkata apa disaat seperti ini. Dia juga tidak memikirkan Hyuna akan bertanya seperti ini

 

A-aah, jangan salah paham. Aku tidak bermaksud menuduh kakakmu macam macam. Aku hanya penasaran. Kalau kau bingung, kau tidak perlu menjawab” Kata Hyuna lagi saat mendapati raut wajah bingung pada Ji Soo.

 

Suasana mendadak canggung tiba tiba, Ji Soo tidak tahan “Aku ke kamar mandi dulu”

 

“Oh? O, o” Hyuna mengangguk. Sepeninggal Ji Soo gadis itu melepas nafasnya yang sempat tertahan “Dasar mulut lancang” katanya sambil menepuk nepuk bibirnya.

 

-o0o-

Ketika pria itu masuk, lonceng pun bersua. Dengan auranya yang selalu berkarisma, serta senyum khasnya yang tak pernah pudar dari wajahnya. Menyapa siapa saja yang bersisian dengannya. Muda, tampan, berkelas. Lalu, siapa yang tidak terpesona?

 

Lee Dong Hae memesan caramel machiato. Setelah mendapatkannya, dia beralih mencari tempat duduk kosong untuk dirinya sendiri. Yah, setelah sebelumnya memberikan satu kedipan mata pada pramusaji.

 

Satu garis bibirnya tertarik keatas ketika dia menemukan sesuatu yang lebih menarik dari sekedar tempat duduk kosong di sana. Pria itu berjalan sembari membawa pesanannya.

 

“Wah, Sekarang aku benar benar sadar dunia ini memang sempit”

 

Hyuna menoleh ketika mendengar suara orang yang tak jauh darinya. Seketika itu juga dia tersedak makanan nya dan terbatuk. Dengan gesit, Dong Hae memberikannya segelas air putih yang ada dimeja itu.

 

Gwenchana?”

 

Y-ye” Hyuna mengangguk canggung. Pria itu tersenyum manis. “Apa aku boleh duduk disini?”

 

Hanya sempat melebarkan matanya tanda terkejut, Dong Hae langsung duduk di samping gadis itu tanpa menerima persetujuan resmi dari sang empunya. Pria itu mendudukan dirinya senyaman mungkin dan melepas kancing jas nya sehingga dia terlihat lebih santai.

 

“Kalau aku tidak salah mengenali orang, bukankah kau reporter dari stasiun TV SBC?”

 

Ne” Hyuna menunduk. Gadis itu mulai bertanya tanya bagaimana bisa dia berada di situasi seperti sekarang ini? Tidak pernah terlintas dalam benaknya dia harus duduk bersisian dengan seorang Lee Dong Hae. Ya. Dong Hae yang sama yang menjadi musuh keksihnya.

 

Dong Hae makin melebarkan senyumnya. Menikmati bagaimana kegugupan gadis itu. Membuatnya menjadi, Dong Hae meletakkan siku tangan kirinya kemudian menopang dagunya kesamping. Seratus persen tatapannya menuju Hyuna “Dan.. kekasih Cho Kyu Hyun?”

 

Hyuna melihat Dong Hae sekilas. Kemudian sadar bahwa semakin lama dia semakin tak nyaman. Gadis itu berdehem dan mengambil milkshake nya untuk kemudian dia minum. Sekedar menghilangkan rasa gurun pasir dalam kerongkongannya.

 

“Jika dilihat dari dekat seperti ini, kau memang cantik” Dong Hae berdecak “Haah, andai saja kau bertemu dengan ku dulunan–” Pria itu melirik name tag yang tergantung di leher Hyuna “Hyuna~ssi

 

Hyuna tercekat, menampakan raut bingung diwajahnya “Hmm?”

 

“Kyu Hyun benar benar bajingan beruntung” Namun tiba tiba senyum manis itu hilang dari wajah Dong Hae, berganti dengan senyum segarisnya “Dia memang selalu beruntung. Dan aku membencinya”

 

Hyuna tersudut. Dia seakan melihat kobaran api disekitar Dong Hae ketika kalimat itu keluar dari mulutnya. Disatu sisi, gadis itu merasa dirinya berhak marah untuk apa yang baru saja Dong Hae katakan. Tapi disisi lain, dia sadar bahwa dia tidak tahu apa apa. Apa yang menyebabkan pria disampingnya itu terlalu membenci Kyu Hyun hingga pada akhirnya tega melakukan segala cara hanya agar melihat Kyu Hyun menderita. Hyuna mulai mempertanyakan  dan menduga duga apa apa saja yang menjadi sebab pertikaian sengit ini. Apa dia harus bertanya? Atau tidak?

 

“Apa yang.. sebenarnya membuatmu begitu membencinya?” dan yah, rasa penasaran mengalahkan segalanya.

 

Dong Hae mengalihkan perhatiannya kembali ke arah Hyuna “Apa yang membuatmu begitu menyukainya?” Bukannya menjawab, Dong Hae malah memberikan pertanyaan semu pada Hyuna.

 

“Well, semua orang punya alasan mengapa dia menyukai seseorang”

 

Dong Hae mengangguk setuju “Semua orang juga mempunyai alasan ketika dia membenci seseorang”

 

Hyuna berkedip, sialan. Dia tidak mendapat apapun dari jawaban Dong Hae barusan .

 

Pria itu tertawa kecil, kemudian kembali bersuara “Nona, dunia yang begitu indah ini menyimpan banyak misteri dan rahasia dibaliknya. Lalu faktanya, ini bisa memaksamu menjadi orang yang begitu kejam dan naif, lalu memilih untuk menutup mata, hati, dan telinga kita untuk kemudian menghalalkan segala acara agar bisa meraih kepuasannya. Dibalik itu semua, orang orang punya alasan. Mereka tahu, kapan untuk membeberkan alasan mereka. Dan, pada siapa mereka akan mengatakannya”

 

Gadis itu menelan ludahnya. Yang pasti, dia tidak terlalu paham apa yang dikatakan Dong Hae. Namun, dia tahu perselisihan diantara keduanya mungkin terlalu rumit.

 

Dong Hae melirik jam nya “Ahh~ sayang sekali. Aku harus kembali ke kantor” pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya, memberikannya pada Hyuna. Sebuah kartu nama.

 

“Kau boleh membuangnya jika kau mau. Tapi mungkin, kau butuh bertemu denganku lain waktu” Dong Hae bangkit berdiri, mengancingkan kembali dua kancing jasnya. “Senang mengobrol denganmu, Hyuna~ssi” Dan dia pun pergi meninggalkan Hyuna setelah memberikan satu kedipan mata untuk gadis itu.

 

Hyuna menghela nafasnya merasa amat lega. Waktu tadi adalah waktu mati baginya. Bagaimana dia merasakan tidak bisa bernafas secara normal. Dong Hae. Aura pria itu benar benar mengusiknya. Iya, Dong Hae berbahaya.

 

Matanya terkunci pada kartu nama Dong Hae di atas meja. Dia mengambilnya, lalu menatap penuh minat.

 

“Haaah, mian aku terlalu lama” Dan dengan tiba tiba, Ji Soo muncul di depannya, dengan terburu Hyuna memasukan kartu nama itu ke dalam tasnya.

 

“Apa kau pergi ke toilet dirumahmu, Ha?! Kenapa lama sekali”

 

Ji Soo tertawa cekikikan “Perutku bermasalah. Kau harus mengerti”

 

“Cih”

 

Mereka berdua kembali melanjutkan makan, Ji Soo menangkap sesuatu di meja makan mereka “Oo, apa itu? Kau memesan Caramel Machiato?” tunjuknya pada sesuatu di atas meja di samping Hyuna.

 

O-oo, itu punyaku”

 

“Tch. Ini aneh. Sejak kapan kau suka minum itu”

 

-o0o-

 

Setelah apa yang terjadi, Dong Hae kembali ke kantor dengan mengetik pesan di ponselnya. Lift terbuka dan dia keluar menuju ruangannya yang sudah terlihat di depan mata.

 

Selesai memberitahu Sung Min bahwa pertemuan di Blues Cafe dialihkan ke kantornya, pria itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.

 

Dong Hae membuka komputer besarnya dan mengecek e-mail. Ketika salah satu pesan terlihat mengganjal dari deretan pesan masuk, pria itu mengerutkan dahinya terlihat gelisah.

 

From : JIN6xxx

“Apa kau senang dengan hidupmu sekarang? Pada akhirnya semua akan selesai dengan kekalahan telakmu Dong Hae~ya. Oh ya, bagaimana dengan bayimu?”

 

Tanpa sadar, Dong Hae menggengam terlalu kuat mouse yang ada di tangannya. Dengan perasaan kesal, dia menjatuhkan dirinya dengan kasar ke bangku kerjanya. Orang itu lagi, ya. Orang tak dikenal itu lagi. Terhitung sudah puluhan pesan dengan maksud yang sama yang masuk ke inbox alamat e-mailnya. Apa yang di katakan orang itu, selalu membuatnya frustasi. Bayi? Bayi apa yang dia maksud? Atau.. mungkinkah?

 

“Dong Hae~ya?”

 

Dong Hae membuka matanya dan menemukan Sung Min sudah berdiri tegap di depannya. Menatapnya pria itu cemas “Oh, Hyung”

 

“Wajahmu kenapa? Apa ada sesuatu?”

 

“Ani”

 

“Ayolah Lee Dong Hae. Ini bukan seperti aku baru mengenalmu”

 

Dong Hae menghela nafas. Percuma mengelak di depan Sung Min “E-mail”

 

Sung Min mengerutkan dahinya “JIN6?”

 

“Oo” Dong Hae mengangguk

 

“Apalagi kali ini?” Sung Min menggeser layar komputernya kemudian dengan cekatan membuka e-mail Dong Hae “Bayi? Bayi siapa yang dimaksud”

 

Nado molla, Hyung

 

“Kau yakin ini bukan.. bayimu?” Sung Min berdehem membuat dirinya lebih aman mengatakan itu.

 

Dong Hae menatap Sung Min dengan wajah lelah “Aku mengira, ini ada hubungannya dengan Choi Hara”

 

“Ahh~ geurae?”

 

“Sebelum kejadian itu, dia mengaku hamil anakku” Dong Hae tersenyum masam “Bukan. Jelas itu bukan. Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya”

 

Sung Min beralih dan duduk di ujung meja kerja Dong Hae. Melipat kedua tangannya di depan dada dn menatap pria itu “Nado arra. Kau bilang kau dijebak olehnya malam itu kan? Sehingga bisa bangun seranjang dengannya”

 

Dong Hae mendelik ke arah Sung Min “Wah, kau percaya padaku? Bisa saja kan aku mengatakan kebohongan, Hyung

 

Sung Min mendengus “Aku terlalu tahu dirimu Lee Dong Hae. Aku tahu, kapan kau berkata bohong dan kapan kau berkata jujur”

 

Dong Hae menunduk dan tersenyum, setidaknya masih ada Lee Sung Min di sisinya kan?

 

“Selain itu, apa kau tidak punya pikiran yang lain?”

 

“Hmm, tidak. Aku yakin sekali ini menyangkut Hara dan bayi yang dikandungnya”

 

“Sshhh, tapi aku penasaran setengah mati. Siapa yang selalu mengirimi mu pesan seperti ini? Dia tahu semuanya, Dong Hae~ya. Bukankah ini ancaman untukmu? Kau.. tidak mencoba melacaknya?”

 

Dong Hae menggeleng “Aku ingin mengikuti alur permainan ini, sampai kapan dia akan bertahan. Dan, bagaimana akhirnya”

 

“Ya! Berhentilah main main dengan hidupmu! Temukan penjahat licik ini, kembalikan perusahaan Cho Kyu Hyun, dan hiduplah sebagaimana mestinya Lee Dong Hae. Ayolah, aku tahu kau bukan orang seperti ini”

 

Ani. Nan joha

 

“Bohong”

 

Suara ketukan di pintu membuat mereka menoleh, sekertaris Dong Hae masuk lalu melangkah dengan sopan dan menundukan kepalanya “Sajangnim, ada seseorang yang ingin menemui anda. Dia tidak punya janji, tapi memaksa untuk bertemu”

 

Nugu?”

 

“Ini aku”

 

Sung Min turun dari posisi duduknya di atas meja saat melihat siapa tamu yang datang tiba tiba itu dan langsung masuk ke ruangan Dong Hae. Pria itu melirik bagaimana ekspresi Dong Hae saat ini, ya. Sulit diartikan.

 

-o0o-

 

Ahra duduk dengan tidak nyaman di kursinya. Dia memegang cangkir teh nya yang membantunya menghangat di ruangan yang dingin ini. Ya, setidaknya bagi dirinya. Sementara Dong Hae masih menatapnya dengan mengetuk ngetukan penanya di atas meja. Tak tahan dengan suasanya mecekam ini, pria itu akhirnya memilih untuk angkat suara.

 

“Sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu. Kurasa, saat di Allure waktu itu, benar kan? Bagaimana kabarmu?”

 

Ahra menatap lawan bicaranya “Tidak cukup baik”

 

“Aku mengerti” Dong Hae mengangguk angguk.

 

“Semua ini.. tolong hentikan” Ahra tiba tiba berbicara sesuatu yang membuat Dong Hae kembali fokus padanya.

 

“Apa yang kulakukan?”

 

“Tidak usah berpura pura bodoh, Aiden. Kau tahu  betul apa yang kumaksud”

 

Dong Hae mendengus “Aku tidak suka percakapan ini”

 

“Aku pun begitu. Tapi aku harus, ani.. kita harus membicarakannya”

 

“Apa yang kau harapkan dariku?” Dong Hae melipat kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

 

Ahra menunduk kan kepalanya dalam “Apa kau sangat membenciku.. hingga melakukan semua ini?”

 

Dong Hae terdiam. Mencoba menjawab pertanyaan Ahra pada dirinya, namun dia sendiri juga bingung. Apa dia membencinya? Apa iya dia melakukan semua ini karena dia membenci Ahra?

 

“Apa kau berfikir seperti itu?”

 

“Dengar, jika memang karena aku, aku minta maaf atas segalanya. Aku tahu ini sudah terlambat, tapi aku telah menerima hukumannya. Tuhan telah menghukumku. Semua yang kucintai, orang orang yang kusayangi pergi meninggalkanku. Saat ini alasan ku untuk bertahan sampai sekarang adalah Hyemi dan Kyu Hyun. Dan sekarang, melihat Kyu Hyun terluka membuatku sedih. Jadi, bisakah kau menghentikannya?”

 

Dong Hae mencibir “Jangan berfikir dongkol, Ahra. Aku tidak melakukan semua ini hanya kerena perbuatanmu yang meninggalkanku dulu. Keluargamu jauh lebih banyak menyakiti aku ketimbang aku harus repot repot memikirkan bagaimana kejamnya dulu kau memilih Siwon daripada aku”

 

Ahra menunduk semakin dalam. Sejak kapan? sejak kapan dia menangis? Ini begitu sakit untuk mengingat kenangan masa lalu yang sudah coba ia lupakan.

 

Dong Hae berdusta. Kenyataannya, hal itu juga merupakan alasan dibalik sikapnya yang seperti ini. Dia masih merasa sakit hati ketika mengingat bagaimana perlakuan Cho Seunghwan padanya yang melarang dia untuk menjalin hubungan bersama putrinya, Ahra. Dikarenakan dia adalah anak dari orang tak punya yang tidak memiliki masa depan cerah. Apakah perkerjaan, martabat, kekuasaan begitu penting ketimbang perasaan yang dimiliki oleh manusia? Lalu sekarang, jangan salahkan apa yang dia lakukan. Dia hanya belajar dari masa lalu yang menyakitkan.

 

“Ahra, kau benar benar percuma datang kesini” Dong Hae menatap wanita itu, wanita yang pernah dia cintai atau bahkan, dia masih memiliki rasa untuk wanita di depannya. Memberitahu dengan raut wajahnya bahwa tidak bisa. Tidak ada yang bisa menganggu gugat keputusannya.

 

“Aku hanya tidak ingin kau.. terluka lagi, Aiden” Ahra berkata lirih, namun masih di dengar oleh Dong Hae.

 

Wanita itu berdiri, dan menatap Dong Hae sebelum dia pergi meninggalkan ruangan itu “Berhentilah. aku tidak mau melihatmu terluka. Aku bersungguh sungguh”

 

-o0o-

 

Panas. Kyu Hyun mengambil Fruity Juice nya segera. Memasang kembali kecamata hitamnya karena menurut dia, ini terlalu terik. Yah. meskipun pria itu kini tengah duduk di bawah payungan besar salah satu meja di restoran, Seattle. Kaki kanannya tertopang di atas kaki kirinya dan dengan tampilan seperti itu, dia tampak sangat casual. Jeans putih, kaos berlengan pendek bergaris. Dan karena rambutnya yang tidak melulu hitam legam, menjadikannya bersinar dengan kecoklatan yang alami dengan bantuan sinar matahari.

 

Tidak membual. Terbukti dengan banyaknya bule yang selalu menengok dua kali ke arahnya. Tampan?  Jelas. Dia benar benar mempesona dari ujung rambut hingga kaki. Oh, pangeran Asia.

 

“Puas menjadi cassanova?”

 

Kyu Hyun tersentak dan otomatis bangun dari posisi duduknya yang bersender saat tiba tiba Hee Chul duduk di kursi di depannya. Hee Chul melepaskan topi koboy nya dan dengan serampangan mengambil minum Kyu Hyun untuk dirinya sendiri.

 

“Apa yang kau lakukan?” Kyu Hyun melepas kacamatanya

 

“Oh, maaf. Disini terlalu panas. Aku dehidrasi”

 

“Bukan itu. Kau menuduhku menjadi cassanova?”

 

Hee Chul mengamati Kyu Hyun dari atas sampai bawah. Seperti itu beberapa kali hingga membuat Kyu Hyun jengah “Ya!”

 

“Ah, kesalahanku. Aku yang lebih cocok untuk menjadi cassanova. Lupakan ucapanku tadi”

 

“Terserah apa katamu”

 

Hee Chul terkikik “Santai saja sepupu. Aku baru tiba dari Jerman, apa kau harus bersikap seperti itu?”

 

“Memangnya aku memintamu untuk datang kemari?”

 

“Meskipun  begitu, kau harusnya tersentuh dengan niat baikku mengunjungimu”

 

“Lalu selain itu?”

 

“Hanya pemeriksaan kecil. Bagaimana ?”

 

“Kau tidak usah memikirkan itu. Aku akan mengurusnya”

 

Hee Chul mendesah dalam “Ayolah. Hilangkan kekeras kepalaanmu itu. Aku harus tahu. Kau harus berbagi. Begitu cara mainnya, dude

 

Kyu Hyun menatap Hee Chul lama dan setelahnya, tidak ada percakapan kembali. Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya mengalah.

 

“Aku sudah mendapatkan beberapa. Pembangunan ilegal. Permainan saham. Pemutusan kontrak kerja secara sepihak. Suap. Jual beli tanah tanpa perlindungan hukum. Kecurangan tender. Dan Pengambilan dana besar di beberapa perusahaan secara tertutup. Berkas semua sudah terkumpul”

 

ASSA!” Hee Chul menjetikkan jarinya “Sudahi sampai disini. Itu lebih dari cukup untuk mejatuhkan Donghae, lalu merebut posisimu kembali”

 

Kyu Hyun tidak menjawab. Dia hanya mengalihkan pandangan dan wajahnya mengernyit karena panas matahari disekitarnya. Hee Chul kebingungan, ini bukan reaksi yang seharusnya dia lihat.

 

“Apa ada sesuatu? Kau kelihatan tidak senang”

 

“Tidak ada”

 

Hee Chul mencoba untuk percaya walaupun dia sadar seratus persen ada sesuatu disini. Dia hanya mengangguk angguk mengerti “Lalu selanjutnya bagaimana?”

 

“Aku belum memutuskan”

 

“Tapi bukankah ini bagus? Kau bisa kembali ke Korea dalam waktu dekat”

 

Kyu Hyun menunduk, dia tampak menimang sesuatu  sebelum akhirnya dia kembali menatap Kyu Hyun “Hyung”

 

“Hmm?”

 

“Aku ingin… bertemu wanita itu” Kyu Hyun terdiam sejenak “I-ibu”

 

Hee Chul terpaku. Apa yang barusan dia dengar?

 

-o0o-

Hyuna menutup map yang berisikan pekerjan yang harus dia lakukan besok. Gadis itu melepas kacamatanya dan mematikan lampu di meja di dalam kamarnya, kemudian beranjak naik ke tempat tidur.

 

Dalam keadaan kamar yang remang, dia terdiam untuk bisa berfikir. Sesuatu, dia ingin melakukan sesuatu yang sudah beberapa hari ini ini mengganjal dipikirannya. Semua masalah yang terjadi ditambah semua urusan pekerjaan yang menyita waktu membuat gadis itu sering terpekur sendiri dalam diam di dalam kamarnya. Kemudian berfikir. Berfikir, dan berfikir.

 

Dua minggu sudah komunikasinya bersama Kyu Hyun tidak berjalan baik, yang membuatnya berspekulasi bahwa pekerjaan pria itu mungkin sangat rumit. Dia tahu Kyu Hyun bekerja sangat keras demi bangkit dari keterpurukan. Dan tidak adanya komunikasi yang baik dua minggu belakang ini, membuatnya sadar bahwa sesungguhnya dia tidak tahu menahu apa sebenarnya yang Kyu Hyun lakukan. Apa yang tepatnya pria itu perbuat hingga harus pergi jauh untuk waktu yang lama seperti ini.

 

Bukan rasa penasaran yang sangat tinggi yang beberapa hari ini mengusiknya melainkan      apa yang seharusnya dia perbuat untuk membantu Kyu Hyun. Itu adalah hal paling mustahil sebenarnya, karena dia sendiri tidak tahu ingin memulai darimana jika memang keinginan untuk membantu itu sudah meluap luap. Gadis itu sangat buta untuk masalah seperti ini dan itu malah memperburuk keadaannya. Dia bertambah frustasi dengan semuanya.

 

“Aaaaahhhh~ Apa yang ahrus kulakukaaaan?” Gadis itu berguling guling diatas kasur.

 

Kemudian satu nama terfikir olehnya, dan dia berharap ini bisa berhasil. “Ji Soo!”

 

Hyuna kemudian menyambar tasnya untuk mengambil ponsel. Frustasi karena apa yang dia cari sulit ditemukan, gadis itu  membalikan tasnya dan memborbardirnya sehingga semua isi di dalam tas keluar. Ketika dia menemukan apa yang dia cari, gadis itu dengan cepat meraihnya. Namun hal lain mengalihkan perhatinnya. Sebuah kartu nama.

 

Hyuna mengamati kartu nama itu dan untuk beberapa detik, tiba tiba dia termenung. Hasratnya untuk segera menguhubungi Ji Soo sudah sirna, menguap entah kemana. Dan entah bagaimana cara berfikirnya, gadis itu mempunyai pengelihatan di dalam fikirannya dalam tiba tiba.

 

“Lee Dong Hae” dan satu nama itu keluar dari mulutnya.

 

-o0o-

 

“Kau sudah mendengarnya, kan?” Dong Hae duduk dengan santai diatas kursi kerjanya. Menatap Sung Min yang sibuk mengamati miniatur resort mereka yang baru.

 

“Apa?” Pria itu tidak mengalihkan pandangannya.

 

“Kyu Hyun. Dia sekarang di Seattle dan mengumpulkan semua bukti kejahatanku”

 

Sung Min berdiri tegak. Memasukkan satu tangannya ke kantung celana dan menatap Dong Hae “Dan kau tidak takut?”

 

Dong Hae tertawa membuat Sung Min tidak heran lagi. Ini memang reaksi yang biasa dia lihat dari Dong Hae “Kupikir dia akan menjatuhkanku bom”

 

“Dan apa kau sudah siap melawannya?”

 

“Apa gunanya melawan. Itu tidak seru”  Dong Hae berdiri kemudian menghela nafas dengan senyum yang lebar “Aku sudah menyiapkanya hadiah. Yah, setidaknya jika dia sudah repot mencari tahu tentangku, aku harus memberinya penghargaan. Ya, kan?”

 

“Lee Dong Hae”

 

“Hmm?” Dong Hae menatap Sung Min sumringah

 

“Apa lagi kali ini?”

 

“Wah, hyung. Kau mengenalku sangat baik”

 

Sung Min mendesah “Jangan main api jika kau tidak ingin terbakar”

 

“Aku sudah sering terbakar. Dan itu sudah bukan ketakutan ku lagi”

 

Ponsel Dong Hae bergedering dan pria itu menyambarnya. Senyum kembali terbit saat  melihat nama yang tertera di layar. Dia menunjukkannya pada Sung Min “Hadiahku untuk Kyu Hyun” ujarnya.

 

Sung Min berdecak kecil “Ahh~ kenapa aku selalu tidak bisa melarangmu?!” sesalnya yang membuat Dong Hae semakin terkikik.

 

“Terserah. Aku akan pergi. Kali ini aku tidak mau tahu. Aku akan tutup telinga, mata dan mulutku. Aku tidak tahu apa apa” kata Sung Min langsung melangkah meninggalkan ruangan Dong Hae.

 

Dong Hae memilih tidak perduli dan mengangkat teleponya.

 

“Ne~ Ah. Geurae? Kalau begitu, aku akan sms kan alamatnya padamu. Sampai ketemu disana”

 

Singkat dan jelas. begitulah seharusnya. Dong Hae bersiul sambil mengirimkan pesan dari ponselnya.

 

-o0o-

 

“Epidural Hematona, pendarahan yang terjadi di antara duramater atau selaput pembungkus otak dan tulang kepala. Terjadi akibat retaknya tulang kepala pada trauma kepala yang selanjutnya retakan tulang itu akan menjadi sumber pendarahan atau dapat pula mencederai pembuluh darah yang berada di selaput pembungkus otak tersebut. Itu yang dikatakan dokter”

 

“Trauma kepala?”

 

“Ibumu mengalami kecelakaan mobil lima tahun yang lalu. Dan sudah tiga tahun keadaannya menjadi seperti ini. Semakin parah, tidak ada berita bagus menyangkut kesehatannya”

 

“Bagaimana bisa?”

 

Hee Chul memegang lengan Kyu Hyun agar pria itu tenang, kemudian mengajaknya keluar dari ruangan itu. Tempat ibunya terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai alat alat medis yang menempel di tubuh ringkihnya.

 

Duduk di ruang tamu, Hee Chul memberikan sebotol air mineral kepada Kyu Hyun. Pria itu tahu sepupunya sedang mengalami shock hebat. Bagaimanapun, dia datang ke Jerman tidak dengan harapan menemukan keadaan ibunya yang terlampau parah.

 

“Pendarahan Epidural adalah suatu jenis perdarahan otak yang tidak terdeteksi dan mematikan. Ibumu terlihat sangat baik baik saja saat itu hingga dua tahun setelah kecelakaan, dia mulai mengalami gejala nya. Puncaknya, ketika hari itu dia ditemukan tertidur di kantor. Semua pegawai yang beberapa kali masuk melihatnya tertidur dan tidak berani membangunkannya, namun ketika sekertarisnya menemukan ibumu dengan posisi dan kondisi yang sama keesokan paginya, dia tahu ada yang salah. Dan, jadilah seperti ini”

 

“Jadi, dia bertahan dengan semua alat alat itu selama tiga tahun ini?”

 

Hee Chul menghela nafas pasrah “Ya”

 

 

 

Kyu Hyun tersentak dalam tidurnya dan tidak butuh waktu lama untuk menyadari saat ini dia masih berada di dalam pesawat.

 

Pembicaraannya bersama Hee Chul yang terngiang selama beberapa waktu hingga terbawa ke mimpinya, membuat pria itu terlihat begitu frustasi. Tidak sampai lima hari pria itu berada di Jerman dan dia disana hanya untuk menemukan ibunya yang menjadi tak berdaya juga penjelasan dari Hee Chul yang cukup membuatnya tertekan.

 

Dia kesal, dan bingung. Satu satunya alasan Kyu Hyun untuk meminta bertemu dengan ibu kandungnya hanyalah untuk mengatakan terimakasih, mengembalikan semua yang ‘katanya’ adalah hak nya, dan memutuskan untuk tidak bertemu kembali dengan wanita itu. Tidak tahu kenapa, meskipun kini dia tahu benar apa sebenarnya terjadi, dia tidak bisa melenyapkan kemarahan itu dari sudut hatinya. Sebagian sisi dirinya sulit untuk menerima bahwa dia masih mempunyai ibu kandung yang jelas jelas tidak bersalah dan semua pandangan orang lain terhadap ibunya itu salah.

 

Namun dia tidak menyangka akan menemukan fakta lainnya lagi. Dan dia sadar, dia tidak bisa marah. Rasa marahnya yang meluap kalah dengan ikatan seorang anak dengan seorang ibu.

 

Tak lama, dia mendengar pengeras suara di dalam pesawat bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Incheon, Seoul.

 

“Lupakan sejenak , Cho Kyu Hyun” Dan yah, dia berbicara untuk dirinya sendiri. Ada hal lain yang lebih genting menunggu untuk diselesaikan.

 

Turun dari pesawat, pria itu menghidupkan ponselnya kembali dan langsung saja, satu pesan masuk ke dalam inbox nya. Dari Dong Hae.

 

Kyu Hyun mematikan kembali ponselnya dan memasukannya ke dalam kantung celana yang dia kenakan setelah membaca alamat yang dikirimkan Dong Hae. Pria itu bergegas menaiki taksi dan menuju ke suatu tempat dimana Dong Hae telah menunggu.

 

-o0o-

 

Ketika alunan musik yang mengalun tenang terdengar, semua orang tampak terbuai dengan kelihaian si pianist yang terampil memainkan alat musiknya di atas panggung sana. Semua pengunjung tampak menikmati dengan khidmat sambil memakan hidangan mereka yang tersaji di atas meja.

 

Di sisi lain restaurant itu, Dong Hae terduduk dengan senyum manis yang puas dan menatap ke arah lawan bicaranya. Gadis itu sepertinya sudah cukup mabuk, ya kan?

 

“Hyuna~ssi? Hyuna~ssi?” Dong Hae melambaikan tangannya di depan wajah Hyuna yang terlihat sayu, dia merespon sesaat namun tak lama kepalanya terhuyung kebelakang dan hampir saja menjatuhkan badannya dari kursi tinggi yang dia duduki kalau saja Dong Hae tidak cepat tanggap bangun dari duduknya dan dengan sigap menangkap Hyuna.

 

“Hyuna~ssi, apa kau bisa mendengarku?” Dong Hae menepuk nepuk pipi Hyuna pelan dan berusaha membuatnya tidak tertidur.

 

“Ja—di” hikk “a-apa, kau “ hikk “ber-sedia mem—mem—membantu Kyu–” hikkk “Hyun?”

 

Hyuna berusaha bicara dengan tergagap dan cegukannya. Dia mendatangi Dong Hae sore ini yang telah setuju untuk bernegosiasi tentang perusahaan Kyu Hyun yang telah diambil alih olehnya. Dan siapa sangka gadis itu akan masuk ke dalam lubang buaya? Dong Hae mencampuri jus jeruk yang dia pesan dengan sejumlah obat yang membuatnya seperti ini. Sepertinya, dewa sedang tidak berada di pihaknya malam ini. Dong Hae bagitu puas dan tidak sabar menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

Dengan hati hati, Dong Hae membantu Hyuna yang berjalan terhuyung keluar dari restaurant dan membawanya ke arah lift. Menekan tombol lantai tertentu untuk membawanya ke penthouse miliknya. Ya, Hotel bertaraf international ini miliknya. Dan tentu saja dia punya satu ruagan khusus untuk dirinya sendiri.

 

Ketika mereka sampai di lantai paling atas, Dong Hae kembali memboyong Hyuna sampai masuk ke dalam penthouse nya yang luas. Dong Hae menjatuhkan Hyuna diatas sofa besar di ruang tengah dan mengeluarkan satu helaan nafasnya yang puas.Pria itu melepas jas dan melonggarkan dasinya. Menggulung kemeja putihnya hingga siku serta membuka beberapa kancing atas kemejanya.

 

Dia melirik ke arah pintu dan mengeluarkan smirk melihat pintu itu yang tidak tertutup sempurna. Ya, dia sengaja membiarkannya seperti itu. Agar dia tidak perlu repot repot untuk membuka kan pintu ketika seseorang datang berkunjung. Bukankah begitu?

 

Dong Hae mendekat ke arah Hyuna, ketika beberapa detik hanya terdiam, dia kemudia maju lalu merendahkan dirinya. Mengunci Hyuna dan menempel lebih erat ke arah gadis itu. Dong Hae mengunci Hyuna dalam pelukannya kemudian  menempelkan dahinya ke dahi gadis yang sedang tidak memeiliki kesadaran penuh itu. Pria itu lalu membelai lembut  pipi kiri Hyuna.

 

Ketika mendapat perlakuan lembut itu, Hyuna merespon. Dia hanya mendapatkan hal semacam itu dari Kyu Hyun. Satu satunya pria yang memperlakukannya seperti itu hanya Kyu Hyun-nya. Namun, kesadaran minimnya mengacaukan segalanya.

 

“Kyuhyun~ah” dan dia mulai mengiggau.

 

Dong Hae tersenyum semakin lebar, dia tidak menyangka permainnanya akan berjalan sangat mulus. “Hmm?”

 

“Kyu~aa” Hyuna mengangkat tangannya yang lemas dan mengarahkannya memeluk leher Dong Hae. Bibir mungilnya terus menyebut nama Kyu Hyun. Tentu dia tidak bisa disalahkan. Gadis itu dalam kondisi buruk, dan hormon kerinduannya atas Kyu Hyun yang terpendam makin memperburuk segalanya.

 

Dong Hae menunduk dan mendekatkan bibirnya pada bibir Hyuna. Pria itu bisa merasakan nafas Hyuna yang memburu. Ingatkan bahwa dia hanyalah pria normal yang kini sedang bermain api, dan seakan kalap Dong Hae meraup bibir Hyuna dengan serampangan.

 

Hanya beberapa detik berlalu ketika ..

 

“BRENGSEK!”

 

BUGHHH !!!!!

 

Dong Hae terhempas kelantai dengan keras dan merasa kepalanya sangat berat ketika terhuyung. Dia mencoba menajamkan matanya yang berkabur, namun kembali seseorang menarik kerahnya dan menghajarnya kembali. Bertubi tubi. Dan bukannya melawan, pria itu hanya pasrah.

 

Near to the end? maybeee~ :*

Advertisements

100 thoughts on “Allure of The Seas #Bab11

Add yours

  1. Donghae licik banget sih mo ngehancurin hubungan kyuhyun dan hyuna..hyuna jg sih mo apa kali menemui donghae..ku harap kyuhyun tak salah paham…dan tahu kalo hyuna dijebak…

  2. Licik juga donghae ternyata ,,sebenarnya apa yang membuat donghae seperti itu ,, bukan karna alasan ahra aja kan ,, semoga dituntun tidak salah paham

  3. Hyuna sih…gimana ya kadang alu gx suka karakter kyk hyuna gitu..
    Menemui musuh dr orang terdekatnya dgn diam” bertujuan ingin membantu yg disayang..
    Tp tidak sadar dia malah jadi umpan.si musuh…

  4. Huuuft …
    laga bnget tu hyuna buat bisa membantu kyuhyun … yg ad mlah dia sndri yg terjebak dgn donghae….
    donghae tu licik jg trnyta ….
    ouwh trnyta donghae tu manta kekasih ny Ahra iia …
    untuk aj kyuhyun dteng tu blum trlambat iia wlaupun msih berciuman sihh blum spnuh ny …

  5. Hyuna pengen bantu kyuhyun melalui musuhnya kyuhyun ???
    ni Hyuna reporter kok polos amat yakk??
    kasian kyuhyun dia dpet masalah bertubi2…pasti jdinya salah paham..

  6. wah ternyata donghae sama ahra pernah ada hubungan dan itu salah satu alasan yang mendasari kebencian donghae pada kyu
    duhh donghae jahat banget sih..kenapa pula si hyuna minta bantuan donghae..bener* rumit

  7. aduuhh aduuhh itu hyuna kenapa pabo yaaa, kenapa nyamperin donghae?????? kyu-ya~
    di ff ini my bebeb donghae jadi jahat, tapi ngga apapalah kalikali hehe..

  8. jgn2 itu kyu lg. donghae kan sengaja ngelakuin itu ke hyuna. mungkin biar hubungan kyu dan hyuna renggang. kejadian masa lalu yg buat dia sprt ini. dia pst dendam bgt sma keluarga cho. dan kayaknya hyemi itu anak kandung donghae bukan siwon. bayi yg dimaksud itu pst hyemi. dan jin6 itu pst kenal bgt sma donghae maupun ahra dan kyu. kemungkinan org dekat.

  9. kyu di jebak donghae??
    hyuna kenapa datengi donghae dalam keadaan mabuk, kan kena jebak kn.
    kalo udh begini makin penasaran nih..

  10. siapa yang mukul donghae? apa kyu? sepertinya gak mungkin larena kyu pergi ke jerman. lalu siapa? aaa.. penasaran tingkat akut. authornya bisa bgt bikin aku penasaran seperti ini. teruskan kerja bagusmu..

  11. hmmmmm….
    Terus gmna nasib mereka ??
    Kyuhyun kah tadi,, atau orang lain yg kbtlan tau hyuna ?? Tpi,, siapa ???
    hyuna jugam, udh tau dong hae musuh kyu,, mlah ngehubungin dia,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: