Love Line ( 13/END)

C1458501-1361299767large copy_副本

Author                  : tatadap

Title                       : Love Line

Main Cast             : -Cho Kyu Hyun –Park Hyuna

Genre                    : Romance

Rating                    : 15

Length                   : Chapter

Desclimer             : Story and plot are mine! Don’t try to copy and paste this without my permission!!!

Happy Reading!

– Flowers Everywhere –

 .

.

Seung Ho tidak pernah merasakan kelegaan luar biasa seperti ini selama hidupnya. Setelah selesai menceritakan kejadian itu, entahlah.. seperti beban dipundaknya lepas begitu saja. Dia meminum kopi nya dan kemudian menyandarkan tubuhnya di dudukan kursi. Sung Jin mengamati wajah lelah ayahnya dan tidak tahu harus berbuat apa.

Sementara Seunghwan belum bereaksi.

Sung Jin memutuskan untuk angkat suara. Dan ketika dia mulai bercerita, ada senyum di wajahnya

“Setelah appa, Sunghwa hyung adalah orang yang sangat aku hormati. Tidak tahu kenapa, tapi saat pertama kali aku melihatnya waktu itu, aku tahu dia adalah orang baik. Dia bijaksana. Dia penyayang. Dia selalu bersikap biasa biasa saja di depan kami semua, dia selalu tersenyum dan ceria dan bilang bahwa dirinya baik baik saja padahal aku tahu dia tidak baik. Pernah suatu malam aku memergoki hyung menangis di kamarnya. Dia merindukan ayahnya, dan adik perempuannya. Dia menyesali kebodohanya karena begitu lemah. Sejak aku tahu dia tidak sekuat yang aku fikir, aku selalu berusaha menopang Hyung dari belakang. Aku selalu menyemangatinya bahkan disaat dia masih bisa tersenyum cerah saat kami bermain bersama. Aku tahu dia begitu benci akan keadaan, tapi aku merasakan apa yang dia maksud. Dia tidak menuntut banyak pada Eomma dan Appa waktu itu untuk lebih berusaha membantunya mencari keluarganya, karena dia fikir dia harus tahu diri. Bagaimanapun, kedua orang tuaku telah menyelamatkannya. Lihat. Dari Sunghwa hyung, aku belajar banyak. Dia yang selalu sabar dalam menghadapi cobaan, serta bertahan dalam keadaan sulit, dan menyayangi sesama dengan kasih yang begitu luar biasa tanpa pandang bulu. Dia tulus.”

Sung Jin menunduk.Tiba tiba bibirnya bergetar dan setets air mata jatuh “Ketika malam itu dokter bilang bahwa nyawanya tidak dapat diselamatkan, seperti ada bom meledak di kepalaku. Aku sangat sedih sekaligus marah. Dia menukar nyawanya untuk Seo Jung. Dia melindungi Seo Jung yang seharusnya adalah aku. Aku merasa begitu bodoh saat itu. Dan kemudian, sebuah tekad yang kuat muncul di benakku. Bahwa aku akan melakukan hal yang sama unuknya. Bahwa aku akan mencari adiknya, bahwa aku akan menemukan Hyuna untuknya, dan eomma

Sung Jin kembali mendongak menatap bergantian Seung Ho dan Seunghwan. “Kemudian aku meminta appa untuk mengirimku kemari. Dengan tujuan utamaku adalah mencari adiknya. Dan apa yang kulihat dirumah Kyuhyun waktu itu, seakan menghantamku. Dari pertama aku melihat Hyuna, aku melihat cerminan Sunghwa hyung di dalamnya. Perasaan ku begitu kuat. Dan pada akhirnya, aku mulai menemukan titik terang. Langkah terakhir adalah menunggu hasil test DNA yang telah kami lakukan”

Seunghwan yang sedari tadi terdiam, mengeluarkan sebuah kertas terlipat dari jasnya. Kemudian pria itu meletakkannya di atas meja, membuat Seung Ho ataupun Sung Jin menatapnya heran. “Apa ini?”

“Bukalah”

Dan saat Seung Ho membukanya, membaca kata demi kata, dan sampailah pada kalimat terakhir dengan tulisan kapital yang dihitamkan ‘POSITIF’

Sung Jin mengerjap, lalu menatap Seunghwa “Paman.. I-ini??”

Seunghwan mengangguk, kemudian mengalihkan tatapannya Pada Seung Ho “Ingat saat aku mengunjungimu ke Amerika? Sejujurnya, aku juga melakukan penyelidikan ini. Aku membayar orang untuk mencari asal usul Hyuna dan sangat terkejut saat semua bukti yang dia berikan padaku menunjuk ke arahmu, lebih tepatnya ke arah Jisoo. Setelah berbincang denganmu di kantor waktu itu, aku mengunjungi rumahmu. Dan maafkan aku tentang ini Seung Ho~ya. Aku telah lancang. Aku memerintahkan salah satu pekerjamu untuk mengambil sampel rambut Jisoo. Kemudian aku melakukan test ini. Hasilnya baru keluar kemarin. Dan yah.. semuanya seperti dugaanku. Yoon Jisoo, istrimu adalah ibu kandung dari putri angkatku”

“Aku mendngar semuanya”

Ketika suara itu terdengar, Seung Ho, Sung Jin dan Seunghwan menoleh bersamaan. Menemukan Kyuhyun berdiri dengan tangan yang dimasukkan kedalam kantung celananya. Wajahnya terlihat sangat lelah dan pakaiannya sudah tidak teratur lagi. Kantung matanya terlihat mengerikan.

“Cho Kyuhyun” Sung Jin berucap.

Kyuhyun berjalan mendekat lalu duduk di satu satunya kursi yang tersisa. Dia menatap kebawah sembari menghela nafas.

“Aku benar benar bersyukur mendengar ini semua” kemudian dia mengangkat wajahnya “Aku tak pernah menyangka bahwa Bibi Yoon adalah Ibu Hyuna. Aku juga tidak pernah berfikir tentang mencari keluarga kandung Hyuna” Kyuhyun tersenyum miris “Sekarang setelah kuingat ingat lagi, memang ada Sunghwa hyung di dalam diri Hyuna. Meskipun aku hanya sempat bertemu beberapa kali dengannya, aku juga tahu bahwa Sunghwa hyung adalah orang baik”

Seunghwan menatap putranya lalu mendesah “Apa kau akan menyampaikan berita baik ini pada Hyuna?”

Pria itu tersenyum lemah “Tentu saja, appa

Geurae. Ceritakan semuanya. Pertemukan mereka. Kau yang harus melakukannya. Appa tahu kau menyayanginya, oke?” Kyuhyun menatap wajah ayahnya tersentak, kemudian saat ayahnya hanya memberi senyum tulus sebagai jawaban Kyuhyun tahu, semuanya akan baik baik saja.

“Tapi, apa aku boleh meminta bantuan Bibi Yoon?” Kyuhyun kembali menatap Sung Jin dan ayahnya, membuat Sung Jin terheran heran.

“Apa itu, nak?” Seung Ho menjawab.

“Bisakah Bibi Yoon.. mendonorkan darahnya untuk Hyuna? Karena hanya dia yang bisa”

-o0o-

Ketika lampu ruang operasi menyala, mereka yang berada diruang tunggu terlihat was was. Kyuhyun bersandar di dinding dengan tangan terlipat di depan dada dan menunduk. Sementara Kedua orang tuanya dan Ahra duduk di kursi. Menunggu dengan tegang dan kepanikan yang luar biasa.

Di ruang lain, di kamar rawat inap Rachel Kim. Seung Ho menenangkan istrinya yang sedari tadi masih menangis. Tidak seperti dugaan mereka bahwa Jisoo akan mengalami kejang lagi seperti dulu saat memori ingatannya dipaksakan , kali ini Jisoo ingat semuanya. Se-mu-a-nya. Bahkan tak satupun penggalan hidupnya tentang mempunyai sebuah keluarga di masa lampau terlewati.

Setelah diberitahu kebenarannya, wanita itu sempat jatuh pingsan beberapa saat. Kemudian terbangun dengan keaadaan yang menakjubkan. Bahwa dia telah membawa kembali memorinya yang sempat hilang. Bahwa dia tahu ada sosok lain dalam kehidupannya yang selama ini dia lupakan. Jisoo kemudian menangis tersedu dan meratapi penyesalannya. Dia menyesal dan merasa bersalah. Merutuki dirinya sendiri dengan meninggalkan suami serta putrinya bertahun tahun lamanya.

Sung Jin dan Seung Ho terus menenangkannya. Mengatakan bahwa itu tidak apa apa. Bahawa semua yang terjadi karena keadaan yang tidak memungkinkan.

Setelah menenangkan diri hari itu dan telah menerima asupan energi yang cukup, dia bisa mendonorkan darahnya untuk putri kandungnya yang sedang menunggu uluran tangan darinya. Jisoo merasa begitu berdosa dengan meninggalkan tanggung jawabnya selama ini. Dia merasa tidak pantas untuk berada disana, diruang tunggu bersama yang lainnya. Dia malu untuk bertemu keluarga Cho yang telah bersedia merawat putrinya. Dia pun takut untuk menemui Hyuna saat operasi sudah selesai. Dia hanya akan berdoa dari tempatnya berada, dan bersedia jika darahnya memang dibutuhkan lagi untuk kesembuhan Hyuna. Bahkan kalau bisa, dia akan menyerahkan nyawanya untuk Hyuna. Jisoo merasa, dengan begitu dia bisa membayar dosa dosanya selama ini.

Saat lampu ruang operasi mati dan seorang dokter keluar dari ruangan itu, Kyuhyun segera menatapnya. Seulas senyum lega terpatri di wajah dokter itu, membuat Kyuhyun bisa membuang nafasnya. Dia serasa tidak bisa bernafas dengan benar beberapa hari belakangan. Memejamkan mata, Kyuhyun mengeluarkan nafas leganya berulang kali, lalu tersenyum. Ada setitik air mata disana dan ketika dia membuka matanya, dia mendongak ke atas “Terimakasih Tuhan, terimakasih”

Di sisi lain, Sung Jin menutup teleponnya kemudian berjalan  mendekati kedua orang tuanya yang terduduk di sofa besar ruang rawat inap Rachel. Dengan senyum leganya pula, Sung Jin menghambur memeluk ibunya dalam kesenangan.

“Operasinya berhasil eomma. Hyuna sembuh, berkat kau”

Bahunya merosot seketika. Jisoo memejamkan matanya dalam khidmat, mengucap beribu terimakasih pada sang pencipta. Setidaknya, setelah apa yang terjadi dia bisa menyelamatkan darah dagingnya sendiri.

-o0o-

Suara jam dinding yang berdenting adalah satu satunya yang terdengar di ruangan ini. Asap mengepul keluar dari mesin penghangat. Matahari mulai berjalan bersembunyi dalam peraduanya. Menandakan senja telah datang. Sinar berwarna orange masuk memenuhi ruang itu.

Kyuhyun terduduk diam di samping ranjang rumah sakit. Menatap Hyuna yang tertidur dalam damai pasca pemindahan nya di ruang rawat. Setelah melewati masa kristisnya, kondisinya sudah stabil sekarang.

Suara pintu yang terbuka pelan mengalihkan perhatian Kyuhyun. Saat pria itu melihat Jisoo memasuki ruangan, dia berdiri sigap. Kemudian membungkuk sebagai tanda kesopanannya. Jisoo melakukan hal yang sama, kemudian berjalan mendekat ke arah ranjang Hyuna.

Dengan tiba tiba, bibirnya terkatup saat merasa getaran itu datang. Matanya memanas dan nafasnya terengah. Dengan gemetar, tangannya menjulur. Mengusap puncak kepala Hyuna dengan sangat hati hati dan perasaan sayang yang teraamat dalam. Detik itu juga, tangisannya pecah.

“Putriku..” Dia menangis. Begitu banyak yang ada dipikiran Jisoo saat ini. Dan semua itu mengarah pada rasa bersalahnya yang menerjang ke ulu hatinya. Menyebabkan dia menangis sesenggukan.

Jisoo menunduk perlahan dan mengecup puncak kepala Hyuna. Dia berlama lama disana. menghirup lembut aroma yang bisa dia cium dari Hyuna.

Setelah agak tenang, Jisoo kembali berdiri tegak. Memegang lengan Hyuna dan mengelusnya.

“Dia tumbuh baik” katanya sambil mengusap air matanya dengan sebuah saputangan yang diberikan Kyuhyun. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Hyuna yang masih belum sadar.

“Dia menjadi gadis yang cantik, ya kan?” kini perhatinnya beralih ke Kyuhyun. Menatap pria itu dengan sisa air mata yang melekat. Dan senyum miris terlihat disana.

Kyuhyun membalasnya dengan senyum, lalu menatap Hyuna “Ya, dia begitu cantik. Semua yang ada padanya begitu cantik” ujarnya

Jisoo menghela nafas “Aku merasa sangat berdosa. Aku tidak pernah mau berusaha untuk mengembalikan ingatanku” Jisoo mulai berkaca kaca “Ketika Sung Jin menceritakan semuanya, itu bagaikan aku terlempar dari tebing yang sangat tinggi. Menyadarkanku akan sesuatu yang kutinggalkan begitu lama. Aku benci diriku sendiri yang tidak becus menjadi ibu. Setelah Sunghwa meninggal, aku merasa menjadi ibu yang lalai untuk anakku. Dan saat mengetahui fakta ini, aku merasa aku bukanlah seorang ibu. Aku lebih mengerikan dari apapun” Jisoo mengusap air matanya yang keluar lagi dengan deras.

“Bibi Yoon~”

Jisoo tersenyum lalu kembali menatap Kyuhyun “Biarkan aku menilai diriku sendiri. Aku tidak ingin mendengarmu berkata apapun. Termasuk hal hal agar membuatku tenang. Aku sudah tenang dan baik, kau jangan khawatir”

Kyuhyun mendesah. Pria itu berjalan mengitari ranjang rumah sakit lalu berdiri di depan Jisoo “Lihat. Aku tahu sekarang darimana Hyuna mempunyai sifat seperti ini. Ternyata dari kau”

Jisoo terkekeh “Kau mengenal putriku sangat baik, rupanya”

“Lebih dari yang kau fikir” jawab Kyuhyun asal

Jisoo tersenyum menatap Kyuhyun “Aku bahkan tidak tahu bagaimana putriku, dan orang lain lebih tahu daripada aku”

Kyuhyun salah tingkah “Tidak, bukan begitu bibi”

“Tenanglah, nak. Aku tidak apa apa. Ingat?”

Kyuhyun mengalah. Kemudia menatap Jisoo saat merasakan wanita itu menyentuh lengannya “Dengar. Aku mempercayakan Hyuna padamu”

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya, Ji soo menunduk lalu melemaskan bahunya “Jangan pernah mengatakan tentang aku, tentang fakta ini, juga donor darah itu. Aku tidak berniat untuk bertemu dengannya saat dia sadar nanti. Aku juga tidak tahu apakah aku sanggup untuk bertemu dengannya. Semua kejadian ini membuatku berdosa saat melihatnya. Untuk itu, jagalah dia. Jaga dia seperti saat aku belum datang. Teruslah berada disisinya, ya? Aku tahu kau menyayangi Hyuna. Aku bisa merasakannya”

Kyuhyun gelagapan “Bibi.. apa kau bercanda? Kau tidak akan menemui Hyuna?”

Jisoo menggeleng sedih

“Tapi, dia pasti sangat senang saat bertemu denganmu. Dia sudah lama menantikannya. Dia percaya bahwa dia bisa bertemu dengan ibunya. Itu yang dikatakannya saat kami baru bertemu dulu”

“Tapi aku yang tidak mampu, Kyuhyun. Aku benar benar tidak bisa melihatnya”

“Bibi–”

“Lusa aku akan kembali ke Amerika. Kuharap kau melakukan apa yang kukatakan. Kumohon?” Jisoo menatap Kyuhyun dengan linangan air mata. Susah bagi Kyuhyun untuk memutuskan sebenarnya. Tapi jika memang ini yang menurut Jisoo benar, Kyuhyun akan mencoba untuk melakukannya.

Dengan berat hati, Kyuhyun mengangguk “Baiklah”

-o0o-

Dia merasakannya. Tangan hangat yang menggengam lembut jemarinya. Mengusap penuh kasih. Dia mendengarnya. Nyanyian lirih nan merdu dari sosoknya. Panjatan doa yang teruntuk agar dia bisa tersadar. Ingin rasanya dia membuka mata itu. Tapi sesuatu yang berat menghalanginya. Hingga ketika pada akhirnya dia melawan rasa kuat itu, dia berhasil. Dengan perlahan membuka kelopak matanya.

Samar. Apa yang di lihatnya terasa kabur. Namun setelah beberapa kali mengedipkan mata dan berusaha fokus. Dia melihatnya.

Kyuhyun. Tertunduk dalam renungganya. Mengenggam jemari tangannya. Hangat dan lembut.

Untuk sepersekian detik, Hyuna membiarkan dirinya dalam posisi seperti ini. Seluruh tubuhnya menghangat. Perasaan yang selalu dia sukai jika berada dekat dengan pria-nya. Merasakan Kyuhyun tak lagi jauh darinya, juga telah tertangkap oleh matanya sendiri. Disaat itulah dia merasa sudah benar benar aman.

Menggerakan jarinya, Kyuhyun tersentak kemudian mengangkat wajah. Dan gadis itu bisa melihat, wajah Kyuhyun-nya yang tampan tampak begitu mengerikan. Membutnya meringis dalam hati.

“Hey” Suara itu menggema di telinga Hyuna. Begitu lembut dan pas.

Perlahan Kyuhyun bangkit dari duduknya. Mendekati Hyuna. Mengusap puncak kepalanya dan mencium dahinya lama. Gadis itu bisa merasakan nafas Kyuhyun di wajahnya. Dan helaan yang begitu lega. “Akhirnya kau bangun”

Berusaha mendongak namun tak berhasil, Hyuna hanya dapat melirik Kyuhyun yang kini memejamkan mata dalam kerinduan. Dia tahu Kyuhyun merindukannya, dan begitupula dirinya. Terasa menyakitkan saat memendam rasa sepeti itu. Penantian yang menyebalkan.

Ketika Kyuhyun telah puas berada di dahinya. Matanya turun. Menatap Hyuna yang juga menatapnya. Denga senyum lemahnya, Kyuhyun mengusap pipi Hyuna lembut “Kau tahu betapa kau membuatku khwatir, hm?” suaranya mengalun ditelinga Hyuna.

Dengan susah payah, Hyuna berusaha menjawab “Ma-af” lirihnya

“Apa kau pantas mengatakan maaf sekarang?”

Hyuna tersenyum lemah lalu menggeleng. Ketika tiba tiba raut wajahnya berubah dan matanya memanas kemudian setetes air mata jatuh, Kyuhyun terlihat panik. “GwenchanaEoddie appo?”

Hyuna menggeleng. Dengan tangannya yang terangkat perlahan dan bergetar, dia menyentuh lengan Kyuhyun. “Bisakah.. bisa-kah kau .. memelukku?” suaranya lirih, samar, dan tercekat. Air matanya semakin deras mengalir. Membuat Kyuhyun hanya memilih untuk tidak berfikir dua kali dan memeluk lembut gadisnya.

Hyuna-nya yang sakit dan rapuh. Terlihat kecil dan lemah. Menangis di hadapannya. Bisakah hati Kyuhyun tenang melihat itu semua?

“Aku takut Kyu. Sejujurnya.. Aku takut” Gadis itu menangis di pundak Kyuhyun. Menggigit bibirnya menahan tangisan yang mungkin bisa lebih parah dari ini. Menyembunyikan kepalanya di cerukan leher Kyuhyun. Menghirup lembut aromanya membuat dia sedikit tenang.

Yah. Kejadian itu membuat nya merasakan traumatic. Bohong jika Hyuna tidak merasakan apapun walaupun faktanya dia terlihat menentang Rachel kala itu. Namun itu disaat dia sendirian, dia merasa harus mampu melindungi dirinya sendiri. Untuk beberapa alasan, dia merasa tidak takut. Tapi setelah melihat Kyuhyun di hadapannya. Menunjukkan sikap bahwa dia sangat disayangi, pertahannannya runtuh. Hyuna hanyalah gadis biasa yang butuh perlindungan. Yang baru pertama mengalami masa mengerikan itu. Penculikan. Penganiayaan. Benda tajam. Darah. Serta.. kecelakaan.

“Aku janji ini semua tidak akan terulang lagi. Aku janji” Kyuhyun bersumpah dalam tekadnya. Menenangkan Hyuna yang menangis bergetar.

Kyuhyun mengepalkan tangannya. Menahan amarah. Rachel melakukan ini semua. Rachel membuat Hyuna terbaring di ranjang rumah sakit. Terluka, dan merasa ketakutan. Ingatkan dia untuk memberi pelajaran pada Rachel.

“Jangan” Kyuhyun tersentak. Seakan Hyuna bisa membaca pikirannya. Pria itu melepas pelukannya, lalu menatap Hyuna dalam “Apa?”

“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Jangan. Jangan marah pada Rachel, Kyu” Hyuna berucap lirih dengan sisa air matanya.

Dengan sabar Kyuhyun mengusap air mata gadisnya, kemudian mendesah “Tapi dia membuatmu seperti ini”

“Dia tidak bersalah Kyu. Dia melakukan hal yang benar”

“Menculikmu adalah hal yang benar?”

“Bukan. Dia masih menjadi dirinya sendiri”

Kyuhyun ingin berteriak tapi itu tidak memungkinkannya. Rasa kesal terhadap Rachel membuncah tapi ternyata Hyuna mengatakan hal yang tak dimengertinya. Pada akhirnya Kyuhyun hanya menunduk dan melemaskan bahunya “Aku tidak mengerti”

Hyuna menggapai pipi Kyuhyun. Mengusapnya lembut membuat Kyuhyun menatapnya “Percaya padaku, ya?”

Dengan tatapan sungguh sungguh itu, apa Kyuhyun mampu menolaknya? Dengan berat hati pria itu mengangguk. Dan diam diam tersenyum, memikirkan bahwa Hyuna sama dengan ibunya. Sama sama bisa membuatnya patuh dalam kebingungan.

-o0o-

Ketika Kyuhyun keluar ruangan dan meninggalkan Hyuna demi mendapat beberapa makanan di cafetaria rumah sakit, seorang suster datang untuk memeriksa keadaannya. Setelah siuman kemarin, kondisinya mulai stabil dan jika seperti ini terus menerus, gadis itu akan di depak dari rumah sakit dan diantar pulang ke keluarganya dengan segera.

Suster itu tersenyum menyapanya “Wah, senang melihat anda sudah siuman nona Park” katanya sambil mengecek selang infus yang sekitar dua puluh menit lalu baru diganti. Lalu menulis entah apa itu di kertas putih yang selalu dibawanya. Hyuna menebak, itu adalah catatan kesehatannya.

“Terimakasih” Balas Hyuna tersenyum

“Bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Emm.. lebih baik, kurasa. Walaupun nyeri disini masih sering terasa” Hyuna menunjuk kakinya yang terjahit. Akibat robek terlalu dalam pasca kejadian penculikan itu.

“Selain itu, tidak ada keluhan lagi kan?”

“Tidak”

“Syukurlah” kemudian suster itu mengamati ruangan Hyuna. Wajahnya terheran karena mendapati ruangan kosong. Sangat berbanding terbalik ketika beberapa hari ini terlalu banyak orang yang selalu mengantri untuk melihatnya.

“Ada apa, suster?” Hyuna yang menyadari perubahan wajah suster itu bertanya, sehingga wanita berpakaian serba putih dengan topi kecil di kepalanya itu melihatnya lagi.

“Kenapa ruangan anda kosong, nona? Seingat saya keluarga anda selalu datang menjaga anda”

“Oh, itu. Kalau suster melihat pria yang baru saja keluar itu, dia Kyuhyun. Aku menyuruhnya untuk mendapatkan beberapa makanan untuk dirinya sendiri. Dia tidak makan karena menjagaku terus menerus, aku merasa bersalah padanya”

“Ah. Si pria tampan yang tinggi itu kan? Tuan muda Cho? Aku tahu kalau dia” Hyuna menaikkan alisnya geli saat melihat perubahan wajah suster.. dia melirik name tag nya, suster Yoo namanya. Kemudian menggelengkan kepalanya. Kyuhyun benar benar. Pesonanya masih bisa dikagumi orang walaupun dia terlihat seperti mayat hidup.

“Y-ya.. kau bisa mengatakannya seperti itu” Hyuna menjawab geli.

“Lalu yang lainnya?” seperti tidak mau pergi, suster itu terus mengajak Hyuna berbicara.

“Orang tuaku sedang dalam perjalanan kemari”

“Ah, begitu” suster itu menganggukan kepalanya mengerti. Lalu tiba tiba menatap Hyuna kembali dalam ketertarikan dan antusiasme tinggi “Chogiyo, kejadian kemarin itu benar benar menakjubkan. Aku seperti menonton sebuah film” dan dia bersikap sok akrab kini, uuh.

Hyuna sedikit risih sebenarnya. Dia ingin kembali rebah di atas bantalnya dan memejamkan mata. Tetapi sepertinya, suster Yoo ini masih ingin berbincang bincang dengannya.

“Kejadian apa?” Hyuna lebih memilih untuk menanggapi.

“Kemarin, kau menjadi korban tabrak lari, kan?  Dan itulah alasanmu  berada disini sekarang”

Hyuna mengannguk ragu “Ya, lalu?” dia merasa bingung. Dimana bagian menariknya? Sepertinya banyak sekali orang yang masuk rumah sakit karena tabrak lari.

“Kau sempat kritis karena kehabisan banyak darah. Dan ternyata darahmu itu langka sekali. Hanya keluarga kandungmu saja yang bisa mendonorkan darahnya. Lalu setelah kuingat ingat, kau ini .. Park Hyuna kan? Anak angkat dari keluarga chaebol Cho itu?”

Hyuna mengangguk pelan. Tiba tiba keringat turun dari pelipisnya.

“Dan saat itu, ibumu muncul. Kau bisa selamat sekarang karena donor darah yang dilakukan oleh ibu kandungmu. Wah, benar benar menakjubkan, kan? Kalian sudah lama terpisah, lalu saat kau dalam kritis ibu mu datang dan menyelamatkanmu. Ini seperti adegan di film film” Ssuter Yoo masih berceloteh ria dengan semangat membaranya, tanpa menyadari perubahan raut wajah Hyuna.

Gadis itu tercekat. Apa yang sedang dibicarakan suster Yoo di depannya ini? Apakah dia memang tipikal gadis yang suka membual, atau memang pencari perhatian semata?

“Apa yang—kau bicarakan, suster?” Hyuna bertanya lirih. Beruang kali dia berusaha untuk tidak memperdulikan celotehan suster Yoo yang tak masuk akal. Namun apa yang keluar dari mulutnya adalah bentuk lain dari hatinya yang penasaran. Penasaran dan ingin tahu. Benarkah? Benarkah ibunya datang menyelamatkannya? Lalu sekarang, dimana dia?

Suster Yoo terlihat bingung, sebelum dia sempat menjawab Hyuna kembali menatapnya. Gadis itu terlihat menahan marah dan matanya berkaca kaca “Jangan bicara sembarangan, suster Yoo. Kau fikir kau akan dapat apa jika mengatakan itu didepanku. Ha? Kau sama saja! Kalian semua sama saja! Apa semua orang di dunia ini merasa marah karena aku diangkat anak oleh keluarga Chaebol?! Sampai kau—“ Hyuna menunjuk suster Yoo dengan telunjuknya “Kau bahkan mengarang cerita bahwa ibuku ada disini? Kau berharap aku pergi dari keluarga Cho kan? Kau berharap, jika aku bertemu ibuku aku akan meninggalkan keluarga Cho kan? Kalian semua sama saja! Kalian semua picik”

Hyuna mengusap kasar air matanya yang tiba tiba mengalir. Entah kenapa dia begitu marah dengan apa yang dia dengar dari suster Yoo. Untuk beberapa alasan, dia meyakini di dalam hatinya bahwa ucapan suster Yoo itu benar. Tapi berfikir dengan logikanya. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa disaat dia tidak sadarkan diri tiba tiba saja ibunya datang dan menyelamatkan hidupnya. Ini semua seperti sudah terancang. Garis takdirnya begitu rumit. Dan fakta bahwa dia bahkan tak melihat ibunya disini membuat dia mengeluarkan kemarahannya ke suster Yoo. Jika memang benar apa yang dikatakan suster itu, dia pasti sudah melihat ibunya. Ibu kandung yang selama ini dia rindukan. Dan Kyuhyun pasti sudah menceritakan hal itu padanya. Tapi apa sekarang? Apa orang normal akan percaya begitu saja dengan yang dikatakan oleh suster Yoo?

Disisi lain. Suster Yoo terlihat takut dan merasa bersalah. Dia merutuki dirinya sendiri yang mungkin telah salah berucap. Dengan takut dan suara bergetar, dia membuka suara “Ani, bukan begitu. Aku mengatakan yang sesungguhnya. Aku benar benar tidak bohong. Nama ibu anda, Yoon Jisoo kan?”

Hyuna menatap suster Yoo tak percaya, matanya menyipit. Bagaimana orang asing ini tahu nama ibunya? “Bagaimana kau bisa tahu nama ibuku?” Hyuna bertanya apa yang mengusik kepalanya.

“Itu karena aku berkata benar nona. Lihat” Suster Yoo maju mendekati Hyuna. Kemudian menunjukkan Hyuna catatan kesehatannya. “Ini adalah orang yang kemarin mendonorkan darahnya untukmu. Yoon Jisoo. Aku benar kan?”

Dan serasa dihujami ribuan es, Hyuna tersadar. Ya . Tiba tiba hatinya berdegup kencang seolah memacu adrenalinnya. Kemudian, gadis itu bisa merasakannya. Merasakan kehadirannya. Samar, dia bisa merasakan sentuhan hangat di kepalanya saat dirinya masih terbang jauh di alam bawah sadar. Dan kini setelah yakin, dia tahu itu memang ibunya. Ibu kandungnya yang selama ini dia rindukan.

Maldo andwe” Hyuna tak fokus, kemudian menatap ke arah suster Yoo “Di-dima-na.. dimana ibuku sekarang?” tuntutnya penuh tanya “Suster Yoo!! Dimana ibuku” Hyuna mengguncang guncang lengan suster Yoo membuat suster Yoo kembali merengut takut.

“Maafkan saya nona, saya tidak tahu”

Seakan menjadi penolong suster Yoo, tiba tiba pintu ruangan terbuka dan Sung Jin masuk dengan tergesa. Melepaskan suster Yoo dari genggaman kuat Hyuna. Suster Yoo mendesah dalam kelegaan dan membungkuk untuk mengucapkan terimakasih dan maaf lalu langsung pergi dari ruangan itu.

“Hyuna. Kau kenapa?” Sung Jin memegang pundak Hyuna dan mengguncangnya kecil. Mencoba menyadarkan gadis itu bahwa tindakannya barusan membuat orang lain takut.

“Sung Jin, Suster tadi bilang bahwa yang mendonorkan darah untukku adalah ibuku. Kenapa semua orang tidak mengatakan apapun? Dan dimana ibuku sekarang?” Rentetan pertanyaan itu keluar dari Hyuna. Memaksa Sung Jin untuk bisa menjawabnya. Namun pria itu terlihat berat hanya untuk bercerita, karena janjinya pada ibunya. Janji yang sama dengan yang Kyuhyun lakukan. Bahwa Hyuna tidak boleh tahu tentang ini.

“Hyuna, hey. Tenangkan dirimu dulu” Sung Jin berusaha mengalihkan perhatian Hyuna, namun tidak berhasil.

“Dimana ibuku” gadis itu terus merengek. Kini dia sudah menangis dengan wajah yang memerah.

“Tenang Park Hyuna!”

“Berhenti menyuruhku tenang! Apa mungkin dalam keaadan seperti ini aku bisa tenang? Ayo katakan padaku” dan Sung Jin terdiam saat Hyuna membentaknya.

“Kenapa rasanya kau begitu berat untuk mengatakannya, ha? Katakan padaku. Itu ibuku, aku berhak tahu. Dan jika aku bertemu ibuku, mungkin aku akan bertemu Sunghwa oppa juga. Kim Sung Jin, ayo beritahu aku. Kumohon” suara nya semakin lemah. Hyuna tertunduk dalam tangis yang memilukan. Sementara Sung Jin masih terdiam di depannya tanpa melakukan apapun. Bergulat dengan fikirannya, Sung Jin tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Haruskah dia mengatakannya atau tidak?

Ketika Kyuhyun masuk dengan membawa sesuatu ditangannya, wajahnya langsung pucat pasi melihat Hyuna yang menangis histeris. Terduduk dan menunduk di ranjangnya dengan keadaan yang mengenaskan. Wajah pucatnya memerah karena kerasnya dia menangis. Rambut panjangnya berantakan. Dan yang lebih membuatnya heran, kenapa ada Sung Jin di sini. Berdiri diam di depan Hyuna dengan raut wajah yang Kyuhyun pun tidak bisa menebak apa itu.

“Ada apa ini? Hyuna, neo gwenchana? Ha?!” Kyuhyun menghambur memeluk Hyuna posesif. Lalu memeriksa apakah gadisnya baik baik saja atau tidak.

Hyuna mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun sayu. Air mata masih membanjiri wajahnya. “Oppa, kau bilang kau mencintaiku kan? Iya kan?

Kyuhyun tersentak. Kenapa dengan pertanyaan ini? Dan ada apa dengan panggilan ‘oppa’ itu? Hyuna tak biasa memanggilnya seperti itu.

Lebih memilih memendam rasa penasarannya, Kyuhyun hanya mengannguk. “Tentu saja. Tentu aku mencintaimu”

“Kalau begitu, jawab pertanyaanku dengan jujur, eoh?”

Kyuhyun mengangguk pasti meski dia juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi disini.

“Katakan, dimana ibuku sekarang?”

Kyuhyun terkejut. Dan persis seperti Sung Jin, pria itu terdiam. Bingung menjawab apa. Setelah hening yang cukup lama, Hyuna memukul dada Kyuhyun dan menjerit “Kalian semua sama saja! Kalian semua jahat! Tidak ada yang memikirkan aku! Tidak ada yang memikirkan kebahagiaanku! Aku benci kalian semua!!”

Secara membabi buta, gadis itu memukuli Kyuhyun dengan tangannya yang lemah. Dan pria itu hanya terdiam menerima pukulan Hyuna. Demi Tuhan, bahkan mungkin seekor semut pun tak mampu mati jika dipukul seperti itu. Tenaga Hyuna sudah benar benar hilang dan dalam kondisinya dia makin down untuk melakukan hal semacam ini.

Dengan secara tiba tiba, Sung Jin mencekram lengan  Hyuna membuat gadis itu tersentak lalu menoleh ke arah Sung Jin. Begitupun Kyuhyun yang terkejut.

“Kau ingin tahu dimana ibumu? Ikut aku”

Kyuhyun membukatkan matanya, lalu mencekal lengan Sung Jin yang memegang Hyuna “Hyung! Neo micheosseo?!!” Bentaknya “Kau tidak lihat kondisinya? Kau ingin membahayakan nyawanya, HA?!!”

Sung Jin mendesah lalu menatap Kyuhyun “Bawa infusnya. Bila diperlukan, bawa juga seorang suster”

Andwe! Aku tidak akan melakukannya. Dia butuh istirahat Sung Jin hyung” Kyuhyun menahan amarahnya. Jika saja Sung Jin orang lain, mungkin dia sudah menendang orang itu keluar dari kamar Hyuna.

“Kyuhyun~ah, aku tidak apa apa. Kumohon biarkan aku” Kini Hyuna yang memelas pada Kyuhyun. Pria itu menggeleng tegas sebagai jawaban “Aku tidak mengizinkanmu keluar dari ruangan ini. Tidak akan”

“Kumohon, Kyu~” Hyuna menggigit bibirnya, merasa frustasi.

Sung Jin tiba tiba mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.

Ya! Aku perlu membawa Hyuna untuk suatu urusan mendadak. Apa kondisinya memungkinkan?”

Kyuhyun menyipitkan matanya. Menebak siapa yang Sung Jin telepon karena nada bicaranya terengar non-formal dan yang lebih mengejutkan, dia menanyakan kemungkinan Hyuna keluar dari rumah sakit.

Sung Jin melirik ke arah cairan infus Hyuna “Ya. Cairannya masih banyak. Kurasa baru diganti” setelah mengangguk beberapa kali dan mengerti, Sung Jin mematikan sambungan telepon. “Bawa infusnya” titah Sung Jin pada Kyuhyun.

“Tunggu, hyung! Siapa yang kau telepon”

“Dokter Choi”

Kyuhyun menyipitkan matanya. Sung Jin menghubungi dokter Choi, dokter penanggug jawab Hyuna. Kenapa dia tidak tahu Sung Jin mengenalnya?

Hanya terdiam, Sung Jin menghela nafas “Kau mau ikut atau tidak, Cho Kyuhyun? Kalau mau, cepat bawa infusnya!”

Kyuhyun gelagapan dan kesadarannya kembali “Kau mengenal dokter Choi”

Sung Jin berdecak “Ne ne ne! Choi Siwon adalah adik kelas ku sewaktu senior high school. Dan dia mengizinkan kita membawa Hyuna. Puas? Sekarang bisa kau dengarkan aku? Cepat ambil infus itu agar tetap terpasang bersama Hyuna!”

Kyuhyun mengangguk cepat. Setelah mengambil infus, dia berjalan di sisi kanan Hyuna sementara Sung Jin disisi kirinya. Mereka memapah Hyuna setelah sebelumnya memakaikan gadis itu sepatu dan tambahan hodie yang hangat.

-o0o-

Melenggang di jalanan kota Seoul yang tidak terlalu padat, Hyuna duduk di kursi penumpang di belakang bersama Kyuhyun. Sementara Sung Jin mengemudi di depan. Suasana sangat sepi dan hening. Mencekam hingga Sung Jin merasa, kaca kaca mobilnya mungkin saja bisa pecah karena tekanan itu.

“Bajingan beruntung. Kau menjadikan hyungmu ini supir, huh?” Demi memecah keheningan itu, Sung Jin bersuara. Menatap Kyuhyun lewat kaca di dalam mobilnya dan memamerkan senyumnya yang mengejek. Dari kaca, Sung Jin bisa melihat Hyuna yang hanya terduduk diam memalingkan wajahnya ke jalan. Sementara Kyuhyun, duduk dengan satu tangan terangkat ke atas demi memegangi infus Hyuna.

“Diam dan fokus pada jalan, hyung

“Ha! Kau memerintahku. Okay, kuturuti untukmu” namun tak lama, Sung Jin kembali bersuara “Tanganmu tidak apa apa Kyuhyun~ah? Kurasa nantinya itu akan kaku dan kram”

Kyuhyun berdecak memelototi Sung Jin lewat kaca di mobil “Fokus, hyung. Tolong”

Serasa terpanggil, Hyuna menoleh lalu melihat tangan Kyuhyun yang menggantung bebas di udara memegangi infusnya. Menjaga agar posisi itu lebih tinggi, memudahkan cairan bening itu lewat dengan lancar melalu selang dan masuk ke dalam tubuh Hyuna.

“Kyu, jika kau lelah aku saja yang memegangnya”

Kyuhyun menatap Hyuna lalu mendengus, lebih seperti tidak percaya. Disaat seperti ini? Ck!

“Dan kau fikir aku akan membiarkanmu memegangnya? Dweseo!”

“Tapi nanti tanganmu akan pegal”

“Aku bahkan berharap, aku yang menggantikanmu sakit. Dengarkan aku, cukup untuk membuatku khawatir beberapa hari ini Hyuna. Kau tidak tahu seperti apa aku ketika mendengarmu hilang? Lalu kau ditemukan dalam kondisi mengenaskan? Mungkin jika aku tidak mempunyai pertahanan diri yang kuat, kepalaku sudah pecah. Memikirkanmu melalui semua kesakitan itu sendirian membuat aku lebih baik bertukar posisi denganmu. Jadi untuk hal kecil seperti ini, aku masih seribu persen sanggup dan mau melakukannya untukmu”

Kyuhyun menatap Hyuna. Gadis itu hanya terdiam dan tampak lelah. Dengan perlahan, Kyuhyun meraih pundaknya dan mendekap Hyuna dalam pelukan hangatnya. Menyandarkan kepala Hyuna di dada kirinya dan mengelus sayang puncak kepalanya.

“Ini adalah terakhir kali kau membuatku khawatir, okay?” Kata Kyuhyun berucap lirih, Hyuna mengangguk “Maafkan aku”

“Berhenti meminta maaf, aku bosan mendengarnya. Sekarang pejamkan matamu. Kau bisa istirahat sebentar sebelum kita sampai”

Sung Jin menonton adegan itu dalam senyum. Kini, Kyuhyun tak lagi menyembunyikan perasannya dan bisa lebih terbuka akan sikapnya.

“Sung Jin, kita mau kemana?”  Hyuna bertanya, mengalihkan fokusnya pada Sung Jin.

“Ke rumahku”

“kenapa?” Hyuna mengernyit bingung

“Karena ibumu ada disana”

“Dirumahmu?”

-o0o-

Yoon Jisoo menutup koper nya setelah yakin semua barang telah dimasukkan. Pesawat akan membawanya terbang ke Amerika kira kira dua jam lagi.

Wanita yang telah berumur itu masih cantik diusianya. Aura nya benar benar terpancar baik dari segi seorang ibu atau seorang istri. Jisoo duduk di pinggiran ranjang lalu menghela nafasnya. Setitik keraguan kembali muncul ketika dia mengingat akan pergi jauh lagi dari putri kandungnya.

Saat dia sadar bahwa air mata nya jatuh, Jisoo buru buru menghapusnya. Baiklah. Dia sudah bertekad. Dia tidak bisa bertemu Hyuna, setidaknya untuk sekarang. Benar benar sulit baginya untuk bertatap muka dengan Hyuna sementara dia sadar dosa yang menggunung telah dia lakukan. Meninggalkan suami serta putri yang dia miliki bertahun tahun lamanya. Membuatnya merasa lebih jahat dari apapun.

Seung Ho masuk ke kamar mereka. Berjalan mendekati istrinya yang termenung dengan wajah sedih. Duduk disamping Jisoo, Seung Ho mengelus pundaknya sayang.

“Kau yakin ingin pergi?”

Jisoo yang tersadar, kemudian menatap Seung Ho lalu mengusap kembali air matanya. Dia mengangguk lalu mengungkapkan penyesalannya “Maafkan aku. Aku tahu kau masih ingi disini hingga Rachel sembuh. Aku merasa jahat untuk itu”

“Tidak. Besok Rachel sudah diperbolehkan pulang. Itu menandakan dia sudah baik. Tapi kurasa kau yang tidak baik”

“Aku tidak apa apa, yeobo. Hanya butuh menenangkan diri beberapa waktu”

Seung Ho menghela nafas lalu dengan perlahan dia mengambil lengan Jisoo. Membawanya kepangkuannya dan mengenggamnya “Maafkan aku untuk yang satu ini. Seharusnya dulu, aku lebih berusaha untuk menemukan keluargamu. Aku tidak berfikir untuk menyewa detektive yang lebih profesional lagi. Karena kelalaianku menyewa orang orang tidak becus itu, kau jadi kehilangan kesempatan untuk menemukan keluargamu”

Jisoo merasakan lagi air matanya menetes, lalu dengan tersenyum lemah dia menatap Seung Ho “Aku tidak pernah menyalahkanmu atas semua ini. Justru kau sudah begitu baik padaku dan Sunghwa. Menolong kami dan merawat kami. Bahkan membiayai kehidupan kami. Dan juga, saat itu aku masih belum mampu mengingat apapun. Tapi siapa sangka, ketika akhirnya setahun ini sakit kepalaku tidak kambuh lagi, ternyata mampu membuatku ingat hanya dengan satu kali penjelasan. Tuhan memang adil. Dia sengaja membuat aku mengetahui fakta itu sekarang demi menghukumku. Aku telah lalai menjadi seorang ibu”

“Tidak. Kau tidak pernah lalai. Kau adalah ibu yang sangat baik. Kau bahkan menjaga anak anakku dengan baik. Kau menyayangi mereka seperti anak kandungmu sendiri”

“Jika itu pujian, maka aku akan mengucapkan terimakasih” Jisoo tersenyum. Yang dibalas oleh Seung Ho. Pria itu menariknya ke dalam pelukan.

Eommaaaa!”

Jisoo mendengar suara Sung Jin memanggilnya. Dia melepas pelukannya dari Seung Ho “Sung Jin sudah pulang. Ayo temui dia” ajaknya.

Keluar dari kamar, Jisoo menghapus sisa sisa air matanya kemudian turun ke lantai satu demi bertemu putranya “Oh, Sung Jin~ah

Setelah dapat melihat Sung Jin, wanita itu tersenyum “Lihat di dalam lemari pendinginmu. Sudah terisi full. Eomma sudah memasukkan stok kimchi. Kemarin malam juga eomma sudah berbelanja, dan membelikan apa apa yang kau butuhkan. Pria lajang sepertimu, pasti tidak bisa mengurus diri sendiri kan?” Jisoo tersenyum, mengusap lengan anaknya.

Sementara itu, Sung Jin menunjukan reaksi berbeda.Pria itu hanya tersenyum ragu menatap ibunya. Membuat Jisoo terheran “Ada apa Sung Jin~ah?”

“Ada seseorang yang ingin bertemu dengamu”

Ketika Jisoo belum sempat mengeluarkan pertanyaannya, Sung Jin menyingkir dari hadapannya. Dan.. disanalah dia.

Gadis itu. Jisoo melihatnya. Dia, putrinya. Putri kandungnya. Yang terlahir dari rahimnya.

Hyuna berdiri dengan lemah dan di bantu Kyuhyun. Dia menangis dan menggigit bibirnya. Tangisannya dalam diam namun sarat akan kerinduan.

Disisi lain, Jisoo tersentak hingga dia mundur beberapa langkah. Mulutnya terbuka dan dia segera menutupnya dengan tangan. Ketika tangannya terasa basah, Jisoo tahu dia menangis. Air matanya mengalir melewati pipi serta mengenai tangannya.

Ketika ruangan besar itu hanya diisi keheningan yang luar biasa, meninggalkan suara jam dan sesenggukan halus dari Hyuna, membuat gadis itu tidak tahan lagi. Dengan susah payah mengumpulkan seluruh tenaganya yang tersisa, dia membuka suara.

Neo jeongmal.. uri eomma?” suarannya bergetar ketika bertanya.

Saat akhirnya tertinggal gerak tubuh yang lebih menguasai daripada fikirannya, Jisoo berjalan mendekat. Perlahan namun pasti, dia mendekati sesosok gadis yang telah tumbuh cantik ketika terakhir kali ingatannya adalah seorang Hyuna berusia 7 tahun yang tingginya tidak lebih dari pundaknya.

Mereka telah berdiri dalam jarak satu langkah yang tersisa, Jisoo meggerakan tangannya yang bergetar hebat. Menyentuh pipi Hyuna yang basah karena air mata. Merasakan betapa itu adalah sebuah kenyataan. Bahwa dia masih memiliki keluarga kandungnya di dunia ini. Dan tak lain adalah putrinya sendiri.

Eomma” Hyuna bersuara lagi. Kini lebih lirih. Membuat Jisoo menangis semakin deras. Mendengar suara putrinya adalah hal yang begitu luar biasa dia rasakan. Suara gadis kecil yang dulu cempreng, kini terdengar lembut dan manis.

“Ya, benar. Aku ibumu. Aku ibumu yang telah melahirkanmu. Kau keluar dari rahimku. Kau darah dagingku” Jisoo berucap parau. Tangannya mengusap seluruh wajah Hyuna. Mengelus beberapa kali rambut panjangnya lalu menyingkirkan anak rambut yang jatuh di wajahnya. Seolah olah dia ingin merasai kulis dan tekstur wajah anaknya yang telah lama tidak ia sentuh. Lebih parah dari itu, Jisoo kemudian mencium seluruh wajah Hyuna bertubi tubi. Tak satupun di lewatkannya. Dari dahi, mata, hidung, pipi, bibir, dagu dan puncak kepalanya.

“Eomma. Aku merindukanmua. Sangat amat merindukanmu” Hyuna menangis sejadi jadinya. Kemudian jatuh dipelukan ibunya.

Hangat.

Ketika gadis itu bisa merasakannya kembali. Itu sangat hangat. Seperti memorinya berputar, pelukan ini masih sama saat terakhir kali dia merasakannya. Wanita ini benar benar ibunya.

“Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku” dalam tangisnya yang memeluk Hyuna sangat erat, Jisoo hanya mampu meminta maaf pada putrinya. Suaranya teredam karena dia menenggelamkan wajahnya di rambut Hyuna. Jisoo merasa, dengan permintaan maaf sebanyak apapun itu tidak akan bisa membayar apa yang telah terjadi selama ini.

Tiga pasang mata menyaksikan adegan itu. Membuat mereka akhirnya bisa merasakan kelegaan luar biasa. Serta tangisan haru biru membuncah. Seung Ho merasakan dadanya menghangat melihat itu. Setidaknya, dia bisa memberikan lagi istrinya satu senyuman paten. Pasca kehilangan Sunghwa, Jisoo sudah terlalu banyak bersedih. Dan ini.. anggap ini sebagai penyembuh untuk istrinya.

-o0o-

3 weeks later

Hyuna merasa frustasi dengan zipper dibelakang gaunnya. Dia tidak bisa memakai itu tanpa bantuan orang lain. Ketika fikirannya untuk memanggil Ahra datang, seketika itu juga dia harus mendesah kecewa saat ingat bahwa Ahra sedang diluar untuk mengambil pesanan kue yang kurang.

Ketukan kecil dipintu membuatnya terlonjak kaget. Saat menengok, dia menemukan Rachel berdiri disana dengan ragu. Dalam hati, Hyuna mengumpat pada dirinya sendiri yang selalu bodoh karena lupa mengunci pintu, atau setidaknya menutup pintu.

“Pintunya terbuka, jadi aku melihatmu sedang kesulitan dengan gaun itu. Boleh aku membantu?” tawarnya kaku. Hyuna mengangguk walaupun hatinya masih belum terlalu ‘pas’ jika berdekatan dengan Rachel. Dia masih sedikit takut akibat kejadian penculikan itu.

Hyuna kembali menghadap ke cermin dan setelah Rachel menutup pintu kamar, dia berjalan mendekati Hyuna. Membantu menaikkan zipper, Rachel bersuara “Terimakasih untuk tidak menuntutku. Dan aku benar benar minta maaf akan sikapku yang jahat”

Setelah Hyuna keluar dari rumah sakit, gadis itu memutuskan untuk tidak meneruskan kasus ini ke meja hijau. Dengan berlapang dada, dia menerima maaf dari Rachel yang terlihat sangat tulus waktu itu. Dia merasa keputusannya adalah hal yang tepat. Dengan begitu, keluarganya tidak terpecah belah. Sekarang, dia juga sudah bertemu dengan ibu kandungnya. Tahu tentang lika liku hidup ibunya. Termasuk fakta bahwa statusnya saat ini adalah saudara tiri Rachel dan Sung Jin. Harus menelan kesedihannya saat tahu fakta kakak laki laki yang sudah lama dirindukannya telah bahagia bersama Tuhan di atas sana. Namun dari semua itu, Hyuna merasa lega dan luar biasa bahagia. Tak henti hentinya dia mengucap syukur atas apa yang terjadi pada hidupnya saat ini. Kini, gadis itu bisa merasakan ketenangan luar biasa dalam jiwanya. Dia seperti melihat bunga yang tumbuh dan bertebaran di sekitarnya. Mekar dengan cantik dan menbarkan harum semerbak. Berada dimana dia berada. Seakan ikut berbahagia atas hidupnya yang menakjubkan.

Hyuna tersenyum kecil, menatap Rachel dari cermin “Kau sudah mengatakan itu ratusan kali, Seo Jung”

“Aku tahu. Tapi aku merasa tidak akan pernah cukup untuk menebus dosaku”

“Aku kan pernah bilang, bahwa itu bagus kau melakukan sesuatu sesuai kemauanmu. Bahwa kau tidak berpura pura menjadi orang lain. Hanya saja, yang kau lakukan itu memang sudah diuar batas”

“Untuk itu, maafkan aku” Rachel menunduk dalam. Hyuna mendesah lalu membalikan badanya. Menatap gadis di depannya itu dalam senyum.

“Kim Seo Jung. Dulu kau tersesat. Sekarang kau telah kembali. Untuk itu, lupakan semua yang telah terjadi. Karena aku tidak mau mengingat masa masa mengerikan itu lagi”

Hyuna tersenyum menggoda Rachel membuat gadis itu ikut tersenyum “Yeah, masa masa mengerikan”

“Bagaimana pria bernama Jong Suk itu?” Hyuna bertanya.

Rachel mengangkat bahu “Aku tidak tahu. Polisi tidak bisa melacaknya. Kau tahu, dia sangat profesional dalam hal seperti ini. Black Shadow dari dunia gelap”

“Sayang sekali. Padahal aku ingin bertemu dengannya lagi. Sesungguhnya, dia pria yang baik”

Rachel mengangguk setuju. Gadis itu terlihat sangat cantik dalam kelembutannya. Dress berwarna hijau tosca menjuntai jatuh hingga betisnya. Dengan bagian dada berbentuk love dan tanpa lengan. Rambutnya tergerai indah bergelombang.  Natural make up nya membuat dia tak seperti wanita jahat lagi.

Lain halnya dengan Hyuna. Gadis itu memilih gaun santai dengan ‘U’ neck yang berbahan semi kaku. Menjuntai hingga lututnya. Zipper berwarna silver membuatnya tampak elegant dengan warna dasar dress, cream. Dia memilih gaun selutut agar tidak menganggu kakinya yang masih di perban. Dokter bilang untuk tidak menutupnya dengan baju yang panjang. Karena akan menghambat angin masuk dan membuat jahitan dikakinya mengering.

Suara ketukan dipintu mengejutkan mereka. “Masuk” Hyuna bersuara

Sung Jin muncul dalam balutan tuxedo yang rapih. Bersandar di pintu, dia bersedekap dada “Waaaach!” pria itu berdecak kagum, terlalu di lebih lebihkan sepertinya “Gadis gadisku sangat cantik. Are you ready girls?”

Hyuna mengangguk bersamaan dengan Rachel. “Kalau begitu,ayo turun kebawah. Para tamu sudah mulai berdatangan”

Hari ini di kediaman keluarga Cho terdapat sebuah pesta. Pesta untuk merayakan semuanya. Kesembuhan Hyuna dan Rachel, pertemuan Hyuna dengan ibu kandungnya, dan segala hal yang telah terjadi, maupun yang akan terjadi kelak dikemudian hari. Dengan satu inti tujuan diadakannya pesta ini adalah, mengucap syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas apa yang telah dia beri dan berbagi kebahagian dengan kerabat dan orang orang terdekat.

Pasca keluar dari Rumah Sakit, Rachel Kim sudah berfikir ribuan kali tentang perilakunya. Tentang apa yang telah terjadi padanya dan semua kejahatan yang dia lakukan. Masih sulit untuknya di hari hari pertama dan dia sering menangis sendirian di dalam kamarnya. Mengingat ibunya adalah satu satunya alas terbesar dia menjadi seperti ini.

Namun, ketika satu tekad itu mucul dalam dirinya, itu membuatnya kuat. Phobia itu. Dia harus sembuh dari phobia itu.

Dan disinilah dia sekarang. Mulai bersosialisasi dengan baik bersama orang orang. Meminta maaf atas segalanya pada Ayah, Kakak, Ibu tirinya dan terutama Hyuna dan Kyuhyun. Meskipun terkadang dia masih canggung dan ragu, namun itu adalah sebuah perubahan besar.

Tamu mulai berdatangan dan rumah mulai terlihat penuh. Hyuna berjalan kesegala penjuru rumah dengan tertatih dan bantuan tongkat penyangganya. Dia melewati taman yang juga dipakai pesta, mengitari kolam renang, bahkan sampai ke dapur hanya untuk menemukan Kyuhyun. Demi Tuhan, dimana pria itu sekarang?

Dan satu pesan sampai padanya. Hyuna membuka lockscreen ponselnya setelah tahu itu pesan dari Kyuhyun. Gadis itu membacanya dalam diam, dan kerutan dahi yang mendalam.

‘Bersiaplah untuk sesuatu yang tak terduga nona Park. Dan juga.. doakan aku. Aku mencintaimu’

-o0o-

Ketika Kyuhyun meletakkan kembali ponselnya di saku jasnya setelah mengirim pesan pada Hyuna, pria itu mengalihkan pandangannya lagi ke depan. Ke arah ayahnya yang masih menanti ucapan anak laki laki satu satunya itu.

“Apa yang ingin kau katakan, Cho Kyuhyun? Apa kau tidak lihat tamu tamu diluar? Kita harus segera berada disana” Ayahnya mengglengkan kepala melihat tingkah Kyuhyun hari ini, terlihat aneh menurutnya.

Appa, Aku ingin mengatakan kalau aku–” pria itu tampak gugup. Matanya tak fokus berjalan kemana mana.

“Ck! Selesaikan dengan cepat, nak”

Suara dentingan jam seakan terus memaksanya untuk bersuara. Seperti sebuah tekanan secara tidak langsung yang membuatnya semakin takut dan gugup. Kyuhyun merasakan dadanya bergemuruh. Jantungnya berdetak cepat. ‘cepat selesaikan sekarang, bodoh!’ dia merutuki dirinya sendiri.

Kemudian dalam satu tarikan nafas, Kyuhyun membulatkan tekadnya. Dia menatap ayahnya serius setelah menghembusnya nafasnya percaya diri

.

.

.

Appa. Restui aku. Aku akan menikah dengan Hyuna”

FIN

Happy ending for all. Curious about this couple? How could it be??

AAAAAARGH!

Wait for the EPILOG. I’ll post soon, after the National Examination. :*

Bye bye! And wish me luck!!!!

Advertisements

107 thoughts on “Love Line ( 13/END)

Add yours

  1. Hai author, aku pembaca baru , aku seneng bgt suka banget sama alur cerita cerita yg kamu tulis disini, di tunggu cerita selanjutnya yaa, makasihh bgt 🙂

  2. Yeeeee, Akhirnya happy ending dan sedikit menggantung….
    Satu pelajaran yg dapat saya petik dari cerita ini. Bahwa orang yg baik akan selalu di kelilingi orang-orang baik pula dan merasakan kebaikan yg tlah Dia sebarkan…

  3. Oh astaga eonnieeeee itu ujung nya kok gak lucu bgt sihhhhhh, langsung main end ajaaaaa
    But i like it this ff^^

  4. Happy end jg..rachel sadar..hyuna sm ommany brstu lg..syang ny alur last chapny kcpetan jd keburu ending aj hahahha brti tgl nggu kljutan hub kyu sm hyuna..d epilog sljutny..
    Ntr d blas ya thor email kuu 🙇🙆🤓

  5. Yah eon kenapa endingnya gantung gini…
    Kyuhyun sma hyuna kan blm menikah??
    Padahal baru seneng krna hyuna udh maafin rachel dan sepertinya bisa jadi sodara tiri yg baikan tuh..

  6. Yee happy ending…
    Terharu pas hyuna ketemu sma ibu.a.. akhirnya si rachel sadar jga… kyuhyun cma ngomong pengen nikah aja susah amatt../?

  7. Yeeer akhirnya hyuna ketemu ibunya juga ,, sampe netesin air mata baca di awal part ini ,, benar2 mengharukan

  8. Yeayu happy ending.. 😄 cepet nikahin hyuna kyu..
    Akhirnya rachel sadar juga, hiduplah yg baik wahai kau mantan psikopat wkwkwk 😁😁 pengen baca epilognya, tpi belom dibls line aku..

  9. Yeee akhirnya semua berjalan baik, hyuna ketemu sama ibunya lagi…
    Kyuhyun gugup gitu waktu bilang mau nikahin hyuna haha
    Dan rachel ya semoga aja emang beneran jadi baik^^

  10. uaaaah akhirnya setelah berlika liku dengan perasaan dan hidup nya, happy ending jugaaa

    Hyuna ketemu ibu kadungnya, ya walopun harus menelan rasa sefihnya karna mengetahui kakak kandung nya sudah meninggal, tapi pada akhirnya semua nya jadi satu keluarga besar 😊😊

    bagus ceritanya, ini FF pertama yang gua baca di blog ini, jadi pengen baca yang lain nya jugaa,

  11. annyeong authornim … aku baru baca ff yg ini dari sekian banyak ff authornim … ini seru banget cerita .. alurnya pas .. konfliknya juga bagus bikin orang tegang pas bacanya … semoga endingnya bikin greget ya aku suka banget authornim daebak 👏👏👏

  12. Kyaaa!!!! Seneng bngt gk tau hrs ngomong apa lg.. Cmn bs teriak2 dalam hati + senyum2 sendiri + ditambah lg muter2 di kasur saking girang bngt baca part ini.. Bersyukur bngt sm perubahan sikap Rachel.. Sempet kecewa kalau eomma’a Hyuna mau pergi TvT.. Ahhh author tatadap emang the best bngt.. FF ini bikin hati aku up and down (again),, alur nya gk terlalu cepet,, bahasa’a jg keren bngt gampang dimengerti..
    Keep writing author tatadap^^

  13. waah endingnya masih gantung. maaf ya.. baru smpat coment di part ini.. coment nya baru smpai part 5..soalnya aku trlalu ngenikmatin ceritanya. .pngen buru buru lanjut ke part part berikutnya. hahahhah tnpa d ninggalom coment di bberapa part. keep writing yaa authornim aku sukaaa bnget sama ff inii.

  14. Wow … msih blm tuntas ceritnya… eh tpi ada epilog… sebenernya ceritanya sy suka dri awal part smpe part 13 ini bner” suka bngt sm idenya dan alurnya .. mudah” an aja epilognya bisa menuntaskan rasa penasaran para readers disini

  15. Finnaly hyuna meet the mother and then Happy Ending . I think this fanfict make me feel so good when i read this situation like a real

  16. Akhirnya happy end… 😊
    Td pas bagian hyuna dn eommanya bner2 membuat ku mnangis terharu, stlah skian lama berpisah akhirnya brtmu juga… 😊

  17. anyeong eon
    aku nemu blog ini dan langsung tertarik sama ff ini 😊 maaf part2 sebelum nya ga sempet coment karna terlaku asyik baca udah gitu penasarn ama ceritanya
    jadi aku ptuskn terakhir coment nya

    pokoknya ff ini the best banget eon bisa bikin aku senyum2 sendiri ,ketawa juga sama minho and the genk haha dan juga bisa bikin aku nangis lho eon
    huaa pokok nya ff ini terteranlah 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: