Love Line (12/?)

C1458501-1361299767large copy_副本

Author                  : tatadap

Title                       : Love Line

Main Cast             : -Cho Kyu Hyun –Park Hyuna

Genre                    : Romance

Rating                    : 15

Length                   : Chapter

Desclimer             : Story and plot are mine! Don’t try to copy and paste this without my permission!!!

Happy Reading! [ Attention! This part is full of flashback ]

.

.

– Athazagoraphobia and Memories – 

America, 2 years ago

Athazagoraphobia?” Sung Jin terlihat bingung. Kemudian dia menatap Yesung yang duduk di depannya. Di meja dokternya dengan jas putih kebanggaan pria itu.

“Rachel mengidap Athazagoraphobia. Adalah penyakit yang takut dilupakan”

Okay. Bisa kau jelaskan lebih rinci?”

Athazagoraphobia adalah penyakit yang cukup unik, menurutku pribadi. Karena hal ini membuat si penderita akan sangat takut dilupakan, diabaikan hingga tidak dipedulikan oleh seseorang. Apalagi orang orang yang sering berada disekitarnya. Sebenarnya, perasaan takut diabaikan atau dilupakan ini adalah perasaan alami yang memang sudah ada dalam diri manusia itu sendiri. Namun, kecenderungan yang berlebihan akan sikap takutnya inilah yang disebut sebagai Athazagoraphobia. Biar ku analogikan. Pikirkan ini Sung Jin~ah, kau memiliki anak yang masih balita yang sudah sangat mengenalmu sebagai seseorang yang sering berada didekatnya. Kemudian saat temanmu berkunjung dia juga membawa anaknya yang juga masih balita. Kau meletakkan anakmu di kursi untuk menyapa tamu mu. Lalu kau akan sedikit bermain dengan anak temanmu itu. Kebanyakan, reaksi yang akan ditimbulkan oleh balita yang berada di posisi sebagai anakmu itu akan menangis. Kenapa? Karena rasa ketakutannya muncul tiba tiba. Dia takut ayahnya akan lebih memperhatikan anak lain ketimbang dirinya. Tangisan adalah suatu bentuk protes yang dilakukan dari si penderita, yang dalam analogi ini adalah seorang balita. Dari seorang balita saja, kita sudah bisa memahami unsur ketakutan ini. Bahwa memang suatu ketakutan untuk dilupakan pada dasarnya sudah ada dalam diri manusia. Namun, kadar ketakutannya itulah yang menjadi perbedaan”

“Jadi maksudmu, Rachel merasa takut kami semua melupakannya. Dan semua hal gila yang dia lakukan itu adalah bentuk protes nya?”

“Tepat sekali”

“Tapi.. bagaimana bisa? Maksudku, kami semua jelas menyayanginya melebihi apapun. Aku bahkan rela jika harus menukar nyawaku untuk adikku sendiri”

“Bisa saja terjadi Sung Jin~ah. Dalam kasus adikmu, dia merasa takut dilupakan sejak kematian ibumu, ibu kalian. Yang mana pada dasarnya, kalian semua adalah keluarga bahagia dari dulu. Saling menyayangi dan mengasihi. Tidak pernah ada unsur kekerasan dalam rumah tangga orang tua kalian. Itu menjadi moment indah tersendiri bagi Rachel. Semua kebahagiaan dan perasaan disayangi itu melekat di otaknya. Hingga dia merasa tidak terima saat Ayah kalian menikah lagi pasca kematian ibumu. Itu adalah suatu hal yang wajar. Namun seperti kataku tadi, kadar ketakutan pada setiap orang berbeda beda. Dan Rachel berada dalam kondisi yang cukup serius. Hingga dia bisa berubah seratus delapan puluh derajat sebagi bentuk pemberontakannya”

“Ya Tuhan, aku benar benar tidak percaya” Sung Jin meremas rambutnya kemudian menyandarkan dirinya pada kursi yang ia duduki. Memejamkan mata, dia tak pernah tahu bahwa apa yang dilakukan Rachel selama ini adalah bentuk dari rasa akan ketakutan untuk dilupakan.

“Aku masih ingin menjelaskan, apa kau ingin mendengar?” Yesung menatap Sung Jin dalam keprihatinan. Kemudian Sung Jin menghela nafas lalu mengangguk “Teruskan”

“Perasaan seperti ini, maksudku perasaan untuk dicintai, disayangi, diperhatikan hingga diinginkan oleh orang orang disekitar kita merupakan hal yang sangat amat manusiawi. Karena sesungguhnya manusia diciptakan dengan kapasitas memberi dan menerima cinta satu dengan yang lain. Ketika penderita Athazagoraphobia merasa mereka mulai dijauhi dan tidak dipedulikan, mereka akan merasa terluka. Sebagian orang dapat dengan mudah melupakan perasaan ini, sebagian lagi mengalami kesulitan”

“Oh Ya ampun! Kim Seo Jung! Bagaimana bisa kau berfikir sejauh itu?!” Sung Jin menggeram, lebih kepada dirinya sendiri. Dan diam diam dia berfikir akan tindakannya selama ini. Apakah ada diantara semua hal yang telah dia lakukan untuk adiknya, yang menjadi cikal bakal pemikiran Rachel bahwa dia akan melupakannya?

“Bagaimana bisa ada penyakit seperti itu?” Lanjut Sung Jin, menatap Yesung dengan muka memelas.

Yesung menghela nafas “Dan bagaimana aku harus menjawab pertanyaan bodohmu itu, ha?”

Sung Jin mencibir.

“Penderita Athazagoraphobia biasanya akan merasakan panik, gugup, jantung berdebar debar dan ketakutan tak beralasan tiba tiba. Rachel merasakan itu” Yesung kembali berbicara.

“Dia sudah seperti pecandu narkoba yang tidak mendapatkan obatnya, ya kan?” Sung Jin bertanya skeptis.

“Yap. Persis seperti itu” Jawab Yesung. “Kebanyakan orang yang menderita phobia jenis ini adalah mereka yang memiliki self esteem yang rendah. Mereka merasa diri mereka tidak cukup berharga untuk diperhatikan, namun mereka ingin diperhatikan. Sehingga ketika perhatian tidak mereka peroleh, apalagi dibuktikan oleh ketidakpedulian seseorang kepada dirinya, maka hal ini seperti membenarkan pemikirannya soal betapa tidak berharganya dirinya dan ini akan semakin merusak self esteem -penghargaan terhadap diri-  mereka sendiri”

“Aku hanya tak habis fikir, dimana dia bisa berkesimpulan bahwa aku atau Appa, Eomma, dan bahkan Sunghwa Hyung tidak memperhatikannya? Dia jelas memiliki kasih sayang kami semua” Sung Jin menunduk dalam.

“Tapi apa ini berbahaya? Maksudku, sikap Rachel yang berubah sangat liar karena phobianya ini. Dia menjadi gadis iblis, kau tahu?” Lanjut Sung Jin

Yesung terkekeh “Kau mengatai adikmu sendiri iblis? Aku tidak percaya”

“Bukan aku! Orang orang yang bilang. Aku juga tidak terima. Tapi well.. kelakukannya memang sungguh buruk” Bahu Sung Jin melemas.

“Dengar. Penderita Athazagoraphobia menyadari bahwa perasaan mereka tidak rasional dan tidak benar. Namun mereka tidak dapat mengendalikannya”

“Ah~ jadi Rachel sadar kelakuannya buruk, tapi dia tidak bisa mengendalikannya”

Exactly

“Lalu aku harus bagaimana untuk menyadarkannya?”

“Tidak menyadarkannya Sung Jin~ah. Tapi mengobatinya”

Geurae? Kalau begitu kuserahkan pengobatannya padamu. Sembuhkan adikku”

“Aku tidak punya obatnya”

Sung Jin mendecak “Ya! Bagaimana kau ini?”

“Hanya satu yang bisa menyembuhkannya”

“Apa?”

Yesung ternyum “Waktu”

-o0o-

Ketika Sung Jin tersadar akan lamunannya, pria itu mendesah pelan. Kemudian menatap adiknya yang masih tertidur nyaman di ranjang rumah sakit dengan perban yang melilit di kepala juga kakinya.

Sung Jin mendekat lalu mengelus kepala adiknya. Menunduk untuk memberi kecupan sayang. Dia merasa buruk menjadi seorang kakak yang telah berkali kali lalai menjaga Rachel. Dia menyelahkan diri sendiri dengan semua yang telah terjadi pada adiknya.

Terbesit segenggam pemikiran bahwa mungkin memang benar dia tidak memberikan perhatian yang cukup untuk Rachel sehingga adiknya menderita Athazagoraphobia itu. Kekesalan kembali nampak diwajahnya saat mengingat bahwa dia tidak becus dalam segala hal. Belum berhasil menyembuhkan adiknya dari phobia aneh itu, sekarang dia harus dengan lapang dada melihat Rachel terbaring di ranjang rumah sakit.

Miris.

Dia benar benar menyalahkan dirinya sendiri.

-o0o-

Pagi itu, Sung Jin memutuskan pulang ke rumah sejenak untuk membersihkan diri dan mengambil beberapa barang untuk Rachel. Hanya setelah itu, dia menyadari kehadiran orang lain dirumahnya.

Ketika Sung Jin terkejut dan menoleh kebelakang, dia tercekat. “Eomma~” lirihnya

Saat Sung Jin masih belum sadar akan terkejutannya, wanita yang dipanggilnya ‘eomma’ itu berjalan mendekat dengan senyum hangat yang mampu mengusir penat Sung Jin. Duduk di samping putranya lalu mengusap lembut pipi Sung Jin. Dengan sentuhan ringan itu, berhasil membawa Sung Jin kembali ke dunia nyata.

E-eoma.. apa yang kau lakukan.. disini?” Sung Jin bertanya bingung

“Ck! Kufikir tidak ada salahnya mengunjungi putra nakalku ini. Lihat, kau tidak pulang semalam. Kemana saja? Bersenang senang dengan gadis?” wanita itu tersenyum, tampak maklum. Dengan umur nya, Sung Jin tentu punya hormon yang mungkin sering memberontak.

“Tidak tidak. Semalam aku–” Mendadak dia berhenti saat mengingat semalam bukanlah waktu bersenang senang dengan gadis, tapi malam laknat yang membawanya harus tidur dirumah sakit menjaga Rachel yang menjadi korban tabrak lari. Dan lebih parah, masih menjadi tersangka sementara saat ini. Apa dia akan menceritakannya?

Sung Jin kembali melihat ibunya yang sedang menunggu jawaban. Sung Jin menghela nafasnya kemudian memeluk ibunya erat. “Aku akan menceritakan semuanya, beri aku waktu untuk membersihkan diri dan menyiapkan segalanya”

Ibunya mengeretukan dahi heran saat memeluk Sung Jin namun dia mengangguk patuh.

“Aku senang kau disini, eomma. Memelukmu sekarang, aku menyadari bahwa aku sangat merindukanmu” Sung Jin mengeratkan pelukannya.

Yoon Jisoo tersenyum. Aura keibuannya nampak memancar. Namun seketika, raut wajah sedih itu kembali terlihat di wajahnya. Dia merasakan kembali perasaan itu. Seperti sebuah puzzle yang beberapa potongannya menghilang sehingga tidak bisa tersusun sempurna. Dia jelas bahagia, mengingat betapa anak yang bukan anak sesungguhnya begitu menyayanginya. Tapi disisi lain, dia bingung akan fakta bahwa kebahagiannya belum sempurna. Ada yang hilang, dan terasa mengganjal.

Ketika Sung Jin melepas pelukannya dan kembali mendapati wajah ibunya yang terkesan muram, pria itu menyentuh pelan pipi ibunya memaksa Jisoo untuk menatap wajah putra tampannya

Eomma, aku bersumpah akan menghilangkan wajah sedihmu ini. Bersabarlah sebentar lagi, eoh?”

-o0o-

Sung Jin sedang mengenakan jam tangannya saat suara ketukan terdengar di pintu kamarnya. Dengan kakinya yang panjang, Sung Jin melangkah dan membukakan pintu. Tersenyum saat melihat wajah berwibawa dan sosok yang sangat dia hormati itu berdiri di depannya.

Appa” Sung Jin memeluk hangat ayahnya yang dibalas oleh kekehen kecil Kim Seung Ho. “Bocah nakal! Kenapa kau terlihat semakin tinggi, huh?!” Seung Ho menepuk nepuk pelan punggung Sung Jin.

Mereka berdua masuk ke kamar Sung Jin dan duduk di sofa cokelat yang tersusun setengah melingkar di depan ranjang king size milik Sung Jin.

“Aku benar benar terkejut pagi ini. Kenapa tidak bilang padaku kau berkunjung? Aku bisa menjemputmu di bandara”

Seung Ho berdecak sembari menggerakkan tangannya sambil lalu, seolah itu bukan masalah besar.

“Aku jelas tidak mau menganggu waktu pria sibuk sepertimu, nak”

“Kau ini bisa saja, appa. Ngomong ngomong, apa yang membawamu tiba tiba ke Korea?”

“Kau tahu” Wajah Seung Ho berubah serius, membuat Sung Jin was was dan mendengarkan dengan serius.

“Setelah kau menghubungiku seminggu yang lalu, aku sangat terkejut. Jeremy datang ke rumah dan menjelaskan hal yang sama. Ini membuat kepalaku serasa ingin pecah”

Sung Jin menghela nafas “Maafkan aku, appa. Aku tidak akan memberitahumu dulu jika tahu akhirnya akan seperti ini”

Seung Ho menggelengkan kepalanya “Tidak tidak, kau melakukan sesuatu yang benar. Tapi untuk sekarang, aku belum memberitahu Jisoo. Mungkin nanti jika hasilnya telah keluar. Segera setelah semua diurus oleh Jeremy, aku mengajak ibumu untuk kemari. Aku sendiri penasaran tentang gadis itu. Mungkin, aku bisa bertemu dengannya hari ini?”

Sung Jin menatap wajah ayahnya khawatir, kemudian melanjutkan. “Aku harus memberitahumu sesuatu, appa

“Apa itu?”

“Gadis itu, maksudku Hyuna sekarang dalam kondisi kritis di rumah sakit. Semalam, dia menjadi korban tabrak lari”

“Oh, benarkah? Kalau begitu, ayo kerumah sakit sekarang. Aku ingin melihatnya”

“Tapi appa, Rachel juga.. sedang berada di rumah sakit”

Seung Ho terhenyak, kemudian menatap Sung Jin penuh kegelisahan “Apa lagi yang terjadi pada adikmu Sung Jin~ah?”

Sung Jin menunduk menyesal “Maafkan aku, aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku lalai”

Ya! Simpan permintaan maafmu nanti. Aku butuh penjelasan!” Tanpa di duga, suara Seung Ho meninggi. Membuat Sung Jin terkejut dan rasa bersalah kembali mengintainya.

Jisoo masuk setelah mendengar suaminya berteriak, kemudian menghampiri kedua pria itu dengan khawatir. “Yeobo, ada apa ini? Kenapa kau berteriak? Tenangkan dirimu”

Seung Ho berusaha menormalkan nafasnya berderu kencang dan usapan hangat Jisoo membantunya, kemudian kembali menatap Sung Jin “Dan bagaimana bisa kau baru memberitahuku sekarang? Jadi maksudmu, jika aku tidak berada disini, kau tidak berniat memberitahukan kami?”

“Bukan begitu,appa. Lihat. Inilah yang aku takutkan jika aku memberitahumu. Aku berniat mengabarimu kalau Rachel sudah bangun dari tidurnya, setidaknya itu akan membuktikan bahwa Rachel baik baik saja”

“Dan kapan sekiranya Rachel akan bangun?”

“Hari ini pasti dia bangun. Maksudku, kondisinya baik baik saja. Tidak ada yang serius. Dia diberi obat tidur dengan dosis tinggi kemarin agar benar benar mengistirahatkan mental juga fisiknya. Menurut dokter, obat itu akan bekerja sehari semalam”

“Seo Jung masuk rumah sakit?” Kini Jisoo yang terkejut. Wanita paruh baya itu sampai menutup mulutnya yang tiba tiba terbuka.

Sung Jin mengangguk lemah lalu menatap ibunya “Maafkan aku eomma, aku hanya tidak ingin membuat kalian khawatir” lalu kembali menatap ayahnya “Dia baik baik saja appa, dia juga sudah dipindahkan ke ruang rawat inap”

Seung Ho menghela nafas berat. Syukurlah. Setidaknya mendengar anaknya sudah berada di ruang rawat inap biasa dan keadaanya sudah baik membuatnya sedikit tenang. “Apa kau tidak berfikir bahwa memberitahuku sekarang atau nanti itu tidaka ada bedanya? Ck!” Seung Ho menggelengkan kepalanya menatap Sung Jin.

Sung Jin menjelaskan kembali “Rachel menjadi korban tabrak lari tadi malam, bersama Hyuna. Saat ini, pelaku sedang dalam pencarian polisi. Aku tidak pulang semalaman karena menjaganya dirumah sakit. Ketika pulang pagi ini, aku bermaksud untuk mandi dan mungkin mengambil beberapa keperluan untuk Rachel. Dan ternyata, kalian berada disini”

“Bagaimana bisa adikmu dan.. Hyuna itu??” Seung Ho tersentak

“Hari ini, aku akan menjelaskan semuanya padamu appa

-o0o-

Ketika mereka turun dari mobil, Seung Ho dengan cepat mengenali Seunghwan yang berjalan menuju mobil nya di pelataran Rumah Sakit. Bersama dengan Nyonya Cho dan kalau tidak salah mengingat, gadis yang bersama mereka adalah Ahra.

“Oh! Cho Seunghwan!” Dia melambai

Seunghwan terlihat sangat terkejut namun pria paruh baya itu menghampiri Seung Ho dengan wajah lelahnya yang sangat kentara. Hana memasang senyumnya meski dengan raut muka yang menunjukkan dia sedang tidak dalam keadaan baik baik saja. Sementara kedua orang tua saling bersapa, Ahra membungkukan badannya sopan.

“Kau ke Korea! Itu mengejutkan” ucap Seunghwan, memeluk Seung Ho.

“Yah, ada sesuatu yang perlu kuurus disini. Ngomong ngomong, ada perlu apa kau dirumah sakit? Siapa yang sakit? Kyuhyun?”

Seunghwan menghela nafasnya kemudian memandang istrinya, beralih ke Ahra. Merasa ada yang aneh karena pertanyaannya tidak dijawab, Seung Ho kembali bertanya “Apa Kyuhyun sakit?”

“Tidak. Bukan Kyuhyun. Tapi putriku”

“Putrimu–? Putrimu yang kau ceritakan padaku waktu itu? Anak angkatmu?” Seketika Seung Ho mengingat sesuatu. Memaksa otaknya berputar pada beberapa waktu lalu saat Seunghwan mengunujunginya di Amerika, dan penjelasan Sung Jin pagi ini yang mengatakan bahwa Rachel menjadi korban tabrak lari bersama gadis yang bernama Hyuna. Hyuna .. kalau tidak salah anak angkat Seunghwan yang dia ceritakan waktu itu juga bernama Hyuna, kan?

Seolma–” Seung Ho menatap Sung Jin, seperti mengerti arti tatapan ayahnya Sung Jin mengangguk pelan lalu menghela nafas.

Seung Ho mengehla nafasnya “Aku benar benar.. akan gila” ucapnya lemah.

Sung Jin memegang lengan ayahnya saat sadar bahwa informasi yang datang sekali tembak itu membuat beban pikiran Seung Ho terganggu.

“Seunghwan, aku ingin bicara penting denganmu. Bisa?” kemudian, ajakan itu keluar dari bibir Seung Ho. Entah kenapa, suasana bahkan tiba tiba menjadi hening mencekam.

“Baiklah. Ada sesuatu juga yang harus kubicarakan denganmu”

Seung Ho mengangguk. Lalu kemudian menawarkan pembicaraan di cafetaria rumah sakit.  Setelah menyuruh istrinya dan Ahra pulang duluan, Seunghwan berjalan beriringan bersama Seung Ho. Dibelakang mereka, ada Sung Jin dan Jisoo. Dan tak lupa, dua orang lelaki berbadan tegap yang selalu ada disekitar Seung Ho.

“Sung Jin~ah, kau antarkan ibumu ke kamar Rachel. Dan temui aku di cafetaria rumah sakit. Aku butuh kau juga disana”

-o0o-

“Baiklah, apa yang ingin kau katakan padaku” Seunghwan memulai.

“Ini tentang Hyuna. Putri angkatmu itu. Katamu, dia berasal dari Nowon kan?”

Seunghwan mengerutkan dahinya bingung, tapi kemudian pria paruh baya itu lebih memilih untuk mengangguk. Kemudian, Seung Ho meminta sebuah map cokelat yang di pegang oleh salah satu pengawalnya yang berdiri agak jauh dari mereka, demi menghindari privasi untuk bicara.

Setelah mendapatkannya, Seung Ho memberikan map cokelat itu pada Seunghwan. “Buka dan lihat” titahnya

Seunghwan mengambilnya, lalu mulai membuka map itu. Di dalam sana dia menemukan beberapa lembar foto Hyuna dan Yoon Jisoo. Kemudian info info seputar mereka berdua yang terketik rapih dalam secarik kertas.

Seung Ho berdehem pelan saat Seunghwan masih berkutat pada isi dari map itu. Kemudian dia melihat Sung Jin yang berjalan ke arah mereka. Setelah menyapa, Sung Jin duduk dan ikut memperhatikan Seunghwan yang masih saja belum mengalihkan perhatiannya.

“Itu adalah apa yang Sung Jin berikan padaku minggu lalu. Dan jujur, aku sangat terkejut” Masih belum ada tanggapan dari Seunghwan, membuat Seung Ho kembali melanjutkan ucapannya “Kau tahu—delapan belas tahun yang lalu. . .”

 

#flashback on

Hujan sangat lebat malam itu, mengguyur kota kecil dengan derasnya. Mengaburkan pandangan.

Sebuah mobil sedan kecil terlihat melintasi jalanan berkelok yang disampingnya adalah jurang yang cukup dalam. Beruntung pemerintah kota membangun sebuah pembatas yang kokoh jadi belum pernah terdengar kecelakaan di tempat itu.

Ketika tiba tiba mobil itu berhenti dengan suara decitan ban yang menggema, penumpang di dalamnya ikut terlonjak ke depan. Menyadari hanya ada mereka di jalanan yang sepi dan tengah diguyur hujan, membuat seorang wanita disana merinding ketakutan.

“Pak Lee, ada apa?” Suaranya terdengar berat bertanya pada supir setianya yang duduk di kursi kemudi. Wajahnya terlihat was was. Satu tangannya melingkar di bahu wanita tadi, istrinya.

“Ada sesuatu di depan, Tuan. Tergeletak di pinggir jalan” Pak Lee menjawab sembari menajamkan matanya pada sesuatu di depan.

“Apa kau keberatan jika aku memintamu untuk memeriksanya, Pak Lee?”

“Ye, tentu saja tidak Tuan. Saya akan memeriksanya”

Dengan cekatan, Pak Lee keluar dari dalam mobil setelah sebelumnya mengambil payung putih yang selalu tersedia disana. Dengan sedikit berlari pria berumur sekitar 40 tahun itu mendekati sesuatu yang menganggu perjalanan mereka.

Di dalam mobil, Kim Seung Ho memperhatikan dengan was was. Sementara dia juga masih berusaha menenangkan istrinya yang terlihat takut.

“Tidak apa apa, sayang. Aku ada disini” Seung Ho mengecup puncak kepala istrinya. Han Min Su. Min Su sedari dulu memang tidak pernah nyaman jika hujan sudah turun. Dia akan merasa takut kalau hujan itu menjadi deras dan tidak berhenti dalam waktu yang lama. Dan sekarang, mereka berhenti di tengah jalan yang sepi dan hujan lebat.

Min Su mengangguk lalu memeluk suaminya “Bisakah kita pulang cepat? Kasihan Sung Jin dan Seo Jung dirumah. Mereka pasti telah menunggu lama”

Arraseo. Setelah pak Lee membereskan semuanya”

Min Su mengangguk lalu terdiam. Seung Ho dan Min Su baru kembali dari rumah kerabatnya yang baru saja meninggal, dan ketika pulang  mereka harus dihadapkan oleh keadaan seperti ini. Sekarang pukul 08.15 malam.

Ketika Pak Lee kembali dan duduk di kursi kemudi, dia menoleh ke kursi penumpang “Tuan, disana itu.. seorang wanita dan anak kecil” Pak Lee terengah engah menjelaskan. Antara rasa keterkejutannya dan hawa dingin yang menerpa.

“Maksudmu?”  Seung Ho menaikkan sebelah alisnya.

“Ada seorang wanita dan anak lelaki yang tergeletak disana, Tuan”

Seung Ho tersentak, begitupun Min Su. “Apa mereka masih hidup?” Seung Ho kembali bertanya.

Pak Lee mengangguk cepat “Y-ye. Setelah saya memeriksanya, mereka masih hidup”

Oppa, kita harus menolong mereka” Seung Ho menoleh ke arah Min Su yang menatapnya dengan tatapan memohon.

“Kau yakin?” tanya Seung Ho

“Tentu saja. Bagaimana bisa kita meninggalkan mereka disaat kita tahu mereka masih hidup dan butuh pertolongan. Terlebih hanya ada kita disini”

“Baiklah. Kau tunggu disini” Seung Ho turun bersama Pak Lee. Berlari ke arah wanita dan anak lelaki yang tergeletak di jalan itu. Dengan kekuatannya sebagai seorang pria, Seung Ho mengangkat wanita itu sementara Pak Lee menggendong anak lelaki kecil.

Mendekat ke arah mobil, Seung Ho membuka pintu belakang. “Aku akan menidurkannya disini. Tidak apa apa kan?” tanya nya berteriak. Karena derasnya air hujan mampu menenggalamkan suaranya.

Ne. Letakkan kepalanya di sini” kata Min Su menepuk pahanya.

Setelah menidurkan wanita itu, Seung Ho berjalan memutar lalu duduk di kursi depan. Pak Lee menyerahkan anak lelaki itu padanya dan Seung Ho memangkunya dengan cekatan.

Setelah Pak Lee masuk dan mobil kembali berjalan, Seung Ho menatap kebelakang “Kau baik?”

“Ya. Oppa, kasihan sekali mereka”

“Menurutmu, apa mereka kecelakaan?” Seung Ho mengamati tubuh wanita yang tergeletak tak sadarkan diri itu. Bajunya robek dan terlihat banyak luka di lengan dan wajahnya. Kakinya mengelurakan darah yang sudah mengering. Sedangkan anak yang dipangkunya memiliki kondisi tak jauh beda dengan wanita itu.

Min Su mengangguk sebagai tanda persetujuan “Kurasa begitu”

“Tuan, tidak akan ada rumah sakit sampai kita tiba di Seoul” kata Pak Lee membuat Seung Ho melihatnya.

Geurae? Ah~ bagaimana ini” Seung Ho berucap frustasi.

“Kurasa mereka bisa bertahan. Pak Lee, kuandalkan kemampuan menyetirmu. Kita langsung ke Seoul International Hospital” kata Min Su

“Baik, nyonya”

-o0o-

Ketika anak lelaki itu terbangun, yang dirasakannya adalah pusing yang menyengat di kepalanya. Bau obat obatan merasuk hidungnya. Suara suara yang dia dengar seperti acara TV terngiang ngiang di telinganya. Dengan berusaha menyadarkan diri, dia membuka matanya yang sudah cukup lama tertutup.

Hal pertama yang dilihatnya adalah seorang gadis kecil seumurannya –mungkin– yang sangat cantik. Memakai baju rajut berwarna pink, topi berwarna pink, dan juga syal yang melilit lehernya berwarna pink. Dengan senyum manis di wajahnya, membuat pipi nya terlihat gembil dan karena udara sedang dingin warna kulit di pipinya pun menjadi warna pink. Sungguh. Semua pink.

Eomma~ dia sudah bangun” Anak lelaki itu dapat mendengar suaranya. Sesaat setelahnya, dia melihat seorang wanita dewasa yang juga cantik berdiri di depannya.

“Hey, pria kecil. Bagaimana keadaanmu?” tanyanya lembut. Setelah berusaha mengumpulkan kesadarannya, dia pun mengangguk ragu. Namun gerakan itu membuat kepalanya kembali di serang rasa nyeri “Arrgh” dia mengaduh lalu memegang kepalanya.

“Oke. Kufikir jangan banyak bergerak dulu. Istirahatlah yang cukup agar kau pulih dengan cepat” Anak lelaki itu memandangnya dengan takjub lalu berbicara dengan susah payah “Nu-gu-se-yo.. Ahjumma?”

Wanita itu tersenyum “Namaku Han Min Su. Kemarin malam aku menemukanmu dan seorang wanita tergeletak di pinggir jalan. Jadi aku dan suamiku membawamu kemari”

Seakan ditampar oleh ingatan, anak lelaki itu kemudian tersentak da menatap Min Su “Eomma? Dimana eomma-ku? Ahjumma, dimana eomma?”

“Ah. Dia ibumu? Aku sudah menduganya. Kau tenang saja, dia juga sudah dirawat. Kamarnya disebelah”

“Aku ingin melihatnya”

“Tidak. Jangan dulu. Istirahatkan dulu badanmu hari ini. Setelah energimu cukup, kau akan kubawa kesana. Percaya padaku”

Ketika anak lelaki itu menumukan kesungguhan pada mata Min Su, dia mengangguk setuju.

“Ngomong ngomong, siapa namamu?”

“Aku.. Sunghwa. Park Sunghwa imnida

Min Su tersenyum lembut “Baiklah Sunghwa. Kenalkan, ini putri kecilku. Kim Seo Jung”

Sunghwa melihat ke arah gadis kecil berpakaian serba pink tersebut, lalu tersenyum lembut “Annyeong oppa. Naneun, Kim Seo Jung imnida. Bangapseumnida” dengan senyum manisnya yang melebar, menghentak Sunghwa kembali ke dalam ingatan saat tiba tiba kecelakaan itu menimpanya, menimpa keluarganya. Dia mengingat adik perempuannya yang manis. Demi Tuhan.

Min Su menyadari raut wajah Sunghwa yang berubah suram, kemudian dia bertanya “Kau bisa cerita kenapa kau dan ibumu bisa pingsan di pinggir jalan?” tanyanya prihatin.

Dan begitulah semuanya mengalir dalam cerita Sunghwa. Ketika dia sedang merayakan ulang tahun adiknya yang ke-7 bersama keluarga kecilnya. Dan kemudian mendengar berita bahwa kakeknya jatuh dan membuatnya meninggal dunia. Lalu dalam perjalanan mereka pun mendapat kabar kematian neneknya akibat serangan jantung. Dan beberapa detik sebelahnya kecelakaan maut itu terjadi.

“Aku tidak bisa menemukan ayah atau adikku. Jadi aku dan ibuku berjalan di dalam hutan setelah kami berhasil selamat dari kecelakaan itu. Dua hari kami menembus hutan, berjalan tidak tahu arah hingga kami sampai di jalan itu. Mungkin, karena kondisi kami yang sudah benar benar parah serta kelaparan juga dehidrasi yang tinggi, membuat kami tidak kuat lagi berjalan. Eomma jatuh pingsan tiba tiba membuat aku panik. Tak ada lagi yang bisa kulakukan karena jalanan itu sepi, akupun merasa tidak punya tenaga lagi untuk sekedar berdiri. Luka akibat kecelakaan pun memperparah keadaan. Dan ketika tiba tiba hujan datang, aku tidak dapat menahannya lagi. Dengan rasa dingin yang luar biasa, tiba tiba kepalaku terasa berat dan .. aku tak tahu setelahnya”

Sunghwa menangis dengan menutup wajahnya. Sementara Min Su menatapnya prihatin. Merasa kasihan bahwa diumurnya yang masih sangat muda itu harus mengalami kejadian seperti ini.

Eomma

Semuanya menoleh ketika suara seseorang mengintrupsi. Termasuk Sunghwa yang mulai menghentian tangisnya dan melihat seorang anak laki laki masuk keruangannya.

“Oh, Sung Jin~ah, kemarilah”

“Sunghwa~ya, dia adalah anak laki laki ku. Namanya Sung Jin. Mungkin kalian bisa berteman agar kau tidak bosan di rumah sakit ini” Sunghwa menatap Min Su yang tersenyum sangat amat tulus padanya. Detik itu pula, Sunghwa tahu bahwa titisan malaikat ada di hadapannya.

“Umurmu berapa?” Sunghwa menatap anak laki laki bernama Sung Jin itu saat tiba tiba dia bertanya. Melihat ibunya menyenggol lengannya dan dari apa yang bisa di dengar Sunghwa, Min Su memprotes ucapan tidak sopan Sung Jin.

“Aku 13 tahun. Neo?”

Sung Jin berkedip “12. Jadi kau lebih tua dariku”

“Em.. kurasa.. ya?” Sunghwa menatap Sung Jin dengan bingung, bingung harus bereaksi seperti apa.

“Kalau begitu, aku akan memanggilmu ‘Hyung’. Sunghwa Hyung. Otte?” Kemudia Sunghwa bisa tersenyum lebar saat melihat Sung Jin memanggilnya dengan manis, senyum terukir, dan mengulurkan tangannya.

Dengan senang hati Sunghwa menerima uluran tangan itu. Mereka saling melempar senyum dan Sunghwa menyetujiu usulan Sung Jin untuk memanggilnya dengan ‘Hyung’

Merasa lebih baik, Sunghwa kemudian menatap kearah Min Su dan mulai berkaca kaca “Ahjuma, terimakasih atas segala kebaikanmu. Aku benar benar berterimakasih. Aku berjanji untuk melakukan apapun agar bisa membalas kebaikanmu”

Min Su tersenyum dan matanya juga mulai berkaca kaca. Dengan sayang dia mengelus kepala Sunghwa dan memeluknya.

-o0o-

Dan ketika Jisoo terbangun setelah koma selama dua bulan. Semua orang menyambutnya dengan tangis bahagia. Sunghwa yang telah sembuh pun menghambur ke pelukan Ibu nya yang masih lemah terbaring di tempat tidur. Menangis sambil mengucap beribu ribu terimakasih pada Tuhan.

Namun, kecelakaan itu telah merenggut sebagian memorinya. Membuat Ji Soo sama sekali tidak ingat apapun kecuali terakhir kali dia pingsan di pinggir jalan bersama Sunghwa. Hanya itu. Tidak dengan yang lainnya. Tidak dengan kecelakaan mobil. Tidak dengan kabar kematian kedua orang tuanya. Bahkan Ingatan tentang suami serta anak perempuannya. Semuanya bahkan seakan tak pernah ada di dalam hidupnya. Dalam ingatannya. Namun dia sadar akan sesuatu yang menghilang.

Ketika dia dipaksakan untuk mengingat, akan terjadi kejang yang berlangsung selama lima menit dan membuatnya pingsan. Semua orang bingung harus melakukan apa. Termasuk Sunghwa yang menjadi sangat sedih. Rencananya adalah saat ibunya sudah sadar, dia akan mengajak ibunya itu untuk mencari keberadaan ayah dan adiknya. Namun ternyata, untuk menyadarkan siapa kedua orang itu dalam hidup ibunya pun terasa begitu berat.

Pada akhirnya mereka tinggal bersama keluarga Kim yang sangat baik hati. Dari kepala keluarga sampai anak anaknya pun, tidak pernah ada yang merasa terbebani dengan membantu Jisoo juga Sunghwa yang tinggal bersamanya.

Ingin rasanya Sunghwa mengatakan pada ibunya untuk segera mengingat apa yang seharusnya dia ingat dan mencari keberadaan keluarga mereka. Tapi rasanya begitu berat. Untuk bertindak sendiri pun terasa percuma karena dia hanyalah anak laki laki berusia tiga belas tahun.

Bukan tidak melakukan apa apa, Min Su dan Seung Ho pun turut membantu mencari ayah dan adik Sunghwa dengan menyewa orang orang hebat demi melacak dimana keberadaan mereka berdua. Hingga satu tahun mereka berada dalam keluarga Kim, tak pernah ada kabar menggembirakan datang padanya.

Hyung, neo gwenchana?” Sung Jin menghampiri Sunghwa yang lagi lagi terduduk di taman rumah besar keluarga Kim. Menatap dengan kosong tanah dibawahnya.

Eoh” Sunghwa menganggguk lemas. Membuat Sung Jin berdecak “Berhentilah bersedih Hyung. Aku yakin semuanya akan baik baik saja. Aku yakin kau akan menemukan ayah dan adikmu”

“Aku tahu. Gomawo~yo, Sung Jin~ah” Sunghwa menatap Sung Jin lalu tersenyum.

Kemudian, Seo Jung datang entah darimana. Mengenakan rok birunya yang lucu serta t-shirt panjang berwarna putih. Untuk anak umur delapan tahun, Rachel sangat cantik kala itu. Senyumnya selalu cerah dan berseri seri. Membuat Sunghwa tidak pernah bosan melihat adik perempuan lainnya itu.

Oppadeul, neo mwoya?” tanyanya lalu duduk ditengah tengah Sung Jin dan Sughwa

“Kami sedang berbicara. Anak kecil tidak boleh dengar. Sana masuk” jawab Sung Jin ketus membuat Seo Jung kemudian berkaca kaca. Dia benar benar sangat sensitive. Sangat-amat. Seharusnya gadis kecil seumurannya sudah bisa mengontrol emosi, sedikit paling tidak. Tapi sangat susah bagi seorang Kim Seo Jung. Tangisannya hampir saja pecah kalau saja Sunghwa tidak menenangkannya. “Hey, kau lupa apa yang aku bilang saat kau ingin menangis?” Seo Jung menatap Sunghwa lalu kemudian mengangguk, dan berkata “Aku harus mengingat masa masa indah di hidupku, dengan begitu aku tidak akan menangis dan sedih” jawabnya polos.

“Yah, kau benar sekali. Lalu sekarang, coba bayangkan sesuatu”

Seo Jung tampak termenung lalu dia tersenyum “Aku ingat saat Kyuhyun oppa memberiku psp kesayangannya. Dia memberikannya tapi dengan wajah kesal. Lalu aku tertawa saat melihat wajahnya yang lucu. Haha” Dan Seo Jung tertawa begitu keras. Membuat Sunghwa ikut tertawa. Sementara Sung Jin mendengus, namun dia juga tersenyum melihat adiknya.

“Kuadukan kau padanya” Ancam Sung Jin. Seo Jung melihat nya lalu memberikan sebuah pandangan acuh “Bilang saja. Aku tidak takut. Lagipula dia itu tidak bagus main game setiap hari” Seo Jung mengoceh khas anak kecilnya.

“Kyuhyun. Nugu?” Sunghwa bertanya pada Sung Jin.

“Oh, dia anak dari Paman Cho. Keluarga kami sangat dekat dan Kyuhyun sering main kesini. Umurnya sama dengan Seo Jung”

“Benarkah? Tapi kenapa aku belum pernah sekalipun melihatnya datang kemari? Juga.. Umur mereka sama? Tapi Seo Jung memanggilnya ‘oppa’?”

“Kudengar, keluarga Paman Cho masih berada di Jepang setahun belakangan. Juga, Kyuhyun yang bersikeras agar Seo Jung memanggilnya oppa. Entahlah, anak itu aneh”

“Benarkah? Sepertinya dia cukup keren” Sunghwa tersenyum miring menatap Seo Jung. Dengan maksud menggoda sebenarnya. Membuat Seo Jung tiba tiba tersenyum lalu mengangguk menyetujui.

“Kau suka padanya, kan?” tanya Sunghwa pada Seo Jung. Dengan cepat gadis itu menggeleng “Aniya~!”

“Wah! Seo Jung menyukai Kyuhyun! Wah.. aku akan bilang pada Eomma, pada Appa, pada Paman dan Bibi Cho, pada Kyuhyun juga” Sung Jin meloncat dari duduknya dan menggoda Seo Jung habis habisan.

Aniyo! Oppa! Jangan bicara yang aneh aneh!!” Seo Jung terus memprotes dengan suara cemprengnya.

Tak lama, sebuah mobil hitam besar memasuki pekarangan rumah. Mereka mendongak hanya untuk menyadari bahwa Tuan Muda Cho terlihat turun dari sana.

Mwo? Ige mwoya? Anak itu sudah pulang dari jepang?” Sung Jin terkejut, lalu pria itu tersenyum menggoda pada adiknya. “Oppa. Aku akan marah padamu kalau kau bicara macam macam. Marah se-la-ma-nya” kata Seo Jung membuat Sung Jin dan Sunghwa tersenyum.

“Kyuhyun~ah!” Sung Jin memanggil Kyuhyun. Dengan langkah datarnya, wajah sok kerennya dan celana panjang dengan kaos putih, Kyuhyun kecil berjalan menghampiri mereka.

“Oh, Hyung” Kyuhyun beradu tos dengan Sung Jin. “Aku membawa oleh oleh dari Jepang. Kusuruh Noona meletakkannya di dalam”

“Kapan kau pulang dari Jepang? Kenapa tidak mengabari kami dulu sebelum pulang? Aku yakin pasti Seo Jung merengek pada Appa agar bisa menjemput kalian di bandara”

Oppaaaaaaa” Seo Jung berteriak dengan suara yang melengking. Tapi Sung Jin mengabaikannya dan hanya tertawa keras.

“Gadis kecil cerewet. Sepertinya tinggimu tidak berubah ya?” Kyuhyun mengamati Seo Jung dan dibalas dengusan oleh gadis itu.

“Oh iya, Kyuhyun~ah. Kenalkan. Dia Hyung-ku yang baru. Namanya Sunghwa”

Annyeonghaseyo. Cho Kyuhyun imnida” Kyuhyun membungkuk dalam sebagai tanda kesopanan, begitupun Sung Jin.

“Wah, jadi kau yang bernama Kyuhyun”

Kyuhyun terlihat kikuk dan bingung sebenarnya. Bagaimana bisa dia tidak kemari setahun dan keluarga Kim ini sudah punya anggota keluarga baru? Tapi, Cho Kyuhyun bukan tipe orang yang akan memusingkan hal hal seperti itu. Menurutnya, mungkin Paman dan Bibi Kim punya alasan lain untuk ini. Cara pemikiran anak lelaki delapan tahun yang cemerlang, bukan?

“Ne.. hyung”

-o0o-

 

6 months later 

Royal Company mengalami gonjang ganjing yang serius. Membuat Seung Ho merasa kewalahan dengan mengurus bolak balik perusahaan yang ada di Korea, juga cabangnya di Amerika. Dengan pertimbangan yang berat, mereka memutuskan untuk menetap di Amerika sampai semuanya terselesaikan.

Suatu hari, ketika Sunghwa kembali dari sekolah menengah atasnya, dia menuju kebelakang rumah dengan tujuan memberi makan anjing kesayangannya. Clho.

Tidak pernah disangkanya saat itu dia mendengar percakapan Ibunya bersama Min Su. Dan apa yang di dengarnya adalah sesuatu yang membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Kesimpulannya adalah, Min Su mengidap penyakit berbahaya, kalau tidak salah dengar Kanker Hati stadium akhir. Dan tidak ada yang tahu. Tidak satupun. Termasuk suaminya sendiri. Dengan umurnya yang tidak lama lagi, Min Su meminta Jisoo –ibunya- agar mau untuk merawat suami serta anak anaknya saat dia sudah tidak ada. Ya Tuhan, lalu apa yang harus dilakukan Sunghwa dengan ini? Berpura pura tidak tahu tapi nyatanya dia tahu, atau melakukan sesuatu tapi dia juga tidak tahu melakukan apa?

Dan dua bulan setelahnya, dia lulus dari sekolah. Bersiap untuk masuk ke perguruan tinggi. Sementara Sung Jin masih berjuang di tahun terakhirnya di sekolah menengah atas. Dan Seo Jung masuk ke sekolah menengah pertamanya.

Entah apa yang terjadi hingga tiba tiba saja Kim Seung Ho mengajak mereka semua kembali ke Korea. Untuk sesaat Sunghwa sangat menunggu masa masa ini. Ketika dia sudah berada di Korea, dia akan melakukan pencarian terhadap ayah dan adiknya. Entah bagaimana caranya orang orang yang disewa itu tidak mampu menemukan keberadaan mereka. Sangat amat disayangkan mengingat mereka adalah pekerja profesional.

Namun, sesuatu yang tidak pernah diharapkan terjadi. Seminggu setelah kepulangan keluarga Kim ke Korea, Min Su meninggal dunia akibat penyakitnya. Hal ini menjadi pukulan berat bagi keluarga Kim. Begitu juga dengan Sunghwa. Pria itu mengingat bagaimana baiknya Min Su ketika masih hidup dan bagaimana dia mendapatkan kasih sayang yang sama dari Min Su. Wanita itu benar benar baik. Dia seperti malaikat. Itu adalah penilaian Min Su dimata Sunghwa. Sehingga tak pelak, dia pun menangis terus menerus saat Min Su meninggal.

Dengan kejadian itu membuat semuanya bersedih. Namun hal lain terjadi pada Seo Jung. Dia menjadi pendiam selama berminggu minggu, bahkan hingga berbulan bulan. Gadis itu tetap melanjutkan sekolahnya karena ternyata dia bisa. Tapi, keadaan mentalnya yang berubah. Tidak lagi ada Seo Jung yang ceria seperti dulu.

Semua orang mengira hal yang menimpa Seo Jung akan berakhir. Namun, hingga Seo Jung menamatkan sekolah menengah atasnya dia benar benar berubah. Gadis itu menjadi sering marah dan tidak mudah di dekati. Ketika Sunghwa mengajaknya berbincang, Seo Jung bukan lagi seperti Seo Jung yang dia kenal selama 10 tahun terakhir. Saat masuk ke perguruan tinggi, tingkahnya semakin liar. Seo Jung sering pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.

-o0o-

Kemudian, setelah enam tahun Min Su meninggal, Kim Seung Ho menikah dengan Jisoo. Hal ini sempat membuat marah Sunghwa. Karena dia jelas tahu bahwa ibunya bahkan belum bercerai dengan ayahnya. Itu berarti ibunya masih punya status sebagai seorang istri. Setelah pernikahan, Sunghwa mengunci dirinya di kamar selama berminggu minggu. Menyesali kebodohannya yang benar benar bodoh. Menyesali kelemahanya yang benar benar lemah. Karena seharusnya dia bisa melakukan lebih untuk membuat ibunya ingat semua kenangan dalam hidupnya, bisa melakukan lebih agar menemukan ayah serta adiknya. Tapi dia menyesali tindakannya selama ini yang dirasa terlalu lemah dan takut.

Ketika dia memutuskan untuk keluar diam diam pada malam hari demi mencari udara segar, Sunghwa melihat Seo Jung yang sedang ditarik paksa oleh segerombolan pria di ujung jalan tempatnya berada. Mereka menyeret Seo Jung ke tempat sepi dan berkobarlah kemarahan di hati Sunghwa. Dengan pemikiran bahwa, dia tidak akan melakukan kesalahan dua kali. Dia gagal menyelematkan atau bahkan menemukan adik kandungnya sendiri. Sekarang, adik perempuannya yang lain sedang dalam bahaya. Dan itu memicunya untuk terjun mengejar Seo Jung yang telah di bawa pergi.

Menyelamatkan Seo Jung tak semudah yang dia fikir. Dengan modal berkelahi yang kurang, Sunghwa di hajar habis habisa oleh orang orang berbadan lumayan itu. Sementara Seo Jung tergeletak pingsan dengan baju yang compang camping.

Naas. Sung Jin menangis histeris saat tiba di rumah sakit dan mengetahui bahwa Sunghwa tidak tertolong. Pria itu tewas karena tusukan benda tajam di badannya yang bertubi tubi. Seo Jung dalam keadan terguncang masih ditangani oleh para dokter. Dan itu adalah hari paling menyakitkan bagi Sung Jin. Ketika melihat kakak yang sudah dianggap seperti kakak kandungnya sendiri tewas demi menyelamatkan nyawa adik yang bahkan adalah adik kandungnya sendiri. Terbesit kekesalan pula dalam diri Sung Jin ketika dia menyadari bahwa seharusnya dialah yang menggantikan posisi Sunghwa. Seharusnya dialah yang menjaga Seo Jung. Dan seharusnya dialah yang kini berbaring tak bernyawa di rumah sakit. Namun apa daya, takdir telah berkata.

#flashback off

Advertisements

63 thoughts on “Love Line (12/?)

Add yours

  1. Hampir full flashback.
    Jdi tau deh, kalau dulunya Rachel itu anak yg manis. Tpi krna penyakit anehnya jadi bringas kyk gitu…..

    Jdi oppa kandungnya Hyuna ninggal? Terus itu Ibunya… Kapan sembuh dri amnesianya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: