Love Line (11/?)

C1458501-1361299767large copy_副本

Author                  : tatadap

Title                       : Love Line

Main Cast             : -Cho Kyu Hyun –Park Hyuna

Genre                    : Romance

Rating                    : 15

Length                   : Chapter

Desclimer             : Story and plot are mine! Don’t try to copy and paste this without my permission!!!

Happy Reading !

– Disaster – 

Hyuna meringis sambil membasahi sudut bibirnya yang masih perih akibat tamparan Rachel kemarin siang. Dan sejak itu, dia belum lagi menemui sosok gadis yang menurut Hyuna.. hanya gadis malang dengan pelarian akibat kurangnya kasih sayang.

Semua fakta seakan kembali memeras otaknya. Saat ingat bahwa dari semua yang dia tahu dari kehidupan seorang Rachel Kim, dia adalah seseorang yang sangat amat disayangi oleh keluarganya. Tapi, saat dia dengan jelas menangkap sorot mata Rachel kemarin, Hyuna bahkan bisa menebak bahwa Rachel tidak benar benar tahu apa yang sedang dia lakukan.

Obesesi semata.

Tidak. Mungkin lebih dari itu.

Atau .. sejenis obsesi yang sebenarnya bukan obsesi. Obsesi secara tidak langsung maksudnya?

Dan semua kalimat konyol yang berputar di otaknya itu makin membuat dia pusing.

Hyuna mendongak saat kembali melihat pria yang beberapa kali ini terlihat sering mengunjunginya. Pria itu membawa sesuatu di dalam kantung plastik berwarna hitam.

Dengan asal, pria itu melempar kantung itu di atas pangkuan Hyuna sesaat setelah dia berdiri tepat di depannya. Membuat Hyuna mendongak dan memincingkan mata melihatnya.

“Apa ini?” tanya gadis itu skeptis.

“Kau butuh makan”

Hyuna mencibir “Dan kau berharap aku bisa makan dengan tangan yang diikat seperti ini?”

Tanpa bisa Hyuna duga, pria itu.. entah siapa namanya, membungkuk di depannya. Meraih sesuatu di dalam, membukanya lalu dengan sabar mengarahkan sesuap makanan itu ke arah Hyuna. Dan gadis itu hanya bisa diam di tempatnya.

“Tunggu apa lagi? Cepat makan ini”

Tak diipungkiri, dari kemarin dia belum mengisi perutnya dengan apapun. Dan kalau boleh jujur, cacing cacing di perutnya sudah berdemo sejak tadi.

Dengan menurut, Hyuna menerima suapan itu. Lalu membuat pria di depannya itu tertawa pelan sambil menatapnya. Membuat Hyuna balik menatap pria itu dengan mulut penuh dan lipatan di dahinya yang terlihat jelas.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Hyuna dengan mulut penuhnya.

“Tidak. Hanya saja kau lucu”

“Ha?”

“Kebanyakan orang yang sedang diculik. Akan menolak sesuatu yang diberi si penculik. Apalagi ini makanan. Kau tidak khawatir jika di dalam sini ada racun..misalnya? atau kau tidak sadar bahwa kau ini sekarang dalam bahaya”

Hyuna mengendikkan bahu “Pertama, aku lapar. Dan aku tidak akan menyangkal untuk  itu” Hyuna menelan habis sisa nasi di mulutnya “Kedua, aku tahu tidak ada racun di dalam situ. Dan aku memang tidak dalam bahaya”

Jong Suk menaikkan alisnya “Kenapa kau begitu yakin?”

“Karena aku tahu kau bukan orang  jahat”

Kata kata Hyuna seakan menampar Jong Suk seketika, membuat pria itu menegang dan tiba tiba sekelebat memori di otaknya menampilkan bagaimana perjalanan hidupnya dari seorang Jong Suk kecil sampai dewasa seperti sekarang. Dan ada sosok ibu nya di dalam situ. Sial. Dia tidak bisa jika seperti ini.

Tiba tiba, Jong Suk berdiri setelah sebelumnya kembali meletakkan makanan itu di pangkuan Hyuna. Pria itu berjalan ke belakang kursi yang terikat bersama dengan Hyuna, lalu membuka ikatan talinya.

Pria itu lalu berjalan ke arah pintu tanpa menoleh kebelakang dan meninggalkan Hyuna dengan tatapan bingugnya. Namun, sebelum dia benar benar meninggalkan ruangan pengap itu, Jong Suk berucap datar “Aku akan kembali dalam satu jam dan mengikatmu lagi. Habiskan makananmu dan jangan pernah berfikir untuk kabur”

Sepeninggal Jong Suk, Hyuna kembali menghabiskan makan malamnya dalam diam. Setelah habis, gadis itu mengambil sebotol air mineral yang juga ada disana.

Memasukkan kembali ke dalam plastik hitam, Hyuna dibuat heran dengan adanya sebuah ikat rambut dan plester di dalamnya. Dan tanpa sadar, gadis itu tersenyum. Menatap ke arah pintu dengan tatapan yang lega.

Lega. Karena saat dia sadar akan fakta keadannya yang tengah berada di dalam penculikan, ada seorang malaikat yang mungkin saja dapat melindunginya secara tidak langsung.

“Terimakasih, pria misterius” ucapnya tersenyum lalu mengikat rambutnya yang benar benar berantakan.

-o0o-

Tepat 3 hari Hyuna menghilang dari peredaran dan membuat keluarga cemas bukan main. Ahra tak henti hentinya menerima telepon, atau bahkan menelpon siapa saja yang dianggapnya bisa dimintai tolong dalam pencarian. Semua usaha sudah dikerahkan dan belum ada tanda tanda dimana Hyuna berada.

Hana selalu menanti dalam tangisan. Mau dikata apa, Hyuna sekarang tetaplah putrinya. Dan dia sudah bersumpah dalam hati untuk bisa mencintai Hyuna seperti anak kandungnya sendiri. Kasih sayang, cinta, perhatian, dan apapun itu yang diperlukan anak dari seorang ibu telah Hana curahkan pada Hyuna. Sama besarnya dengan apa yang telah dia beri pada Kyuhyun dan Ahra.

Meratapi putrinya yang hilang, Seunghwan selalu berada disisi istrinya. Menenangkannya. Dan tak jarang dia terlihat duduk bercakap cakap dengan detektive yang dia sewa di ruang tengah.

Sulit. Itu kata yang selalu diberikan pada keluarga Cho tentang masalah ini.

Dengan embel embel ‘professional’ di belakang namanya,  dalam waktu singkat detektive itu tahu siapa orang yang membawa Hyuna pergi dari rumah ini. Namun semuanya terasa sulit saat fakta bahwa Black Shadow –lah yang terlibat dalam masalah ini.

Black Shadow. Seseorang dari dunia gelap yang sangat terkenal. Apapun itu. Kepintaran, kelicikan, dan strateginya yang selalu mulus hingga jika dia melakukan sesuatu akan sulit untuk dicium jejaknya.

Kyuhyun yang sudah terlihat sangat.. mengenaskan, tambah meradang mengetahui fakta ini. Black Shadow. Ada urusan apa orang seperti dia yang berasal dari dunia gelap bisa bisanya membawa Hyuna? Demi Tuhan! Ini benar benar tidak masuk akal!

Seseorang pasti telah menyuruhnya, benar kan? Jika tidak.. apa motiv orang itu dengan membawa kabur Hyuna, atau lebih tepatnya, menculik Hyuna!

Kyuhyun turun dari lantai dua. Bergerak tergesa dengan sebuah kunci mobil ditangannya. Ahra yang  melihatnya turun langsung mematikan ponsel yang sedang ia gunakan untuk menghubungi seseorang, lalu menghampirinya di ujung tangga.

“Mau kemana?”

“Mencari Hyuna”

Ahra mendesah “Demi Tuhan Kyu! Kau baru pulang setengah jam yang lalu. Setidaknya beristirahatlah untuk hari ini. Ya?” Ahra menatap cemas adiknya. Memegang tangan Kyuhyun mencoba membunjuknya. Kyuhyun  seperti orang gila mencari Hyuna. Tak kenal waktu. Perusahaan ia limpahkan pada orang kepercayaannya untuk sementara. Lalu seluruh waktu yang dia punya hanya mengitari Seoul berharap bisa menemukan Hyuna. Pria itu bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri. Lihatlah, dia terlihat lebih kurus dan pipi chubbinya mengempis. Janggut  dan kumis yang tidak dicukur selama beberapa hari membuatnya tumbuh dan memenuhi seputar dagu menyatu dengan area philtrumnya.  Rambutnya selalu acak acakan seperti tidak diurus. Dan Kyuhyun hanya memakai asal apa yang dia bisa pakai.

“Aku memang pulang hanya untuk mandi dan mengganti baju, noona. Lalu aku berencana pergi lagi” Kyuhyun seperti biasa, bersikap keras kepala.

“Oke, kalau begitu makanlah dulu sebelum pergi. Kau belum makan apapun, Ya Tuhan.. Cho Kyuhyun. Dengarkan aku kali ini”

“Aku bisa makan dijalan nanti”

“Kau fikir aku percaya!” Tanpa sadar Ahra menaikkan volume suaranya membuat Kyuhyun terdiam menatap kakaknya. Sementara Seunghwan, Hana dan detektive Kim menoleh dalam waktu bersamaan ke arah mereka berdua.

“Aku sudah cukup pusing dengan Hyuna menghilang. Aku khawatir, semua orang khawatir. Dan aku hanya memintamu untuk tidak menjadi orang bodoh yang mengabaikan kesehatanmu sendiri! Itu membuat aku khawatir bukan hanya dengan Hyuna, tapi denganmu juga Cho Kyuhyun bodoh!” Ahra berteriak. Tiba tiba saja air mata menyeruak keluar dan membuatnya terisak. Sungguh, gadis itu benar benar letih secara batin dan fisik. Lihat kantung mata di sekitar matanya. Cho Ahra, hanya seorang gadis yang kebetulan diberi peran oleh Tuhan sebagai seorang kakak tertua dan kini harus berjuang untuk menyelamatkan hidup adik adiknya.

Ahra menutup mulutnya..hampir ke hidungnya dengan pergelangan tangan sementara dia masih terus terisak dan menunduk. Kyuhyun menghela nafas melihatnya, lalu dengan sayang dan sabar pria itu memegang pundak Ahra lalu menariknya masuk ke pelukannya.

Dengan itu, Ahra runtuh. Isakannya semakin jelas terdengar dan dia melingkarkan tangannya ke badan Kyuhyun. Luntur sudah semua kedok ‘sok’ tegarnya beberapa hari ini. Dia mencoba tegar dan lebih manusiawi menghadapi hilangnya Hyuna agar orang tuanya tidak tambah khawatir, agar suasana dirumah itu tidak terus menerus tegang menunggu hasil, agar dia bisa berfikir jernih dan menghubngi setiap orang untuk membantunya, agar segalanya berjalan sedikit lebih mudah.

Tapi karena kebodohan adiknya yang satu ini, dia tidak bisa lagi berpura pura tegar dan terlihat manusiawi. Jika dia boleh jujur, setiap melihat ibunya menangis dia pun ingin menangis. Toh apadaya, jika dia melakukan itu malah akan membuat ibunya lebih khawatir. Air mata selalu ingin keluar juga saat melihat adiknya yang keras kepala benar benar tidak memperhatikan bahkan untuk kesehatannya sendiri.

Saat dia makan, atau menyuruh orang tuanya makan dan berkata  jangan terlalu khawatir, dia adalah satu satunya orang yang dengan kuat mencoba menahan air matanya untuk tidak tumpah. Melihat bagaimana tidak seleranya orang tua mereka menyantap makanan. Karena baik dalam fikiran kedua orang tuanya, atupun fikirannya sendiri mereka hanya bisa menebak nebak ‘Makan apa Hyuna saat ini?’ atau yang lebih buruk ‘apakah Hyuna makan atau tidak?’ dan itu membuat Ahra ingin berteriak saat dia berfikir mungkin tidak adil jika dia masih bisa menyantap hidangan sementara dia sendiri tidak tahu adiknya makan atau tidak.

Tapi dia tidak bodoh seperti adiknya itu. Tidak bertindak keras kepala seperti Kyuhyun. Dia tetap memperhatikan kesehatannya karena jika dia sakit.. maka semua akan bertambah runyam. Maka kedua orang tuanya akan mengkhawatirkannya disaat mereka juga sama paniknya mengigat Hyuna yang masih menghilang.

Dan dia benar benar ingin melempari Kyuhyun dengan koleksi sepatunya agar otak keras kepala adiknya itu pecah. Agar Kyuhyun tidak menjadi pria bodoh lagi.

“Kau tahu apa yang barusan melintas di fikiranku?” Ahra berucap setelah tangisannya mereda. Gadis itu menarik ingusnya lalu mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun.

Dengan sabar Kyuhyun membelai lembut punggung kakaknya “Apa?”

“Melemparimu dengan sepatu sepatuku agar otak keras kepalamu pecah dan kau tidak bodoh lagi”

Kyuhyun terkekeh pelan, kemudia merasa menyesal telah membuat semuanya semakin buruk “Maafkan aku, noona. Aku hanya begitu khawatir tentang Hyuna. Aku—a-aku–”

“Kau bukan satu satunya orang yang khawatir, ingat?”

Kyuhyun menghela nafas berat dan mengangguk “Aku merasa kepalaku akan pecah saat ini”

Ahra melepaskan pelukannya lalu menatap Kyuhyun. Mengusap rambut adiknya dengan sayang “Aku yakin semuanya akan baik baik saja Kyuhyun~ah”

“Aku merasa Rachel ada hubungan dengan semua ini tapi aku tidak punya bukti”

Ahra mengernyitkan dahinya “Kenapa kau begitu yakin?”

Kyuhyun memandang kakaknya menimang. Kalau dia harus cerita tentang keyakinannya ini, dia harus mulai dari awal. Dan tentunya hubungan antara dia dan Hyuna akan terbongkar pula karena dari sinilah awal semua masalah yang sedang terjadi.

“Kyu, kau akan menceritakannya padaku kan?” Ahra menatap adiknya lembut tapi Kyuhyun sadar ada sorot mengancam dari sana. Membuat Kyuhyun tersenyum. Yah.. keluarga Cho tidaklah luput dari kekeras kepalaan.

“Baiklah. Mungkin setelah aku makan?”

Ahra tersenyum lebar lalu mengantar Kyuhyun ke meja makan.

-o0o-

Hyuna terbangun tiba tiba karena merasakan rasa sakit yang menyengat dari kepalnya. Gadis itu tersentak dan saat kesadarannya belum sepenuhnya pulih, dia merasakan air dingin mengguyur wajahnya yang mendongak.

Rachel Kim disana. Menjambak rambut Hyuna yang terikat kuda sehingga membuatnya mendongak. Lalu menyiramnya dengan air dingin tepat di wajahnya. Air dingin. Yang benar benar dingin. Sehingga akan terasa seperti ribuan jarum menusuk nusuk kulitmu dengan ganas.

Rachel melempar botol teko kosong yang airnya telah habis lalu berjalan memutar dan berdiri di depan Hyuna. Membungkuk, gadis yang kini memakai celana panjang cokelat dan kemeja santai berwarna pastel itu memegang kasar dagu Hyuna dan menariknya mendekat hingga jarak wajah mereka hanya menyisakan ruang untuk bernafas.

Hyuna yang tekah kembali dari keterkejutannya menatap Rachel yang juga tengah menatapnya dengan kejam. Nafasnya terengah akibat otot otot sarafnya yang ‘kejut’ oleh air dingin tadi. Poninya basah dan beberapa menutupi matanya.

“Aku benci fakta bahwa semua orang menyayangimu. Semua orang mencintaimu padahal kau hanyalah seonggok sampah yang baru saja dipungut!” Rachel mendesis.

“Aku bukan sampah, Rachel” Hyuna tak mau terlihat lemah, dia menantang Rachel. Seperti biasa.

“Ya! Jelas kau adalah sampah!”

“Aku tidak akan menjadi kesayangan seperti yang kau bilang tadi jika aku memang sampah”

“Cih! Mereka hanya tertipu oleh wajah sok polosmu”

“Kau fikir semua yang ada padaku hanyalah rekayasa? Maksudmu aku berpura pura menjadi gadis lugu yang baik hati yang membuat semua orang mencurahkan perhatiannya padaku? Begitukah?”

“Jelas kau terlihat seperti itu”

“Lalu bagaimana dengan ini” Hyuna menyipit menatap Rachel, lalu senyum satu garisnya terlihat. “Kau mencoba seperti itu juga, sama dengan apa yang aku lakukan. Dengan begitu, semua orang akan mencintaimu dan menyayangimu”

Merasa dilecehkan, Rachel mendesis marah. Satu tamparan dia layangkan kembali ke pipi Hyuna “Aku bukan ular sepertimu, sialan!!” Rachel kembal menjambak Hyuna membuat gadis itu mendongak. Namun, Hyuna masih berusaha untuk tidak terlihat kesakitan di depan Rachel sehingga membuat gadis itu lebih kesal.

“Lalu apa yang sekarang kau lakukan! Bukankah kau tidak jauh beda dariku?”

“Jelas berbeda. Aku melakukan semuanya dalam hidupku dengan tanpa adanya kedok dan sandiwara. Bukan seperti kau yang berpura pura menjadi baik!”

Hyuna tersenyum. Kali ini senyumnya lembut dan menenangkan, menatap Rachel dalam sehingga membuat gadis itu tiba tiba bergetar. Hatinya tiba tiba bergetar melihat tatapan hangat yang ditujukan Hyuna tiba tiba.

“Lihat? Karena memang seperti itulah dirmu sebenarnya, Kim Seo Jung” Kata Hyuna lembut

Rachel terperangah, bingung “Apa?”

“Kau. Dirimu. Semua yang ada padamu, semua yang kau lakukan memang bukan sebuah kedok. Bukan sebuah kepura puraan. Kau menjalani hidupmu dengan apa yang menurutmu pantas kau lakukan. Tapi kurasa, yang seperti ini sudah sedikit.. keterlaluan Seo Jung~ssi”

“Sialan! Apa maksud omonganmu itu ha?!!” Rachel menggeram marah campur kebingungan. Nafasnya terengah dan dia kembali menarik rambut Hyuna lebih kebawah. Terdengar sedikit ringisan dari Hyuna namun gadis di hadapannya itu masih tersenyum lembut padanya. Membuat Rachel gentar.

“Kau bukan orang jahat Seo Jung~ss” Hyuna menatap Rachel dengan tekad di matanya “Aku tidak tahu apapun tapi aku dapat merasakannya. Kau tersesat. Kau hanya butuh sedikit cahaya untuk bisa membawamu pulang. Tapi seperti katamu tadi, kau melakukan apapun yang ada dihidupmu karena kau mau. Itu bagus. Karena artinya, saat kau tersesat pun kau menjadi dirimu sendiri. Yang tidak punya niat untuk menjalani kepura puraan. Namun sayangnya, semua yang kau lakukan salah Seo Jung. Ini tidak baik”

Rachel megernyit lalu melepaskan kasar jambakannya pada rambut Hyun dan tertawa mengejek. Lalu berdiri dengan bersedekap dada “Kau bicara apasih?! Tersesat. Cahaya. Kau gila,ya?!”

“Biarkan aku memberimu satu pertanyaan” Hyuna berucap “Kau tidak akan membunuhku kan?”

Rachel kembali tertawa sinis, matanya menari nari disekitar ruangan sementara dia memegang kepalanya yang tiba tiba terasa pening. Pertanyaan itu tiba tiba serasa menohoknya. Melemparnya kembali ke suatu fase dimana dia bukanlah seseroang dengan segudang hal buruk dihidupnya. Apa itu?

“Aku tahu kau tidak akan membunuhku, karena itu yang ingin kau lakukan. Kau tidak mau membunuhku. Kau tidak mau membunuh orang. Karena kau bukan orang jahat dan kau tidak mau menjadi jahat” sebelum Rachel sempat untuk menjawab Hyuna kembali bersuara.

Rachel terdiam lalu menatap Hyuna dengan nafasnya yang terengah. Gadis itu mengepalkan erat kedua tangannya diantara sisi sisi tubuhnya

Saat suatu fikiran aneh yang menganggunya kembali datang, mengingatkannya akan suatu waktu dimana dia bisa tertawa dengan lepas bersama orang orang yang dia sayangi. Bercanda bersama orang orang terdekatnya. Bahkan gadis itu tersentak saat tiba tiba memorinya memutarkan kejadian dimana dia menghabiskan waktu bersama Kyuhyun. Tertawa bersama Kyuhyun. Menggegam tangan hangat Kyuhyun. Dan tiba tiba dadanya sesak, sehingga Rachel lebih memlih untuk menundukkan kepalanya.

Lalu saat dia kembali menatap Hyuna, kenangan akan Kyuhyun yang mencampakannya demi gadis itu membuat emosinya kembali memuncak. Rasa dimana dia ditinggalkan, dan dilupakan oleh orang orang yang berada di dekatnya begitu sakit. Fase kebenciannya terhadap Hyuna kembali bangkit dan rasa itu mendominasi otaknya. Membuat Rachel menatap bengis kembali.

Saat matanya menangkap sebuah balok kayu tergeletak tak jauh darinya, setan itu merasuk.

Mengambil balok kayu itu, Rachel berjalan pelan kearah Hyuna. Sadar akan keadaan yang tiba tiba memburuk, Hyuna merasa was was.

“Rachel, kau tidak akan memukulku. Kau buka orang jahat, ingat itu!” Hyuna panik, dan mencoba mensugesti Rachel kembali.

Rachel hanya tersenyum sinis dan mulai mengangkat balok kayu itu ke samping tubuhnya. Langkahnya pelan namun seperti dentingan jarum kematian untuk Hyuna. Hatinya bergetar.

“Kau benar, aku melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang aku mau. Dan ini.. adalah apa yang aku ingin lakukan”

Saat Rachel menaikkan balok kayu itu tinggi tinggi dihadapan Hyuna, gadis itu hanya bisa mempasrahkan hidpnya untuk kemudian memejamkan mata. Dan tepat saat sebuah suara ‘bugh’ terdengar di telinganya, Hyuna tidak merasakan apapun.

Namun detik berikutnya, saat dia sadar bahwa ada orang yang memeluknya, kemudian membuka ikatan tali yang mengekangnya dibelakang kursi, Hyuna menoleh. Mendapatkan pria misterius penolongnya itu berada dekat dengannya. Tersenyum lemah padanya yang sedang terkejut setengah mati.

Hyuna gelagapan “K-au.. kau” dan gadis itu shock dengan nafas terengah

“Jong Suk. Namaku Choi Jong Suk” Jong Suk mencoba berbicara dengan keadannya, dan senyum yang lemah.

Seolah tuli, Hyuna malah tetap terdiam dan tidak menanggapi. Membuat dia tersadar saat suara amarah Rachel terdengar.

YAAAA!!! Dasar sialan! Bodoh! Apa yang kau lakukan!!! Aku tidak membayarmu mahal untuk ini!!” dalam kesadarannya, Rachel menendang tubuh Jong Suk yang meringkuk di tubuh Hyuna yang berada di dekatnya. Jong Suk  jatuh terlentang ke samping.

Rachel meradang. Dengan membabi buta, dia memukuli Jong Suk dengan balok yang masih dia pegang. Membuat pria itu meringkuk mencoba melindungi dirinya dan terbatuk dengan darah yang keluar. Dia bukan pria lemah. Dia jelas bisa membalas Rachel. Dan bukannya pasrah , Jong Suk sadar betul bahwa Rachel memang melakukan ini karena dia sedang tersesat. Dia tidak mau, melukai seorang gadis yang sedang tersesat. Ditambah fakta bahwa punggunya terasa nyeri karena tusukan paku besar yang ada di ujung balok yang dipakai Rachel. Jika boleh jujur, jauh di dalam hatinya, Jong Suk lebih merasa kasihan terhadap Rachel ketimbang Hyuna. Biarlah dia terluka, karena dengan pertahanan tubuhnya sebagai lelaki, dia tahu dirinya tidak akan mati disini.

“JANGAAAAN!!” Hyuna menggerakkan tangannya susah payah untuk bisa keluar dari jeratan tali yang telah mengendur, Jong Suk yang melakukannya tadi.

Setelah bebas, dia mencekal Rachel yang akan memukul Jong Suk untuk kesekian kalinya. Itu membuat Rachel tambah marah dengan fakta Hyuna yang bisa bebas dari ikatan sialan itu. Mereka berebut balok kayu. Dengan tujuan yang berbeda. Jika Hyuna ingn balok kayu itu agar dia bisa melemparnya, sementara Rachel menginginkan balok kayu itu untuk memukuli orang. Jong Suk salah satunya, dan juga Hyuna.

“Hyuna, lari dari sini. Sekarang!” Jongsuk berusaha berucap dengan keadaannya.

“Apa?!! Aku tidak bisa meninggalkanmu!” Hyuna juga berucap susah payah karena masih beradu bersama Rachel.

“Aku tidak apa apa! Pergi sekarang juga! Kumohon! Jangan buat aku menyesal karena gagal membebaskanmu!!”

Hyuna menatap Jong Suk dengan pedih. Air mata mengalir tiba tiba saat melihat betapa lemahnya tubuh kekar itu. Dan darah yang berceceran disekitarnya. Dia ingin sekali membantu Jong Suk tapi pria itu malah menyuruhnya pergi. Dan sesuatu menyadarkannya bahwa dia memang harus pergi. Dia tidak akan membuat usaha Jong Suk untuk menyelamatkannya menjadi sia sia. Terimakasih untuk Jong Suk.

Fokusnya terhadap Rachel sedikit mengendur membuat Rachel dengan bringas dan dalam satu sentakan, merebut balok kayu itu terlepas dari Hyuna. Lalu memukul kaki Hyuna dan membuat gadis itu meringis karena betisnya terasa perih sekaligus sakit secara bersamaan.

“ARRGH!”  Kaki kanannya terjatuh karena merasa sakit. Namun, entah mendapat kekuatan darimana tiba tiba saja dia dengan sekali sentakan mencabut paku yang menusuk betisnya sekaligus merebut balok itu dari Rachel dan melemparnya sejauh yang dia bisa. Membuat Rachel melotot, antara kesal sekaligus takjub.

Dengan kekuatan yang tersisa, Hyuna bergegas bangun lalu kemudian berlari dengan tertatih dan darah yang mengucur.

“GADIS SIALAN!! BERHENTI DISANA!!” Rachel mengejar, namun sayang kakinya ditahan oleh Jong Suk membuat dia terjatuh.

“Lari Hyuna!! Cepat!!!” Jong Suk berteriak

“Brengsek!!!” Rachel Mengumpat

Dan itulah yang terjadi, Hyuna berlari kesana kemari mencari jalan keluar dengan sekuat tenaga sambil memegangi kakinya. Beruntung dia masih bisa menghindar dari Rachel.

Sebuah pintu yang sudah rusak tertangkap pengelihatannya. Dengan nafas tersengal, Hyuna berlari menuju pintu itu. Lalu setelah menyingkirkan beberapa balok kayu yang tertumpuk tidak beraturan, gadis itu keluar tepat disaat Rachel melihatnya dan berlari ke arahnya.

Angin malam menusuk tubuhnya ketika dia keluar. Dan yang bisa Hyuna temukan hanyalah ilalalng ilalalng tinggi yang bergerak kesana kemari. Dengan tanpa kehilanga harapan, Hyuna mengarungi jalan setapak berharap menemukan sebuah desa atau perkampungan yang ada banyak penduduk seingga dia bisa minta tolong.

Gadis itu tidak tahu dia berada dimana. Benar benar  tak ada  gambaran apapun.

“HYUNA SIALAN!!! BERHENTI KAU!!”

Hyuna tersentak dan menoleh kebelakang saat mendengar suara Rachel terdengar kembali. Dengan tertatih dan meringis perih, gadis itu melanjutkan pelariannya.

Merasa tidak kuat berajalan, Hyuna berhenti sejenak. Kakinya terus mengeluarkan banyak darah membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya dan menangis ketika dia merasa tidak bisa lagi menahan rasa sakit itu.

Melihat sebuah drum besar, tanpa pikir panjang Hyuna berjalan mendekat. Membuat drum itu tertidur, lalu mengumpulkan semak belukar disekitarnya sehingga drum tertutup. Hyuna masuk ke dalam drum itu setelahnya.

Tepat setelah kakinya masuk, dia mendengar suara terengah Rachel tepat di depannya. Hyuna menahan nafas dan berdoa agar dia diberi sedikit kemudahan dalam pelariannya ini.

Dan seperti Tuhan mendengar doanya, dia mendengar langkah Rachel yang menjauh bersama dengan umpatannya. Hyuna mendesah lega.

Setelah beberapa saat di dalam drum dan menimang bahwa ini sudah aman, gadis itu memutuskan untuk keluar.

Mendongak kesana kemari sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan.

Hyuna dapat melihat jalan setapak yang mengarah ke jalan aspal yang sedikit lebih lebar. Dengan semangat dia berlari kecil ke arah sana dengan harapan akan ada mobil yang lewat sehingga dia meminta tolong.

Dia berhasil sampai di jalan aspal hanya untuk menyadari bahwa sekarang Rachel Kim berdiri di depannya dengan tatapan bengis. Ya Tuhan.. dia sudah lelah.

Namun, kakinya ternyata memutar arah dan berlari kecil menghindari Rachel. “Berhenti disana Hyuna, sialan!!!” Rachel mengejar.

Sebuah usaha yang termasuk sia sia Hyuna rasakan saat tak berapa lama dia merasa tangannya dicekal oleh Rachel. Dengan sisa kekuatannya, Hyuna mencoba melawan dan kembali kabur tapi Rachel bisa menangkapnya kembali. Mereka saling melawan di tengah jalan yang benar benar sepi di dekat tikungan hingga kemudian sebuah cahaya datang tiba tiba dan saat mereka berdua sadar, sebuah mobil muncul dari tikungan dan mendekat ke arah mereka berdua. Suara dentuman keras menggema di jalanan yang sepi dan malam yang dingin

Dan hal terakhir yang dapat Hyuna ingat adalah, saat dia menoleh kesamping hanya untuk melihat Rachel yang terkapar disampingnya dengan darah bercucuran dan raungan menyakitkan, disertai sebuah ringisan Rachel yang membuat Hyuna tertegun.

Eomma~”

-o0o-

Seperti kalap, Kyuhyun berlari di sepanjang koridor Seoul International Hospital dan menimbulkan sedikit keributan di lorong itu karena dia tidak sendiri. Ada Ahra beserta kedua orang tuanya, lalu beberapa langkah dibelakang mereka, terlihat Sung Jin, Eunhyuk dan Minho.

Ketika matanya menangkap detektive Kim berada di depan ruang gawat darurat bersama beberapa polisi, pria itu makin merasa jantungnya diremas karena saat ini dia merasakan degupan yang begtitu keras.

Detektive Kim menangkap sosoknya sehingga pembicaraannya bersama kepala kepolisian Seoul itu terhenti sejenak, lalu tanpa diminta dan hanya dengan menatap pria frustasi didepannya itu Detektive Kim memegang lengan Kyuhyun dan menghela nafas “Kendalikan emosimu, nak. Dia berada didalam dan sedang ditangani”

“Bagaimana keadaannya?” Kyuhyun dapat mendengar dirinya bersuara dengan bergetar. Tepat saat semua orang yang bersamanya tadi ikut menanti apa yang akan dikatakan oleh dotektive Kim.

“Aku belum tahu. Dokter masih di dalam, kita semua harus menunggu”

Merasa frustasi, Kyuhyun mengepalkan tangannya berniat meninju dinding dan berteriak kencang. Namun saat dia melirik ibunya yang menangis di sampingnya lalu kakaknya yang menatap berharap padanya dengan pandangan ‘tenangkan dirimu’ membuat pria itu bisa mengendalikan emosinya. Dia lalu jatuh terduduk dengan kasar di bangku yang ada disana.

Merasa ada yang meremas pundaknya, Kyuhyun menyadari itu adalah Eunhyuk. Dan suara pria itu yang menenangkannya bahkan tidak mampu untuk membuat Kyuhyun berhenti dari kegelisahannya. Hyuna ditemukan, okay.. berita bagus. Hyuna masuk rumah sakit dan terluka parah. Sialan! Berita yang sangat buruk untuknya!

Sekitar satu jam yang lalu, Ahra mendapat panggilan telepon dari detektive Kim yang menyampaikan berita mengejutkan. Bahwa telah terjadi tabrak lari di daerah Guryong yang ternyata adalah cikal bakal ditemukannya Hyuna, gadis yang menjadi sumber kekhawatiran keluarganya beberapa hari ini. Dan apa yang lebih mengejutkan adalah bahwa bukan hanya Hyuna sebagai korban, tetapi seorang perempuan lagi dan dia adalah Rachel Kim.

Kyuhyun menyangga berat tubunya pada tangannya yang bertumpu di lutut. Kemudian mengusap kasar wajahnya. Berita bahwa Hyuna ditemukan benar benar melegakan hatinya tapi tidak dengan kabar bahwa gadisnya masuk rumah sakit karena tabrak lari. Dalam hatinya, dia terus mengumpat pada siapa saja yang telah menabrak Hyuna dan dengan tidak bertanggung jawab meninggalkannya di tempat sepi seperti itu. Ya Tuhan.. Kyuhyun kembali membayangkan hal buruk yang menimpa Hyuna pasti sangat mengerikan. Membuatnya menyalahkan diri sendiri , merasa bahwa semua hal buruk yang telah terjadi itu adalah  karena dirinya.

Di sisi lain, dia tidak begitu terkejut dengan ditemukan pula sosok Rachel Kim. Karena dia pun sudah menduga ini dari awal. Tapi rasanya, kemarahannya menguap begitu saja saat dia juga mendengar bahwa gadis itu terbaring lemah di dalam sana. Rachel Kim. Sejahat apapun dia, Kyuhyun merasa bahwa di hatinya yang terdalam dia masih menyayangi Rachel. Lebih seperti adiknya.

“Bagaimana ini bisa terjadi, detektive? Bisa kau ceritakan kronologinya?”

Kyuhyun dapat mendengar suara Sung Jin bersuara. Sung Jin berdiri di depan detektive Kim yang kemudian mengajaknya duduk di salah satu bangku. Semuanya telah duduk di bangku rumah sakit di lorong itu menunggu cerita dari detektive Kim.

“Sekitar pukul sembilan malam aku mendapat kabar dari kepala kepolisian Seoul yang juga turut bekerjasama denganku mencari Hyuna. Dia mengatakan bahwa ada sebuah tabrak lari dengan korban dua orang gadis. Lalu aku memutuskan untuk ikut dengannya ke lokasi kejadian karena perasaanku sangat kuat saat itu, entah kenapa. Dan benar saja, Aku melihat Hyuna dan Rachel Kim yang tergeletak di jalanan dengan bersimbah darah” lalu kemudian ada sedikit senyum di wajah detektive Kim membuat semua orang terheran “Tapi aku takjub saat melihat bahwa keduanya tergeletak dengan tangan yang saling bergandengan. Seperti seorang sahabat dekat yang saling menyayangi” Semua terdiam. Masing masing berfikir dalam benak mereka. Benarkah?

Tampak keraguan di hati Kyuhyun mendengar cerita itu. Namun suara detektive Kim kembali terdengar

“Kami sudah memeriksa pelaku dengan CCTV yang ada disana. Polisi masih dalam pengejaran pelaku tersebut. Setelah mereka berdua sadar dan bisa diajak bicara, pihak polisi bermaksud untuk melakukan wawancara terkait dengan ini, dan juga hilangnya nona Park selama beberapa hari ini”

Detektive Kim tampak berat mengatakan hal selanjutnya “Dugaan sementara, nona Rachel terlibat dalam kasus ini”

Sung Jin tersentak, lalu matanya menyipit. Menatap marah pada Detektive Kim “Apa maksudmu?” nadanya sedikit tidak suka.

Sementara orang tua Kyuhyun saling berpandangan, dan Ahra menatap dengan lebih tertarik. Kyuhyun hanya terdiam karena dia pun menduga ini dari awal. Minho dan Eunhyuk tampak tertarik untuk mendengarkan dan tetap setia berada di dekat Kyuhyun untuk menenangkannya.

“Dalam rekaman CCTV jalan, Menampilkan kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi. Terlihat adik anda mengejar nona Park yang berlari dengan pincang. Sepertinya kakinya terluka cukup dalam. Ketika dia menangkapnya tepat di tengah jalan, mereka berdua sempat terlihat berkelahi. Maksudku, nona Park melakukan perlawanan dan menolak untuk ikut. Sampai kemudian, keduanya tidak sadar ada kendaraan yang mendekat dan karena itu mereka berdua tertabrak. Sayangnya, pengemudi itu sangat tidak bertanggung jawab dan meninggalkan kedua gadis itu tergeletak begitu saja disana”

Sung Jin menatap tak percaya pada detektive Kim dan mencoba mencerna. Benarkah? Rachel Kim, adiknya?

Sementara Kyuhyun menatap cepat ke arah detektive Kim saat pria paruh baya itu menyebutkan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Tunnggu, kaki Hyuna terluka?

Tepat saat dia ingin menyeruakkan pertanyaannya, seorang dokter pria yang masih muda keluar dari ruangan itu mengundang rasa penasaran dari semuanya. Ahra maju dan segera memegang lengan dokter itu dengan reflek dan sorot mata kekhawatirannya.

“Bagaimana keadaan nya, dokter?” suaranya lemah.

Dokter itu menghela nafas sebelum kemudian berkata “Nona Kim  mengalami benturan keras di kepalanya lalu kaki kanannya memar. Tapi semuanya sudah ditangani. Dan sekarang kondisinya sudah stabil. Selebihnya tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap sebentar lagi” hal itu cukup membuat Sung Jin membuang nafasnya yang sedari tadi dia tahan lalu menyandarkan tubuhnya ke tembok. Memejamkan mata.

Kemudian, dokter itu menampakkan wajah sedihnya membuat Ahra lebih cemas “Lalu bagaimana dengan adikku? Hyuna, bagaimana kondisinya?” tanya Ahra bertubi tubi.

“Nona Park, belum melewati masa kritisnya. Karena luka di kakinya yang cukup dalam sebelum tabrakan itu membuat darahnya mengucur keluar terus menerus, dia kehilangan banyak darah dan rumah sakit kehabisan stok darah untuknya. Jadi kami membutuhkan orang yang bersedia untuk mendonorkan darah”

“Apa.. golongan darahnya?” suara Kyuhyun terdengar kecil dan tercekat, membuat semua orang menatapnya. Khawatir.

-o0o-

Ketika memasuki rumahnya, Sung Jin melirik jam di dinding.

Pukul 07.30 pagi.

Pria itu mendesah, lalu duduk di sofa sambil merentangkan tubuhnya. Memejamkan matanya, dia bersandar pada dudukan sofa. Badannya terasa sakit semalaman harus tidur di sofa rumah sakit menemani adiknya yang masih belum terbangun saat dia meninggalkannya pagi ini untuk pulang, mandi, mengalih tugaskan pekerjaanya pada orang kepercayaan –karena dia harus fokus mengurus Rachel untu beberapa hari kedepan-, dan mengambil beberapa perlengkapan Rachel yang sekiranya akan dibutuhkan selama berada di rumah sakit.

“Kau baru pulang?”

Sung Jin tersentak saat mendengar suara orang lain di dalam rumahnya. Itu jelas bukan suara bibi Ahn. Asisten rumah tangganya yang hanya akan datang pagi hari dan pulang sore harinya.

Dengan segara, pria itu duduk tegak dan menoleh kebelakang menemukan seorang wanita menatapnya sayang.

E-eomma ?!”

PS : 2 part left. Enjoy !

Advertisements

55 thoughts on “Love Line (11/?)

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: