Love Line (9/?)

C1458501-1361299767large

Author                  : tatadap

Title                       : Love Line

Main Cast             : -Cho Kyu Hyun –Park Hyuna

Genre                    : Romance

Rating                    : 15

Length                   : Chapter

Desclimer             : Story and plot are mine! Don’t try to copy and paste this without my permission!!!

Happy Reading!

– A Little Bit Close –

Itu sebuah foto. Dan ada Kyuhyun di dalamnya. Berbaring di sebuah ranjang besar bersama seorang gadis yang Hyuna tahu itu adalah Rachel Kim. Dengan selimut yang menutupi hampir sebagian tubuh mereka. Dia tidak yakin apa mereka benar benar tak berpakaian di balik sana tapi Kyuhyun jelas bertelanjang dada. Dan itu sudah cukup membuatnya terisak. Jantungnya berdetak dengan tak terkendali dan serasa ingin lepas dari tempatnya.

Kyuhyun masih berdiri menegang di depannya. Kedua tangannya terkepal keras, memperlihatkan urat uratnya yang menonjol. Menandakan bahwa Kyuhyun benar benar marah, geram atau.. perasaan apa ini, dia tidak bisa menebaknya.

Matanya beralih menatap Hyuna yang kini lebih memilih memandang rerumputan di bawahnya dengan pandangan tidak fokus. Kyuhyun tersentak sekali lagi saat dadanya terhantam sakit melihat air mata itu bahkan terus turun dari pipi gadisnya. Dia tidak berfikir Rachel Kim akan bertindak secepat ini.

Sialan, kau membuatnya menangis lagi Cho Kyuhyun! Brengsek.

“Hyuna” Kyuhyun bersuara. Dengan keberanian yang entah dia dapat dari mana, pria itu mendekat. Berlutut di depan Hyuna, menggengam tangannya.

Secepat itu pula Hyuna menyentakkan tangannya. Tidak mau disentuh. Matanya tidak fokus menatap kemana mana. Kyuhyun tahu, gadis itu sedang kesakitan saat ini. dan itu semua berkat dirinya.

“Hyu–”

Sebelum Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya, Hyuna berdiri dengan cepat. Menatap Kyuhyun dengan pandangan tersakiti yang teramat dalam. Kyuhyun mencelos melihatnya. Dengan tangan gemetar Hyuna melempar foto itu ke wajah Kyuhyun dan dengan cepat berlari masuk ke rumah. Tanpa melihat ke belakang. Meninggalkan Kyuhyun dengan sisa kemarahan dan helaan nafas yang memilukan. Ini tidak baik. sangat tidak baik.

-o0o-

“Aku terkejut saat kau menghubungiku dan mengajakku ke sini. Baby, apa kau kini sadar betapa pentingnya aku untukmu”

Rachel memajukan tubuhnya ke depan, mencoba menggoda Kyuhyun dengan memperlihatkan dadanya yang sedikit menyembul dari baju dengan kerah yang sangat pendek itu. Mengelus dengan seduktif kepalan tangan Kyuhyun di atas meja.

Kyuhyun mengambil kembali tangannya, menunjukan bahwa segala cara yang dilakukan Rachel untuk menggodanya tidak akan pernah berhasil. Itu malah terlihat menjijikan di mata Kyuhyun.

“Apa maksudmu mengirim ini pada Hyuna?” Kyuhyun  bertanya dengan suara pelan yang malah terdengar lebih mengerikan daripada dia berteriak teriak. Pria itu menyodorkan foto laknat itu ke arah Rachel. Menatap Rachel dengan seribu panah yang siap menerjang gadis itu dari matanya.

“Dan kenapa aku tidak tahu, ada foto menjijikan seperti ini? Nona Kim, bisa kau jelaskan?”

Rachel tersenyum samar dan memandang Kyuhyun sayu “Baby, aku hanya ingin memberitahu gadis tidak tahu diri itu bahwa kebersamaan kita sudah sampai sejauh ini. Dan kenapa kau bilang ini menjijikan? Kau ingat, malam itu adalah malam terbaik kita kan?”

“Pertama. Berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikanmu itu!” Kyuhyun menarik nafas “Lalu, berhenti memanggil Hyuna dengan gadis tidak tahu diri!”

“Kenapa? Memang kenyataannya begitu kan? Keluargamu sudah berbaik hati membiarkannya masuk sebagai anggota keluarga Cho. Lalu apa? Dia malah menggoda calon suamiku!”

“Siapa yang kau sebut calon suamimu, ha?”

“Tentu saja kau. Memang siapa? Kau juga sudah melamarku. Memintaku menjadi istrimu. Tidak usah mengelak Kyuhyun~ah. Kau mencintaiku kan? Kau tidak lihat foto ini?” Rachel kembali menunjuk foto itu dan tersenyum menggoda

Kyuhyun menegang. Rahangnya mengeras pertanda dia sedang ingin memukul orang. Siapa saja. Bahkan kalau Rachel itu seorang pria, tak perduli dengan kesopanannya terhadap Sung Jin, dia akan menghajar iblis di depannya itu tanpa ampun.

“Kejadian itu adalah bencana kau tahu!” Nafas Kyuhyun memburu, mengingat setiap detail kejadian beberapa tahun silam.

“Dengarkan aku baik baik nona Kim. Asal kau tahu, aku bahkan tidak benar benar yakin dengan apa yang kau katakan padaku waktu itu!!”

“Oh ya? Dan kenapa kau bisa bisanya mengajakku menikah waktu itu? Ah~ kufikir aku sangat mengenal cara berfikirmu, sayang” Rachel tersenyum sangat manis yang malah membuat Kyuhyun lebih muak.

“Kau..!”

Kyuhyun menarik nafas panjang sebelum kembali berbicara dengan Rachel kembali “4 Tahun lalu, aku masih sangat menyimpan rasaku padamu. Kau dengar aku? Kau mengingatku? Apa kau ingat betapa aku mencintaimu? Kau.. adalah seorang Seo Jung yang sangat aku cintai. Menempati urutan ketiga sebagai wanita yang paling aku kasihi di dunia ini, setelah ibu dan kakakku”

“Tapi itu semua dulu, Rachel Kim. DULU!”

Nafas Kyuhyun memburu menatap Rachel dengan bola mata merahnya. Rachel duduk memperhatikan. Balik menatap Kyuhyun seolah olah dia menantang pria itu. benar benar Rachel Kim!

“Itu dulu! Saat kau masih menjadi gadis manis, periang dan lembut. Saat kau masih penuh kasih sayang dan perhatian. Dan entah setan darimana yang datang dan membuatmu berubah. Kau menjadi.. bukan Seo Jung yang kukenal. Bahkan setelah lamaran itu, kau terang terangan berkencan dengan orang lain di depanku. Setiap malam pergi ke bar dan bahkan membuat banyak scandal. Dan pada akhirnya, kau meninggalkanku. Sekarang, kau kembali mengejar ngejarku seperti tidak terjadi apa pun. Apa kau tahu? Kau membuat ku terluka saat itu Rachel Kim! Dan masih banyak kekacauan yang kau timbulkan hingga akhirnya Paman Kim mengirimmu ke Amerika. Saat  itu aku sadar, Kim Seo Jung ku telah tiada. Wanita lembut yang penuh perhatian yang begitu amat kukasihi sudah menghilang. Dan seiring berjalannya waktu, aku perlahan mulai bisa melupakanmu. Segala kelakuan burukmu. Yang berkencan dengan terang terangan dengan banyak pria di depanku, bahkan tidur dengan mereka. Itu membuatku marah dan.. membencimu secara perlahan”

“2 tahun kau di Amerika. Ku fikir Paman Kim bisa mengubahmu menjadi Seo Jung yang dulu. Tapi apa? Kau kembali kemari, sekarang. Mengejar ku? Dan dengan rasa percaya diri bahwa aku masih mencintaimu?” Kyuhyun menghentikan ucapannya sejenak lalu mengamati penampilan Rachel

“Apa kau fikir dengan bajumu yang seperti itu aku akan dengan mudah kembali ke pelukanmu? Banyak luka yang kau timbulkan padaku Rachel. Dan dengan usahamu yang seperti itu, kau tidak lebih seperti wanita penggoda dimataku. Kau terobsesi Rachel Kim. Kau hanya terobsesi. Rasamu untukku kini hanya sebuah Obsesi, bukan cinta. Maaf untuk mengatakan ini, tapi jika kau mengganggap aku masih mencintaimu, itu salah besar. Luka yang kau timbulkan padaku, sedikit demi sedikit mulai menghilang karena kehadiran Hyuna”

Rachel tersentak, tiba tiba saja tangannya berkeringat dingin dan bibirnya bergetar “Aku tidak Terobsesi, seperti apa yang kau katakan Cho Kyuhyun” ucapnya tajam.

“Buktikan padaku ucapanmu. Jangan ganggu hubungan ku dan Hyuna. Jangan sakiti dia, dan pergi dari hidupku. Jika kau melakukan itu semua, aku percaya bahwa kau tidak terobsesi padaku. Karena, jika memang kau mencintaiku, kau akan membiarkanku hidup bahagia. Egois kah aku? Memang, kau pantas mendapatkan keegoisanku. Aku pergi, dan ingat ucapanku”

Kyuhyun berdiri dari kursinya setelah meninggalkan beberapa lembar uang won di atas meja. Lalu melenggang pergi meninggalkan Rachel yang duduk diam mematung dengan nafas yang berat. Matanya terfokus pada foto diatas meja. Dia mengambilnya menatapnya lama sebelum senyum satu garisnya kembali terlihat.

“Oh, akan kubuktikan bahwa kau memang ditakdirkan untukku Cho Kyuhyun. Kita lihat saja nanti”

-o0o-

Sung Jin turun dari mobil mewahnya yang dia parkir dengan manis di pelataran kediaman Cho. Membawa sebuket bunga besar yang harum, tubuh tegapnya berjalan mendekati pintu. Butuh beberapa detik hingga akhirnya pintu rumah di bukakan oleh salah seorang asisten rumah tangga dan diapun masuk.

“Tuan muda Kim” Kepala pelayan yang begitu hafal dengannya menyapa dan tersenyum sekilas.

“Oh, Betty. Bagaimana kabarmu? Kudengar beberapa minggu ini kau pulang ke kampung halamanmu untuk menjenguk putrimu yang sedang sakit, bagaimana dia?”

Betty tersenyum lalu menjawab “Sekarang dia sudah jauh lebih baik. Terimakasih sudah mau bertanya, Tuan”

“Eish~ Seperti aku baru mengenalmu saja” Sung Jin tersenyum manis “Kyuhyun ada dirumah?”

“Tuan muda Cho belum kembali”

“Bagus kalau begitu” Sung Jin tersenyum sendiri lalu menghirup wangi bunga dalam genggamannya membuat beberapa kerutan di dahi Betty.

“Hyuna?”

“Oh, Nona muda Park ada dikamarnya. Akan aku panggilkan”

“Aku menunggu”

Betty berjalan ke lantai dua menuju kamar Hyuna dengan wajah yang masih betanya tanya, berusaha menebak dengan gelagat aneh Sung Jin. Sementara Sung Jin sendiri menunggu dengan sabar di ruang tamu.

“Sung Jin?”

“Hi, pretty” Sung Jin berjalan mendekati Hyuna dan memberikan buket bunga itu, Hyuna mengangkat satu alisnya bingung

“Kau akan membiarkanku dalam posisi ini? Kurasa tangan ku akan kram sepanjang malam” Hyuna tersadar dan mengambil bunga itu walau dengan wajah yang tampak bingung “Terimakasih” gumamnya.

“Kau mencariku? Ada perlu apa?”

“Tidak ada, hanya ingin melihatmu”

Hyuna membesarkan bola matanya “Serius? Di jadwalmu yang sepadat itu, kemari dan hanya untuk melihatku? Ckckck~ benar benar playboy, kan?”

“Seperti yang kita berdua tahu” Keduanya tertawa sekilas.

Sung Jin tiba tiba berhenti tertawa lalu memandang Hyuna dengan intens. Hyuna menghentikan tawanya perlahan karena sadar akan tatapan Sung Jin. Membuat kerutan di dahinya kembali muncul. Lama mereka terdiam seperti itu membuat Hyuna sedikit tidak nyaman. Sung Jin menatapnya benar benar amat intens.

“Apa yang—kau lihat?”

“Kau habis menangis”

Hyuna menelan ludahnya. Pria ini. Dia begitu gamblang mengungkapkan langsung apa yang dia fikirkan. Tidak bisakah Sung Jin hanya berpura pura tidak tahu walaupun sebenarnya dia tahu?

“A-apa? Tidak! Kau salah”

“Matamu begitu sembab, Hyuna”

“Ini karena aku kurang tidur. Aku sangat suka membaca novel, jadi terkadang aku menghabiskan waktu hingga larut malam untuk menyelesaikan bacaanku”

Terdengar meyakinkan memang. Tapi tidak untuk Sung Jin. Pria itu menatap Hyuna sekali lagi dengan pandangan yang sama, namun kali ini lebih melembut. Dia mengangguk kemudian. Mencoba membiarkan Hyuna berbohong semaunya. Bodoh jika Sung Jin percaya akan perkataan Hyuna. Karena pada faktanya, mata itu benar benar terlihat sembab karena habis menangis, bukan kurang tidur.

“A-aku… emm” Hyuna terlihat gelagapan ditatap seperti itu, dia merasa tidak nyaman. Matanya menari nari mencari alasan “Aku akan mengambilkanmu minum” dan ketika dia melihat meja tamu masih kosong, dia menjadikannya alasan.

Hyuna berdiri dengan cepat ketika dia tidak  sadar bahwa Betty sudah berada di dekatnya dengan membawa dua gelas penuh orange juice dan PRAAANG! Itu jatuh begitu saja saat Hyuna tidak sengaja menabraknya.

Sung Jin buru buru berdiri di belakang Hyuna dan menatap panik.

“Maafkan saya nona muda, biar saya bersihkan” Betty berjongkok dan mulai mengambil pecahan gelas yang berserakan.

“Tidak, Betty. Aku yang ceroboh” Hyuna ikut berojongkok dan membantu Betty membereskan pecahan kaca. “Ahh~” Gadis itu meringis ketika salah satu pecahan kaca tersebut merobek kulit nya dan membuat ujung jari telunjuknya mengeluarkan darah.

“Hyuna!” Sung Jin berseru panik, begitupula Betty yang bertambah panik. Hyuna yang melihat hanya tersenyum pada Betty “Tidak apa apa Betty, ini tidak sakit”

Sung Jin berjongkok dan mengambil tangan Hyuna yang kedapatan luka. Dia melihatnya sekilas lalu menatap Betty “Betty, bisa kau tolong aku mengambil kotak obat?”

“Oh, tentu saja Tuan muda. Tunggu sebentar”

Sementara Betty pergi mengambil kotak obat, Hyuna mencoba menarik tangannya lepas dari Sung Jin “Tidak usah Sung Jin, ini akan baik baik saja”

“Ck! Bagaimana bisa ini akan baik baik saja. Jika tidak diobati, ini akan infeksi kau tahu” Hyuna ingin kembali bersuara ketika gadis itu terkejut dengan tindakan Sung Jin. Sung Jin memasukkan jari telunjuk Hyuna ke dalam mulutnya dan menghisap darahnya. Hyuna berkedip kedip cepat melihat itu, Ya Tuhan. Apa yang baru saja pria itu lakukan padanya? Hey, ini sudah kelewat batas atau belum?

“Ehmm–”

Suara deheman seseorang membuat mereka terperanjat. Keduanya menoleh bersamaan dan mendapati Kyuhyun berdiri dengan rahang mengeras disana. Menatap tajam dengan apa yang terjadi di depannya. Hyuna buru buru memalingkan wajah. Tidak tidak. Dia belum sanggup melihat pria itu untuk sekarang. Atau.. dia tidak akan pernah sanggup melihat Kyuhyun lagi mulai sekarang?

Ketika Hyuna melihat atau  bahkan sekedar memikirkan Kyuhyun, maka bayangan foto laknat itu akan terus berputar putar di kepalanya. Membuat dia secara reflek merasa sakit dan sesak di dadanya. Amarah. Kebencian. Ketidakpercayaan. Entahlah, merekka seakan masuk secara bersaman ke dalam saraf  Hyuna. Dia belum bisa melihat Kyuhyun sekarang.

Hyuna tiba tiba berdiri dan masih enggan menatap Kyuhyun. Dia menarik nafasnya dan mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdentum dentum. Sung Jin ikut berdiri, memasukkan kedua tangannya di saku celana dan menyapa Kyuhyun “Oh, Kyu. Kau sudah pulang”

“Emm” Kyuhyun hanya menanggapi dengan deheman.

“Tuan, ini kotak obatnya” Betty datang dan memberikan kotak obat itu pada Sung Jin. “Terimakasih Betty”

Betty menganguk lalu menunduk untuk meneruskan membereskan pecahan gelas. Kyuhyun melirik pecahan pecahan itu sekilas lalu kembali melirik ke arah Sung Jin yang kini mulai kembali bicara pada Hyuna.

“Akan aku obati tanganmu” katan Sung Jin menyentuh pergelangan tangan Hyuna. Tanpa sengaja, tatapan Hyuna yang menari nari di udara bertemu dengan tatapan Kyuhyun. Untuk sepersekian detik, mereka hanya terdiam dan saling memandang. Itu membuat pertahanan Hyuna semakin susah untuk dikendalikan. Dengan melawan perasaan rindunya, dia memalingkan wajah kembali.

“Sung Jin, ini akan baik baik saja. Percaya pagaku. Dan kalau boleh, aku ingin istirahat sekarang” Sung Jin hendak protes tapi saat melihat raut wajah Hyuna yang entah kenapa terlihat makin pucat, Sung Jin mengangguk “Akan kuantar kau ke kamarmu” tawar Sung Jin, namun Hyuna menggeleng “Tidak perlu, aku bisa sendiri. Terimakasih untuk bunganya” dan Hyuna pun berlalu meninggalkan ruang tamu itu dengan suara keheningan yang ada.

-o0o-

Hyuna hendak berbari di ranjangnya ketika dia mendengar sura pintu kamarnya terbuka dengan sedikit kasar. Dia menatap pintu dengan bingung dan mendapati Kyuhyun masuk ke kamarnya. Pria itu menutup kembali pintu kamar Hyuna lalu menguncinya.

“Pergi” Kata Hyuna dingin, tanpa melihat kearah objek yang sedang dia ajak bicara. Tak terdengar apapun selain suara detakan jam dinding di kamar itu membuat Hyuna akhirnya menoleh dan melihat Kyuhyun berdiri dengan satu tangan memegang kotak obat dan satu tangan berada dalam saku celananya, memandang Hyuna dengan tatapan yang dia sendiri juga tidak tahu apa itu.

“Bisakah kau pergi? Aku ingin tidur sekarang” Dengan mencoba sekuat tenaga, Hyuna menjaga suaranya untuk terdengar stabil dan tidak bergetar. Dia sungguh berharap Kyuhyun cepat cepat pergi dari kamarnya kalau tidak, pertahannya akan hancur di depan Kyuhyun. Dia sudah ingin menangis sekarang.

‘Oke, terserah apa maumu. Aku tidak peduli” Hyuna beringsut mengambil selimutnya, bermaksud untuk menguburkan dirinya di dalam selimut saja agar jika saatnya air mata itu jatuh, Kyuhyun tidak akan melihatnya.

Namun gerakannya terhenti saat dengn tiba tiba Kyuhyun duduk di pinggir ranjangnya. Lalu mengambil tangan Hyuna di mana letak jarinya terluka. Hyuna mengelak dan melepas paksa, Kyuhyun mengambilnya kembali dan Hyuna melepasnya lagi. Begitu berulang kali hingga akhirnya dalam satu tarikan kuat Kyuhyun mengamit lengan Hyuna dan mencengkramnya membuat Hyuna susah melepaskan diri.

“Lepaskan aku! Cho Kyuhyun lepaskan aku!”

“Kau berdarah”

“Biarkan! Lepaskan aku sekarang!” Hyuna berteriak mencoba melepaskan diri.

“Ini harus diobati, Hyuna. Jika tidak akan infeksi. Jangan keras kepala!” Kyuhyun menatap Hyuna tajam.

“Apa pedulimu, ha? Biarkan saja ini infeksi! Lalu apa?!”

“Aku tidak akan membiarkanmu terluka”

Hyuna membuang nafasnya kasar. Entah mendapat kekuatan darimana dalam satu sentakan dia bisa melepaskan tangan Kyuhyun yang mencengkramnya.

“Tidak membiarkanku terluka katamu? Tidak membiarkanku terluka, HA?!!”

Hyuna menarik nafasnya cepat, tarikannya memburu “Ini bahkan tidak seberapa dengan luka yang ada disini Cho Kyuhyun!” Hyuna menunjuk dadanya, menegaskan bahwa hatinya jauh lebih sakit.

Neo!! Naeppeun!!” Hyuna menatap Kyuhyun dengan pandangan yang mulai mengabur, bibirnya bergetar. “Neon jeongmal–” runtuh sudah, air matanya turun begitu saja “Neon jeongmal—nappeun namja” Ia berkata lirih dengan deraian air mata kesakitan yang dapat dilihat Kyuhyun. Melukai hati nya juga.

Inikah yang harus dilaluinya? Dia belum pernah merasakan cinta sebelumnya. Dan melihat bagaimana dulu kedua orang tuanya saling mencintai, membuatnya berfikir klise bahwa sebuah cinta itu memang indah. Tentu saja itu indah. Tapi kini, Hyuna sadar. Bahwa saat seseorang siap untuk jatuh cinta, maka ia juga harus siap untuk sakit hati.

Hyuna menarik ingusnya lalu mengusap kasar air matanya. Menatap Kyuhyun kembali dengan tajam “Keluar. Sekarang” lanjutnya.

Tanpa mengidahkan perkataan Hyuna, seakan tuli Kyuhyun malah kembali mengambil lengan Hyuna dan kali ini membawanya ke pelukannya. “LEPAS!” Hyuna berontak, dia tidak bisa seperti ini jika tidak dia akan terlihat semakin lemah. Kyuhyun adalah kelemahannya, dan Hyuna takut dia akan menyerah detik itu juga.

“Kau bilang padaku untuk selalu percaya padaku, kan? Sekarang kau tidak mempercayaiku?” bisik Kyuhyun dengan nafas memburu.

Gerakan Hyuna yang memberontak semakin melemah. Dia menjatuhkan kepalanya yang lunglai di dada Kyuhyun. Dan detik itu, tangisannya keluar semakin parah. Gadis itu menangis tersedu sedu hingga suaranya terdengar  menyakitkan. Dia menyerah, sudah. Hyuna mengangkat tangannya lalu memukul mukul pelan dada Kyuhyun masih dengan tangisannya yang memilukan.

“Kau jahat! Kau pria yang jahat!” suaranya melemah

Kyuhyun memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya. Dia membiarkan Hyuna berbuat yang gadis itu mau. Biarlah, ini tidak sesakit apa yang Hyuna rasakan.

Geurae.. aku memang jahat” Kyuhyun berucap lirih.

“Aku membencimu Cho Kyuhyun!” Isakannya belum mereda, dan Hyuna masih dalam kondisi terlemahnya saat ini. “Aku sungguh membencimu”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya di antara rambut Hyuna “Kau harus percaya padaku Hyuna”

Lama mereka terdiam dalam posisi seperti itu hingga tangis Hyuna mereda. Gadis itu, entah bagaimana menjelaskannya. Dia melihat sendiri dengan mata kepalanya, dia membenci fakta bahwa dia sakit melihat gambar itu. Dia ingin mempercyai Kyuhyun seperti janjinya tapi kemudian sesuatu menghadangnya. Dia mencoba melupakan itu semua tapi imbasnya dia harus membenci Kyuhyun.

Tapi apa kau fikir Hyuna akan  mudah membenci Kyuhyun? Cho Kyuhyun? Pria teratas penjaga dirinya setelah ayahnya pergi. Pria pertama yang memberikan berbagai rasa padanya, menciptakan suatu hubungan maghnetik menyenangkan yang baru pertama kali nya dia rasakan. Itu akan seribu kali lipat sulit dan dia mungkin tidak bisa. Hyuna mencoba bertanya pada hatinya sendiri, bagaimana dia harus menyikapi ini. Dia terlalu sakit saat melihatfoto itu, dia marah dan kecewa tapi dia juga tidak bisa membenci Cho Kyuhyun. Tuhan, apakah hatinya sesulit itu? Atau memang jalan hidupnya yang sesulit itu?

“Aku percaya padamu, Kyuhyun~ah. Karena aku—mencintaimu” lirihnya dalam dekapan Kyuhyun.

-o0o-

“Dia adalah seseorang yang sudah kuanggap sebagai adik perempuanku yang manis. Begitu periang dan pembawaannya begitu lugu. Aku tumbuh besar bersamanya, lebih tepatnya aku melihat dia tumbuh. Umur kami sama tapi aku begitu senang menganggapnya adikku yang ingin selalu kujaga. Namun lama kelamaan aku sadar, bahwa semakin kami beranjak dewasa perasaanku jelas berubah. Aku menyukainya sebagai seorang wanita saat itu. Dialah gadis pertama yang bisa mengambil hatiku. Mungkin karena kami telah kenal lama dan tumbuh bersama, membuat aku merasa nyaman di dekatnya. Semuanya berjalan baik baik saja hingga kejadian itu. Ibu nya meninggal dan dia seratus delapan puluh derajat berubah. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya namun yang aku sadari bahwa disaat itu, aku harus lebih ekstra menjaganya. Dia terlihat lebih liar dan kuat diluar, bukan Kim Seo Jung manis yang polos dan lembut juga periang dan butuh untuk dilindungi. Tapi justru, disanalah titik terlemahnya. Hingga malam itu,  acara pesta ulang tahunnya. Aku menjaganya 24 jam dari para lelaki hidung belang yang terus terusan mengintainya. Aku tidak tahu apa yang terjadi hingga saat pagi hari, aku terbangun diranjang yang sama dengannya tanpa pakaianku”

Kyuhyun berhenti sejenak menilai reaksi Hyuna di depannya. Gadis itu, dengan mata sayunya yang masih ada jejak air mata dan menggiti kecil bibirnya. Bersandar di kepala ranjang dan dengan hati hati mendengar penjelasan Kyuhyun. Cukup membuat hatinya meringis kala mendengar sendiri dari pria yang dia cintai saat ini pernah mencintai seorang Rachel Kim. Dan siapa sangka cintanya begitu tulus membuatnya ingin tersenyum karena bangga memiliki pria seperti Kyuhyun. Mencintai setiap orang dengan tulus. Kasih sayang yang tanpa pamrih.

Kyuhyun melepas salah satu tangannya yang mengenggam tangan Hyuna, mengusap pipi gadisnya yang terasa lembab “Hey” bisiknya “Kau baik baik saja? Kau tak harus mendengar ini jika kau mau” Kyuhyun menghela nafasnya, mengecup lama dahi Hyuna.

Hyuna menggeleng “Aku harus tahu. Teruskan ceritamu”

“Aku berniat bertanggung  jawab padanya meskipun aku tahu tidak ada yang terjadi diantara kami saat itu. Itu karena aku, memang ingin menikahinya. Bermaksud mengikatnya bersamaku agar aku bisa menjaganya selama aku hidup. Dan karena aku, mencintainya”

“Tapi yang aku dapat, fakta bahwa dia semakin liar dengan dunianya. Mungkin kau pernah dengar, berbagai scandal nya? Dan dia menjadi pembuat onar yang membuat ayahnya sendiri kebingungan harus bersikap seperti apa. Dan dia meninggalkanku, dengan banyak luka yang dia timbulkan” Kyuhyun tersenyum miris dan menatap kebawah, kearah dimana tangan mereka bertaut “Bahkan sampai saat ini, dia belum tahu apa kesalahannya yang membuat aku begitu membencinya”

Kini ganti Hyuna yang meremas tangan Kyuhyun sebagai pertanda untuk menguatka pria itu. Mengirim sisa sisa energy positifnya yang masih ada. Pada titik ini, dia tahu bahwa Kyuhyun adalah pria yang sangat tulus dan penuh cinta juga kasih sayang. Tapi pada saat si penerima kebijakan itu membuatnya terluka, Kyuhyun tidak bisa kembali untuk sekedar meihat kebelakang. Ada sedikit kelegaan di hati Hyuna mengetahui fakta itu.

“Kau percaya padaku?” Kyuhyun mengangkat kepalanya, menatap Hyuna dengan menari narikan bola matanya bersama bola mata Hyuna. Gadis itu mengangguk dalam diam dan tersenyum. “Aku mencintaimu, Kyuhyun~ah” bisiknya.

Kalian berfikir Hyuna terlalu mudah untuk memafkan? Bukan, bukan karena Hyuna munafik. Gadis itu sudah sangat menggunakan otaknya untuk berfikir keras, bertanya pada hati kecilnya bagaimana seharusnya dia bersikap. Dan haruskah dia membenci.. atau tetap mencintai Kyuhyun. Rasa rindu mengalahkannya, rasa cinta yang begitu besar pun mengalahkannya. Dan saat tatapan pria itu seratus persen tulus dan tidak ada kebohongan, Hyuna bersyukur dengan keputusannya untuk tetap mencintai Kyuhyun-nya.

“Aku juga mencintaimu, Hyuna~ya” Kyuhyun menarik Hyuna dalam pelukannya. Tersenyum lega dengan apa yang sudah terjadi.

-o0o-

“Apa yang sedang kau rencanakan?” Sung Jin menatap dengan selidik ke arah adiknya. Pria itu mengangkat satu alisnya terlihat berfikir. Sementara Rachel Kim hanya menggeleng gelengkan kepalanya dengan satu tangan di pinggang dan tangan lainya yang memegang troli belanja.

“Kau berfikir apa, oppa? Tega sekali menuduhku!”

“Kau benar benar aneh Seo Jung~ah. Untuk apa kau repot repot menghubungiku, dan memintaku untuk menemanimu belanja” Sung Jin melebarkan tangannya dan menatap Rachel dengan tatapan ‘ini-bukan-gayamu’

This is so weird, miss Kim

“Oh! Shut up!”

Rachel berjalan kembali sambil mendorong troli belanja sambil memilih milih beberapa tofu dari mesin pendingin. Sung Jin masih mengikutinya.

“Serius Seo Jung! Sebenarnya apa yang sedang kau coba lakukan?”

“Diamlah sedikit, oppa! Aku hanya ingin masak untuk makan malam kita. Apa itu salah”

Yes, absolutely wrong. This is really not you. I mean, look at you. You looks like a high class girl who never care about things like this. An ambitious woman. Smart.. intelegent, maybe?

Hah~ I’m shock you’re not mention me with a ‘disaster’ girl

Cause I’m your brother. No matter what, you are still my sister whose i have to care

Sung Jin menatap Rachel serius hingga adiknya tidak berkutik. Faktanya, Sudah sering dia melakukan hal ini, mencoba membuat adiknya faham dengan kasih sayangnya. Bahwa Rachel tidak akan sendirian di dunia ini dan masih banyak orang orang di sekitarnya yang perduli tentangnya. Membuat adiknya itu sadar bahwa tindakannya selama ini salah dan harus dihentikan.

Okay, What will you gonna eat for tonight?” Rachel mengalihkan tatapan itu dan mencoba membicarakan hal lain.

“Sup buatan eomma” Rachel kembali menghentikan gerakan tangannya di deretan paprika, dia melirik ke arah Sung Jin sekilas. Berfikir sejenak, lalu mengangguk.

Mereka menelusuri lorong demi lorong, rak demi rak untuk mengumpulkan bahan bahan yang dibutuhkan. Namun, mereka dikejutkan dengan suara kaleng jatuh dari arah belakang. Ketika kedunya menoleh, mereka sedikit terkejut dengan apa yang mereka lihat.

Sung Jin menaikkan alisnya “Is this just my imagination or ..that person is really Jeremy?”

Rachel tersenyum mengejek pada Sung Jin “Apa kau perlu berdiri disitu hingga besok pagi untuk meyakinkannya? Yah! Sudah jelas itu Yesung oppa! Ckckck”

Rachel berlalu meninggalkan troli dan menyerahkan nya pada Sung Jin yang tampak ingin protes lalu berjalan mendektai orang yang mereka bicarakan tadi. Pria itu sedang meletakkan lagi makanan kaleng yang sempat tak sengaja dia jatuhkan beberapa saat lalu.

“Yesung oppa?”

Orang yang dipanggil itu berbalik dan terkejut melihat Rachel. “Woa! Rachel. Aku tidak tahu kau pulang ke Korea” Mereka berpelukan singkat dan saling menyapa.

“Aku sudah lumayan lama kembali kesini. Dan kau? Kau menutup praktikmu?”

Yesung terkekeh “Tentu saja tidak nona Kim. Aku hanya sedang mengambil cuti ku. Sepuluh tahun aku bekerja disana dan ini pertama kalinya aku mengambil cuti”

Rachel mendengus “Kau bangga mengambil cuti pertamamu? Hey, kau itu dokter. Seharusnya tidak masalah jika kau tidak mengambil cuti sekalipun”

Yesung kembali terkekeh “Tenang saja. Sudah ada yang menggantikanku”

“Dr. Jeremy! Hey! Long time no see” Sung Jin bergabung bersama mereka dan memeluk Yesung singkat.

“Hey big bro! First.. this is not US, so please just call me Yesung. Dan sekarang, aku tidak dalam masa pekerjaanku. Hilangkan embel embel Dr. Itu!” Yesung pura pura kesal dan meninju lengan Sung Jin membuat nya berpura pura sakit.

“Ayo kita minum kpi!” seru Rachel.

-o0o-

“Aku ke toilet sebentar” Rachel bangun dari duduknya dan berlalu menuju toilet di dalam coffe shop tersebut.

Sepeninggal Rachel, Sung Jin kembali berbincang bincang asik dengan Yesung. Kim Jong Woon atau lebih akrab disapa Yesung adalah seorang psikolog yang berpraktik di Amerika. Sudah sepuluh tahun dia membuka praktiknya disana. Seorang Jeremy Kim yang sukses, pintar dan tampan. Cerdas, ber-intelegent tinggi dan jenius. Dan kebetulan, dia adalah teman satu SMP Sung Jin, juga dokter yang bertugas menjaga Rachel.

“Kulihat Rachel sudah lebih baik” Kata Yesung dengan tatapan dan senyum manisnya menatap tempat dimana Rachel tadi duduk. Sung Jin melihatnya, lalu menghela nafas dan menggeleng “Dia bahkan semakin parah, kau tahu. Aku selalu mencoba menunjukkan padanya bagaimana dia hidup dengan dikelilingi oleh orang orang yang dia sayang. Tapi itu masih belum berhasil”

Yesung memukul pundak Sung Jin sekilas “Bersabar. Ini butuh proses. Dia hanya belum yakin bahwa kasih sayang yang dia dapat adalah nyata”

“Aku heran bagaimana dia bisa berfikir seperti itu. Jelas jelas aku kakak kandungnya, maksudku kami semua adalah keluarga kandungnya. Tapi dia bersikap seperti itu”

“Dia hanya ketakutan, Sung Jin~ah

“Tapi rasa takutnya membahayakan orang lain, menyakiti orang lain, mengusik mereka”

Yesung termenung sesaat “Bagaimana ibumu?”

Sung Jin menghela nafas lagi “Aku yakin dia baik baik saja, dan masih merasa sedih. Dari awal, dia selalu ingin dekat dengan Rachel, menyayanginya sebagai anak kandung sendiri. Dia orang yang tulus, aku bisa melihatnya dari pertama Appa memperkenalkannya pada kami” Sung Jin tersenyum mengingat bagaimana ibu tirinya yang sangat dia sayangi itu. Saat saat pertemuan pertama mereka, saat saat Sung Jin mulai berinteraksi dengannya sebagai seorang ibu. Penuh kasih sayang dan kelembutan.

Oppa!” Rachel kembali dengan terburu buru dari kamar mandi, membersihkan barang barangnya di atas meja dan mengambil belanjaannya “Aku pulang duluan” katanya pada Sung Jin dan Yesung.

“Kenapa? Kau mau apa? Jangan bertindak yang macam macam!” Sung Jin menyipitkan matanya.

“Ck ! Arraseo!” Rachel berpaling ke arah Yesung “Mampirlah ke rumah jika kau sempat. Aku harus benar benar pergi sekarang. Annyeong!”

Rachel dengan terburu buru keluar dari caffe, meninggalkan tanda tanya besar di kepala Sung Jin. Namun seketika, dia mengingat satu hal yang harus dia ceritakan kepda Yesung.

“Yesung~ah, kau ingat tentang ceritaku mengenai anak biologis eomma?”

Yesung mengerutkan dahinya mencoba berfikir keras “Ah ya, adikmu?” Sung Jin mengangguk “Dan adik Sung Hwa hyung”

“Ya, lalu”

“Aku rasa aku menemukannya Yesung~ah, tapi aku belum pasti. Aku masih berusaha menyelidiki ini. Kau harus membantuku”

“Tentu saja, katakan jika kau butuh sesuatu. Apa rencanamu?”

“Aku masih mencoba berusaha mendekatinya. Untuk menjaganya. Lalu kufikir, aku akan melakukan test DNA”

“Okay, kau menjaganya untuk apa? Dia dalam bahaya? Memang dia dimana sekarang?”

“Entah ini bisa kusebut bahaya atau tidak, tapi kufikir Rachel akan menyakitinya”

Yesung menyipitkan matanya “Maksudmu?”

Sung Jin melirik jam tangannya lalu menatap Yesung menyesal “Aku akan mampir ke tempatmu malam ini dan menceritakan semuanya. Kirimkan aku alamat dimana kau tinggal. Sekarang aku harus pergi”

Yesung mengangguk lalu keduanya berdiri meninggalkan caffe shop setelah sebelumnya meninggalkan beberapa lembar won di atas meja.

Advertisements

56 thoughts on “Love Line (9/?)

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: