Love Line (3/?)

20140718_115129-BlendCollage_副本

Author                  : tatadap

Title                       : Love Line

Main Cast             : -Cho Kyu Hyun –Park Hyuna

Genre                    : Romance

Rating                    : 15

Length                   : Chapter

Desclimer             : Story and plot are mine! Don’t try to copy and paste this without my permission!!!

 

Happy Reading!

– Start Of Something New –

 

Kyuhyun berjalan pelan ke dalam rumahnya. Pria itu mengendap endap dirumahnya sendiri, persis seperti maling yang akan menggasak harta benda rumah orang kaya. Dia bahkan tidak tahu kenapa bertingkah aneh dirumahnya sendiri.

 

Rumah sudah gelap. Lampu di ruang tengah terlihat hanya remang. Dia melirik sekilas ponselnya, demi melihat pukul berapa saat ini. Pukul 02.00 dini hari.

 

“Apa dia sudah tidur ya?” pria itu bergumam. Sial. Seharian tidak bertemu dengan Hyuna, kenapa dia begitu merasa merindukannya? Padahal sebelum ini, dia tidak pernah merasakan hal hal semacam itu. Rindu yang bertubi tubi bahkan datang saat dia sekarang sudah dihadapkan pada kenyataan yang membuatnya mengembangkan senyum. Hyuna di dekatnya, gadis itu sekarang tinggal dirumahnya.

 

Kyuhyun melangkahkan kakinya ke lantai dua. Menuju kamarnya. Dia memutar kenop pintu besar itu, namun dengan tidak sopan kakinya memutar arah. Menghadapkan dirinya dengan pintu berwarna senada dengan pintu kamarnya itu. Kamar Hyuna. Tepat berada di depan kamarnya. Beruntungnya dia! Atau memang ini sudah menjadi bagian dari rencananya?

 

“Masuk atau tidak?” Kyuhyun bergumam. Masih terdiam di tempatnya semula. Masih dengan sebelah tangannya yang menenteng tas kerja juga sebelahnya lagi digunakannya untuk menggantung jas nya.

 

Normalnya, tidaklah etis jika melihat seorang pria masuk ke dalam kamar seorang gadis. Bukankah itu sangat tidak sopan? Yah, meskipun mereka satu keluarga sekarang.

 

“Baiklah, kurasa mengintip sedikit juga tidak apa apa. Lagipula, aku hanya ingin melihat keadaanya. Apa dia nyaman? Atau.. apakah dia sudah terlelap tidur?” Dan Kyuhyun tak lagi memikirkan masalah ketidaksopanannya itu. Dia meng-kamuflase dirinya sendiri. Dengan berbagai macam alasan yang.. well, aneh.

 

Tangan kokohnya bergerak menyentuh kenop pintu. Namun, belum sempat dia memutarnya kenop itu telah berputar dengan sendirinya. Pria itu tersentak saat dengan waktu kilat Hyuna telah berdiri di depannya. Dan seketika, Kyuhyun mendengar Hyuna menjerit kecil menandakan gadis itu juga terkejut setengah mati.

 

“Cho Kyuhyun! Kau mengagetkanku” Hyuna memegang dadanya kemudian menghembuskan nafasnya membuat Kyuhyun mengulum senyum.

 

“Apa aku semengerikan itu?” Cengirnya

 

“Kau fikir siapa yang tidak akan terkejut saat mendapati seseorang berdiri di lorong yang gelap! Aku bahkan sempat menyangka kau adalah setan”

 

“Baiklah, aku setang tertampan yang pernah ada kalau begitu” Kyuhyun terkekeh

 

Hyuna mendengus, lalu kembali menatap pria itu “Apa yang kau lakukan di depan kamarku?” Hyuna menunjuk Kyuhyun sembari menyipitkan matanya.

 

Merasa dicurigai dan tentunya tertangkap basah, Kyuhyun kelimpungan. Pria itu tidak menyiapkan jawaban untuk ini. sama sekali tidak berfikiran kalau Hyuna akan keluar dari kamarnya.

 

“Apa maksdumu? Kau menuduhku?” Hanya itu yang dapat ia katakan. Berusaha mengalihkan perhatian Hyuna.

 

“Itu tindakan yang patut di curigai Cho”

 

“Aku baru pulang, dan akan masuk ke kamar” Kyuhyun bersungut sungut. Hyuna mengangkat alisnya, merasa belum percaya penuh dengan jawaban Kyuhyun. Namun segera gadis itu menyadari sesuatu. Dia memutar tubuhnya melirik sekilas jam dinding yang ada di kamarnya.

 

“Kau baru pulang? Tengah malam seperti ini? Tidak, dini hari?”

 

Kyuhyun tersenyum manis “Ya. Ini sudah biasa”

 

Hyuna menatap sendu Kyuhyun. Melihat pria itu dengan pakaian yang sudah kusut membuatnya simpati. Kancing kemejanya sudah terbuka dua diatasnya. Dasinya miring kesana kemari. Kemeja putihnya sudah digulung hingga ke siku. Dan wajah tampan itu, tampak lelah dan sayu.

 

“Apa kau sudah makan?”

 

***

 

Dan disinilah pria itu duduk sekarang. Di meja makan besar yang berada di dekat dapur. Menopang dagunya dengan senyuman menawan menatap objek terindah yang baru kali ini dia lihat seumur hidup. Hyuna. Gadis itu tengah asik berkutat di dapur, memasakan sesuatu untuknya. Mengingat itu, senyum Kyuhyun melebar kembali dengan sendirinya.

 

Cho Kyuhyun terlihat lebih fresh sekarang. Setelah membersihkan diri dan berganti dengan baju rumahannya yang santai tapi tetap memperlihatkan pesonanya yang tiada tara. Menunggu seorang Hyuna meletakkan hasil karyanya yang pertama kali dibuat untuknya. Sungguh kesempatan emas bisa merasakan itu bukan?

 

“Aku hanya bisa membuatkanmu ini. Supaya kau tidak menunggu terlalu lama. Tidak apa kan?”

 

Kyuhyun menatap sepiring nasi goreng kimchi yang tersedia di hadapannya. Hyuna bertanya tidak apa? Tentu saja ini tidak apa apa! Malahan, ini luar biasa menurutnya.

 

Kyuhyun hanya mengangguk singkat sebagai jawabannya. Menutupi rasa senang luar biasanya itu dengan sebaik mungkin agar Hyuna tidak bisa melihatnya. Kyuhyun jelas tidak akan menjatuhkan harga dirinya dengan membuat hal memalukan seperti itu.

 

Hyuna mulai ikut duduk di hadapan Kyuhyun. Menanti dengan hati  was was saat Kyuhyun mulai memasukkan suapan pertama ke mulutnya. Gadis itu menggigit bibirnya ragu.

 

“Apa enak?”

 

“Mmm! Ini enak ” Hyuna mendesah lega dengan jawaban Kyuhyun.

 

Gadis itu bukan tidak bisa memasak. Pastilah dia pintar mengenai hal dapur. Membuatnya hidup hanya dengan seorang ayah tentu menuntut dirinya harus bisa melakukan ini dan itu untuk mengurus rumah. Beres beres, memasak dan mengerjakan tugas umum yang biasa di lakukan perempuan perempuan seperti dirinya. Namun, entah kenapa membuatkan masakan untuk Kyuhyun seperti sekarang ini membuatnya gugup seperti seorang peserta lomba memasak yang masakannya akan dinilai oleh sang juri.

 

“Kau belajar darimana?” Tanya Kyuhyun sambil terus mengunyah makanan dimulutnya.

 

“Otodidak. Aku hanya mencoba meracik apa saja yang aku suka dan ku sulap menjadi makanan. Aku bukan tipe orang yang senang membeli buku masakan untuk kupelajari secara tekun” Hyuna terkekeh

 

“Ayahmu pasti sangat senang mempunyai putri yang mandiri sepertimu” Kyuhyun berucap. Dan setelahnya, pria itu mengutuk dirinya sendiri setelah melihat reaksi Hyuna yang spontan merubah raut wajahnya. Gadis itu kembali bersedih, sepertinya dia teringat dengan sang ayah.

 

“Bagaimana tinggal disini?” Kyuhyun bertanya lagi,  berusaha mengalihkan perhatian Hyuna kembali. Dan terbukti, gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Kyuhyun.

 

“Tidak ada kata yang bisa kuucapkan untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Demi Tuhan, aku bersyukur karena bisa masuk dan mengenal keluarmu ini”

 

Kyuhyun tersenyum “Ah~ aku lega mendengarnya. Ku kira kau akan merasa tertekan. Tadinya, jika itu terjadi aku akan membelikan apartement saja dan menyuruhmu untuk tinggal disana”

 

Hyuna mengeryitkan dahinya “Dan aku akan langsung menolaknya, Cho!”

 

Kyuhyun terkekeh geli. Sedikit banyak, dia sudah mengenal sifat Hyuna. Gadis itu tidak mudah langsung percaya pada orang, menolak pemberian yang terlalu berlebihan, gadis mandiri dan keras kepala. “Aku tahu kau akan mengatakan itu”

 

“Bagaimana menurutmu keluargaku?” Kyuhyun kembali bertanya. Tak terasa, sepiring nasi goreng itu telah habis dan hanya menyisakkan piring kosong yang benar benar bersih dari sebutir nasi dan sepasang sendok garpu.

 

Hyuna beranjak, mengambil gelas panjang dan menuang air putih “Mereka sangat amat baik padaku. Mereka juga menyuruhku agar terbiasa memanggil Appa, Eomma, Eonnie” Hyuna kembali dan menyerahkan air itu untuk Kyuhyun.

 

“Bagaimana denganku?” Kyuhyun lalu meneguk air nya.

 

“Apa?”

 

“Kau sudah bisa memanggil mereka seperti itu. Berarti kau harus memanggilku ‘Oppa’ kan?”

 

“Emm.. kalau itu—“ Hyuna menggigit bibirnya gugup “Bisa tidak kalau aku memanggil namamu saja?”

 

“Kenapa? Tidak tidak, aku harus mendengarmu memanggilku oppa” Kyuhyun bersungut sungut

 

“Oh, ayolah Kyu. Tolong aku. Aku.. tidak bisa”

 

Kyuhyun mendesah “Ini tidak etis Hyuna, kau adikku sekarang” Kyuhyun tersentak dengan perkataannya sendiri. Perasaanya begitu mengganjal dengan sendirinya. Menyebut Hyuna sebagai adik nya sekarang membuat dadanya terasa sesak. Ya Tuhan Cho Kyuhyun! kau kenapa?

 

Hyuna terdiam dan menunduk. Gadis itu merasa sesuatu lepas dari raganya dan perasaan kosong itu kembali ada. Saat Kyuhyun mengatakan bahwa dia adik nya. Catat ADIK nya. Kenapa dia begitu tidak rela?

 

Kyuhyun berdehem setelah kediaman mereka yang tidak jelas alasannya. “Baiklah, kau bisa memanggilku sesukamu”

 

Kyuhyun berdiri dengan masih menatap Hyuna “Tidurlah. Ini sudah malam” dan pria itu beranjak. Benar benar beranjak dari hadapan Hyuna meninggalkan gadis itu di tengah ruang makan yang besar dengan perasaan yang berkecamuk.

 

Oppa~” suara lirihnya tenggelam ditengah kesunyian.

 

***

 

Kyuhyun menghela nafasnya kasar. Matanya menatap sekotak bingkisan di atas meja kerjanya itu dengan tajam. Jika matanya bisa mengeluarkan laser, sudah bisa di pastikan objek tatapannya itu sudah meleleh.

 

“Malangnya nasib bingkisan itu. Dia hanya benda, tapi kau menatapnya dengan berapi api” Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke depan. Melihat seorang pria yang berdiri bersandar di sofa yang berada di ruangan elit itu sambil melipat tangannya di depan dada.

 

Kyuhyun mendengus kecil “Kau sudah bosan bekerja disini, hyung? Bisa tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk”

 

Lee Hyukjae tersenyum sinis “Aku tahu kau tidak akan melakukannya Kyuhyun~ah

 

“Kau benar” Kyuhyun menghela nafasnya lalu kembali menunduk

 

“Rachel lagi?” Tebak Hyukjae dan mendapat anggukan dari Kyuhyun. Pria bergummy smile itu beranjak mendekati bingkisan di atas meja kerja Kyuhyun, mengintipnya sekilas.

 

“Kali ini apa?”

 

“Louis Moinet Magistralis. Dia seharusnya tahu aku punya banyak yang seperti ini” Kyuhyun mendengus lagi.

 

Hyukjae membukanya dengan semangat dan melebar melihat isinya “Wow Cho Kyuhyun! Wow!”

 

“Yeah, Wow” Kyuhyun memutar bola matanya malas.

 

“Ini jam tangan mahal Tuan Cho!” Hyukjae masih terlalu beresemangat

 

“Akan kubelikan kau yang persis seperti itu. Sepuluh buah bila perlu”

 

Hyukjae hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Bertahun tahun sudah dia mengenal Kyuhyun tapi setiap kali pria itu mengumbar kekayaannya yang seakan akan tidak akan ada habisnya itu, Hyukjae selalu merasa takjub. Bukan tidak mungkin seorang sahabat tidak mengenal sahabatnya sendiri. Hyukjae sudah terlalu lama mengenal Kyuhyun, tentu pria itu juga tahu Kyuhyun luar dalam. Sifat sifatnya, kebiasaannya, dan macam hal lainnya lagi. Termasuk urusan hatinya dengan wanita.

 

“Dia benar benar giat mengejarmu”

 

“Dia psikopat, kurasa”

 

“Kita berdua tahu itu” Hyukjae terkekeh geli, mengundang Kyuhyun untuk ikut tertawa kecil. Sepertinya, mood nya mulai membaik. Terimakasih untuk Lee Hyukjae.

 

Hyukjae mngernyit saat mendapati sepucuk surat kecil di dalamnya. Pria itu mengambilnya dan menunjukkan kepada Kyuhyun “Kau sudah membacanya?”

 

“Kau fikir itu penting?” Kyuhyun berucap malas lalu pria itu kembali sibuk dengan berkas berkasnya. Mencoba menghalau gangguan gangguan menyebalkan itu lagi.

 

Hyukjae mengangkat bahunya sekilas dan membuka surat itu lalu membacanya dalam diam. Selesai membacanya, pria itu kembali menatap Kyuhyun dengan pandangan gelinya. Bermaksud menggoda.

 

“Kau akan menyukai ini Cho Kyuhyun”

 

“Apa?”

 

“Dia akan kembali ke Korea. Natal tahun depan”

 

“APA?!”

 

***

 

Annyeonghaseyo. Park Hyuna imnida. Mohon bimbingannya” Hyuna membungkuk kepada seluruh karyawan dan karyawati di ruangan sedang itu. Minggu kedua masuk di keluarga Cho bertepatan dengan hari pertamanya sebagai karyawan baru di divisi pemasaran perusahaan besar itu. Dengan senyum yang masih mengembang Hyuna mencoba menatap teman teman satu divisinya satu persatu, berusaha mengakrabkan diri dengan mereka.

 

“Hyuna~ssi, mejamu ada di sebelah sana” Han So Hee, sang kepala divisi menunjuk sebuah ruang kosong yang sudah lengkap dengan komputer dan peralatan tulis lainnya. Dengan patuh, Hyuna berjalan dan duduk disana. Keadaan kembali normal saat sesi perkenalan anak baru itu selesai.

 

Annyeong! Aku Hee Chan” Hyuna menoleh pada desk sebelahnya. Melihat seorang gadis muda dengan rambut sebahu yang berwarna hitam legam dengan ramahnya mengulurkan tangan bermaksud untuk berkenalan dengannya.

 

Annyeong Hee Chan~ssi, aku Hyuna” Hyuna membalas jabat tangan itu dengan senyum.

 

“Tidak usah seformal itu padaku. Kuharap, kita bisa menjadi sahabat. Otte?”

 

Hyuna mengangguk “Arraseo, Hee Chan~ah” dan keduanya terkekeh geli. Hyuna sepertinya akan menyukai teman barunya itu.

 

Hyuna memulai pekerjaan pertamanya. Gadis itu sudah disibukkan dengan data data yang diberikan seorang karyawati padanya. Beberapa kali mengecek lalu memeriksa dengan teliti data yang berada di komputer layar datarnya. Wajahnya benar benar serius.

 

“Aku haus sekali” Keluh seorang karyawan sembari mengusap lehernya.

 

“Suruh saja anak baru itu” Sahut seorang lainnya

 

“Hei anak baru!” Seorang gadis datang menghampiri Hyuna dengan angkuhnya. Melipat tangan di depan dadanya dan menatap gadis itu dengan pandangan tidak suka.

 

“Kau memanggilku?” Hyuna bertanya bingung sambil menunjuk dirinya.

 

Gadis itu mendengus keras “Tentu saja kau! Memang ada anak baru lain selain dirimu?” Hyuna hanya mengangguk mengerti dan gadis itu berdiri dari duduknya.

 

“Ada apa?”

 

“Kami semua haus. Bisakah kau membelikan beberapa minuman segar di cafetaria bawah?” Hyuna melirik ruangan itu sekilas. Semua orang tampak menatapnya, dan diantaranya juga menatap Hyuna dengan senyum sinis yang mengembang, meremehkan dan sebagainya.

 

“Baiklah, akan ku belikan. Tunggu sebentar” Hyuna memberikan senyum tulusnya pada semua orang. Gadis itu berbalik dan sempat melirik ke arah Hee Chan yang menatapnya khawatir. Cukup Hyuna memberikan tatapan mata pada Hee Chan bahwa dia baik baik saja membuat Hee Chan akhirnya mendesah lega.

 

***

 

Siang ini cafetaria terlihat penuh seperti biasanya. Beberapa pekerja kantor datang untuk menyantap makan siang mereka. Di pojok ruangan, Hyuna dan Hee Chan terlihat menikmati sepiring Jjangmyeon dan segelas lemon juice. Mereka makan dengan santai, beberapa kali terlihat tertawa oleh obrolan mereka sendiri.

 

“Kau harus sabar menghadapi Sung Rin. Gadis itu, tabiatnya memang buruk sekali” Hyuna mengangguk angguk mengerti lalu mengingat seorang gadis angkuh yang sedari tadi menyuruhnya ini dan itu. Sampai menyuruhnya membelikan minuman untuk semua orang di divisinya.

 

“Jadi, tak heran kalau sampai sekarang dia tidak memiliki kekasih” keduanya kembali tergelak oleh lelucon Hee Chan. Mereka spontan terdiam saat melihat objek yang mereka bicarakan mulai terlihat memasuki cafetaria. Berjalan angkuh sendirian.

 

“Lihatlah. Apa ada yang mau dengan gadis sok sepertinya” Hee Chan mendengus lagi melihat tingkah Sung Rin yang terlihat sangat tidak manusiawi dimatanya.

 

“Sudahlah. Aku tidak suka menggosipkan orang” Hyuna bersuara.

 

“Oh, ya Hyuna. Aku ingin bertanya”

 

“Apa?”

 

“Apa kau—punya kenalan dengan pemilik perusahaan. Atau, orang tuamu punya akses memasukkanmu disini ya? Atau mungkin, kau salah satu keluarganya? atau lagi, kau sebenarnya adalah orang yang ditugaskan untuk memata matai divisi pemasaran dan hasilnya akan kau laporkan pada CEO kami?”

 

Hyuna tergelak. Kenapa Hee Chan tiba tiba bertanya seperti itu? Terlalu banyak kata ‘atau’ disisipkan disana membuat gadis itu mengulum senyum, menurutnya tingkah Hee Chan sangat lucu. Hyuna menatap Hee Chan yang juga tengah menatapnya dengan pandangan menyipit.

 

“A-apa maksudmu? Aku hanya orang biasa” Hyuna menjawabnya dengan sedikit gugup. Apakah dia ketahuan? Apa sangat terlihat?

 

Hyuna masuk ke dalam K&H Enterprise dengan identitas aslinya, tentu saja. Tapi gadis itu tidak mau semua orang tahu bahwa dia adalah anak angkat keluarga Cho. Hyuna fikir, semua orang pasti akan segan padanya. Dan merasa tidak enak karena dia adalah atasan, atau malah ada yang bersikap ‘sok’ manis di depannya. Dia tidak mau itu. Dia mau terlihat apa adanya, dan melihat bagaimana orang akan bersikap dengan keadaanya yang biasa biasa saja itu. Dari sanalah, dia akan mengetahui mana kawan dan mana lawan. Oleh karenanya, dengan usaha berkali kali dia membujuk ayah barunya itu untuk menempatkannya pada posisi yang tidak terlalu tinggi. Dan menyembunyikan identitasnya yang sekarang. Hyuna hanya ingin mencoba menjalani kehidupannya dengan normal. Bekerja, mempunyai teman teman yang baik tanpa memandang statusnya saat ini. Menilik betapa lelahnya Kyuhyun menghadapi wajah wajah orang yang banyak sekali mencari muka dan sok bersikap manis. Hyuna tidak mau itu terjadi padanya. Lalu sekarang, Hee Chan tiba tiba bertanya? Hey, apa gadis ini peramal?

 

Hee Chan menilik Hyuna dari atas sampai bawah. Memberi tatapan menilainya dan mengangguk setuju “Yah, kurasa kau memang hanya gadis biasa” Hyuna tersenyum dan mendesah lega. Ternyata Hee Chan bukan peramal! Kkk~

 

“Tapi, kenapa kau bertanya seperti itu?”

 

“Hanya heran. Perusahaan kami tidak pernah menerima karyawan baru pada akhir akhir tahun seperti ini. Tapi kau masuk dengan mudahnya. Itu membuatku berfikir, apakah ada hal terselubung di baliknya”

 

Hyuna menggeleng keras “Tidak tidak, aku tidak seperti apa yang kau fikirkan”

 

“Baiklah, aku mempercayaimu” Hee Chan tersenyum tulus membuat Hyuna membalasnya dengan tersenyum getir. Hee Chan sepertinya gadis yang baik, dia merasa bersalah membohongi teman barunya itu. Maaf kan aku Hee Chan, sesalnya dalam hati.

 

“Ah~ apa itu juga sebabnya Sung Rin dan beberapa orang di kantor ini tidak menyukaiku?” Hyuna bertanya penasaran pada Hee Chan. Pasalnya, dari beberapa pekerja yang ia temui selama setengah hari ini menatapnya tidak suka, berbicara dingin padanya dan mengacuhkannya.

 

“Exactly! Mereka mungkin berfikir bahwa kau adalah seseorang yang dapat menghambat cara kerja mereka untuk semakin giat mencari promosi untuk naik jabatan. Karena jujur saja, tidak hanya mereka. Aku pun berfikir bahwa kau gadis yang pintar Hyuna. Dan tentunya.. istimewa. Haha. Tahukah kau, pesonamu terlihat sangat menyilaukan saat masuk ke ruang divisi pemasaran tadi!” Hee Chan terkekeh. Hyuna tersenyum sekilas dan melihat Hee Chan.

 

Gadis itu mendesah. Baiklah, tidak apa apa. Ini baru awal. Dia harus bisa melewatinya. Dia harus bisa membuktikan pada Ayah nya itu kalau beliau tidak akan pernah menyesal mengangkat anak seperti dirinya. Dia akan berusaha sebaik mungkin di perusahaan ini. dia akan bekerja dengan tekun. Mencoba memberikan masukan masukannya yang mudah mudahan dapat diterima untuk menaikkan lagi harga penjualan.

 

“Semangat, Hyuna!” dia menyemangati dirinya sendiri.

 

***

 

“Hyuna!” Hyuna mengalihkan pandangannya dari novel yang dia baca ke arah pintu. Terlihat Ahra masuk dengan berlari kecil dan menjatuhkan dirinya di ranjang Hyuna dan menatap gadis itu.

 

“Ayo pergi!” Hyuna mengernyitkan dahinya, kakak perempuannya ini mengajaknya pergi tiba tiba? Sore sore begini?

 

“Kemana eonnie?”

 

“Kita berbelanja. Bagaimana menurutmu?”

 

Hyuna tampak berfikir sejenak kemudian mengangguk. Tidak ada salahnya pergi dengan Ahra. Sepertinya menyenangkan menghabiskan waktu dengan kakak perempuan seperti ini. Dia sudah lama mendambakan hal semacam ini, karena mengingat kembali kehidupannya yang dulu, dia hanya tinggal berdua dengan sang ayah.

 

Kajja!”

 

Mereka berdua sudah duduk di dalam mobil Ahra. Hyuna terus saja tertawa di kursi penumpang sebelah Ahra karena sejak dari tadi kakak nya itu tak henti hentinya menceritakan kejadian kejadian lucu Kyuhyun yang membuat perut Hyuna melilit. Hyuna tidak pernah menyangka, di balik sikap tegas, disiplin dan kesempurnaannya itu, Kyuhyun ternyata mempunyai masa masa kecil yang memalukan. Tapi itu lucu bagi Hyuna.

 

“Aku tidak percaya, ternyata hal seperti itu pernah dialaminya?” Hyuna menatap Ahra yang masih berkonsentrasi menyetir. Tapi tak pelak keduanya masih mengeluarkan tawa kecil.

 

“Dia hanya bocah berusia tujuh tahun saat itu. Tentu saja itu normal” Ahra kembali tertawa, mengingat bagaimana lucunya Kyuhyun yang lari terbirit hingga Kyuhyun kecil pipis di celana mendengar cerita konyol dari Ahra tentang hantu penghuni gudang di rumahnya itu.

 

“Ah, aku jadi ingin melihat reaksinya saat itu”

 

“Kau tidak akan tahan! Aku saja tertawa terbahak bahak hingga eomma memarahiku karena membuatnya ketakutan!” Ahra tertawa keras. Benar benar memori yang menyenangkan untuk diingat.

 

“Apa tidak apa kita membicarakan ini?”

 

“Tidap apa. Tapi aku yakin dia akan marah marah saat tahu kita membicarakan nya seperti ini”

 

Keduanya kembali bercerita hingga sampai di butik langganan Ahra. Keduanya turun dan masuk. Menjelajahi satu persatu rak, menilik berbagai macam model baju yang menurut mereka bagus. Saling memilih untuk satu sama lain.

 

Ahra paling banyak mengambil baju lalu menumpuknya di atas tangan Hyuna. Membuat gadis itu sedikit kesulitan untuk membawanya.

 

“Kurasa ini dulu. Sekarang kau coba semua ini di ruang ganti” titah Ahra pada Hyuna, membuat gadis itu membelalakan matanya.

 

MWO? Aku? Kukira ini punyamu,eonnie

 

“Aku sudah banyak baju, untuk apa membeli lagi. Ini aku membelikannya untukmu”

 

Shirreo. Aku juga sudah banyak baju, kenapa harus membeli lagi”

 

Ahra mendecak “Turuti saja kenapa sih. Ini aku belikan sebagai ucapan selamat datang untukmu di keluarga kami. Lagipula, sudah lama aku membayangkan ini. ber-shoping ria bersama adik perempuan. Dan sekarang menjadi nyata!” Ahra berbicara dengan mata berbinar binar.

 

“Tapi eonnie—“ Hyuna masih ragu.

 

“Jika kau tidak mau, aku akan merasa sedih” Ahra merubah raut wajahnya menjadi sendu, membuat Hyuna akhirnya mengalah dan menghembuskan nafasnya pelan.

 

“Baiklah baiklah, akan kucoba” Aahra tersenyum senang mendengarnya. Gadis itu kemudian duduk di depan ruang ganti. Menunggu Hyuna mencoba semua pakainnya. Satu per satu, Hyuna keluar dengan model baju yang berbeda beda. Ahra mendecak kagum. Sejauh pengamatannya, Hyuna terlihat cantik dengan balutan apapun. Setiap dia keluar dengan potongan kain yang berbeda, maka pesona gadis itu pun masih terus bersinar. Hyuna memang dilahirkan cantik tanpa cacat sedikitpun.

 

“Semuanya!”

 

Ne?!” Hyuna tersentak saat keluar dari ruang ganti dan membawa semua baju baju yang telah ia coba.

 

“Semuanya ku beli” Ahra memberi isyarat pada salah seorang pegawai yang berada di sampingnya. Pegawai itu tersenyum lalu menunduk sekilas, mengambil segtumpuk baju ditangan Hyuna dan bermaksud membungkusnya.

 

“Apa tidak berlebihan?” Hyuna menatap kakak nya itu dengan sendu

 

“Tidak tidak. Apa kau tahu, saat kau keluar dengan baju yang berbeda beda itu, kau terlihat sangat sangat cantik. Apapun yang kau kenakan, kau cantik sekali Hyuna~ya. Ah, kenapa aku jadi iri begini pada adikku?” Ahra terkekeh kecil membuat Hyuna mendengus

 

“Bohong”

 

“Aku bersumpah! Kau terlalu cantik untuk diabaikan”

 

Hyuna tersenyum manis “Terimakasih atas pujianmu yang membuatku melayang itu, kakak ku yang cantik” dan keduanya tertawa geli.

 

Ahra mendesah dalam hati. Hyuna gadis baik dan pintar, cantik dan hatinya tulus. Dia benar benar berharap bahwa Hyuna bisa mendapatkan pria yang baik. Ahra sudah terlanjur menyayangi adik barunya itu, dan berharap kebahagiaan menghampiri Hyuna.

 

Tunggu, Cho Kyuhyun tidak buruk kan? Ahra menyeringai dalam hati, dia harus bisa mendekatkan keduanya! Lagipula, Ahra yakin bahwa ayahnya tidak akan keberatan soal ini. Toh, tidak mungkin Kyuhyun meminta ijin pada ayahnya itu untuk membawa gadis asing tinggal bersama tanpa sebuah alasan kan?

 

***

 

Kyuhyun mendaratkan tubuhnya di sofa hitam itu. Menatap tanpa minat meja di depannya yang sudah di penuhi dengan makanan dan beberapa minuman. Pria itu menghembuskan nafasnya perlahan dan teratur. Ini tidak biasa, sejak kapan Cho Kyuhyun yang serba perfectionist itu terlihat seperti tidak punya harapan hidup? Dan aksinya kali ini, mengundang tatapan aneh dari Hyukjae dan Minho di depannya.

 

“Wah wah wah, apa yang membuat CEO hebat kita ini frustasi heum?” Minho menyela. Menatap Kyuhyun lalu ganti menatap Hyukjae dengan pandangan bertanya.

 

“Meskipun aku kerja di kantornya, aku tidak tahu kenapa dia menjadi seperti ini. Jadi jangan tunjukan wajah bertanyamu itu padaku Choi Minho” Hyukjae menoyor pelan kepala Minho membuat pria itu mengaduh dan mengusap kepalanya.

 

“Sakit, Hyung!” Minho protes.

 

“Kau manja sekali, dasar anak kecil” Hyukjae terkekeh saat melihat Minho bersungut sungut. Perhatian mereka kembali teralihkan pada helaan nafas Kyuhyun yang kini terdengar lebih keras.

 

Seriously, kau benar benar kacau Cho Kyuhyun” tegur Hyukjae

 

“Apa yang terjadi, Hyung? Apa perusahaanmu akan bangkrut? Kalau iya, aku bersedia menyuntikkan dana! Dengan senang hati Choi Group akan membantu sebisa mungkin”

 

Hyukjae terkekeh kecil mendengar kata kata Minho yang dengan asalnya itu, sementara itu Kyuhyun tergerak untuk melempar kulit kacang yang ada di atas meja itu ke arah Minho membuat Minho kembali bersungut sungut.

 

“Kau fikir perusahaanku dengan gampangnya akan jatuh, huh? Sudahlah, fokus saja pada perusahanmu itu. Jangan bertindak macam macam. Ingat Minho, kau itu baru diangkat sebagai CEO beberapa bulan lalu menggantikan ayahmu. Jangan sampai kau mengecewakannya” nasihat Kyuhyun membuat Minho mengangguk.

 

Arraseo, hyung. Aku kan hanya mencoba menawarkan bantuan kalau kalau kau membutuhkan” Minho mengambil gelas wine nya dan meneguk isinya.

 

“Terimakasih. Tapi K&h Enterprise tidak akan pernah bangkrut. Catat itu” Hyukaje dan Minho saling pandang dan kembali mengeleng gelengkan kepala. Sifat sombong Kyuhyun keluar lagi.

 

“Lalu kau kenapa? Kau mudah sekali stress akhir akhir ini” Hyukjae menyela.

 

“Aku hanya lelah, sudahlah tidak usah difikirkan”

 

“Aku tidak percaya” Minho menyipitkan matanya menatap Kyuhyun “Hyung, kami mengenalmu sudah sangat lama. Kau tidak akan seperti orang frustasi seperti ini jika hanya lelah”

 

“Kalau kalian tidak berhenti bicara, aku akan pergi saja”

 

“Wooo~ tenang dude. Okay, kami tahu moodmu itu” Hyukjae lebih memilih untuk tidak membahas masalah Kyuhyun lagi. Dan pria itu lebih memilih menikmati makanan bersama Minho. Ini bukan restoran, hanya cafe sederhana milik Eunhyuk yang selalu menjadi markas mereka jika sedang berkumpul.

 

“Oh iya, apa kalian mendapat e-mail dari Sung Jin Hyung?” Minho tiba tiba bertanya, membuat Kyuhyun dan Hyukjae menoleh ke arahnya.

 

“Tidak. Kenapa? Kau dapat?” Tanya Hyukjae.

 

Minho mengangguk “Siang tadi, dia mengirimiku e-mail

 

Kyuhyun mendengus “Sejak kapan dia bertindak curang? Bukankah seharusnya dia harus adil. Jika mengirim e-mail, kita semua harus dapat”

 

“Apa isi nya?” tanya Hyukjae penasaran.

 

“Hanya memberitahu, dia akan pulang ke Seoul”

 

“Eiiish~” Hyukjae sontak meletakkan garpunya asal dan berseru berbarengan dengan Kyuhyun.

 

“Dia selalu bicara seperti itu tapi sampai sekarang dia tidak pernah menampakkan batang hidungnya di depan kita” Hyukjae bersungut sungut sambil mengelap sudut bibirnya dengan tisu. Kyuhyun mengangguk setuju. Sementara Minho hanya mengendikkan bahunya.

 

Tak lama, ponsel ketiganya berbunyi. Sebuah notif bahwa ada pesan masuk. Kyuhyun, Hyukjae dan Minho membacanya dengan telaten. Kemudian saling berpandangan dengan tatapan terkejut. Mereka sedikit tertawa canggung tidak meyakini apa yang baru saja mereka baca. Ini tidak mungkin terjadi, kan? Pikir ketiganya. Hyukjae mengambil segelas air karena kerongkongannya mendadak kering.

 

Namun sesaat kemudian mereka kembali terdiam dan berpandangan penuh arti. Perlahan, ketiganya menoleh ke arah pintu masuk dan melebarkan matanya saat melihat siapa yang berada di sana. Hyukjae bahkan tersedak minumannya sendiri hingga dia terbatuk kecil.

 

Maldo andwe” lirih Minho

 

Hi, guys?” sapa orang disana dengan melambai ringan dan memberikan senyum menawannya itu. Penuh dengan kharisma.

.

.

.

“KIM SUNG JIN !!!!!”

 

Advertisements

69 thoughts on “Love Line (3/?)

Add yours

  1. Duhh hyuna…kamu beruntung sekali 😄😄😄 keluarga kyuhyun bener bener nerima hyuna dengan tangan terbuka
    Tapi penasaran ma sosok Kim sung jin… 😮

  2. siapa sungjin ini?? jangan-jangan..
    aisshh.. kyunya lucu bgt. pura2 gak sengaja, tapi padahal dia mau masuk kamar yeoja.. hihihi. dasar ajushi jelalatan.

    tambah manis ff ini. sepertinya aku alan diabetes.. ^^

  3. jadi iri ama hyuna,, haahh seandainya ada keluarga kya gitu,, dan pasti bukan aku anak yg diangkat,, wkwkkwkw
    Kimm sung jin,, ntar gak suka kan ama hyuna ??

  4. Wkwk mas kyuhyun sakimg rindunya gk tahan ya sampek ke kamar hyuna. Setuju sm hyuna gk usah dikadi tau identitas aslinya biar tau mana yg baik dan jahat. Siapa itu sungjin? Lanjuttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: