Hyuna’s Love Story

20140724_235130-BlendCollage

Author : tatadap

Tittle : Hyuna’s Love Story

Tag: Cho Kyuhyun , Park Hyuna

Genre : Romance, Teenage, Sad (?)

Rating :15

Length : Longshot

Disclaimer : Again with a little fiction. It’s just about how stressfull I am thinking about Cho Kyu Hyun. And imagine him, make me have a lot idea for writing some sotry. And here it is.. Hyuna’s Love Story. Hope you enjoyed! ^^

 

HAPPY READING !

 

 

PROLOG:

Entah aku berada dimana saat ini. Hanya bisa menatap benda kecil berbentuk lingkaran yang tergenggam dalam jemari ku yang mulai menggigil karena udara dingin yang masuk perlahan melalui pori pori kulitku. Mataku menatap nya nanar dan mulai memanas. Hingga kurasakan pengelihatanku kabur karena rembesan air mata yang dengan lancangnya menyeruak turun, tetes demi tetes.

 

Derasnya air dibawah sana mengingatkan ku lagi tentang tujuanku berada di tengah jembatan ini. ku tengok sekali lagi ke dasar hingga merasakan bulu kudukku meremang melihat air sungai itu dengan deras, keras, dan bertubi tubi menerjang batu batu besar yang sebagiannya terlihat ke permukaan.

 

Malam semakin larut dan aku mulai meyakinkan tekadku. Tunggu, apa kalian berfikiran bodoh saat ini? Berfikir bahwa aku akan dengan senang hati melemparkan tubuhku ke bawah? Biar kuperjelas. Aku bukan gadis bodoh yang rela mengakhiri hidupku hanya karena alasan klise, patah hati. Hanya.. rasanya tempat mengerikan inilah yang aku pilih untuk membuang segala macam memori baik-buruk dirinya di benakku. Yang sudah bertahun tahun lamanya bersemayam, dan harus kubuang saat ini juga.

 

Jika aku bertanya pada kalian tentang ini, apa kalian sependapat denganku? Persahabatan yang terjalin antara pria dan wanita itu bulshit! Ya, kan? Kebersamaan mereka, canda tawa, sedih senang.. mereka melakukan semuanya bersama. Namun sadarkah kalian, diantara kebersamaan kebersamaan itu akan timbul suatu perasaan berbeda, perasaan lain yang menyusup hingga menggerogoti relung hatimu, membuatmu terlalu senang saat berada dalam jarak teramat dekat dengannya dan membuatmu meraung seperti orang gila saat melihatnya berdekatan dengan seorang lainnya. Kalian tidak setuju? Yang jelas, ini pendapatku.

 

Dan dari kamuflase ‘sahabat’ itulah, semuanya bermula. Kisahku dan kisahnya terjalin sejak bertahun tahun lamanya …

 

And the story begin ~

 

“Aku sudah mengenalmu, sejak kau masih bayi merah”

 

Aku mendengus. Selalu begitu. Kalimat itu yang akan dikeluarkannya saat ingin kabur dari pertanyaanku yang sering berulang kali ku torehkan padanya.

 

“Selalu itu yang kau bilang! Aku bosan mendengarnya” Aku terus bersungut sungut dibelakang punggungnya yang tengah mengayuh sepeda menuju rumah kami. Maksudku, dia akan mengantarkanku pulang dan setelah itu dia sendiri akan pulang ke rumahnya yang berada tepat disamping rumahku.

 

“Karena kalimat itu yang bisa membuatmu diam dan tidak bertanya macam macam lagi”

 

“Kau menyebalkan, Cho Kyu Hyun!” Aku memukul punggungnya sekilas dan kembali berpegangan pada kedua sisi pinggangnya. Dia hanya tertawa renyah sedang aku masih diliputi kekesalan yang membuncah. Lagi lagi dia merusak kencan ku hari ini. Eh, apa sudah bisa dibilang kencan ya? Aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama tahun kedua. Aku masih anak anak, kan? Itu yang selalu Cho Kyu Hyun bilang padaku. Dan anehnya, aku menyetujuinya. Aku masih anak anak.

 

“Aku sudah bilang untuk tidak berkencan seperti itu. Kau ini masih kecil” suaranya kembali terdengar bertabrakan dengan deru angin sore yang menyapu rambutku.

 

“Siapa bilang aku berkencan, gembul! Aku kan hanya berjalan jalan dengan Dong Hae tadi. Kemudian kau malah datang, bilang padanya bahwa ibuku masuk rumah sakit dan aku harus segera pulang. Dan dengan bodohnya aku percaya lalu menemukan diriku sendiri ternyata dibohongi lagi olehmu” Aku memarahinya. Dan seperti biasa, memanggilnya dengan panggilan kesayanganku untuknya. Pipinya yang seperti bakpao, membuatku terkadang gemas dan sering lepas control untuk mencubitnya. Makanya, kunamai dia sebagai gembul. Kkk~

 

“Ini demi kebaikanmu, pendek. Jadi jangan memarahiku” Dan yah, dia juga membalasnya dengan panggilan ejekannya itu. Errr.. tapi ku akui, aku memang pendek.  Setidaknya, tidak lebih tinggi dari pundaknya. Haha.

 

“Yah, terserah kau saja. Aku memang selalu kalah denganmu” Aku memutuskan untuk diam. Daripada tekanan darahku naik meladeni setan gembul berwujud manusia di depanku ini.

 

Dia selalu seperti ini. Mengacaukan acara jalan jalan ku dengan teman teman. Padahal tadi, aku tidak hanya berdua dengan Don Hae. Dia mengajak temannya, Eun Hyuk dan Sung Min. Sedangkan aku juga mengajak teman temanku, si kembar Min Rin dan Min Chan.

 

Aku merasa tidak enak dengan mereka. Meninggalkan acara hangout kami yang sudah tersusun rapih sejak dua hari yang lalu. Rencananya, kami akan berjalan jalan mengitari kota Busan sembari mencari beberapa bahan untuk materi tugas kelompok di sekolah. Dan dengan sangat tidak tahu diri, Cho Kyu Hyun membuatku merasa bersalah pada mereka sekarang.

 

Aku sontak turun dari goncengannya saat ia sudah menepi di depan rumahku. Menatapnya dengan tatapan jengkel dan tangan terlipat di depan dada. Dan pria itu hanya melihatku acuh.

 

“Aku gagal mencari bahan bahan untuk tugas sekolahku!” Sentakku padanya.

 

“Aku akan membelikannya, kau tidak usah khawatir”

 

“Cih, seperti kau tahu saja apa yang kubutuhkan”

 

Dia menyentakkan jari tengah dan jempolnya pada dahiku, menyentilku. Membuatku meringis gemas “Appo!”

 

Appo? Baguslah, supaya rasa sakitnya bisa menghilangkan kebodohanmu. Kita satu sekolah, hanya berbeda kelas. Tapi, pelajaran seni kita diajar oleh satu guru yang sama. Kim Min Ah songsaengnim yang memberi tugas kan?” Aku mengangguk polos. Iya benar, kenapa aku tidak berfikir.

 

“Aku juga butuh bahan bahan itu. Besok, aku akan membeli punyaku dan punyamu juga”

 

Dia lalu melengos pergi tanpa permisi, tanpa pamit, tanpa kata ucapan sampai jumpa padaku. Aku hanya mengehela nafas melihatnya yang sudah masuk ke dalam rumah, menatap punggungnya yang mulai menghilang. Cho Kyu Hyun, mulutmu terlalu pedas untuk anak sekolah menengah pertama sepertimu!

 

-o0o-

 

Aku melebarkan mataku saat Seo Rin songsaengnim sang guru terkiller mata pelajaran Matematika turun temurun disekolahku itu, memberiku hasil ulangan harian minggu lalu. 95. Ya Tuhan, apa benar ini nilai ku? Apa aku tidak bermimpi? Apa angkanya terbalik ya? 59 mungkin?

 

“Kau mengerjakannya sendiri kan?” suara legendarisnya terdengar, mengusik gendang telingaku dan tersadar aku masih berdiri seperti orang bodoh di depan kelas.

 

“Ne, songsaeng

 

“Bagus, Hyuna. Kau ada kemajuan”

 

Ne, khamsahamnida” aku menundukkan badanku sekilas. Dalam perjalanan menuju tempat duduk, aku menggegam erat hasil kertas ulanganku itu di depan dada. Mengulum senyum dan berencana untuk menceritakan kisah hidup mengharukan yang pernah kualami ini pada Kyu Hyun. Berlebihan? Mungkin menurut kalian iya. Tapi menurutku, tidak. Karena seumur hidup, baru kali ini aku mendapat nilai 95 dalam pelajaran matematika.

 

Aku menolak ajakan Min Rin dan Min Chan ke kantin sekolah sesaat setelah bel pertengahan hari berbunyi. Dengan serampangan, aku mengambil benda yang akan kutunjukkan pada Kyu Hyun. Keluar kelas dan berlari lari di koridor sekolah. Terus berlari menuju taman belakang dekat dengan gedung penyimpanan alat marching band sekolah kami.

 

Aku tersenyum mengenali punggungnya yang sudah terlihat. Aku berjalan santai menghampirinya. Duduk disebelahnya, yang sedang melakukan aktifitas sehari harinya. Bermain gitar. Di tempat sepi. Tanpa ada gangguan.

 

“Kyu Hyun~ah” Aku menggoyangkan lengannya manja. Dan dia hanya menyahutiku dengan gumaman.

 

“Lihat ini” Aku menyerahkan kertas itu pada Kyu Hyun. Dia mengangkat wajahnya yang sedari tadi fokus dengan senar gitar di petikan jarinya.

 

Kyu Hyun mengambilnya, lalu aku bisa melihat kedua sudut bibirnya membentuk senyuman yang sejak dahulu kala menjadi hal paling wajib kulihat dari wajah rupawannya.

 

“Kau berhasil juga”

 

Ne! Itu berkatmu. Gomawo Kyu Hyun~ah” Aku terlonjak senang dan memeluk nya. Ini sudah biasa, kami sering melakukannya dan Kyu Hyun pun tidak keberatan.

 

“Dengar, apa yang sudah ku ajarkan padamu jangan pernah kau luapakan. Arrachi?!” titahnya. Dan aku hanya mengangguk menurut. Beginilah aku terhadapnya. Semenjengkelkannya dia, aku tetap akan tunduk padanya. Aku merasa benar jika menuruti perkataan Kyu Hyun. Dan sejauh ini, memang begitu kenyataannya.

 

-o0o-

 

Aku tergolek lemah di ranjang kecil pink-ku yang nyaman. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku seperti ini. Mungkin, karena terlalu shock dengan tamu tak diundang yang baru datang hari ini.

 

Aku mendapat menstruasi pertamaku tadi pagi. Saat melihat begitu banyak darah keluar dari area pribadiku untuk yang pertama kalinya, aku menjerit sangat keras sehingga membuat eomma masuk ke kamarku dengan tergesa dan tatapan khawatir. Tapi setelahnya, dia malah tertawa saat aku menceritakan apa yang kualami. Dengan telaten, dia mengajariku bagaimana mengatasinya.

 

Aku merasa lemas setelah itu dan eomma melarangku untuk datang kesekolah. Karena memang, fisikku ini lemah. Terkadang, saat jam pelajaran olahraga, aku juga sering kali kedapatan pingsan karena kelelahan.  Tapi dibalik itu semua, hari ini aku merasa bahagia. Akhirnya aku menjadi seorang gadis, benar benar seorang gadis.

 

Pintu kamarku terbuka dan mendapati Kyu Hyun masuk dengan tergesa, lalu dia duduk di tepi ranjangku “Gwenchana? Kata bibi, kau sakit”

 

Aku tersenyum padanya “Aku tidak apa apa, Kyu”

 

“Lalu kau sakit apa?”

 

“Tidak akan kuberitahu. Ini masalah wanita”

 

Kyu Hyun terlihat heran dan aku hanya tertawa “Terserah kau saja” balasnya.

 

Kyu Hyun mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya “Ini buku catatan Min Rin. Aku meminjamnya tadi. Agar kau bisa mencatat pelajaran hari ini. Kau seharusnya tidak sakit, minggu depan kita ada ujian kenaikan kelas”

 

Aku menerimanya dan mengangguk patuh “Arraseo, Kyu Hyun songsaengnim” Dia berdecak lalu mengacak rambutku kilat.

 

Boleh aku bercerita? Terkadang, aku merasa sangat menyukai perlakuannya padaku. Aku merasa sangat amat nyaman berada di dekatnya. Dialah sahabat baikku satu satunya. Dialah yang selalu menjadi orang pertama yang mengetahui jikalau aku sedang bersedih atau senang. Mengetahui dengan detail jika aku ada masalah dan dia dengan sigap membantunya. Jadi aku merasa wajar kan jika merasa nyaman padanya? Bukan untuk alasan lain kan?

 

-o0o-

 

“Kyu Hyun~ah!! Kita satu kelas!!” Aku berlari memeluknya sesaat setelah membaca perombakan kelas untuk tahun akhir di masa sekolahku ini. Dan dengan sejuta perasaan membuncah, aku berlonjak lonjak senang di dalam pelukannya.

 

Yah~ lepaskan. Ini di sekolah, pendek” ucapnya dingin sembari perlahan melepaskan pelukanku.

 

Aku tidak ingin merajuk saat ini, tidak ingin marah atau cemberut. Tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa merusak mood ku. Jadi, aku tidak mempermasalahkan sikapnya padaku. Lagipula, apa yang dikatakannya benar. Ini disekolah.

 

Seorang gadis yang kuketahui primadona sekolah menghampiri kami. Menepuk pelan pundak Kyu Hyun hingga dia menatapnya “Cho Kyu Hyun, apa kau berada di kelas IX A ?” tanya nya

 

“Iya”

 

“Wuah, senang sekali bisa sekelas dengamu” ucapnya lalu tersenyum. Hey, kenapa dia genit sekali?

 

Aku menatapnya tidak suka. Apa apaan senyumnya itu. Masih kecil sudah suka tebar pesona “Ku dengar kau murid terpintar yang selalu meraih juara tiap tahun. Jadi aku merasa bangga menjadi teman sekelasmu. Kapan kapan, kita bisa belajar bersama kan?”

 

“Tentu saja”

 

Keurom, aku pergi dulu” Dia membungkuk pada Kyu Hyun sekilas, catat  pada Kyu Hyun. HANYA KYU HYUN. Lalu apa? Dia tidak menganggapku ada sedari tadi? Whoa, gadis itu!!

 

-o0o-

 

Menjadi pelajar di tahun akhir sekolah menengah pertama, membuatku terkadang sedikit stress. Bukannya mengurangi tugas, guru guru itu malah menambah banyak tugas. Menambah jam sekolah dan setelah pulang juga harus menghadiri bimbingan kelas menuju ujian akhir sekolah yang bahkan menurutku masih lama, beberapa bulan lagi.

 

Aku menatap Jung Soo Jin dengan sinis. Gadis genit itu lagi lagi mendekati Kyu Hyun. Apalagi kali ini? dia terlihat membawakan sekotak bekal makan siang untuk Kyu Hyun. Berbicara dengan suara genit dan senyum yang sok manis. Ya Tuhan, kenapa aku merasa muak melihatnya.

 

“Kau kenapa?” aku tersentak saat Min Chan bertanya padaku. Gadis itu sudah membalikkan badannya kearahku. Dia memang duduk tepat di depanku.

 

Min Rin menarik kursinya hingga ikut bergabung bersama kami. Kakak beradik kembar ini menatapku dengan tatapan penuh tanya “Apa?”

 

“Kau terlihat kesal Hyuna sayang”

 

“Bagaimana aku tidak kesal! Lihat saja gadis genit itu. dia terus menerus mendekati Kyu Hyun. Mentang mentang dia primadona sekolah. Cih! ” aku bersungut sungut.

 

Kulihat, si kembar saling pandang dan kembali menatapku lagi “Memangnya kenapa jika dia mendekati Kyu Hyun? Kau tidak menyukai Cho Kyu Hyun, kan?”

 

Aku menatap mereka cepat, kemudian menggeleng “Ti-tidak. Kalian kan tahu, aku menyukai Dong Hae. Ah~ mengingat aku tidak sekelas lagi dengannya, aku menjadi sedih”

 

Min Rin dan Min Chan tampak tak puas dengan jawabanku. Mereka masih terus memincingkan matanya dan menilikku dengan jeli. “Kuharap, perkataanmu benar adanya Hyuna~ya. Kalau tidak, kau bisa sakit.. disini” Min Chan berkata lirih, lalu menyentuh dadaku. Apa maksudnya gadis ini?

 

-o0o-

 

Angin sore begitu sejuk menerpa kulit wajahku. Sesekali, aku mengayunkan kakiku yang tergantung bebas di bawah. Atau, membuat ayunanku bergerak perlahan sambil terus menjilati ice cream vanila yang berada di genggaman ku.

 

“Kyu Hyun~ah, dua hari lagi kita ujian kelulusan. Apa kau tidak gugup?” Aku menatap Kyuhyun yang berada di sampingku.

 

“Gugup? Tidak”

 

Aku menghela nafas “Aku gugup sekali, bagaimana jika aku tidak lulus”

 

“Jangan berfikiran seperti itu. Itu malah membuatmu tertekan dan tidak bisa berkonsentrasi”

 

Arraseo. Lalu, kau akan melanjutkan sekolah dimana setelah lulus?” Aku bertanya. Di Busan, banyak sekali SMA yang bagus. Aku bingung memilihnya, mungkin jika Kyu Hyun sudah tahu dia akan kemana, aku akan mengikutinya lagi. Seperti yang sudah sudah.

 

“Aku belum tahu”

 

Aku berdecak “Kau ini bagaimana sih, hal penting seperti itu harusnya sudah kau fikirkan”

 

Kyu Hyun mendengus “Lalu kau? Jangan bilang kau akan mengikutiku lagi”

 

“Tentu saja, gembul! Karena, aku dilahirkan untuk terus berada di dekatmu”

 

Kyu Hyun nampak terdiam membuat ku menoleh kearahnya. Dia menatap tanah pijakannya dalam diam “Gembul, kau mendengarku kan?”

 

“Jangan berkata seperti itu, Hyuna. Mulailah membiasakan diri dengan ketidakhadiranku disampingmu” aku tersentak saat dengan tiba tiba Kyu Hyun menatap dalam kearahku. Kutilik terus bola matanya yang kini terlihat sayu dan sarat akan sesuatu yang berat sedang dipikulnya.

 

“Ka-kau.. kenapa?” tiba tiba aku merasa takut. Dia tidak akan meninggalkanku kan? Kyu Hyun ku tidak akan pergi kemana mana kan?

 

Kyu Hyun membuang wajahnya menjauhiku. Tahu situasi, dan tahu moodnya sedang tidak baik. aku lebih memilih diam. Aku terlalu tau sifatnya, tabiatnya. Terlalu tahu bagaimana Cho Kyu Hyun itu. terlalu tahu apa apa saja hal yang disukainya dan tidak disukainya. Gerak geriknya, bahkan setiap tutur katanya yang memiliki makna tersendiri.

 

Tuhan, dia tidak benar benar akan pergi meninggalkanku, kan?

 

-o0o-

 

Dia tidak mungkin sakit, kan? Ah~ ada apa dengan otakku. Terus menerus berfikir seperti itu. Tapi, menilik kebiasaanku yang sangat suka menonton mellow drama dan novel novel bergenre sad, membuat otakku terus menerus berfikiran seperti itu. Bagaimana jika Cho Kyu Hyun memang sedang sakit? Sakit parah yang sebentar lagi akan menghilangkan nyawanya. Membawanya jauh jauh dariku?

 

Aku menggeleng keras. Tidak, tidak mungkin dia sakit. Gembul sangat sehat, dia tidak mungkin sakit. Wajahnya tidak terlihat pucat dan dia juga tidak sering mengeluh sakit seperti scene kebanyakan. Dia masih terlihat segar, tampan seperti biasa.

 

Aku mengambil ponselku dan mengetikkan beberapa pesan untuknya.

 

‘Hari ini kita jalan jalan, ya? Aku sedang bosan dirumah’

 

Tak lama hingga balasan pesan darinya masuk, dan menyetujui ajakanku. Dengan senyum mengembang, aku segera bersiap. Mengambil baju terusan selutut berwarna pinktosca-hitam-ungu yang tersusun secara mozaik ku itu. Mengikat asal rambutku hingga keatas dan mengambil tas selempang kecil setelahnya. Dengan flat shoes berwarna hitam bertahktakan hiasan bunga kecil perak ditengahnya, aku melangkah gembira menuju rumahnya.

 

-o0o-

 

“Gembul, gendong~” Aku merentangkan tanganku menghadapnya. Demi Tuhan, berjalan kaki seharian ini membuat lututku terasa lemas dan mungkin akan ambruk detik ini juga. Hari terakhir libur sekolah demi masa tenang menuju ujian kelulusan, kugunakan dengan bermain seharian penuh bersama Cho Kyu Hyun.

 

Kyu Hyun melihatku lalu mendengus, tapi dia melakukanya. Dia duduk berjongkok di depanku, menyediakan punggungnya untuk menjadi sandaranku “Naiklah”

 

Dengan senang hati, aku menerimanya. Ku kalungkan lengaku melingkari lehernya. Kedua tangannya dengan sigap menjadi alat untuk sanggahan kedua kakiku supaya tidak jatuh. Ya Tuhan, aku merasa nyaman seperti ini. sangat amat nyaman, melebihi apapun di dunia ini.

 

Kuhirup harum rambutnya di hidungku dan tanganku lebih memeluknya erat. Udara sore hari ini begitu terasa lembut, menemani kami berdua.

 

Kyu Hyun terus berjalan di jalan setapak taman ini. Dan sekali lagi, aku mencari kenyamanan diantara kami. Kueratkan kembali pelukanku, kuletakkan kepalaku menyender diatas bahunya. Hingga masing masing sisi kepala kami menempel sempurna. Kyu Hyun~ah, kenapa aku begitu menyukainya?

 

“Gembul, berjuanglah untuk besok” kataku pelan, dan aku yakin dia dapat mendengarku. Karena bibirku sangat dekat dengan telinganya.

 

Kurasakan dia tersenyum dan mengangguk sekilas “Kau juga, pendek”

 

“Gembul~”

 

“Heum..?”

 

“Gembul~”

 

“Apa, pendek?”

 

Aku tidak tahu kenapa tiba tiba, jantungku berdetak kencang. Tanganku bergetar dan rasanya, aku ingin seperti ini terus bersamanya. Selamanya “ Gembul—“ Aku berucap, dan entah kenapa suaraku terdengar parau. Mataku tiba tiba memanas. Aku ingin menangis entah untuk alasan apa. Aku kenapa sebenarnya?

 

“Apa?” dia menjawabnya dengan sabar

 

“Jangan pernah tinggalkan aku” kalimat itu berhasil keluar. Dia sontak berhenti melangkah dan sedikit memiringkan kepalanya kesamping guna melihatku.

 

“Aku tidak tahu kenapa, tiba tiba aku merasa takut. Tapi aku bersungguh sungguh. Jangan meninggalkanku” Aku mengeratkan pelukanku padanya “Aku takut, Cho. Aku takut jika tidak ada dirimu disampingku”

 

Aku merasakan setes air mata jatuh hingga membasahi baju Kyu Hyun. Dengan sekuat tenaga aku menggigit bibir bawahku untuk menahan isakan yang ingin keluar. Demi Tuhan aku tidak tahu sama sekali kenapa aku menangisinya untuk alasan yang tidak jelas. Tapi saat merasakan hangat tubuhnya di tubuhku, dan merasakan begitu nyamannya aku bersama dirinya, membuatku tiba tiba berada dalam puncak kesedihan tiada tara saat membayangkan kalau kalau dia pergi meninggalkanku. Pergi dari sisiku. Tak ada lagi Cho Kyu Hyun yang memboncengiku naik sepeda, tak ada lagi Cho Kyu Hyun yang akan mengajariku matematika, dan banyak hal lainnya yang sering kulakukan dengannya. Sungguh, aku benar benar tidak sanggup kehilangannya. Tuhan, boleh aku bertanya sesuatu? Sebenarnya, perasaanku ini apa?

 

“Kyu Hyun~ah” aku menghela nafas, mencoba menetralkan detak jantungku yang masih bergerak cepat. Dan menahan lagi air mata yang ingin keluar.

 

“Ya, Hyuna~ya?” Ya Tuhan.. kenapa saat ini, mendengar suaranya begitu indah dan meneduhkan di telingaku?

 

Aku memejamkan mata, dan kembali berucap“Aku sangat menyayangimu. Jangan pernah tinggalkan aku”

 

-o0o-

 

Ujian kelulusan sudah berlalu. Dengan hati berbunga bunga bak orang jatuh cinta, aku melangkah riang menuju rumah Kyu Hyun dengan tujuan mengajaknya pergi bersama ke pesta prom night besok malam, setelah siang tadi menerima pengumuman bahwa aku lulus.  Tentu, Cho Kyu Hyun juga lulus.

 

“Bibi!” Aku melihat ibunya berada di ruang tengah, sedang membaca majalah. Dan dengan sedikit berlari kecil ku hampiri Ny. Cho memeluknya singkat dengan senyum sumringah yang selalu kutunjukkan padanya.

 

“Hyuna, bagaimana nilai kelulusanmu?” Tanya nya sembari mengelus kepalaku. Ah~ bibi Cho memang ibu keduaku.

 

“Eh—itu.. “ Aku menggaruk kepalaku sejenak “Yang pasti, tidak sebagus Kyu Hyun” cengirku.

 

Bibi Cho tertawa lalu menepuk pelan pundakku beberapa kali “Yang penting kau lulus. Tapi, untuk selanjutnya kau harus belajar lebih giat untuk meningkatkan nilaimu. Kyu Hyun bilang, kau sangat ingin menjadi dokter kan? Kalau begitu, kau harus belajar lebih keras, sayang”

 

Ne! Algesseumnida~” Aku mengangguk semangat dan kembali memeluknya.

 

“Bibi, gembul ada?”

 

“Kyu Hyun baru saja pergi ke game store. Katanya, game terbaru yang dia nantikan sudah keluar”

 

“Eissh~ anak itu maniak sekali dengan game” tanpa sadar aku menggerutu, membuat bibi Cho tertawa “Seperti yang kita berdua tahu”

 

“Bibi, aku boleh menunggu di kamarnya?”

 

“Apa aku pernah melarangmu?” Aku tersenyum lantas berdiri dari dudukku

 

I Love You, bibi” seruku sembari membuat love sign dan berlari menuju kamar Kyu Hyun, meninggalkan bibi Cho dengan gelengan kepalanya menatapku.

 

-o0o-

 

Aku menghempaskan tubuhku di ranjang single bed milik Kyu Hyun. Kutatap langit langit kamarnya yang bercorak bintang. Aku tersenyum kecil. Gembul selalu bermimpi menjadi bintang, menjadi seorang superstar. Dibalik sikap acuhnya, dibalik kepintarannya, dibalik kegemarannya bermain game dia mempunyai cita cita menjadi seorang penyanyi. Penyanyi yang mendunia.

 

Kulirik sekilas gitar tua yang berada di samping ranjangnya. Gitar yang selalu dia pakai untuk bernyanyi, memberikan suara indahnya yang begitu merdu untuk bisa kudengar. Gitar ini, adalah gitar peninggalan mendiang ayahnya. Dan Kyu Hyun, sangat mencintai gitar tua itu melebihi apapun.

 

Aku terduduk di pinggir ranjang dan mengamati sekali lagi isi kamarnya. Kamar ini, sudah beratus ratus kali kumasuki. Tapi entah kenapa, aku tidak pernah bosan dan merasa nyaman menempatinya. Aku tersenyum saat menangkap beberapa foto diriku bersama nya di figura kecil di nakas samping tempat tidurnya.

 

Namun senyumku perlahan pudar digantikan dengan beberapa kerutan di dahiku saat aku melihat sebuah koper berada di sudut kamarnya. Aku tidak akan seheran ini kalau koper itu kosong. Tapi apa ini? Koper itu terlihat sangat penuh oleh baju bajunya. Hey, dia mau kemana? Berlibur? Kenapa tidak mengajakku?

 

Kudekati koper itu perlahan. Berusaha menyentuhnya dengan tanganku. Begitu dapat, kugerakan telapak tanganku di permukaan baju bajunya yang terasa begitu lembut di jemariku. Benang benang yang tersusuh rapih itu membuat ku tertarik untuk terus menyentuhnya hingga tiba tiba jantungku kembali berdegup kencang. Pikiranku mulai dipenuhi dengan hal hal negative. Mataku tiba tiba saja memanas. Membuat aku mendesis, memaki diriku yang sangat bodoh karena menangis tanpa alasan yang jelas. Akhir akhir ini, aku menjadi memang lebih sensitive dan mudah menangis. Mungkin, karena hormon keremajaanku yang labil. Tapi sumpah Demi Tuhan, aku merasakan sesuatu yang tidak enak.

 

“Hyuna?” Aku berbalik cepat saat mendengar suara bass nya. Kutatap pria di depanku itu dengan seksama. Cho Kyu Hyun. Kenapa perasaanku begitu semu terhadapmu? Kita bersahabatkan? Tapi kenapa rasanya, aku tidak bisa menerima itu. Kyu Hyun~ah, kenapa lagi dengan jantungku sekarang? Kenapa dia berdetak begitu keras saat melihatmu. Aku terus menerus berperang dalam otak dan hatiku, bertanya tanya apa yang salah pada diriku.

 

“Kau kenapa? Kau menangis?” Dia meletakkan bungkusan yang dipegangnya di meja –yang kurasa adalah kaset game incarannya- dan berjalan menghampiriku. Tubuhnya yang memang lebih tinggi dariku berada satu langkah didepanku. Aku mendongak, menatap wajahnya. Cho Kyu Hyun. Sejak kapan perasaan aneh ini timbul?

 

“Kyu Hyun~ah” Aku memeluknya. Aku memeluk tubuhnya. Ku dekap dia dalam jangkuan kedua tanganku yang mungil. Kusandarkan kepalaku di dada nya yang hangat. Kuhirup aroma parfume nya yang tidak begitu menyengat, khas anak remaja. Begitu lembut dan menenangkan.

 

Yah~ wae geurae?” Dia bertanya, sembari membalas pelukanku. Dan ini lebih menyenangkan dari apapun, kurasa.

 

“Besok, datanglah ke prom night bersamaku” Ini bukan ajakan yang membutuhkan jawaban. Aku menyuruhnya, aku memerintahkannya. Sebuah kalimat yang dilandasi dengan keharusan.

 

Dia tidak menjawab, dan malah mengeratkan pelukannya padaku. Membuat ku semakin takut. Kyu Hyun~ah, ada apa ini?

 

“Pokoknya, kau harus datang dan pergi bersamaku. Harus!”

 

-o0o-

 

Bibi Cho memandangku dengan seulas senyum getirnya yang tampak sangat jelas. Membuatku mengernyit bingung dengan segala pemikiran aneh mulai bermuncula di otakku.

 

“Bibi, Kyu Hyun sudah siap kan?” Tanyaku sekali lagi. Aku masih berdiri di depan rumahnya dengan memakai gaun satin berwarna peach yang sudah eomma siapkan dari berminggu minggu lalu, khusus untuk acara malam ini. Dengan keahlian ber-make up eomma, aku juga sudah disulap menjadi angsa putih yang cantik.

 

“Akan lebih baik, jika kau ke kamarnya sekarang” Aku menatapnya bingung. Namun tetap menuruti perkataannya.

 

Kulangkahkan kakiku, pelan .. pelan.. teramat pelan. Kembali, jantungku bertalu talu, berulah di saat yang tidap tepat. Tanganku berkeringat dan mulai merasakan getaran kecil disana.

 

Kubuka pintu kamarnya yang terasa sangat sepi.. dan rapih.

 

“Gembul, kau sudah siap kan?” Aku memanggilnya. Namun aneh, aku tak mendapati siapapun di dalam ruangan berukuran sedang ini.

 

“Gembul, kau dimana? Jangan bercanda! Cepatlah, acaranya akan dimulai setengah jam lagi. Aku tidak mau kita terlambat” Aku mulai cemas saat tak mendapat sahutan apapun dikamarnya. Tapi tak butuh waktu lama utuk aku menyadari bahwa memang tidak ada orang di ruangan ini, karena saat kubuka kamar mandi yang terletak disana, aku hanya mendapati ruangan kosong yang gelap.

 

“Cho Kyu Hyun, neo eoddiya?” Aku berkata lirih, suaraku mulai bergetar. Tak sengaja mataku menatap tempat dimana kopernya bersemayam kemarin, kosong. Koper itu sudah tidak ada lagi disana. Dengan pandangan mata mulai mengabur dan detakan jantung yang menghentak keras, ku dekati lemari bajunya. Ku buka pintunya dengan serampangan.

 

Kosong.

 

Tak ada apapun disana. Kubuka pintu sebelahnya lagi, hanya menemukan beberapa lipat kemeja dan kaos, serta seragam sekolahnya disana.

 

Dengan gelap mata, aku membalikkan tubuhku. Kini, fokusku menatapi seluruh seluk beluk kamarnya yang baru kusadari beberapa barang menghilang. Komik komiknya, beberapa buku pelajaran, psp yang selalu dia letakkan di atas meja belajar, gitar kesayangannya, dan.. beberapa potongan foto diriku bersamanya.

 

“Cho Kyu Hyun” Aku berkata lirih, satu tetes air mata telah jatuh tanpa kusadari “Andwe.. andwe” kugelengkan kepalaku, merasa tidak yakin, merasa tidak percaya. Tidak mungkin Kyu Hyun pergi kan? Tanpa ku ketahui?

 

Bibirku bergetar dan mataku mengabur dengan sempurna. Kugigit bibir bawahku menahan isakan. Ini tidak benar, sungguh tidak benar.

 

Aku melirik pintu kaamarnya yang terbuka perlahan, berharap itu adalah Kyu Hyun yang masuk. Tapi harapanku sia sia, saat mendapati bibi Cho yang masuk lalu bediri di depanku. Kulihat, air matanya juga mengalir menatapku. Kasihankah?

 

“Kyu Hyun menitipkan ini, untukmu” Dia memberiku sebuah kotak kecil dengan sepucuk surat berwarna pink, warna kesukaanku. Dan setelahnya, bibi Cho keluar.

 

Dengan perasaan semu yang menyakitkan, dengan lelehan air mata yang keluar satu persatu, dan dengan perasaan mencoba mneguatkan hati, ku buka surat itu. Dan tulisan cantiknya lah yang pertama kali kulihat.

 

Dear, Hyuna.

Maaf ..

Karena mungkin saat kau membaca ini, kau tidak dapat menemukanku. Iya,kan?

Maaf ..

Untuk tidak bisa mengatakan hal ini padamu sebelumnya.

Maaf ..

Karena mulai sekarang, aku tidak bisa lagi mengajarimu matematika, membawamu berjalan jalan bersama, memboncengimu menaiki sepeda.

Maaf..

Untuk beberapa permohonan maafku yang mungkin tidak bisa kau terima.

Hyuna, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku membenci diriku yang bahkan terlalu pengecut untuk mengatakannya. Kita bersama sama sejak kecil, bahkan seperti yang sering aku bilang, aku mengenalmu sejak kau masih bayi merah. Tapi setelah dipikir pikir, saat kau masih bayi merah, mungkin aku juga hanyalah si kecil Kyu Hyun yang baru berusia dua bulan dan hanya bisa menangis, kan? Kkk~

Kita tumbuh bersama, membuat aku tahu begitu banyak tentangmu. Dan terkadang, aku menjadi takut memikirkan bagaimana jika kita berpisah suatu saat nanti. Karena tanpa kusadari, perasaanku mulai berbeda padamu. Entah sejak kapan, tapi aku berusaha menampiknya. Karena takut, hubungan kita akan rusak.

Hyuna, satu yang pasti kau tahu. Bahwa aku, Cho Kyu Hyun.. sangat amat menyayangimu.

Dengan tempo yang lama kebersamaan kita, membuatku mulai mengerti satu persatu apa yang kurasakan padamu. Alasan apa yang mendasari aku terlalu sering mengacaukan kencan kencamu. Dan kenapa aku begitu takut dan cemas saat melihatmu jatuh sakit. Mungkinkah ini memang sebuah rasa yang seperti orang orang bilang, Hyuna? Apakah memang benar ini.. cinta? 

Pendek, kesayanganku..

Maafkan aku untuk yang satu ini. Aku.. harus benar benar pergi Hyuna~ya. Aku sudah pernah bilang padamu untuk tidak terus menerus bergantung padaku kan? Karena ada saatnya, dimana waktu untuk kita bersama telah habis.

Berbahagialah tanpa ada aku disisimu. Belajarlah dengan giat walau tanpa aku yang mengajarimu. Carilah seorang pria yang benar benar menyayangimu. Kurasa, Dong Hae juga cocok untukmu. Kkk~

Kutinggalkan sesuatu untukmu, sebagai hadiah kelulusanmu. Dan maaf lagi, karena aku tidak bisa menemanimu ke acara prom night. Aku menyesal harus pergi sebelum melihat, si pendek-ku berubah menjadi angsa putih cantik malam ini. Kau pasti sangat cantik, kan malam ini?

Aku hanya bisa berharap, kita bertemu lagi suatu saat nanti. Dan berharap, jika saat itu tiba Tuhan sudah benar benar membuka jalan terbaik untuk kita berdua. Pakailah barang pemberianku ini setiap saat Hyuna, jangan merasa sendiri karena aku tidak ada. Aku ada didekatmu, kutinggalkan cincin ini.. bersama hatiku yang sudah berada dalam genggamanmu.

Jangan menangis, pendek. Kau harus cantik malam ini! kkk~

Aku menyayangimu.. Hyuna.

With Love : Cho Kyu Hyun

 

Aku terduduk lemas di dalam kamarnya. Bukan suara isakan lagi kali ini, tapi melebihi raungan. Kubuka kotak kecil itu dan mendapati sebuah cincin berada di sana. Dengan tangan bergetar dan pandangan mengabur, kuambil cincin itu.

 

Kupandangi dia, penuh kasih dan cinta seperti aku memandang Kyu Hyun di depanku. Ku genggam, lalu kupeluk cincin itu dalam tangis pilu di kamar ini. Aku ingin memeluknya, aku ingin meyentuhnya sekarang. Aku tidak bisa kehilangannya, dia nafasku, aku baru sadar itu. Cho Kyu Hyun, nan jeomngmal.. sranghaeyeo.

 

Aku tersendat sendat karena tangisku yang tak kunjung berhenti, menyebut namanya terus menerus dalam tangisanku. Aku tidak perduli betapa acak acakannya diriku sekarang. Make up ku semua luntur dan membuat wajahku seperti monster dengan eyeliner yang berceceran disekitar mataku.

 

“Kyu Hyun~ah, Cho Kyu Hyun”

 

Bibi Cho masuk dan memelukku saat mendengar tangisanku yang belum mereda. Wanita itu mendekapku dengan sayang dan memelukku erat “Kau harus menerima ini, Hyuna. Seperti aku yang membiarkan dia pergi. Ini untuk kebaikannya juga, demi kesembuhannya” aku tersentak, lantas melepas perlahan pelukan bibi Cho dan menatapnya dengan sayu, walau masih ada isakan kecil dibibirku. Wanita paruh baya itu menangis, dia juga terisak di depanku.

 

“Kyuhyun sakit, sayang. Dia sakit. Kanker Hati. Dia pergi, berobat ke luar negeri bersama paman nya. Untuk itu, kau harus bisa berdiri sendiri tanpa dia disampingmu mulai sekarang. Kau gadis hebat, Hyuna~ya. Jangan buat dia kecewa saat suatu saat nanti kalian dipertemukan kembali”

 

Aku menutup mulutku yang terbuka, benar.. ternyata benar dugaanku! Kyu Hyun sakit. Ya Tuhan, apalagi ini?!

 

Aku kembali menangis dan memeluk kembali bibi Cho dengan erat. Meredamkan isak tangisku dibahunya. Tuhan, sembuhkanlah dia. Dia, Kyu Hyun-ku. Pria yang kau ciptakan untuk terus melindungiku, kan? Jadi kumohon, selamatkan dia.

 

“Cho Kyu Hyun, ayo bertemu. Suatu saat nanti”

 

-o0o-

 

Seoul, 2014

Kanker hati adalah penyakit mematikan nomor 3 di dunia dengan julukan ‘pembunuh yang bertindak diam diam’ karena kanker hati tidak menunjukkan gejala tertentu. Dan kalaupun ada, lebih dari 40% pasien tidak mengalami gejala terdiagnosis.

 

Aku tersenyum samar. Akhirnya aku mengetahui dengan jelas apa itu Kanker Hati. Selama bertahun tahun, aku belajar mengenai berbagai penyakit. Membuka berpuluh puluh situs berbeda demi menyamakan kebenaran, membaca buku kedokteran yang halamannya hingga menjapa 1000 halaman. Dan harus berkutat dengan alat alat tajam serta darah setiap kali praktik. Tapi itu semua tidak sia sia, aku seorang dokter saat ini.

 

Kejadian bertahun tahun lalu membuat niatku menjadi dokter bertambah hebat. Aku bukan Park Hyuna yang butuh seseorang disampingnya semenjak Kyu Hyun pergi. Aku lebih tertarik pada ambisiku untuk benar benar menjadi dokter. Karena semenjak mengetahui Kyu Hyun sakit, aku menjadi orang yang merasa begitu bodoh karena tidak mengetahui itu. Membuatku merasa harus-dan-harus mewujudkan profesi dokter sebagai karirku, demi menyembuhkan orang orang di dunia ini.

 

Kini aku berdiri, di depan sebuah bangunan menjulang tinggi yang begitu banyak dikenal orang. Royal Entertainment. Sebuah agensi besar yang mempunyai banyak sekali orang orang betalent didalamnya.

 

Aku kembali tersenyum saat melihat cincin itu masih terus melingkari jari manisku. Aku tidak akan melepaskannya, tidak akan pernah. Kecuali Kyu Hyun yang meminta. Cincin ini, beserta hatinya akan tetap berada dalam genggamanku.

 

Teringat kembali ke masa dulu, lima tahun setelah kepergian Kyuhyun, bibi Cho mengabari kalau pria itu telah sembuh total dari penyakitnya. Membuatku menangis haru dan menantinya untuk pulang. Tapi semua harapan itu lagi lagi harus kutelan dengan kekecewaan, karena dia tak kunjung pulang ke Busan.

 

Aku masih dalam tahun terakhirku di Universitas Busan saat Bibi Cho berpamitan padaku. Beliau pindah, ke Seoul. Meninggalkan kabar mengejutkan untukku. Kyu Hyun masuk ke salah satu agensi artis disana karena ternyata, setelah penyembuhannya dia menetap di Seoul demi mewujudkan cita citanya. Memulai trainee nya untuk menjadi penyanyi. Dan bibi Cho memutuskan untuk tinggal di sana agar lebih dekat dengan Kyu Hyun dan bisa memberikannya semangat.

 

Mendengar itu, aku malah merasa tidak ingin bertemu dengannya. Karena yang ada di otakku saat itu adalah, aku harus berusaha keras menjadi dokter terlebih dahulu, baru aku bisa menemuinya. Cho Kyu Hyun berusaha mewujudkan impiannya, begitu pula aku. Aku harus membuatnya bangga padaku, aku harus membuatnya melihat betapa aku hidup baik baik saja saat tak ada dirinya. Meskipun terkadang, rasa sesak saat merindukannya itu selalu hadir. Kami benar benar lost contact selama bertahun tahun.

 

Kini aku berdiri di depan gedung ini, mendapat informasi bahwa penyanyi solo Cho Kyu Hyun akan datang ke agencynya hari ini. Penyanyi solo yang sedang dielu elukan orang diluar sana, karena suaranya yang mampu membius hingga ke gendang telinga setiap pendengarnya. Dan ketampanannya yang mampu meluluh lantakkan hati para gadis yang memujanya begitu dalam.

 

Mataku menyipit saat sebuah van berhenti di depan gedung. Dengan segera, beberapa pers yang turut hadir dan fans yang menunggu diluar segera mengerumuni van itu. membuatku beberapa kali terhuyung karena desakan yang bertubi tubi dari berbagai arah.

 

Aku membeku. Aku melihatnya, aku menatapnya. Aku menemukannya. Turun dari dalam sana, dengan kaos putih bergaris hitamnya dan celana jeans. Dia melepas kacamata besarnya lalu tersenyum ramah pada semua penggemarnya.

 

Itu Kyu Hyun-ku. Dia gembul-ku.

 

Tuhan mempermudahku, saat dengan tidak sengaja matanya menatapku. Terdiam dalam keheningan beberapa lama dan membuat mataku mulai memanas lagi. Dia menyadari kehadiranku, dia melihatku. Namun seketika, senyumku pudar saat seorang gadis berlari kepelukannya dan menciumnya lembut. Tepat di hadapan para wartawan dan fans fansnya. Yang membuat mereka berteriak histeris karena pangeran pujaan mereka dicium oleh gadis lain.

 

Tak perlu kujelaskan, aku pergi dari sana. Menjauhinya.

 

-o0o-

 

Entah aku berada dimana saat ini. Hanya bisa menatap benda kecil berbentuk lingkaran yang tergenggam dalam jemari ku yang mulai menggigil karena udara dingin yang masuk perlahan melalui pori pori kulitku. Mataku menatap nya nanar dan mulai memanas. Hingga kurasakan pengelihatanku kabur karena rembesan air mata yang dengan lancangnya menyeruak turun, tetes demi tetes.

 

Derasnya air dibawah sana mengingatkan ku lagi tentang tujuanku berada di tengah jembatan ini. ku tengok sekali lagi ke dasar hingga merasakan bulu kudukku meremang melihat air sungai itu dengan deras, keras, dan bertubi tubi menerjang batu batu besar yang sebagiannya terlihat ke permukaan.

 

Malam semakin larut dan aku mulai meyakinkan tekadku. Tunggu, apa kalian berfikiran bodoh saat ini? Berfikir bahwa aku akan dengan senang hati melemparkan tubuhku ke bawah? Biar kuperjelas. Aku bukan gadis bodoh yang rela mengakhiri hidupku hanya karena alasan klise, patah hati. Hanya.. rasanya tempat mengerikan inilah yang aku pilih untuk membuang segala macam memori baik-buruk dirinya di benakku. Yang sudah bertahun tahun lamanya bersemayam, dan harus kubuang saat ini juga.

 

Jika aku bertanya pada kalian tentang ini, apa kalian sependapat denganku? Persahabatan yang terjalin antara pria dan wanita itu bulshit! Ya, kan? Kebersamaan mereka, canda tawa, sedih senang.. mereka melakukan semuanya bersama. Namun sadarkah kalian, diantara kebersamaan kebersamaan itu akan timbul suatu perasaan berbeda, perasaan lain yang menyusup hingga menggerogoti relung hatimu, membuatmu terlalu senang saat berada dalam jarak teramat dekat dengannya dan membuatmu meraung seperti orang gila saat melihatnya berdekatan dengan seorang lainnya. Kalian tidak setuju? Yang jelas, ini pendapatku.

 

Intinya. Aku mencintainya. Aku mencintai Kyu Hyun ku tanpa bisa kucegah. Semua kebersamaan kami, membuatku jatuh dalam jurang cintanya. Dan dengan sesaknya, hari ini dia mematahkan rasa itu, bahkan sebelum aku mengungkapkannya.

 

“Hei, pendek” aku mengalihkan pandanganku seketika, dan tersentak saat menemukannya berdiri beberapa langkah di depanku. Menopang tubunya dengan lengan yang ditumpukan dilututnya, dan sedikit terengah.

 

“Kyu Hyun?” Aku berucap tak percaya.

 

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku

 

“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan tengah malam begini. Disini. Sendirian”

 

Dia berjalan kearahku, membuatku mengkeret mundur hingga punggungku menumbur pembatas jembatan. Cho Kyu Hyun, benarkah ini kau? Benarkah ini kau gembul? Bertahun tahun tidak bertemu, kau semakin menyilaukan dimataku. Kyu Hyun~ah, boleh aku memelukmu sekarang?

 

“Ibu dokter, seharusnya tidak berada disini” Dia berkata lembut, lalu menunjukkan senyum lamanya yang benar benar aku rindukan. Membuat nafasku tercekat untuk sepersekian detik. Aku merindukannya, jelas, pasti, aku merindukannya.

 

Dia menatap kearah genggaman tanganku, memegangnya lalu membukanya. Menghela nafas saat melihat cincin yang tergenggam di dalam sana. “Sudah kubilang untuk memakainya” katanya lembut. Nafasnya menerpa wajahku, membuat bulu kudukku merinding.

 

Dia mengambilnya, lalu memasangkannya kembali di jari manisku “Kenapa melepasnya saat bertemu denganku? Padahal aku tahu, selama ini kau tidak pernah melepasnya”

 

Aku tersentak “Bagaimana kau bisa tahu?”

 

Eomma yang bilang. Dan dia tahu dari ibumu. Kau tidak pernah berikir mereka masih saling berhubungan sampai sekarang?” Dia tersenyum, dan sekarang terkesan mengejek. Tapi aku menyukainya.

 

“Mau apa kemari?” tanyaku sedikit acuh.

 

“Menjemput gadis pendek-ku. Apa lagi memangnya”

 

“Dengar Kyu, aku tahu kau berbeda sekarang. Dan aku tahu kau lebih pantas bersama dengan gadis yang tadi itu” Aku menghela nafas dan mencoba menatapnya. Ya Tuhan, aku berbicara seperti ini dengan rasa sok tegar “Ja-jadi.. j-adi.. aku berniat untuk melupakan segala kebersamaan.. kita” Mataku kembali memanas, oh Tidak, jangan menangis sekarang!

 

“Apa ini kalimat yang sepantasnya kau ucapkan saat kita kembali bertemu setelah berpisah bertahun tahun lamanya?”

 

Aku menatapnya cepat, mengusap degan pelan air mataku “Maaf jika itu kurang berkenan dihatimu. Tapi, hanya itu yang bisa kuucapkan untuk sekarang”

 

Aku tersentak saat dengan cepat dan nafas memburu, Kyu Hyun menarik lenganku. Memasukkan tubuhku kedalam rengkuhan hangatnya dan merasakan kembali perasaan bahagia yang seringkali kurasakan saat memeluknya seperti dulu. Aku menangis. Lagi. Terhitung, pelukan terakhir kami adalah malam sebelum prom night kelulusan sekolah menengah pertama kami. Dan saat ini, kami sudah berumur dua puluh enam tahun. Lama sekali, aku tidak merasakan kehangatan ini darinya.

 

“Kau tidak membaca suratku dengan benar? Bukankah aku bilang saat Tuhan mempertemukan kita kembali, akan ada jalan terbaik untuk kita berdua?”

 

Aku terisak di dadanya, ku remas pinggiran kemeja hijau yang dipakainya. “Tuhan tidak menginginkan kita bersama, karena kau lebih pantas dengan gadis tadi itu Kyu” kataku parau.

 

“Bodoh!” sentaknya “Dia sepupuku, pendek. Kau tidak ingat? Dulu dia pernah beberapa kali mengunjungi rumahku dan bermain bersama kita?”

 

Aku terdiam, mencoba mengingat ingat “Dia.. Se Ra?” Kyu Hyun mengangguk. Lalu dia berdecak “Apa apaan ini, sudah ada salah paham di pertemuan kita kembali”

 

“Maaf” Aku meyembunyikan kembali kepalaku di dadanya, dan perasaanku menghangat. Melega. Jadi tadi itu Se Ra. Ya Tuhan, kenapa aku begitu bodoh tidak mengenalinya?

 

“Lalu apa sekarang?” Tanyanya, membuatku melepas pelukannya dan menatapnya.

 

“Apa?”

 

“Bagaimana dengan kita?”

 

Aku menatapnya dalam. Menjelajahi sorot mata teduhnya yang begitu lama tak bisa kulihat. Dengan tanpa sadar, tanganku bergerak. Menyentuh pipinya lembut. Dia benar Kyu Hyun-ku, yang kini tampak lebih dewasa dan begitu tampan. Beitu rupawan. Kuusap perlahan kedua pipinya, membuat nya terpejam. Kurasakan satu tetes air mata jatuh, air mata bahagia karena bisa melihatnya “Aku merindukanmu, gembul” aku berkata dengan suara parau. Dia membuka matanya, dan menatapku.

 

Bibirku bergetar dan kembali berucap “Aku.sangat.merindukanmu Cho Kyu Hyun” mataku gencar menjelajahi seluruh permukaan wajahnya “Kenapa kau jahat sekali, tidak memberitahukannya padaku. Tidak pamit padaku saat pergi. Kau menghilang dengan cara yang membuatku sakit saat itu, kau jahat!” Aku terisak kembali, Tuhan kenapa aku begitu cengeng.

 

“Ssst..” Kyu Hyun menangkup wajahku. Ibu jarinya mengusap air mataku. Dan tanpa kuduga, dia mengecup mataku. Keduanya. Dengan lembut.

 

“Maafkan aku, aku terlalu takut untuk bertatap muka denganmu saat itu. Aku tidak bisa mengucapkan salam perpisahan secara langsung padamu. Aku terlalu takut tidak bisa lagi melihatmu, Hyuna~ya”

 

“Karena kepergianmu, aku menyadari sesuatu. Kyu Hyun~ah.. nan –“ Aku menangkup wajahnya “Nan jeongmal, saranghae” Ku tatap kembali ke dalam matanya “Aku mencintaimu, gembul. Jangan pernah tinggalkan aku lagi. Jika kau sakit lagi, aku akan menyembuhkanmu! Aku dokter hebat sekarang” aku mengatakannya dengan terisak. Benar benar menyisipkan suatu permohonan disetiap kalimatku agar dia tidak pergi lagi. Aku tidak sanggup jika dia meninggalkanku untuk kedua kalinya.

 

“Aku juga mencintaimu, Hyuna. Aku berjanji, atas nama Tuhan.. aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu”

 

Aku memejamkan mataku saat dia mendekatkan wajahnya. Dan ini adalah ciuman pertamaku yang begitu indah. Begitu menyenangkan saat mengetahui fakta bahwa Kyu Hyun-ku lah yang menciumku, bukan orang lain. Dia menciumku, begitu lembut dan sarat akan kasih sayang. Menyisipkan berbagai permintaan maafnya yang dapat kuterima kini. Kepergiannya telah membuat kami menyadari perasaan semu yang awalnya berusaha kami tolak itu. Dan filosofiku mengenai persahabatan antara pria dan wanita itu, benar kan? Karena pada akhirnya kami yang menjadi sahabat dari kecil, kini berakhir dengan menjalin suatu perasaan kasih yang benar benar tulus. Aku mencintai Kyu Hyun. Dan Kyu Hyun mencintaiku. Sesederhana itu, namun begitu mengesankan. Cerita cintaku, benar benar hebat, kan?

 

 

FIN

Advertisements

20 thoughts on “Hyuna’s Love Story

Add yours

  1. wahh keren banget ceritanya dgn akhir yg bahagia untk mereka. daebakkkk ditunggu karya selanjutnya yg lebih keren 😀

  2. biasanya klo ff temany sahabt jdi cinta mesti sad ending, tp untung ini happy ending.. jadi berkesan banget.. xD coba konflikny dbikin panjang pasti tambah seru, hihii xD
    oh, btw aku fe ibnida, new reader.. bangapta ^-^

    1. ini kan cerita ringan dear, sengaja dibuat konfliknya ga terlalu rame. malahan tdinya scene si Kyuhyun sakit itu tdinya gamau aku masukin. cuma pengen fokus nyeritain kisah cinta ala2 anak sekolah sama sahabat cwonya yang gamungkin ga ada rasa haha *curhat wkwkwk thanks for reading! ^^

  3. ya ampunnnn! ni ff buat gue nyesek terus senyum senyum sendiri pas baca ending. aaaaghrr! persahabatan antara pria dan wanita itu emang bushit! gue setuju sama lo thor xD

  4. Aaaaaaah pengeeeeeen :’)
    dan sygnya sy selalu mengalami love story yang sad ending :’) -____-.kan asem.maapkan,jadi curhat.
    kereeeeen.kereeeeen bahasanya bagus.cara penulisannya jugaaaa.kereeen

  5. pas ditengah tengah matanya udah berkaca kaca .apalagi pas bagian akhirr …
    hiks aku kira itu emang pacarnya kyuhyun .eh ternuta cuma sepupu 😦 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: