My Love For You (Part 2 of 2)

1395875991883_副本

 

Author  : Dyah Ayu Pytaloka

Title  : My Love For You

Main Cast : -Cho Kyuhyun  –Park Hyun Ah (Hyuna)

Genre : Romance

Rating : 15

Desclimer   : Ide ceritanya muncul waktu nganterin Bunda ke rumah temennya. Dan disana ada anak yang lebih muda dari aku ‘brondong’ *ehem yang kece nya ga ketulungan ><  Terus jadi kepikiran gimana kalo ini dibuat cerita! Haha otak otak orang suka nulis ya gini XD.  JADI JANGAN COBA COBA PLAGIAT YAA?? INI JELAS MURNI PUNYAKU DAN KALO ABSURD CERITANYA YAAA.. MAAP MAAP AJA MBAK, MAS, DEK SEKALIAN -,- kkk~

 

Contact me at twitter @Tatagyu96

 

Just Listen To :

Super Junior M – My Love For You

AoA – Love Is Only You

Toheart – Tell Me Why

 

WARNING : LONGSHOT AND MANY TYPO ! -.-

 

 

“Just hoping for the day when you’ll see My Love For You”

 

Sekali lagi, gadis itu mengecek jam yang kini menunjukkan pukul 11.30 malam di iPhone bercase gold miliknya. Ya Tuhaan.. ini bahkan sudah sangat sangat malam dan gadis itu masih menunggu seseorang disana dengan hanya menggunakan pakaian yang tidak cukup untuk menghangatkannya dari angin malam yang cukup menusuk.

 

Park Hyuna tetap pada pendiriannya. Duduk di salah satu kursi dari dua kursi yang telah di hias sedemikian rupa hingga menjadi kursi bak singgasana para raja dan ratu di masa silam. Dia menatap nanar masakan istimewa yang sudah susah payah ia buat untuk ini, dan sekarang masakan itu sudah dingin, tidak ada lagi rupa untuk membuat orang berselera.

 

Satu pesan masuk di ponselnya dan ia dengan tergesa gesa membukanya, senyumnya sedikit terbit saat nama orang yang tengah ia tunggu itu tertera di sana namun seketika senyum itu langsung menghilang di balik keterkejutannya membaca kata demi kata pesan masuk itu.

 

From : Dong Hyun

Hyuna kau sudah terlelap di ranjang pink nyamanmu kan? Aku harap begitu. Maaf , aku benar benar lupa malam ini. sangat lupa, dan aku tahu aku salah. Aku bahkan merutuki kebodohanku sendiri yang lupa dengan undangan makan malammu. Maafkan aku.. dan terimakasih atas kado ulang tahun darimu pagi ini. Dan .. apa undangan makan malammu itu untuk merayakannya bersama? Ya Tuhan.. jika memang benar aku benar benar menyesal. Maafkan aku Hyuna, aku benar benar lalai. Aku sungguh sungguh minta maaf, aku akan membayar ini semua, aku janji.

Sekarang istirahatlah dengan nyaman, ok? Aku akan menghubungi besok! Ah~ ani.. aku akan langsung menemui besok! Tunggu aku! Dan sekali lagi,maafkan aku.

Ps : aku tidak sanggup menelepon mu untuk sekarang karena rasa bersalah ini. jadi aku hanya mengirim mu pesan. Dan maaf lagi untuk ini

 

 

Satu air mata jatuh menganak sungai di pipinya yang kini memerah karena dingin. Dia menatap miris segala sesuatu yang telah ia buat dengan susah payah untuk malam ini. tapi apa? Dong Hyun dengan teganya bilang jika dia melupakan janji itu. apakah Hyuna tidak terlalu penting untuk dirinya? Lalu selama ini, pria itu menganggap Hyuna seperti apa? Memberikan perhatian, tak pernah mengelak atau mengiyakan saat teman teman kampus mereka menggoda kalau mereka adalah pasangan serasi, dan .. apa salah jika Hyuna mengartikan semua sikap Dong Hyun itu lain? Ataukah.. dia salah menilai??

 

Dengan masih terduduk disana dan enggan beranjak, Hyuna memandang temaram langit malam yang kini kosong tanpa bintang. Dan sekali lagi, gadis itu tersenyum miris di balik tetesan air mata yang masih jatuh perlahan lahan. Bahkan bintang pun enggan menemaninya.

 

Hyuna menghembuskan nafasnya, hingga membuat gumpalan asap berterbangan kala ia melepasnya. Sungguh demi Tuhan, rasa dingin yang menusuk nusuk tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya yang kini menancap tepat di bagian terpenting dalam hidupnya.

 

Tak jauh dari sana, Kyuhyun mengepalkan tangannya kuat. Dia ingin berlari menghampiri gadisnya, memeluknya hingga mungkin membuat Hyuna terasa sesak, menghilangkan segala kesedihan yang Kyuhyun tahu tengah bersarang di hati Hyuna kini. Melindunginya dengan segenap perasaan cinta yang menguap menjadi penghangat bagi hati Hyuna. Sesimple itu, hanya se simple itu, tapi ia tak mampu melakukannya. Terlalu pengecut.

 

Rasa penasarannya yang sangat tinggi membuat pria tampan berkacamata itu membibingnya kemari sejak dua jam yang lalu. Menyaksikan bagaimana detik detik cintanya menghilang direnggut kakaknya sendiri. Lihat, bukankah dia terlalu munafik?

 

Tapi sedikit rasa lega ada saat mengetahui Dong Hyun tak menampakkan batang hidungnya hingga kini. Walau begitu, ia lebih marah. Sangat marah. Bagaimana bisa kakaknya itu membiarkan seorang gadis menunggu berjam jam di tepi danau dengan udara malam yang menusuk seperti ini? Hey! Bahkan Hyuna hanya memngenakan dress santai sifonnya yang jelas tidak bisa membuat tubuhnya hangat!

 

Brengsek kau hyung! Maki Kyuhyun dalam hati. Sepertinya, ia akan bicara pada kakaknya setelah ini.

 

Tiga puluh menit berlalu dan kini tepat tengah malam. Hyuna masih betah menyendiri di bawah langit malam dan hawa dingin yang menusuk itu. membuat Kyuhyun kelimpungan. Pria itu terlalu khawatir, bagaimana jika Hyuna sakit? Ya Tuhaan.. Kyuhyun akan menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu pengecut jika sampai itu terjadi.

 

Dengan segenap keberanian yang kini terkumpul, Kyuhyun menampik segala rasa pengecutnya dan memilih untuk berlari menuju Hyuna. Dengan gesit melepas jaket hitamnya dan menyisakan sebuah t-shirt putih berkerah V neck dan menampilkan otot otot tangannya yang memukau. Bahkan di bawah malam pun, kulitnya terlihat begitu bersinar. Putih, bersih.

 

Hyuna menoleh saat tiba tiba sebuah jaket tersampir di bahunya, dan matanya megerjap tak percaya melihat Kyuhyun yang –tidak tahu bagaimana bisa- muncul di hadapannya.

 

“K-kyu?”

 

“Pulang noona, ini sudah malam”

 

Gadis itu mengerjap, suara berat Kyuhyun menghipnotisnya. Pria itu mengucapkannya dengan tenang, namun nada khawatirnya benar benar kentara. Hyuna menurut, gadis itu hanya mengangguk mengiyakan.

 

Dengan cekatan, Kyuhyun menuntun Hyuna berdiri. Memapahnya hingga ke mobil pria itu, mendudukannya senyaman mungkin di jok depan samping tempat duduk kemudi. Setelahnya, Kyuhyun berlari memutar dan kini duduk di bawah kendali mobil.

 

Jalanan kota Seoul yang kini lumayang renggang karena sebagian penduduk lebih memilih dirumah dan tidur lelap di ranjang mereka masing masing –kecuali orang orang yang masih berkutat dengan suara bising club dan wanita wanita malam di beberapa tempat- membuat mobil mewah itu melaju dengan sangat lancar.

 

Tak ada percakapan di antara keduanya. Kyuhyun masih fokus menyetir, sesekali membenarkan letak kacamatanya. Sedangkan Hyuna, gadis itu menatap keluar jendela. Menikmati laju jalan yang mungkin bisa mengobati sedikit rasa kecewanya. Dan tak terasa, air mata itu tumpah lagi.

 

Kyuhyun sadar itu, amat sangat sadar. Ulu hatinya perih, terasa teriris saat melihat wanita yang kau cintai menangisi pria lain di depan orang yang malah mencintaimu dengan sepenuh hati. Rela mengorbankan apapun untuk gadis itu. namun dibalik itu semua, Kyuhyun terlihat lebih tersiksa jika melihat ‘gadisnya’ menangis karena kecewa, marah ataupun sedih. Dia tidak mau melihat satu atau bahkan setengah tetes air mata keluar dari mata hazel milik Hyuna. Pria itu tidak akan pernah sanggup.

 

-o0o-

 

“How I want to fly with you to meteors?

Capture your beautiful expression

Take My Hand

Baby, I know~ “

 

Dua hari setelahnya, Kyuhyun berkunjung ke kediaman keluarga Park. Rumah minimalis yang sederhanya dan tentunya tak sebesar rumahnya itu selalu menjadi penghangat Kyuhyun saat ia merindukan Hyuna yang tengah menyelesaikan studynya dulu. Bahkan Ny Park dengan senang hati menemani Kyuhyun , pria yang sudah ia anggap sebagai anak nya sendiri itu.

 

“Selamat pagi, eommonim” sapa Kyuhyun dengan senyum memikatnya yang benar benar bisa menghipnotis gadis manapun di pelosok negeri pagi itu. sembari menyerahkan seikat bunga lili putih favorit Ny. Park.

 

Ibu Hyuna itu tersenyum malu lantas mengambil pemberian Kyuhyun. “Aigooo.. selamat pagi juga anakku yang tampan” sapanya ramah sambil memeluk Kyuhyun sekilas.

 

Noona?”

 

“Dikamarnya” kata Ny. Park dan Kyuhyun mengangguk. Tiba tiba saja raut wajahnya yang sudah mulai keriput itu terlihat sendu.

 

Wae eommonim? Ada sesuatu yang terjadi?”

 

“Dia mengurung dirinya di kamar. Tidak mau makan. Bagaimana jika dia sakit” keluh Ny. Park mengutarakan kegundahannya di depan Kyuhyun.

 

“Kyu, bantu eommonim, ok? Sepertinya, dia mau mendengarkanmu. Bujuk dia makan, kami benar benar khawatir dia sakit”

 

Kyuhyun tersenyum namun raut khawatir itu juga nampak di wajahnya. Pria itu mengangguk “Arraseo, aku akan berusaha”

 

Kyuhyun menedengar tapak kakinya yang berbentur dengan keramik marmer semakin mendekat dengan pintu bercat biru itu. sedikit ragu saat tangannya sudah memegang handle pintu. Namun perlahan, ia membukanya.

 

Kamar yang di dominasi warna pink namun tetap terlihat elegant itu kini terlihat redup. Jendela kamar tertutup dengan rapat. Lampu utama di matikan. Dan .. benar benar seperti tidak ada kehidupan disini. Udara luar tidak bisa masuk, kamar ini terasa sangat pengap.

 

Ia tahu bagaimana perasaan Hyuna saat ini. gadis itu sangat kecewa. Kyuhyun sudah menanyakannya tadi pagi pagi sekali sebelum dia berangkat kerumah Hyuna pada Dong Hyun kenapa pria itu tidak datang menemui Hyuna yang menunggunya di tepi danau. Siapa sangka, pertanyaan retoris Kyuhyun berakhir dengan adu mulut tak mengenakan di kedua belah pihak.

 

Flashback~

Hyung” Kyuhyun memanggil Dong Hyun yang berjalan ke arah dapur tepat ketika pria itu turun dari lantai atas, kamarnya.

 

“Ya Kyu?”

 

“Aku ingin bicara” Nada suranya terdengar tegas, dingin.

 

“Bicara saja”

 

“Tidak disini, aku tidak mau eomma mendengar” Kyuhyun dengan sikap acuhnya langsung bangkit dari sofa yang ia duduki tadi. Membuat kerutan di dahi Dong Hyun tercipta, tak biasanya Cho Kyuhyun bersikap dingin padanya. Ini pasti ada sesuatu yang salah. Benar

 

Dong Hyun mengikuti adiknya yang kini berjalan ke rumah singgah favorit Kyuhyun. sebuah rumah kecil yang berwarna putih, terletak agak jauh dari kediaman mereka yang bak istana itu. Tapi masih bisa di jangkau dari rumah mereka karena rumah singgah itu berada tepat di depan rumah utama.

 

Dong Hyun masuk, menatap sekilas sekelilingnya. Ini pertama kali ia menjejakan kakinya di rumah ‘pribadi’ Cho Kyuhyun sejak kepulangannya ke Seoul. Dan.. tidak banyak berubah menurutnya. Masih sangat bergaya seorang Cho Kyuhyun. rapih, bersih, dan dipenuhi dengan tumpukan tumpukan buku. Entah itu buku buku ilmiah, novel, atau bahkan comic. Yah~ itulah Cho Kyuhyun si kutu buku.

 

Hyung” suara Kyuhyun mengintrupsinya. Membuat Dong Hyun menoleh ke arah Kyuhyun dan menatapnya.

 

“Ada apa?”

 

“Kenapa tidak datang, memenuhi undangan noona tadi malam?”

 

Dong Hyun mengerutkan alisnya “Darimana kau tahu?”

 

Kyuhyun kelimpungan, tidak mungkin kan dia bilang dia sudah siap bersembunyi di tempat yang tak jauh dari lokasi makan malam itu untuk ‘menguping’? “Jawab saja”

 

“Tidak tidak, kau aneh Cho Kyuhyun” Dong Hyun melipat kedua tangannya di depan dada, melihat reaksi adiknya yang terlampau aneh pagi ini.

 

“Kau kemana semalam?” Tanya Kyuhyun masih tak mau kalah

 

“Pergi, bersama Hye Na. Merayakan ulang tahunku bersama”

Kyuhyun membeku. Mimik wajahnya berubah drastis, terlihat marah. Amat sangat marah. Tangannya mengepal sehingga membuat buku buku jarinya memutih. Giginya menggertak pelan. Tidak tidak, Cho Kyuhyun tidak bisa menerima ini. bagaimana bisa kakaknya dengan tanpa dosa pergi bersama wanita lain dan membiarkan Hyuna menunggunya di tepi danau hingga selarut itu?

 

“Apa?” Kyuhyun mencoba meredam emosinya

 

“Kau kenapa sih Kyu? Tingkahmu aneh!” Kata Dong Hyun yang menyadari perubahan sikap adiknya.

 

“Kau masih bertanya kenapa? Kenapa ???” Kyuhyun geram “Bagaimana bisa kau pergi dengan wanita lain saat masih ada wanita yang menunggumu hingga jam dua belas malam?! Sendirian di tepi danau dan hanya menggunakan pakaian yang bahkan tidak akan mempan membuatnya hangat! Membuatnya kecewa dengan meninggalkan masakan yang susah payah ia buat untukmu Hyung!” Kyuhyun berkata lirih namun sarat emosi.

 

“Apa?! Jadi Hyuna menungguku hingga selarut itu?!” Dong Hyun mulai terdengar panik. Kyuhyun membuang muka. Pagi ini, muak sekali melihat wajah kakaknya itu, ia pun tak tahu mengapa.

 

“Ya Tuhaaaan, aku harus menemuinya” Dong Hyun berbalik, ingin pergi. Namun suara Kyuhyun menghentikannya.

 

“Jangan!” Dong Hyun berbalik, menatap Kyuhyun dengan penuh tanda tanya “Ha?”

 

“Jangan pernah temui dia lagi Hyung, jangan sekalipun!” kata Kyuhyun membuat Dong Hyun tertawa kecil, tawa meremehkan

 

“Apa kau bilang Kyu? Apa aku tidak salah dengar?” kembali Cho Dong Hyun melipat kedua tangannya di depan dada, terlihat angkuh di depan adiknya itu.

 

“Kau siapa? Ada hak apa melarangku bertemu dengannya?” Kyuhyun terdiam

 

“Aku tahu aku bukan siapa siapa bagi noona, tapi asal kau tahu Hyung aku tidak akan pernah rela jika melihatnya menangis, apalagi karena.. kau!” Kyuhyun menggertak

 

Dong Hyun melemparkan tawa sinisnya pada Kyuhyun “Kau menyukainya?”

 

Kyuhyun tersentak, buru buru ia mengubah mimik wajahnya “Tidak” jawabnya acuh, mengalihkan pandangannya pada objek lain. Tak sanggup menatap kakaknya.

 

“Kau menyukainya?” ulang Dong Hyun “Tidak”

 

“Kau menyukainya?”

 

Kyuhyun geram “Demi Tuhan, Tidak hyung!” Kyuhyun kembali menatap kakaknya dengan penuh emosi.

 

“Baiklah, Kau mencintainya?” Kyuhyun terdiam seribu bahasa. Ini bukan pertanyaan, tapi pernyataan yang di ulang kakaknya untuk menyadarkan dia pada fakta bahwa memang Cho Kyuhyun mencintai Hyuna, sangat mencintai gadis itu.

 

Dong Hyun kembali tersenyum sinis pada adiknya “Kau bisa sebegitu marahnya pada ku karena Hyuna menangis karena aku? Apa kau tidak menyadari bagaimana perasaan Hye Na yang selama ini juga menangis karenamu?” Kyuhyun menatap wajah kakaknya, terkejut dengan pernyataan barusan.

 

“Apa?”

 

“Oh~” Dong Hyun mencoba bersikap santai, namun pria itu terlihat jahat dan lebih menakutkan dari biasanya. “Aku tahu. Bukankah selama ini kau menganggap Hye Na sebagai gadis penguntit yang manja dan kekanak kanakan? Begitukan Cho Kyuhyun?”

 

Kyuhyun terdiam. Lagi lagi terdiam. Tidak bisa menjawab pertanyaan kakaknya yang begitu pas menerjang ulu hatinya, karena semua itu benar. Kyuhyun menganggap Hye Na seperti itu.

 

“Asal kau tahu, kaulah sebenarnya yang bertingkah kekanakan Cho Kyuhyun!” Dan setelahnya, Dong Hyun berbalik, berjalan keluar rumah singgah itu dan benar benar meninggalkan Kyuhyun yang hanya berdiri diam di tempatnya. Pembicaraan macam apa ini? tidak ada solusi dan malah menambah masalah! Jerit Kyuhyun dalam hati.

 

Flashback end~

 

Kyuhyun menghela nafasnya sebentar, lalu tersenyum. Pria itu berjalan cepat ke arah tirai besar di samping ranjang Hyuna yang lumayan besar. Menariknya dari ujung ke ujung hingga terbuka sepenuhnya. Cahaya matahari langsung berhambur masuk menyinari setiap sudut kamar yang tadinya gelap.

 

“Selamat pagi noona ku yang malas” Kata Kyuhyun mencoba untuk mengatur suaranya agar terdengar riang. Ia melihat Hyuna yang masih terlelap dalam selimut pink tebalnya. Pantas saja gadis itu tidak terusik dengan cahaya, matanya ditutupi oleh sleeping mask berwarna pink dengan ornamen bulu mata yang terlihat sangat lentik.

 

Kyuhyun tersenyum. Usia Hyuna memang berada di atasnya, tapi sepertinya gadis itu tetaplah seorang gadis yang menyukai hal hal seperti itu.

 

Kyuhyun mendekat. Pria itu naik keatas ranjang Hyuna, tidur disampingnya. Menopang kepalanya dengan tangan kirinya. Menatap sang objek yang menjadi pusat dunianya tertidur dengan damai di sampingnya.

 

Kyuhyun mengangkat perlahan sleeping mask yang Hyuna kenakan. Pria itu tersenyum lembut, dibalik kacamatanya itu ia masih bisa dengan jelas meneliti setiap sudut yang ada diwajah Hyuna. Tak satupun luput oleh kejaran matanya. Dari Dahi, kedua matanya yang kini terlihat sembab efek dari menangis semalaman, turun dengan mulus menyusuri hidungnya yang mungil dan mancung, lalu berhenti pada bibirnya yang terbentuk dengan lekukan paling indah yang pernah ia lihat seumur hidup. Hyuna nya sempurna, gadis itu sempurna!

 

Tangannya terulur untuk menyentuh lembut bulu matanya yang lentik. Turun dengan gerakan pelan menuju hidungnya. Senyum tak pernah hilang dari wajah Cho Kyuhyun. cukup hal sesimple ini, bisa membuatnya berkali kali lipat bahagia.

 

Hyuna menggeliat pelan merasa sesutu menganggu istirahatnya yang hanya dua jam. Gadis itu lebih banyak menghabiskan duduk mematung tanpa melakukan apapun hingga jam 5 pagi ini. beruntung ia masih bisa merasakan naluri manusianya yang menyuruhnya untuk tidur barang sebentar.

 

Good Morning” Kyuhyun menyapanya manis saat Hyuna mulai mengerjapkan matanya. Berusaha menyesuaikan pandangannya dari apa yang bisa ia lihat.

 

Kepalanya menoleh kesamping dan mendapati Kyuhyun dengan kacamata yang tak pernah luput dari wajahnya itu berada dalam jarak kurang dari lima centi di hadapannya. Sejenak, Hyuna membeku.

 

Gadis itu terdiam cukup lama. Tunggu, kenapa tiba tiba ada yang aneh pada dirinya. Kenapa beberapa hari ini, ia selalu terpesona melihat Cho Kyuhyun?? hey! Cho Kyuhyun tetap Kyuhyunnie nya yang manis, tidak tidak! Tidak boleh ada perasaan lebih dari itu. lagipula bagimana dengan Dong Hyun?! Gadis itu mencintai kakaknya, bukan Kyu! Hyuna terus beragument dalam pikirannya.

 

Tapi .. Demi Tuhan Hyuna baru mengakuinya sekarang. Yah.. delapan tahun, Kyuhyun yang dulu dan sekarang benar benar berbeda. Dia bisa berubah dalam waktu delapan tahun ini. dan gadis itu baru bisa membenarkan tatapan memuja yang sering ia lihat dari gadis gadis manapun ke arah Kyuhyun saat melihatnya berjalan bersama pria itu. Kacamata itu hanya sebagian kecil yang malah menambah karisma dari dalam dirinya!

 

Noona” Hyuna tersentak. Buru buru ia menormalkan wajah nya yang pasti sedari tadi terlihat seperti orang bodoh di depan Kyuhyun. oh great! Sekarang dia perduli bagaimana tampilannya di depan Kyuhyun. ini tidak biasanya!

 

“Kyu.. bagaimana bisa kau ada disini” Hyuna beranjak dari tidurnya. Berdiri di tepi ranjang dan menatap kesal ke arah Kyuhyun.

 

“Apa?”

 

“Disini, di ranjangku. Berdua denganku” Kata Hyuna sambil menunjuk nunjuk ranjang pink nya.

 

“Membangunkanmu, tentu saja”

 

“Tidak seperti itu Cho Kyuhyun” Hyuna geram. Entahlah, gadis itu tiba tiba saja merasa kesal. Pesona Kyuhyun akhir khir ini membuatnya kesal! Eh? Apa?

 

Eomonim bilang kau tidak mau keluar kamar sejak kemarin. Makan pun tidak mau. Ia meminta bantuanku untuk itu noona. Hey, ayolaah~ sejak kapan kau bertingkah kekanakan seperti itu” Kyuhyun menatapnya sendu, Hyuna membuang muka.

 

“Aku hanya sedang disibukkan dengan tugas kantor” Hyuna beralibi, Kyuhyun tersenyum sinis

 

“Tugas kantor apanya? Kau bahkan tidak keluar kamar barang sedetik! Bagaimana bisa kau kerja? Aku yakin dua hari ini kau bolos kerja kan?” skak mat! Kyuhyun benar.

 

“Baiklah” Hyuna menyerah

 

“Apa maumu sekarang?” tanya Hyuna pada Kyuhyun

 

“Bersiaplah noona, kita akan berjalan jalan hari ini” Hyuna mendesah pasrah, semenjak ia mengenal Kyuhyun dia tidak pernah bisa menolak ajakan pria itu. entah bagaimana Kyuhyun bisa menghipnotisnya dari setiap kalimat yang keluar dari bibir pria bertubuh jakung itu.

 

Arraseo, tunggu aku dibawah” Kyuhyun mengangguk. Hyuna berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamarnya.

 

Sepeninggal Hyuna, Kyuhyun masih terduduk diam di ranjang gadis itu. tersenyum miris saat menyaksikan kamar Hyuna sangat berantakan. Sudah bisa dipastikan gadis itu tidak membereskan barang barangnya selama dua hari ini. Oh Ya Tuhan.. hanya karena Dong Hyun tidak datang malam itu bisa membuat Hyuna sekacau ini? ini sama sekali bukan Park Hyuna yang ia kenal, gadis itu benar benar tidak bisa melihat kamarnya berantakan sedikitpun. Tapi apa ini? Baju dimana mana, buku buku berserakan, kertas kertas HVS berhamburan, bantal berjatuhan.

 

“Bagaimana bila dia tahu alasan Hyung lupa datang malam itu karena apa. Apa dia akan gila?” desis Kyuhyun. setelahnya, pria itu bergerak memunguti barang barang yang bisa ia rapikan. Tak sampai sepuluh menit, pria itu selesai dengan tugasnya. Sisanya, mungkin pembantu Hyuna yang akan menyapu juga mengepel kamarnya. Kyuhyun berjalan keluar, menuggu di bawah.

 

-o0o-

 

Eomma” Hyuna menghampiri ibunya yang sedang bersantai diruang TV , gadis itu berlari kecil lalu memeluk ibunya, membuat Ny. Park tersenyum lembut lalu mengelus lengan putrinya itu.

 

“Ada apa, heum? Tidak biasanya putri eomma yang ‘katanya’ sudah dewasa ini bermanja manja” Hyuna tersenyum kecil, sejak umurnya dua puluh lima tahun, ia selalu ngambek pada sang ibu yang selalu saja memborbardirnya dengan kasih sayang yang menurutnya terlalu.. err, berlebihan. Wajar kan sang ibu begitu menyayangi dan mengkhawatirkannya? Hyuna putri tunggal, dan delapan tahun ia tinggal di Swiss.

 

“Tidak ada. Hanya sedang ingin” kata Hyuna mengeratkan pelukannya pada sang ibu.

 

“Ingin sesuatu? Eomma buatkan ya?”

 

Hyuna menggeleng “Ani, tetap disini eomma” Ny. Park menurut, menepuk nepuk pelan lengan putrinya yang melingkar manis di pinggangnya.

 

“Aku lelah eomma” kata Hyuna sambil memejamkan matanya. Ny. Park diam, ia tahu disinilah saat saat peran terpenting seorang ibu. Mendengar keluh kesah anak gadisnya, apalagi Hyuna anak satu satunya. Harta keluarga Park yang tak ternilai.

 

“Pekerjaanku begitu banyak, boss ku juga galak. Huuh” Hyuna bersungut sungut, membuat ibunya tertawa mau tak mau Hyuna juga ikut tertawa.

 

“Kau yang menjalani, eomma hanya menyarankan pilihlah sesuai degan kehendak hatimu, sayang. Jika kau lelah dan ingin berhenti, ya tidak masalah. Toh, pekerjaan bisa dicari lagi kan? Lagipula wanita tidak wajib bekerja, nantinya kau akan dihidupi oleh suamimu. Dan tugasmu harus fokus mengurus keluarga” saran ibu Hyuna. Hyuna mengangguk.

 

“Tapi eomma, aku masih ingin bekerja. Kalau aku berhenti, akan susah mendapatkan pekerjaan yang seperti sekarang ini. penghasilannya lumayan. Dan walaupun ijazahku lulusan Swiss, tapi mencari pekerjaan di Korea lumayan sulit eomma”

 

“Kau bisa bekerja di perusahaan kita” Hyuna mendelik, menatap tajam ibunya

 

Eommaa~” Ny. Park tertawa, kemudian kembali menarik anaknya itu kepelukannya “Geurae geurae, kalau begitu, semuanya terserah kau”

 

Hyuna tersenyum. Ibunya sangat mengerti keingian Hyuna, dari dulu gadis itu tidak tertarik dengan bisnis. Dia lebih memilih kuliah di bidang teknologi daripada dipusingkan dengan tugas tugas fakultas management yang membuat otaknya buntu. Dan beruntung, sang ayah juga tidak diktator yang mengharuskan putrinya untuk meneruskan perusahaan yang tak terlalu besar –tapi cukup untuk kehidupan mereka selama ini- itu.

 

Bel berbunyi, Hyuna melirik ke arah jam yang masih menunjukkan pukul tujuh lewat sembilan menit waktu malam. Gadis itu berjalan ke arah pintu, membuka dan melihat siapa yang sekarang ini berdiri di depannya.

 

“Dong Hyun~ah” lirihnya. Oh ya Tuhan, sudah seminggu semenjak kejadian itu dan dia belum bertatap muka dengan Dong Hyun. Menurut Kyuhyun, kakaknya itu disibukkan dengan pekerjaan yang sangat menumpuk akhir akhir ini.

 

“Hyuna” Dong Hyun tersenyum cerah, berhambur memeluk Hyuna –seperti biasa- dan hal hal kecil seperti ini yang kadang membuat Hyuna berpikir lain tentang perasaan pria itu padanya.

 

“Masuk” kata gadis itu tersenyum lembut. Dong Hyun mengangguk. Pria itu masuk mengikuti Hyuna yang sudah berjalan di depannya.

 

“Oh! Dong Hyun~ah” sapa Ny. Park saat melihat Dong Hyun masuk

 

Eommonim, bagaimana kabarmu” kata Dong Hyun memeluk Ny. Park singkat lalu memberikan bingkisan kecil.

 

“Baik. kau jarang sekali main kesini. Sangat sibuk ya?” Goda Ny. Park

 

“Yah~ begitulah eommonim” Hyuna hanya tersenyum menatap keduanya.

 

“Baiklah, eomma tinggal kalau kalian ingin bicara” kata Ny. Park lalu hendak berjalan ke arah dapur sebelum suara Hyuna memanggil kembali.

 

“Ani eomma, kami akan pergi ke taman belakang. Eomma disini saja” kata Hyuna lalu meggiring Dong Hyun ke taman belakang rumah Hyuna yang tidak terlalu luas. Namun ada sebuah kolam ikan kecil di sana, sehingga air yang keluar dari lubang tiap tiap sudut yang sudah terdesain sempurna itu terdengar menenangkan.

 

“Hyuna” Hyuna menoleh

 

“Ya?”

 

“Maaf untuk malam itu. aku benar benar menyesal. Maaaaf” kata Dong Hyun tulus menatap manik mata Hyuna.

 

“Tidak apa apa, aku tahu kau sibuk” kata Hyuna mencoba tersenyum, getir.

 

“Kau benar benar tidak marah padaku?” Hyuna tersenyum –lagi- lalu mengangguk sekilas.

 

“Ah~ syukurlah. Beberapa hari ini aku tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan kemungkinan kau marah padaku. Aku sudah berniat untuk menemui setelah hari itu tapi pekerjaanku benar benar tidak bisa kutinggalkan. Sekali lagi maafkan aku” ucap Dong Hyun penuh penyesalan.

 

Hyuna mengangguk singkat “Lalu.. ada berita apa beberapa hari ini yang aku tidak tahu?” Hyuna merubah topil pembicaraan, membuat suasana menjadi non-formal seperti biasa, santai dan blak blakan.

 

“Ah!” Dong Hyun menatap Hyuna penuh minat, tampak antusias!

 

“Bagaimana menurutmu.. jika—“ Dong Hyun menggantungkan kalimatnya

 

“Hyuna, sepertinya aku.. menyukai Hye Na. Song Hye Na, kau tahu kan?”

 

 

Hyuna mengerjap. Mata gadis itu berkedip kedip kecil. Dia mencoba mengingat ingat bahwa dia sama sekali tidak pernah punya masalah pendengaran. Jadi yang barusan ia dengar itu?

 

“Aku menyukainya! Menurutmu bagaimana?” siara Dong Hyun kembali terdengar.

 

Hyuna tercekat, senyumnya perlahan memudar. Nafasnya tak teratur. Tenggorokannya terasa kering kerontang bak gurun pasir yang tak pernah ada air. Ulu hatinya perih, terluka.. tercabik.. tergores dan setelah tersiram air panas yang mendidih. Ia ingin menangis, tapi tidak sekarang!

 

“Hey~ bagaimana menurutmu” desak Dong Hyun. Huh.. andai Hyuna tahu bahwa apa yang ia rasakan kini pernah dirasakan oleh seseorang yang juga memendam rasa begitu dalam terhadapnya. Oh, de javu yang tak terlihat!

 

“A-a.. i-itu berita bagus” kata Hyuna mencoba terdengar tegar, namun sia sia Dong Hyun menagkap perubahan sikap Hyuna.

 

“Dong Hyun~ah, sejujurnya aku merasa tidak enak bada malam ini. aku ingin istirahat” Hyuna beralibi. Dong Hyun menatap khawatir pada Hyuna “Gwenchana?” tanyanya dan Hyuna hanya mengangguk sembari tersenyum.

 

“Ke dokter?” tawar Dong Hyun “Tidak usah, istirahat akan membantuku” Dong Hyun menurut, pria itu mengajak Hyuna masuk ke dalam rumah dan menemaninya masuk ke kamar.

 

“Kau benar tidak apa apa?”

 

“Mmm. Pulanglah, ini sudah malam” kata Hyuna mencoba terdengar senormal mungkin. Tahan Hyuna tahaan.. hanya tinggal beberapa saat setelah Dong Hyun pergi kau bisa menangis semaumu! Jerit Hyuna dalam hati.

 

“Baiklah aku pulang, istirahatlah yang cukup okay? Aku tidak bisa menemuimu besok. Aku harus ke Jepang untuk dua hari” kata Dong Hyun sendu, terlihat ada penyesalan dimatanya.

 

“Tidak apa, aku juga akan sibuk dengan pekerjaanku. Hey, jangan terlalu lelah bekerja ingat untuk tetap makan dan minum vitaminmu, okay?” Hyuna mengingatkan. Apa ini? kenapa malah terasa tambah sakit! Kenapa kau bodoh sekali Hyunaaaa!! Kau teralu memberi perhatian lebih padanya bahkan ia tak melirik perasaanmu sedikitpun! Miris.

 

“Aku tahu, kau juga” setelahnya Dong Hyun benar benar pamit.

 

Hyuna berjalan sempoyongan ke arah meja riasnya. Duduk disana lalu menatap kosong pantulan dirinya di cermin. Suara mobil Dong Hyun terdengar menjauh dari pekarangan rumahnya, dan tepat ketika itu terjadi satu tetes air mata jatuh di atas meja kayu berukiran rumit tersebut.

 

Hyuna menatap sendu sosok dibalik kaca yang terlihat meneydihkan itu. bukan hanya wajahnya yang tak baik, hatinya jauh lebih mengerikan dari pada apa yang bisa dibayangkan. Porak poranda..

 

Terlintas sebuah nama dalam otaknya yang muncul secara spontan, membuat Hyuna bergeleng pelan mencoba menampik. Kenapa tiba tiba dia ada di dalam otaknya? Bukankah ia sedang patah hati karena Dong Hyun? Oh.. tapi kenapa rasa rasanya ia membutuhkan pria ini?

 

Tidak tidak, ia tidak bisa menemuinya sekarang. Ia tidak bisa datang pada pria itu dengan keadaan yang menyedihkan seperti ini! dia malu.

 

“Cho Kyuhyun.. kenapa aku membutuhkanmu sekarang?” lirihnya

 

-o0o-

 

Hyuna tersenyum dan menerima uluran ice cream vanilla kesukaannya itu dari Kyuhyun. pria itu kemudian duduk disamping Hyuna, menaikkan sebelah kakinya yang panjang ke sisi lainnya. Memasukkan tangan hangatnya ke dalam kantung celana dasar berwarna hitam miliknya. Jas hitam formal itu telah terlepas, menampilkan postur tubuh Kyuhyun dengan kemeja putih pas yang malah membuatnya semakin mempesona.

 

Keduanya menikmati angin musim semi di bawah pohon besar yang ada di suatu tempat di Seoul itu. memandang dalam diam jalan setapak yang berkelak kelok dan dipenuhi dengan beberapa daun kering yang berjatuhan.

 

Hyuna sedikit menggigil karena angin sore itu. Dress putih anggunnya yang panjangnya diatas lutut serta bagian lengan yang terbuat dari sivon putih tipis itu membuat kulitnya berjengit merasakan sapuan angin kala menyentuh. Kyuhyun dengan sigap melebarkan jasnya, menyampirkannya di kedua bahu Hyuna membuat gadis itu menoleh.

 

“Tidak usah Kyu” gadis itu berusaha melepaskan Jas Kyuhyun

 

“Pakailah noona, aku tidak ingin kau sakit” Kyuhyun menatap lembut pada Hyuna, namun suaranya tegas dan penuh tuntutan. Membuat Hyuna akhirnya mengangguk mengiyakan. Hyuna sudah menyerah, entah bagaimana Cho Kyuhyun yang sekarang mampu membuatnya menjadi gadis penurut.

 

Hyung mu bilang, ia menyukai Hye Na” Hyuna menunduk, tersenyum miris sambil menatap ice creamnya yang masih ia pegang. Kyuhyun terdiam, hanya mencoba mendengarkan. Tapi sepertinya, Kyuhyun akan cukup sampai disini. Ini kali terakhir ia menyakiti perasaannya sendiri. Terakhir kali melihat gadisnya tersakiti pula. Dan dalam tekad yang sudah ia bangun beberapa terakhir ini, pria itu bersumpah untuk membuat Hyuna tersenyum dengan caranya sendiri.

 

“Cukup!” Kyuhyun berkata tegas, rahangnya mengeras menahan emosi. Buku buku jemarinya memutih dan itu membuat Hyuna terkejut.

 

“Kyu, wae geurae?” Hyuna memandangnya, meminta penjelasan. Kyuhyun menoleh dengan amarah yang kini terlihat di kedua bola matanya. Membuat Hyuna sedikit menciut.

 

“K-kau kenapa Kyu?” Hyuna tercekat, gadis itu bergidik ngeri.

 

“Berhenti . .” Kyuhyun membuka suaranya

 

“Berhenti membicarakan dia di depanku noona! Geumanhae!!”

 

Hyuna tersentak, gadis itu reflek berdiri dari duduknya. “Kau aneh Cho Kyuhyun!” gadis itu mengecek jam tangannya sekilas dengan mimik yang masih terkejut. “Kita pulang saja. Mungkin kau lelah hingga bicaramu melantur seperti itu” Hyuna berkata dalam satu tarikan nafas.

 

Gadis itu berbalik setelah sebelumnya menyampirkan tas tangan kecil yang ia bawa ke pesta pernikahan temannya hari itu. Namun tiba tiba Kyuhyun berdiri, menyentakkan tangan Hyuna hingga gadis itu berbalik dengan kasar. Ice cream favoritnya yang masih ia genggam terjatuh begitu saja.

 

“Cho Kyuhyun!” Hyuna berteriak, nafasnya memburu. Begitupun dengan Kyuhyun.

 

“Maaf” setelah kata itu terucap dari Kyuhyun, pria itu menarik dalam satu sentakan tengkuk Hyuna, mempertemukan bibir tebalnya ke bibir Hyuna. Menyentuhnya dengan ciuman manis yang selama ini Kyuhyun bayangkan.

 

Hyuna berontak, gadis itu terkejut, tentu saja. Tangannya memukul mukul dada bidang Kyuhyun. pria itu tak tinggal diam, Kyuhyun menarik pinggang Hyuna mendekat. Mendempelkan tubuh mereka hingga kini tak ada jarak yang berarti.

 

Hyuna lemas, gadis itu menyerah. Sekuat apapun tenaganya untuk melawan masih belum bisa menandingi Kyuhyun yang notabene adalah seorang pria.

 

Dengan sihir kelembutan yang Kyuhyun berikan, gadis itu menutup matanya. Mencoba merasakan apa yang disampaikan Kyuhyun lewat pertemuan bibir mereka. Kyuhyun menyentuhnya dengan lembut, menyusuri lekukan bibir indah yang terpatri di wajah gadisnya. Jantungnya tiba tiba berkeja lebih cepat, cepat dan semakin cepat. Sentuhan Kyuhyun di bibirnya benar benar hangat dan memabukkan. Membuat gadis itu betah berlama lama dalam posisi seperti ini.

 

Tapi tak lama hingga gadis itu tertampar oleh kenyataan yang ada. Ketika beberapa tahun silam dirinya dikenalkan dengan sosok pria jenius berkacamata penggemar berat games, Cho Kyuhyun. tutur kata dan sifat nya yang membuat gadis itu menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri. Kebersamaan yang ia hadiahkan untuk Kyuhyun dengan embel embel ‘adik’. Tapi apa sekarang? Ini tidak boleh! Cho Kyuhyun tidak boleh bersikap seperti ini.

 

Hyuna mendorong Kyuhyun dengan kuat saat gadis itu menyadari pegangang Kyuhyun di pinggangnya melemah. Gadis itu menatap Kyuhyun tak percaya, nafasnya memburu. Marah. Dengan tangan bergetar ia menyentuh bibirnya yang kini merah akibat ulah Kyuhyun. membuatnya Hyuna bergetar.

 

N-neo?” Hyuna menunjuk Kyuhyun dengan pikiran yang kacau balau. “Neo.. NEO MICHEOSSEO?!!” ia berteriak marah. Kakinya bergerak mundur perlahan, dengan pandangan yang tak fokus gadis itu menjauh sedikit demi sedikit dari Kyuhyun. sedang pria itu? hanya menatap pedih ke arah Hyuna, hatinya terasa sakit saat rasa rasanya ia ditolak secara langsung. Apa sebegitu sukanya kah Hyuna pada Hyungnya itu?

 

Noona” lirihnya. Hyuna menggeleng keras satu tetes air mata tiba tiba saja jatuh membuat Kyuhyun tersentak. Gadis itu bahkan tidak sadar jika dirinya menangis. Entah untuk apa. “Jangan.. jangan panggil aku” kata Hyuna pelan membuat Kyuhyun semakin terlihat miris.

 

Noona dengarkan aku!” Kyuhyun memaksa “NOONAA!!”

 

Hyuna menatapnya, matanya terlihat sendu “Aku tidak suka kau membicarakan Hyung lagi di depanku! Tidak tahukah kau itu membuat aku sakit ha??”

 

M-mwo? Mworago??”

 

“Berhenti memikirkannya nya noona, berhenti memikirkan orang yang bahkan menyukai wanita lain. Bukankah itu semakin menyakitimu? Jebal noona, aku .. aku tidak sanggup saat melihat dirimu terluka! Tak bisakah kau mendengarkanku?! Sekali saja!”

 

“Cho Kyuhyun.. k-kau.. k-kau-“

 

Maja! Aku mencintaimu Hyuna, AKU MENCINTAIMU!!” Nafas Hyuna tercekat, keningnya berkerut. Otaknya mencerna dengan baik apa yang barusan Kyuhyun katakan. Ya Tuhan.. apa ini? ini tidak benar!

 

Neo micheosseo?”

 

Geurae! Na micheosseo. Neo ttamune!”

 

Hyuna melongo tak percaya, gadis itu lagi lagi mundur perlahan, dan naasnya Heels Hyuna tersangkut ke dalam lubang kecil yang ada di jalan setapak yang menjadi tempat ia berdiri kini. Dan ‘bruuugh’ gadis itu jatuh terduduk. Kyuhyun dengan sigap berlari kearahnya, menyentuh lengan gadis itu bermaksud membantunya untuk berdiri.

 

“JANGAN SENTUH AKU! DAN JANGAN TEMUI AKU!” Hyuna berteriak, mendorong Kyuhyun menjauh hingga pria itu jatuh terududuk di tempat yang tidak terlalu jauh darinya. “Jangan sentuh aku Cho, jangan”

 

Noona

 

Hyuna melepaskan kakinya dari heels cream itu, kemudian berdiri lalu menatap Kyuhyun sekilas “Aku gila, aku akan gila” lirihnya lalu berbalik meninggalkan Kyuhyun. gadis itu berlari dengan tertatih dan kaki yang tidak seimbang. Satu heelsnya ia tinggalkan tersangkut disana dan yang satunya masih ia kenakan.

 

Kyuhyun menatap kepergian Hyuna dengan wajah kusut, pria itu menatap punggung gadisnya mulai menjauh dan kini tak terlihat. Dan detik itu juga, Cho Kyuhyun berteriak, menumpahkan segala kesakitan yang ia rasakan. Point dimana Hyuna menjauh dari dirinya adalah puncak segala galanya.

 

-o0o-

 

Hyuna menggigit bibirnya dengan gelisah, beberapa kali membenarkan posisi duduknya di sofa pink kebesaran yang ada di kamarnya. Matanya menatap kaca jendela yang kini menampilkan pemandangan kota seoul yang tengah diguyur hujan.

 

Gadis itu masih memikirkan pernyataan serta perbuatan Kyuhyun yang sungguh diluar dugaannya. Ya Tuhan.. kenapa juga dia harus menangis tadi? Kenapa juga hatinya seperti bimbang ?

 

Hyuna menggelengkan kepalanya kuat kuat “Andwe.. andwee” ucapnya. Gadis itu mencoba memecah pikirannya. Lebih memilih untuk memikirkan Dong Hyun untuk sekarang ini.

 

Kedua sudut bibirnya tertarik keatas saat menginggat beberapa kebersamaan dirinya dan Dong Hyun saat di Swiss, bagaimana pribadi pria itu terhadapnya, bagaimana sikap pria itu terhadapnya, dan bagaimana cara pria itu membius Hyuna untuk bisa jatuh dalam pesonanya. Namun seketika, bayangan Kyuhyun masuk menggantikan Dong Hyun dalam pikiran Hyuna. Bagaimana cara pria itu tersenyum, bagaimana cara pria itu menunjukkan mata teduhnya di balik kacamatanya itu, bagaimana Kyuhyun membiusnya dengan pesonanya, dan bagaimana Kyuhyun menyentuh bibirnya dengan kelembutan yang teramat sangat, membuatnya menjadi wanita yang merasa terlindungi.

 

Tunggu sebentar.. WAIT! Kenapa gadis itu memikirkan Kyuhyun? Hyuna lagi lagi menggeleng gelengkan kasar kepalanya mencoba menolak bahwa memang sebenarnya dia memikirkan pria itu. “Na.. micheosseo” lirihnya.

 

Pintu kamarnya tiba tiba terbuka dengan kasar membuat gadis itu menoleh cepat. Ibunya masuk terburu lalu duduk disebelahnya.

 

“Ada apa eomma? Kau kenapa?” tanya Hyuna khawatir saat melihat keadaan ibunya yang tak seperti biasanya.

 

“K-kyu..”

 

“Ha?”

 

“K-Kyuhyun!”

 

Hyuna mengerutkan alisnya, tiba tiba perasannya tidak enak “Kyuhyun.. Kyuhyun apa eomma? Dia kenapa?”

 

“Dia dirumah sakit sekarang, keadaannya kritis”

 

Hyuna mematung. Tunggu, gadis itu merasakan palu yang besar menghantam dadanya sekarang. Nafasnya tercekat, dadanya sesak. “M-mwo??”

 

“Dia tertabrak mobil sore ini saat pulang ke rumahnya. Sekarang keadaannya kritis Hyuna~ya”

.

“Tampar aku sekarang juga” lirih gadis itu tiba tiba

 

Tanpa menunggu, Hyuna berdiri meraih kunci mobilnya lalu berlari keluar kamar. Meninggalkan sang ibu yang berteriak memanggil namun telinganya seakan tuli saat itu. hingga ia terus berjalan menuju mobilnya di garasi rumah, menyalakannya. Memacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi. Menembus kota Seoul yang kini diguyur hujan. Tak perlu repot untuk menanyakan di rumah sakit mana Kyuhyun berada kini. Karena keluarga Cho hanya akan pergi ke satu rumah sakit, dan gadis itu tau dimana itu.

 

Cheongdam Hospital, 20.45 KST

 

Hyuna berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Seperti orang linglung yang kehilangan arah, gadis itu terus memfokuskan matanya mencari cari keadaan Cho Family yang saat ini pastinya menunggu Kyuhyun bukan?

 

Oh! Disana! Gadis itu menemukannya. Hyuna berlari, menghampiri ibu Kyuhyun yang sedang menangis, sedang sang ayah terlihat menenangkan. Sementara Dong Hyun, pria itu berdiri dengan wajah tegang, bersender di dinding bercat putih bersih itu dengan tangan yang ia masukkan ke dalam kantung celana jeansnya.

 

Eeomonim~” Ibu Kyuhyun mendongak saat mendengar ada yang memanggilnya. Wanita paruh baya itu melihat ke arah Hyuna dengan sendu, kemudian berdiri, lalu memeluknya.

 

“Kyuhyun masih di dalam, dokter berusaha menyelamtkannya” Hyuna tak merespon, bibir gadis itu kelu. Jantung nya tak berhenti berulah, tangannya berkeringat dan matanya memanas. Dia menangis setelahnya, Hyuna menangis.

 

Tak lama, terlihat ibu dan ayah Hyuna datang bersamaan, mereka lalu ikut duduk bergabung. Menunggu bagaimana keadaan Kyuhyun.

 

Satu jam sudah Hyuna hanya duduk mematung di depan ruang ICU itu. menatap lantai marmer putih tanpa minat. Keheningan dan kekosongan menemaninya kini. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis.

 

Kedua orang tuanya dan kedua orang tua Kyuhyun baru saja pulang, dan hanya Dong Hyun yang masih disitu.

 

Pria itu menyerahkan secangkir kopi hangat pada Hyuna, namun gadis itu masih belum fokus hingga ia tak menyadari Dong Hyun yang sudah mengulurkan kopi itu didepannya.

 

“Minum ini, agar keadaanmu membaik” tegur Dong Hyun membuat Hyuna mendongak “A-ah.. gomawo” gadis itu mengambilnya, lalu meneguknya sedikit. Dong Hyun duduk disebelahnya.

 

Gwenchana, dia pasti baik baik saja. Uri Kyuhyunnie, anak yang kuat” kata Dong Hyun menenangkan yang hanya di balas anggukan dari Hyuna.

 

“Kau.. benar benar terlihat kacau Hyuna~ya

 

“Begitukah?” Dong Hyun mengangguk. Pria itu mengambil jaket tebalnya yang sengaja ditinggalkan ibunya sebelum pergi tadi, menyampirkannya ke badan Hyuna. Lalu, matanya beralih menatap pada kaki gadis itu.

 

“Bagaimana ini, aku tidak punya alas kaki lain” kata Dong Hyun yang membuat Hyuna melihat ke arah kakinya dan dengan bodohnya gadis itu baru sadar bahwa sejak tadi ia tidak memakai sandal. Oh ya ampuun! Bagaimana bisa ia berpikir memakai sandal, mendengar kabar Kyuhyun kritis saja ia seperti orang kesetanan tadi.

 

“Ah, tunggu sebentar” Dong Hyun berlari meninggalkan Hyuna. Membuat gadis itu berkerut bingung namun ia tak begitu mempermasalahkannya. Yang ada di pikirannya kini hanya Cho Kyuhyun, Cho Kyuhyun, dan Cho Kyuhyun.

 

Lagi, gadis itu menitikkan air matanya lagi. Entah sudah kebarapa kalinya gadis itu menangis hari ini. Demi Tuhan, ia tidak mau terjadis sesuatu yang buruk pada Kyuhyun. benar benar tidak mau.

 

Terbesit setitik penyesalan saat mengingat kejadian tadi sore. Saat ia berteriak marah pada Kyuhyun dan bilang untuk tidak menyentuhnya lagi. Untuk tidak menemuinya lagi. Apa apaan ini? bahkan dia yang seperti orang gila sekarang. Mengharapkan seribu keajaiban untuk bisa masuk ke ruang terkutuk dimana Kyuhyun berada lalu berteriak menanyakan keadaanya, memluknya erat dan meminta maaf. Kau benar benar gila Park Hyuna!

 

Dong Hyun kembali, dengan sigap pria itu duduk berjongkok lalu memakaikan kaus kaki hangat berwarna hitam ke kaki Hyuna. “Dong Hyun~ah”

 

“Biarkan. Kau akan dikira gadis gila jika tak memakai alas. Lagipula, ini membuatmu hangat”

 

Hyuna menurut. Gadis itu tersenyum melihat Dong Hyun masih memperlakukannya seperti dulu. Namun tiba tiba senyumnya memudar. Tanpa sadar, tangannya menjalar ke dada nya sendiri. Merasakan detak jantungnya, mengeceknya sekali lagi. Hilang. Ini aneh.. kemana jantungnya yang berdegup cepat seperti biasa saat ia berhadapan dengan Dong Hyun? Kemana perasaan cinta yang meluap begitu besar untuk pria di hadapannya ini? kenapa bisa?

 

Setelah menunggu lama, seorang pria paruh baya keluar dari ruangan itu. membuat keduanya sontak berdiri. “Bagaimana keadannya?” Hyuna menatap dokter itu penuh harap. Menunggu jawaban atas pertanyaan Dong Hyun tadi.

 

“Dia baik baik saja. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap” kata Dokter Jung, membuat Hyuna menghela nafas lega.

 

“Dong Hyun~ah, adikmu pria yang kuat” kata dokter Jung memegang pundak Dong Hyun. Mencoba memberi kekuatan pada pria yang sudah ia anggap anak sendiri itu. Dokter Jung, dokter keluarga Cho sejak Dong Hyun kecil. Bahkan sebelum Kyuhyun lahir.

 

“Ah ya.. dan untung saja gadis itu bersedia mendonorkan darahnya tadi, jika tidak Kyuhyun mungkin tidak akan tertolong. Kau harus berterimakasih padanya Dong Hyun~ah” ucap Dokter Jung.

 

“Aku tahu”

 

Dokter Jung melenggang pergi. Disisi lain, Hyuna mengerutkan dahinya bingung, gadis? Siapa? Ditengah kebingungannya, Kyuhyun yang masih belum sadar keluar dari ruang ICU dengan para suster yang mendorong tempat tidurnya, membawanya ke ruang inap.

 

“K-kyuhyun~ah” Hyuna berucap lirih, gadis itu benar benar akan gila sepertinya. Dia benar benar tidak bisa melihat Kyuhyun seperti ini.

 

“Kau mau kuantar pulang sekarang?” tawar Dong Hyun

 

Ani, aku ingin menemaninya” jawab Hyuna dengan tatapan yang masih fokus ke Kyuhyun.

 

“Hyuna, Tapi—“

 

Jebal” Hyuna memohon, matanya terlihat sendu dan itu membuat Dong Hyun sulit menolak. Pria itu menghela nafas pasrah “Arraseo

-o0o-

Hyuna menggeliat dalam tidurnya, merasa seseorang mengelus lembut rambutnya. Gadis itu mencoba mengangkat kepalanya, mengerjapkannya berusaha menyesuaikan dengan sinar matahari yang masuk.

 

Ia beralih menatap Kyuhyun yang kini menatapnya dengan senyum yang lemah. Hyuna berjengit kaget, gadis itu berdiri lalu mendekatkan dirinya kearah Kyuhyun.

 

“Kau sudah sadar? Ada yang sakit? Dimana? Katakan padaku” Hyuna mengecek suhu tubuh Kyuhyun, melihat ke arah perutnya yang masih terluka. Segala yang ada pada Kyuhyun ia cek, bahkan tak luput dari kuku kukunya.

 

Noona

 

“Heum? Ingin sesuatu? Akan ku belikan” Kyuhyun menggeleng

 

“Ingin minum?” Kyuhyun menggeleng

 

“Baiklah, aku kupaskan buah” Hyuna tak mendengarkan Kyuhyun gadis itu sibuk mengupas apel ditangannya. Tak lama, gadis itu terisak. Tetesan air matanya jatuh mengenai punggung tangannya. Entah apa yang dirasakannya kini, senang atau sedih? Atau yang lebih parah sakit? Emosinya benar benar masih labil.

 

Noona” Kyuhyun memegang tangan Hyuna, membuat gadis itu berhenti mengupas apel ditangannya.

 

“Maafkan aku Kyu, maaf” isakannya semakin menjadi, Hyuna menangis menunduk dalam. Sungguh gadis itu merasa semua ini akibat dari dirinya sendiri. Dan entah apa jadinya jika saja Kyuhyun tidak tertolong kemarin.

 

Noona, aku tidak apa apa”

 

“Maaf, maaf maaf. Ini semua salahku, karenaku” Hyuna terus mengucapkan kata maaf, membuat Kyuhyun tidak tahan. Pria itu berusaha bangkit namun dengan segera Hyuna menahannya. “Tetap berbaring Kyu, kau masih sakit” Kyuhyun terdiam, pria itu mengulurkan tangannya ke pipi Hyuna yang kini berada tak jauh darinya. Mengusap air mata yang masih mengalir itu dengan sayang. Membuang segala ketakutan Hyuna. Memberikan energy positif dan mencoba memberitahu bahwa dirinya baik baik saja.

 

“Aku tidak apa apa, sungguh. Dan berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku tidak suka”

 

“Aku minta maaf, karena .. sikapku kemarin” kata Hyuna lirih

 

“Jujur, aku terkejut. Sangat terkejut Kyu”

 

“Aku tahu, aku mengerti” kata Kyuhyun tersenyum

 

“Aku juga minta maaf atas rasa sakitmu selama ini. segala perbuatanmu malah membuatmu bertambah sakit. aku sungguh bodoh bukan?”

 

Kyuhyun lagi lagi tersenyum lembut “Gwenchana

 

“Dan aku minta maaf—“ Kyuhyun memfokuskan pendengarannya, merasa was was dengan apa yang akan dikatakan Hyuna “Aku.. masih bingung dengan perasaanku Kyu. Aku.. a-aku.. tidak bisa” Hyuna menunduk dalam, tak berani menatap Kyuhyun yang kini memandangnya dengan tatapan yang teramat sangat sakit.

 

“Aku menyayangimu Kyu, sangat. aku menyayangimu sebagai adikku. Adik kecilku yang manis. Tidak lebih” ‘setidaknya untuk saat ini’ lanjut Hyuna dalam hati

 

Kyuhyun tertohok, pria itu terdiam, mematung. Bisakah embel embel ‘adik’ dihilangkan dari kata ‘sayang’ itu? bisakah Hyuna hanya melihatnya sebagai pria, bukan seorang ‘adik’

 

“Cho Kyuhyun, maafkan aku”

 

-o0o-

 

“Amerika?!” Hyuna hampir memekik tak percaya, tenggorokannya tercekat karena begitu terkejut dengan berita yang dibawa ibunya barusan.

 

“Tapi eomma, untuk apa?”

 

“Cabang Cho Enterprise di sana membutuhkan mereka”

 

“Keduanya?” Hyuna bertanya lagi, mencecar ibunya. “Tidak, Hanya Kyuhyun. Dong Hyun akan bekerja di perusahaan teknologi disana. Kebetulan yang baik bukan? Dia jadi bisa menemani dan membimbing Kyuhyun disana”

 

“Apa-apaan ini eomma? Kyuhyun bahkan belum lulus” Nada suaranya mulai khawatir, Ya Tuhaan.. Hyuna, ada apa dengan gadis itu?

 

“Bulan depan kelulusannya, kau lupa?” sanggah Ny Park membuat Hyuna terdiam seribu bahasa. Apa apaan ini? Amerika? Oh, kenapa tiba tiba kepalanya terasa pening seperti ini? Dia takut kehilangan, tapi belum sepenuhnya yakin pada siapa.

 

“Dia masih muda eomma, dan baru akan lulus. Bagaimana bisa diberikan tanggung jawab sebesar itu?!” Kilah Hyuna lagi pada ibunya yang duduk sambil mengupas buah di depannya.

 

“Yah! Kenapa kau protes pada eomma mu ini, huh? Lagipula, Appa Kyuhyun sengaja melakukan itu agar putranya terbiasa dengan perusahaan yang nantinya akan ia wariskan pada anak nya”

 

Hyuna menghela nafasnya, menyenderkan badannya kembali pada kursi berkaki empat berwarna putih yang ia duduki. “Bahkan Kyuhyunnie paling tidak suka belajar management dan bisnis, bagaimana bisa anak itu melakukannya” lirihnya.

 

Matanya beralih kesana kemari, memandangi hamparan taman rumahnya yang tampak nyaman, rumput hijau dan berbagai macam bunga kesyangan ibunya terawat dengan sangat baik.

 

Tatapannya berhenti pada salah satu sudut taman, memorinya mengulas kejadian bertahun tahun silam. Saat untuk pertama kalinya Kyuhyun menginjakkan kakinya dirumah Hyuna. Dan gadis itu membawanya ke taman rumahnya.

 

Matanya tiba tiba memanas, jantungnya berdegup kencang. Hyuna menggigit bibir bawahnya agar sang ibu yang masih setia berada di depannya tidak melihatnya. Ya Tuhan.. Hyuna merasakan gemuruh dadanya terasa menyakitkan berkali kali lipat. Oh, dia .. seperti ingin menemui Kyuhyun sekarang juga!

 

Flashback~

Noona, menurutmu aku ini seperti apa?” tanya remaja 15 tahun berkacamata, Cho Kyuhyun.

 

“Eum.. menurutku kau itu seperti lembaran buku” jawab Hyuna sambil tersenyum manis yang ditanggapi Kyuhyun dengan kerutan berlipat di dahinya.

 

Hyuna tertawa sekilas “Kau itu, bagaikan lembaran buku bagiku Kyuhyunnie. Buku yang berisikan kamus ajaib yang selalu tertera jawaban dari berbagai pertanyaan hidupku yang kadang aku sendiri sulit untuk menemukan jawabannya” Kyuhyun makin mempertebal kerutan di dahinya, Oh ayolaah~ dia masih 15 tahun untuk mengerti kosakata berbelit belit seperti itu. Meskipun dia si jenius Cho Kyuhyun sekalipun!

 

“Terkadang aku merasa bosan dengan hidupku, marah, senang sedih, atau bahkan bimbang. Daan.. apa kau tau Kyu, kau mungkin tidak percaya ini! setiap aku melihatmu, setiap aku mendengar kalimat kalimat motivasi darimu, apalagi mendengar suara emasmu saat bernyanyi, semua rasa itu seperti hilang entah kemana, dan aku seperti mendapat jawaban. Hey, apa yang kau lakukan padaku Cho Kyuhyun! kau bahkan hanya remaja yang umurnya dibawahku” kata Hyuna terkekeh.

 

Kyuhyun tersenyum, sedikit kesenangan melingkup di hatinya “Umur tidak menentukan bagaimana seseorang bersikap dan bertutur kata noona. Yah.. siapa tahu aku ini bukan remaja biasa” kekeh Kyuhyun

 

“Cih! Percaya diri sekali” Hyuna kembali menyeruput tehnya

 

Geurom, lalu apa noona akan memberikan kepercayaan pada lembaran buku itu untuk menjadi penopang hidupmu kelak?”

 

Hyuna menerawang jauh kedepan, gadis itu menjawab dengan sangat lembut “Ani. Aku lebih akan mempercayakan pada sampul buku itu”

 

“Hah?”

 

“Sampul buku akan melindungi buku buku itu dari luar, bahkan hingga ke lembaran lembaran terkecil. Dia akan melingkupinya dengan kehangatan, dan tak membiarkan lembaran di dalamnya rusak terkena air, ataupun tersobek. Bahkan, jawaban di lembar lembar itupun terlindungi. Aku.. akan mempercayakannya pada orang seperti itu”

 

Arraseo, nan gidaryo noona. Aku akan menjadi sampul buku itu”

 

Flashback off

-o0o-

 

1 year, 6month latter~

Los Angeles, California

 

Hyuna menapaki kaki jenjangnya yang berbalut heels dengan bentuk boot di sepanjang jalan Rodeo Drive siang itu. Jalan yang sangat populer dimana terdapat pertokoan eksklusif yang terdiri dari butik butik ternama di dunia. Matanya menyusuri deretan busana yang dipanjang indah di depan berbagai toko ternama disana, hingga terhenti pada titik di sebelah kanan jalan yang menyuguhkan sebuah gaun simple berwarna hitam panjang yang sangat elegant, membuatnya tanpa sadar berjalan kesana.

 

Hyuna keluar dari butik itu dengan sebuah shopping bag yang cukup besar. Gaun satin hitam panjang beserta heels dengan tinggi sepuluh centimeter berwarna peach berhasil ia dapatkan. Gadis itu tersenyum kecut, lagi lagi pengeluaran tak terduga.

 

Pekerjaan kantornya membuat Hyuna berada disini sekarang. California, negara bagian barat dari Amerika Serikat. Sebuah kota penuh keindahan dan tersohor di kalangan dunia. Baverly Hills.

 

Demi Tuhan, boss nya tidak pernah bilang akan ada acara makan malam formal dalam pertemuan kali ini. Dan itu sebabnya, dia tidak mempunyai baju yang ‘layak’ untuk pergi ke acara itu, sehingga mengharuskannya merogoh kocek yang lumayan dengan membeli gaun beserta sepatu dengan kualitas terbaik dan rancangan desainer ternama. Setidaknya, dia tidak akan malu nantinya.

 

Pukul tujuh malam, sebuah limosin putih menyambutnya ketika dia berjalan keluar dari hotel tempat ia menetap sementara di sana. Dengan agak ragu, gadis itu masuk kedalamnya.

 

Beberapa kali ia mendengar dirinya sendiri menghembuskan nafas, lalu kembali menata rambutnya yang ia gulung ke atas. Berjaga jaga supaya tetap rapih. Lalu sedikit membenarkan gaunnya yang sekali tersingkap. Oh well.. potongan gaun itu memang panjang, tapi belahan yang berada di sebelah kirinya juga sangat panjang membuat pahanya terkadang terekspos.

 

Hyuna menikmati pemandangan malam di Baverly Hills untuk mengalihkan rasa gugupnya. Ini bukan pertama kalinya bagi gadis itu bertemu client penting karena perusahaan sangat mempercayakan masalah negosiasi pada dirinya. Tapi untuk kali ini, tiba tiba saja jantungnya terasa tak tenang. Dan gadis itu hanya duduk dengan gelisah.

 

Limosin itu berhenti di sebuah mantion di tengah kota Baverly Hills. Dan jangan ditanya betapa megahnya mantion itu. bahkan, dengan mendengar kota ‘Baverly Hills’ saja kau sudah akan berekspetasi dengan imaginasimu mengenai bangunan bangunan super mewah yang berdiri disana, tersohor di seluruh dunia.

 

Dan sekali lagi, dengan agak ragu Hyuna melangkah kedalam. Ini kali pertama dia menemui client seperti ini. biasanya mereka akan bertemu di sebuah restorn atau bahkan di kantor perusahaan itu sendiri. Tapi kemarin, boss nya di Korea memberitahu tempat dimana dia akan bertemu clientnya itu. lengkap dengan sebuah makan malam. Aneh bukan?

 

Hyuna menyusuri bangunan mewah itu dengan tatapan memuja –walau sebenarnya itu tak nampak sama sekali di wajahnya- hingga seorang berjas hitam yang bertugas mengantarnya membuka pintu besar sebuah ruangan dan menyuruhnya masuk.

 

Hyuna masuk dengan langkah yang lagi lagi terkesan ragu. Jantungnya terus bekerja tak karuan sejak tadi. Hatinya gelisah dan sepertinya memang ada yang aneh disini.

 

BLAM! Sebuah lampu sorot tiba tiba hidup dan menyorot di tengah ruangan. Terdapat sebuah meja makan bundar sederhana, dengan segala macam yang ada di atasnya. Hyuna kembali dikejutkan dengan suara yang berasal dari atasnya. Membuat gadis itu mendongak. Detik berikutnya, ia hanya bisa tercengang dengan ini. atap ruangan itu terbuka! Menampilkan langit malam dengan taburan bintang yang begitu indah.

 

Tepat setelahnya, lampu utama mati. Membuat ruangan itu hanya diterangi dengan beberapa lampu sorot di berbagai arah juga temaram langit malam. Rasa was was mulai menghantuinya kini. Gadis itu cukup pintar! Tida tidak.. ini ada yang salah! Tidak mungkin seorang client seperti ini.

 

Gadis itu ingin berbalik, namun sebuah suara disertai petikan gitar mengalun indah sampai ke relung telinga terdalamnya. Membuatnya berhenti dan membeku. Tangannya tiba tiba saja bergetar hebat, bulu kuduknya merinding. Tidak.. dia bukan merasakan makhluk halus disini, tapi yang lain! Seseroang.. seseorang yang menjadi sumber kebodohannya setahun belakangan.

 

“Hello~ this is February 2016

How are you ~ how close are you

To the dream I wanted so bad

Here, I’m still falling and crying again

I’m hurt and tired and have no strength to get up

But you would probably see me and smile”

 

 

Dengan kaki yang terasa membeku, gadis itu berbalik perlahan. Memastikan siapa orang yang berada tepat di belakangnya itu. Dan suara dalam hati kecilnya berkata “semoga ini nyata, semoga dia”

“Hello to myself, hello to myself

Will you comfort me, saying don’t cry?

Hello to myself, hello to mayself

Will you tell me that i can do it?

Hello Hello –don’t cry- Hello Hello –Get Up –“

 

Petikan gitar itu terhenti. Dan orang yang duduk di belakang Hyuna mengangkat kepalanya. Menatap lurus menerjang retina mata gadis itu, membuat mata Hyuna semakin memanas.

 

Cho Kyuhyun bangkit dari duduknya setelah meletakkan gitarnya. Memasukkan kedua tangannya di saku jasnya. Kini, pria itu tak perlu lagi membenarkan letak kacamatanya karena benda itu hilang entah kemana. Yang ada, hanya Cho Kyuhyun tanpa kacamata yang tampak begitu mempesona.

 

Tap. Tap. Perlahan tapi pasti, Kyuhyun berjalan. Teramat sangat pelan, seperti jarak mereka berdua membutuhkan jarak tempuh beratus ratus tahun untuk mencapainya. Membuat semuanya semakin mencekam, tiada sepatah katapun disini sampai Kyuhyun kembali membuka mulutnya untuk bicara.

 

How are you? How is it fullfill your dream? Doesen’t it hurt when you pinch yourself?”

 

Hyuna tercekat, suara Kyuhyun begitu pas terasa di pendengarannya. Membuat jantungnya tertohok karena debarannya yang begitu keras. Kini ia dapat mengakuinya, Demi Tuhan! Hyuna merindukan Kyuhyun!

 

Or, is it something boring because it’s become a normal routine for you?

 

Tak sadar, Hyuna malah melangkah mundur. Tatapan tajam Kyuhyun seakan menikamnya. Demi Tuhan! Sosok Kyuhyun di depannya kini benar benar berbeda!

 

If you ever get lonely and tired, will you remember me, who used to dream here?”

 

Hyuna semakin memundurkan langkahnya saat Kyuhyun terus maju mendekatinya dengan berbagai pertanyaan retoris itu.

 

Will you think of me here and smile?”

 

Kyuhyun terus melangkah maju semakin mengkikis jaraknya antara dirinya dan Hyuna “Will you be happy to the point where your heart overflows?

 

Dan stuck! Hyuna terhenti ketika punggung telanjangnya menghentak dinding. Gadis itu menelan ludahnya susah payah karena Kyuhyun kini berdiri tepat di depannya. Berjarak kurang dari lima centimter. Dengan deru nafas mint yang menguar, parfume yang sama seperti dulu membuat Hyuna yakin bahwa gadis itu benar benar merindukannya!

 

Will you.. think of me and.. smile?” Tepat setelahnya, Kyuhyun menundukkan wajahnya. Menempelkan bibirnya membungkus bibir Hyuna. Menciumnya dengan lembut dan penuh kasih sayang, sarat akan kerinduan.

 

Gadis itu terkejut, tentu saja. Namun tak lama. Rasa rindunya yang lebih mendominasi membuat dirinya larut akan ciuman itu. ikut memejamkan matanya dan membalas setiap sentuhan bibir Kyuhyun di bibirnya. Masa bodoh! Anngap dirinya gila! Sudah cukup dia merutuki kebodohannya selama ini. merutuki keterlambatannya yang emnyadari satu point penting dalam hidupnya. Gadis itu.. mencintai Kyuhyun. Cho Kyuhyun.

 

Kyuhyun melepas ciumannya perlahan, namun masih tak mengikis jarak antara mereka. Deru nafas masing masing saling bertabrakan, dan degup jantung keduanya sama saja.

 

“Maafkan aku, karena meninggalkanmu” Hyuna mendongak menatap retina mata Kyuhyun yang terasa meneduhkan. “Maafkan aku, karena bersikap egois” Hyuna masih menatap Kyuhyun di depannya “Maafkan aku.. kerena masih belum bisa.. berhenti mencintaimu, Park Hyuna”

 

Ya Tuhan.. jantung Hyuna seperti sedang maratoon kali ini. kenapa getarannya cepat sekali dan terasa menyenangkan!

 

“Kyuhyun~ah..” Setetes air mata jatuh menganak sungai dipipinya, membuat Kyuhyun tersentak dan buru buru menghapusnya.

Hyuna menggeleng keras, lalu kemudian memeluk Kyuhyun erat. Menangis terisak di dadanya membuat Kyuhyun lebih terkejut. “Jangan katakan maaf disaat seharusnya aku yang harus mengakatakan itu. Jangan.. jangan sekalipun” lirihnya

 

“Maaf maaf maaf!” isaknya

 

“Maafkan aku yang banyak menyakitimu, maafkan aku yang membuatmu selalu menunggu, maafkan aku yang terlalu bodoh, dan maafkan aku.. maafkan aku yang … yang kini mencintaimu Kyuhyun~ah “ Hyuna terisak, masih terus terisak.

 

Cho Kyuhyun. Pria itu tersenyum lembut yang tak tampak di mata Hyuna. Hatinya merasakan kelegaan yang luar biasa sangat setelah mengetahui sendiri fakta itu dari mulut Hyuna, bukan dari orang lain lagi, seperti yang biasa ia dengar setahun belakangan ini.

 

Bagai hilang ditelan bumi, Hyuna tak lagi terdengar kabarnya di telinga Kyuhyun tak lama setelah ia keluar dari Rumah sakit dan akan melakukan proses wisuda kala itu. Hatinya berkali kali lipat merasa khawatir dengan sikap Hyuna. Pria itu selalu tak menemuinya dirumah Hyuna, gadis itu selalu saja tak ada saat ia berkunjung. Di tempat kerjanya, Kyuhyun berulang kali menunggunya dilobi hingga jam kerja habis, namun tak kunjung ia temui sang pujaan hati.

 

Hingga tepat setelah hari kelulusannya, ia terbang ke Amerika bersama sang kakak, Dong Hyun. Meninggalkan hatinya menetap pada tempat yang seharusnya di Seoul, dengan segala resah gelisah yang masih tertanam sempurna di lubuk hatinya. Meninggalkan perih yang tergores lagi dan lagi. Membuka semakin lebar luka yang memang sudah memar sejak dulu.

 

Namun sang ‘fans’ setianya selalu saja ada saat ia membutuhkan. 3 bulan ia di Amerika dengan perasaan yang masih sama, hingga suatu hari Hye Na yang memang masih berhubungan baik dengannya membawa kabar bahagia.

 

Oppa! Kau tak akan percaya ini! Kau harus tau.. kau harus tauuu!!’ begitulah Hye Na berteriak pada Kyuhyun saat itu, yang hanya ditanggapi malas oleh Kyuhyun.

 

Aish! Kau! Dengar dulu apa yang akan kukatakan! Oppa, aku kan berteman baik dengan Hyuna eonnie semenjak kau di Amerika’

 

Kyuhyun tersentak langsung saat itu, hingga semangatnya mulai bangkit ‘apa? Jadi kau sering bertemu dengannya? Bisakah kau tanyakan kemana saja dia setelah aku keluar rumah sakit waktu itu? kenapa tidak mengabariku? Apa sebenarnya yang terjadi?’ cerca Kyuhyun

 

Kini, ganti Hye Na yang memutar bola matanya malas, walaupun Kyuhyun tak dapat melihatnya ‘Hyuna eonnie.. dia sengaja menghindarimu oppa’

 

Mwo? Kenapa?

 

Belakangan ini, dia selalu berkeluh kesah padaku. Entahlah, akupun bingung malam itu, tepat dua minggu kepergianmu ke Amerika, dia datang ke apartemenku tengah malam dan terisak hingga membuatku tak tega. Lalu dari situ, eonnie sering datang padaku jika dia ada masalah. Termasuk masalah hatinya

 

Dia bilang, dia sengaja menghindarimu oppa. dia hanya sedang bingung dengan hatinya. Kondisinya kacau saat itu. Dia tidak mau bertemu denganmu padahal faktanya dia tahu jika kau akan ke Amerika. Hyunna eonnie menjadi seperti mayat hidup setiap aku berkunjung ke kantornya untuk mengajaknya makan siang. Hingga malam itu, eonnie dengan mata sembab dan mabuk meracau tak jelas. Menangis seperti orang gila. Memanggil manggil namamu oppa! dan dia bilang di akhir kalimatnya, ia menyesal karena beru menyadari.. bahwa selama ini eonnie, mencintaimu’

 

Terdengar nada getir di akhir kalimat Hye Na, namun gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk tegar. Dia tahu, kabar ini membuat Kyuhyun nya bahagia. Setidaknya, dia akan merasa lega. Sejak saat itu, Hye Na selalu meloporkan kegiatan Hyuna pada Kyuhyun, atau berita terbaru tentang curahan hati gadis itu pada Kyuhyun. dan hal itu yang membuat Kyuhyun tak kuasa untuk segera melaksanakan rencana ini. dengan dalih membuat Hyuna dikirim oleh kantornya ke Los Angeles dan menemui seorang client yang pada kenyataannya adalah dia sendiri. Oh~ Hebat sekali bukan kuasa seorang Cho Kyuhyun?

 

“Aku tahu” setelah sekian lama mereka bertahan dalam posisi itu dalam keheningan, Kyuhyun kembali bersuara.

 

“Aku juga masih sama. Sangat amat mencintaimu Park Hyuna” Kyuhyun mengeratkan pelukan di tubuh Hyuna membuat gadis itu merasa lebih nyaman. Untuk sesaat, hanya suara detak jantung mereka yang masih menggema.

 

“Maafkan aku, aku mencintaimu Cho Kyuhyun”

 

-o0o-

 

Raum Wedding Building, 10.00 KST

 

Hyuna melihat kursi putih disebelahnya mendadak kosong. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Hanya terlihat kerumunan orang yang sedang berdansa di tengah tengah taman yang kini dihias sedemikian rupa hingga menjadi tempat serupa dengan di negeri dongeng. Didominasi oleh warna putih dan para tamu pria yang kebanyakan memakai tuxedo hitam.

 

“Hye Na, kau melihat Kyuhyun?” bisik Hyuna pada Hye Na yang ada disampingnya.

 

Molla eonnie. Dia menghilang? Kenapa bisa? Bukankah tangan kalian selalu menempel seperti lem sejak tadi?” yang ditanya malah balik menggoda Hyuna sehingga membuat gadis itu memukul pelan kepala Hye Na

 

“Lagipula eonnie, kali ini kau harus lebih memfokuskan pada sang raja dan ratu disinggasana itu! bukan hanya Cho Kyuhyun!” tunjuk Hye Na kearah mempelai pria dan wanita yang kini tengah tersenyum hangat pada seluruh tamu undangan.

 

“Cih! Kau tidak patah hati?” ejek Hyuna

 

“Aku? Kenapa?”

 

“Aku kira kau yang akan menjadi pengantin wanita, tapi ternyata bukan”

 

Hye Na terkekeh “Ani, Dong Hyun oppa hanya kuanggap sebagai kakakku. Lagipula, Na Rin eonnie lebih pantas bersanding dengannya”

 

Arraseo, carilah pasangan sejatimu mulai sekarang” kata Hyuna yang dijawab kekehan dari Hye Na

 

“Aku mencari Kyuhyun dulu” kata Hyuna seraya berdiri dari meja bundar itu, berbalik lalu mulai berjalan ke arah belakang mencoba untuk mencari Kyuhyun.

 

Tepat di langkah kelima, langkahnya terhenti. Suara seseorang dibelakang sana terdengar jelas ditelinganya. Dengan microphone itu, membuat semua orang pun kini memberhentikan aktifitasnya untuk sejenak.

 

“Park Hyuna” sekali lagi nama itu keluar dari suara seseorang di belakang Hyuna. Membuat gadis itu perlahan berbalik, dan menatap pangerannya berdiri dengan gagah di ujung jalan kecil beralaskan red carpet yang ia pijak kini. Lengkap dengan setelan tuxedo putih yang membuat Kyuhyun makin bersinar di matanya.

 

“Kyu~” lirihnya, nyaris tak terdengar.

 

Kyuhyun berdehem untuk sesaat, dan semua keheningan disana makin membuat pria itu gugup. Tak lama, ia kembali bersuara.

 

“Kita bukan terlahir sebagai dua anak manusia yang saling tumbuh dalam ruang lingkup yang sama, bukan pula dua orang insan yang pernah menjalin hubungan serius di masa lalu, atau dua orang manusia yang telah puluhan tahun mengenal dan berbagi kebahagian bersama. Namun diluar itu, kita hanya dua anak adam dan hawa yang berbeda.. sangat berbeda. Yang dipertemukan beberapa tahun silam, disaat aku masih menginjak usia remaja. Dan dengan gilanya berasumsi bahwa detik itu aku .. mecintaimu”

 

Hyuna tercekat, Kyuhyun kembali bersuara.

“Kau jauh dariku, dan lama kelamaan semakin jauh. Tapi itu semua malah membuatku merasakan arti kata rindu, sayang, dan cinta yang sesungguhnya. Demi Tuhan.. aku benar benar mencintaimu Park Hyuna”

 

“Tidak perduli seberapa lama kita mengenal, seberapa jauh perbedaan kita, karena semua itu hanyalah akan menjadi suatu tali benang emas yang akan terus menyambungkan segala perbedaan kita menjadi satu. Melengkapi segala kekurangan pada diri kita”

 

“Untuk itu, pada hari ini, jam ini, dan detik ini..Dihadapan ratusan undangan, dihadapan orang orang terdekat kita, dihadapan orang tua kita, bahkan di hadapan Tuhan yang saat ini berada di tengah tengah kita, aku.. Cho Kyuhyun menyatakan diri untuk menjadikan Park Hyuna sebagai.. istriku”

 

With all of my love, with all of my wish, with all this shortcomings from both of us I declare my intention for our happiness. This is, I give it to you.. So now, you can see My Love For You. The biggest feel I ever had. You’re my angel.. Jessie Park, Would you marry me .. ?”

.

.

.

Waktu terasa berhenti bagi keduanya. Untuk sesaat, hanya ada tatapan mereka berdua yang saling membalas. Suara detak jantung Hyuna yang dapat gadis itu dengar sendiri seakan menandakan waktunya semakin dekat. Waktu baginya untuk menyudahi perasaan sia sia nya di masa yang lampau, dan melangkah menuju masa depan yang lebih cerah bersama seseorang yang dapat menjadi sampul buku baginya.

 

Hyuna mengusap kasar air mata yang sudah mengalir itu dengan punggung tangannya. Perlahan gadis itu berjalan menapaki red carpet yang kini lebih terlihat seperti emas dimatanya. Dilangkah kedua ia mulai menambah tempo kakinya hingga ia kini berlari. Berlari munuju satu sosok yang ia yakini akan menajaga dirinya seumur hidup.

 

Semua orang bertepuk tangan riuh saat akhirnya melihat penyatuan keduanya di depan sana. Gadis itu mencium Kyuhyun tepat dibibir setelah ia bisa merangkul leher Kyuhyun dalam dekapannya. Mencumbunya dengan begitu manis dan cinta yang berjuta juta terasa disana.

 

Hyuna melepaskan ciuman mereka dengan tatapan yang kini menusuk jantung Kyuhyun. sorot mata teduh favoritnya sedari dulu. “ Yes.. I do. I do Cho Kyuhyun. I Do!” dan mereka kembali berciuman.

 

Sorak sorai semakin terdengar ramai dan meriah. Ratusan orang kini, menjadi saksi penghujung dari akhir perjalanan cinta seorang Cho Kyuhyun. hanya akan ada satu wanita dalam hidupnya, hanya akan ada satu cinta dalam hidupnya, hanya akan ada satu takdir dalam hidupnya. Dan semua itu drangkai dalam satu nama, Park Hyuna.

 

“Aku mencintaimu, sampul buku ku”

 

“Aku mencintaimu, malaikatku”

.

.

.

END

 

INIIII APAAAAH?? SETELAH SEKIAN LAMA BARU POST DAN INI GAJE BANGEEEET! ><

Biar aku perjelas.. tertunda karena ada mid sekolah, tertunda karena banyak tugas, dan yang paling paraaah.. TERTUNDA KARENA SAAT UDAH MAU END.. NIH FILE KEAPUUUS! DAN JADINYA NGULANG LAGI DARI AWAAAL T.T

Pasti tu dong rasanya gimana kalo udah nulis sampe HAMPIR END malah ilaaang?? Pasti mood nulisnya tuh udaa berkurang T.T jadii.. ini maaaf banget kalo feel nya gadapet daaaan.. tulisannya, ceritanya gaje TT

 

Udahlaah.. makasih aja buat yang masih nungguin dan mau baca :’’’’’ SEE YA GUYS! :*

Advertisements

14 thoughts on “My Love For You (Part 2 of 2)

Add yours

  1. wahhhh…. keren ceritanya bgus!! oh iya kirain donghyun sama hyena ternyata ada yang lain kkk~~ keep fighting !!

  2. Annyeong aku reader baru ^^
    1 kalimat buat ff ini
    FF NYA KEREEEEEEN BANGETTT!!!
    aigooo ga bsa berkata apa2 keren keren keren *prok prok prok
    Hahaha

  3. Huwaaa,, romantisnya dirimu kyu…
    Suka suka suka…
    Smpe menitikkan air mata aq ni.. 😦
    Critanya sangat menyentuh,, pkoknyaa sukaaaa…
    Titik

  4. Ahhh Kyu romantis bget ngelamar Hyuna nya, jadi iri deh 😀
    Sabar bget yah si Kyu, nungguin Hyuna buat suka sma dia, dan akhirnya untung Hyuna jga suka sma Kyu..
    Good job eon, ditunggu karya lainnya 😂👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: