One Reason

Bucovina-salju1-900x1600_副本 

Title                                       : One Reason

Author                                  : Dyah Ayu Pytaloka

Main Cast                            : -Cho Kyuhyun –Park Hyuna

Genre                                   : Sad,Romance

PG                                          : 15

Length                                  : Ficlet (??)

Desclimer                            : cerita ini murni ide aku, so don’t plagiat okay? Cho Kyuhyun juga milik aku #plaaak (bohong ko ._.) and Need cooment, please~ gamsaaa ^^

 

 

Happy Reading~

 

“Dan perlu kau ingat, aku melakukan ini karena sebuah alasan. Alasan yang kau pun tahu jawabannya. Aku melakukan ini karena aku.. mencintaimu”

.

.

.

.

 

07 Desember 2013, aku disini. Berdiri terpaku. Memandang lurus kedepan. Aku melihatnya. Ya. Aku melihatnya. Walaupun terasa sakit, tapi setidaknya. Melihatnya lagi merupakan kado yang wajib kudapatkan di hari lahirku kali ini.

Dia berdiri disana. Bersama dengan seorang gadis kecil yang setia dalam gendongannya. Tawa renyah yang tercipta dari bibir tebalnya itu membuat aku secara tak sengaja menarik kedua sudut bibirku keatas dan membentuk lengkungan yang indah.

Gadis dalam gendongannya itu terlihat kesal dan memukul mukul kecil lengannya yang berbalut kemeja putih polos yang selalu memperlihatkan tubuh tegap dan bidangnya itu.

Sedikit rasa syukur ku panjatkan tatkala sadar bahwasanya sekarang aku masih bisa menatapnya. Dan lebih bersyukur lagi mengetahui kenyataan bahwa disini ramai sekali orang. Membuat aku yang sedari tadi memang memperhatikannya tak mudah dikenali atau dicurigai.

Riuh suara anak anak bermain benar benar membuat dadaku terasa hangat. Sesekali kualihkan pandanganku yang selalu memperhatikannya itu ke arah mereka. Taman ini memamng selalu ramai. Dari dulu, sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku di Blue World Garden ini. Dan tempat dimana untuk pertama kalinya aku bertemu dengan seseorang.

Seseorang yang sampai sekarang masih betah mendiami seluruh relung hatiku. Seseorang yang sampai sekarang masih mampu membuat kerja otakku melambung tinggi memikirkannya. Seseorang yang untuk sekarang ini tidak seharusnya kufikirkan. Seseorang yang sekarang sedang kutatap. Seseorang yang berada di bangku taman di bawah pohon mapel itu.

Sosok gadis bertubuh tinggi kulihat berjalan menghampirinya. Membawa dua buah ice cream di dalam genggamannya. Satu ia berikan pada sosok yang sedari tadi menjadi fokus utamaku, dan satu kepada sang gadis kecil yang masih ada dalam gendongannya.

Kuulas senyum ku sekilas. Berusaha agar terlihat tulus tapi percuma, semua yang kulakakukan dengan menatapnya kini hanya semakin menambah luka dihatiku. Memperbesar lukaku yang memang sudah tercipta semenjak aku memutuskan untuk pergi dari hidupnya.

Semua salahku. Dan kini, meskipun aku ingin memperbaiki semua itu sepertinya terasa percuma. Aku sudah terlambat, sudah ada orang lain disampingnya. Orang yang kuyakini adalah gadis yang diciptakan dengan sempurnya yang mampu menggeser aku dari hatinya.

Tapi baguslah, setidaknya aku bisa melihat senyum cerah menghiasi wajahnya kini. Meski dengan begitu, aku telah merelakan hatiku hancur berkeping keping tanpa bisa di satukan kembali.

Seseorang menyentuh pundakku dengan lembut. Membuat aku mmenoleh kebelakang. Seketika aku mengutuk diriku sendiri yang telah berkata bahwa hatiku tidak bisa diutuhkan kembali. Karena saat  ini, aku sedang mencobanya. Mencoba menata kepingan hatiku yang terasa sangat banyak karena telah hancur sehancur hancurnya. Aku tidak mengharapkan usahaku ini terbuang sia sia, jadi aku masih betah terus mencobanya.

“Kau masih ingin melihatnya?” tanya nya lembut. Aku tahu sorot mata itu benar benar sorot mata yang meneduhkan. Yang membuatku merasa sebagian dari keteduhan itu sengaja ia ciptakan untuk melindungiku

“ya” aku menjawab sambil mengangguk lemah

“tidakkah seharusnya kau pergi menemu—“

“Lee Donghae, aku sudah mengatakan padamu berkali kali. Aku ingin melupakannya. Aku benar benar ingin menata hatiku kembali. Dan bukankah kau berjanji kau akan membantuku? Membantuku melepas semua rasa sakit akibat ulahku sendiri? Akbiat ulahku yang meninggalkannya tanpa memikirkan nasib hatiku? Ak-aku.. aku—“

Aku tak dapat melanjutkan kata kata ku karena setelah nya Donghae menarikku. Aku masuk dalam pelukannya, menangis sesenggukan di dada bidangnya. Seorang pria yang berjanji untuk membantuku menata kembali hatiku yang telah hancur.

“aku tahu. Dan aku memang sudah berjanji membantumu. Tapi tidakkah kau fikir bahwa perbuatanmu ini malah membuat usahamu untuk melupakannya sia sia?”

Aku terdiam. Mencoba mencerna setiap kalimat yang ia lontarkan.

“kau selalu datang. Melihatnya yang sudah bahagia bersama keluarga kecilnya. Membuat dirimu jatuh terpuruk semakin dalam dan sulit melupakannya. Apa ini yang kau sebut sedang mencoba? Mencoba melupakannya??” kata Donghae. Aku jelas mendengar nada bicaranya yang begitu penuh penekanan.

Aku tahu dia marah. Aku tahu itu. Sebenarnya, aku rela jika dia marah atau memakiku. Aku pantas mendapatkan itu semua. Seorang gadis tidak tahu diri yang masih menguntit kemana masa lalunya berada di saat masa depan nya selalu setia disampingnya.

“Berjanjilah padaku untuk benar benar lepas darinya. Karena aku tidak bisa melihatmu selalu mengeluarkan air mata. Terutama dari pria itu” katanya melembut.

aku mengangguk dalam pelukannya. Aku memang belum sepenuhnya siap membereskan hatiku yang berantakan untuk ditempati orang lain. Tapi, pelukan seorang Lee Donghae memang selalu membuatku nyaman .

“sekarang kita pulang. Okay?” lagi lagi aku hanya mengangguk sebagai jawabannya.

Kurasakan dia tersenyum, membuatku mau tak mau tersenyum melihatnya. Dia memegang lenganku lalu menarikku pergi dari tempat itu.

“Hyuna~ya”

Langkahku berhenti tatkala sebuah suara berat yang sangat ku kenali menyapa indra pendengaranku. Aku tidak sanggup untuk berbalik, aku bersumpah. Kakiku bahkan terasa diberi semen dan sudah mengering sehingga tidak membiarkan aku untuk sekedar berbalik.

“Park Hyuna??” panggilnya lagi.

Seakan tahu situasinya, Donghae yang mengerti keadaan tak mengenakan ini langsung berbalik.

“maaf, apa anda baru saja memanggil gadis disampingku ini? Kurasa anda salah orang tuan” aku mendengar Donghae berbicara padanya. Sangat sopan. Atau sengaja ia buat buat?

“Tidak mungkin aku salah orang. Dia Park Hyuna kan?”

Mataku terpejam sangat erat. Aku bahkan menggigit bibir bawahku karena tak kuat dengan semua ini. Rasanya aku ingin menangis, berteriak sejadi jadinya.

Sepertinya Tuhan memang membiarkanku menyelesaikan masalah ini secepatnya. Hingga dia memberikan aku sebuah kekuatan untuk menggerakkan kakiku berbalik ke belakang. Semua terjadi begitu cepat, hingga saat aku tersadar. Aku sudah berada tepat di depannya.

Ya Tuhan.. bagaimana aku harus bersikap sekarang? Aku sudah berusaha menahan air mataku yang mati matian ingin keluar saat melihatnya berdiri di depanku. Aku ingin dan sangat sangat ingin berlari dan menghambur ke pelukannya sekarang juga. Tapi itu tidak mungkin.

Sosoknya tidak berubah setelah hampir 7 tahun kami tidak bertemu. Semuanya masih terasa sama. Hanya kulihat postur tubuhnya semakin bertambah. Membuat pipinya terlihat semakin chubby.

“Annyeong” sapaku dengan tersenyum getir. Dan untuk saat ini, hanya itu yang bisa aku ucapkan.

“Hyuna~ya?” dia kembali memanggilku. Seakan tak percaya kini aku berada di hadapannya. Jelas saja, 7 tahun yang lalu aku menghilang dari hidupnya. Namun dibalik itu semua, ada sebuah alasan kenapa aku harus pergi meninggalkannya.

“Ya. Ini aku” jawabku

Kurasakan tangan Donghae mengenggam erat jemari tanganku. Dan aku yakin, Cho Kyuhyun melihatnya. Ya, pria itu melihatnya. Melihatnya dengan tatapan miris. Kurasa.

“Hyuna~ya.. k-kau—“

Oppa!”

Omongannya terhenti saat seseorang menyerukka panggilan untuknya. Pria bermarga Cho itu lantas berbalik dan melihat gadis itu berjalan ke arah kami dengan si kecil di gendongannya.

“ada apa?” kudengar Kyuhyun berbicara

“uri Hyunra mengantuk. Dia ingin pulang”

Appa~

Aku tersenyum kecil saat si kecil bernama Hyunra itu merengek dan mengancungkan kedua tangannya meminta untuk Kyuhyun gendong. Dengan sigap, pria itu mengambil Hyunra dan mengusap usap punggungnya.

Oppa, mereka siapa?” tanya gadis di sebelah Kyuhyun

“Aaa., dia Hyuna. Dia —“ Kyuhyun terlihat mengantungkan kalimatnya. Pria itu memandangku dalam. Sorot matanya memancarkan kerinduan yang amat dalam.

“T-temannya. Ya, aku temannya” sergahku langsung

“Annyeong. Park Hyuna imnida” sapaku sopan lalu mengenalkan diriku.

“Ah, Hyuna~ssi. Senang bertemu denganmu. Daaan –“ dia mengalihkan pandangannya pada Donghae

“Lee Donghae imnida” kata Donghae tersenyum

“Aku tunangannya. Dan kami akan menikah bulan depan” lanjutnya.

Aku tersentak dengan penuturan Donghae yang tiba tiba. Apa maksudnya bicara seperti itu?? Hei, dia tahu Kyuhyun siapa. Tapi kenapa malah membicarakan hal seperti itu??

Kulihat, Kyuhyun juga tersentak. Pria itu membulatkan matanya sekilas namun bisa mengontrol emosinya.

“Wuuaah, chukkae! Kalian teman teman Kyuhyun oppa kah? Jika begitu undanglah kami saat pesta pernikahan nanti”

“Pasti” balas Donghae sopan. Lengkap dengan lengkuangan indah itu di wajah tegasnya.

“ngomong ngomong, oppa tidak pernah cerita tentang kalian” katanya. Seketika, Kyuhyun gelagapan.

“Itu.. dia.. dia—“

“A-aku tinggal di Jepang. Ya, aku tinggal di Jepang” sergahku lalu tersenyum kaku. Membuat Donghae menoleh kearahku dan mendapat tatapan tajam dari Kyuhyun. Tinggal di Jepang? Kebohongan apalagi yang kubuat? Selama ini aku kembali ke kampung halamanku dan menetap disana, mokpo. Dan soal Jepang, yaah… aku memang sempat mengunjunginya beberapa kali, tapi untuk urusan kantor. Dan siapa sangka, aku bertemu Donghae disana.

“jinjja? Wuaah. Ah iya! Aku belum memperkenalkan diri. Aku Song Ji Eun, istri Kyuhyun oppa” katanya sambil tersenyum cerah. Terlihat sekali kalau gadis ini bahagia dengan kehidupannya bersama Kyuhyun sekarang. Membuat aku lagi lagi tersenyum kecut.

“Ah, ne. Senang bertemu denganmu Ji Eun~ssi” balasku.

Eomma.. appa.. kajja pulang” kami menoleh kearah gadis kecil yang masih ada dalam gendongan Kyuhyun itu saat mendengar dia merengek lagi. Membuatku lagi lagi tersenyum kecil.

“si kecil ini.. anak kalian?” aku mendengar diriku bertanya. Bertanya sebuah pertanyaan bodoh yang jelas jelas aku sudah tahu jawabannya. Dan jawaban yang akan kuterima tentu membuat rasa sakit itu kembali datang.

“Ya. Namanya Cho Hyunra. Hyunra~ya, beri salam. Mereka teman teman appa mu” kata Ji Eun sambil menuntun tangan Hyunra supaya gadis kecil itu melihat kearahku

Disini, Kyuhyun benar benar tidak banyak bicara. Pria itu hanya menatapku. Menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku tahu itu,aku sadar akan hal itu. Pasti banyak sekali pertanyaan diotaknya.

“Annyeong Hyunra~ya.. wuah, kau manis sekali” sapaku sambil mengusap lembut pipi gembulnya

Khamsahamnida. Eonnie juga sangat cantik” jawabnya dengan suara khas anak kecil dan matanya yang sayu karena mengantuk. Tapi dia masih ingin terlihat sopan dengan memberikan senyum terbaiknya. Benar benar gadis kecil yang manis.

“Bawa Hyunra ke mobil. Nanti aku menyusul” aku mendengar Kyuhyun bersuara. Menyuruh Ji Eun mengambil alih Hyunra dan membawanya ke mobil. Dengan tampang bingung, Ji Eun tetap menuruti suaminya dan membawa si kecil itu pergi setelah sebelumnya berpamitan pada ku dan Donghae.

Kyuhyun masih diam di tempatnya. Menatapku dengan sejuta pertanyaan yang aku tahu berseliweran di otaknya.

Donghae sepertinya mengerti situasi ini. Pria itu ingin melangkah pergi namun dengan cepat kutahan. Dia menatapku dengan pandangan heran, dan aku menatapnya dengan tatapan ‘aku mohon tetap disini’ . dia mengerti kemudian mengangguk kecil dan berdiri kembali disampingku.

“Kita perlu bicara” kata Kyuhyun

“bicaralah”

“berdua”

“tidak. Jika ingin bicara, bicaralah. Atau aku pergi”

Kyuhyun terlihat menghela nafasnya kasar. Membuat aku membuang muka agar tidak melihatnya. Aku tidak berani melihatnya, benar benar tidak berani.

“Kenapa seperti ini?” tanya lirih, terdengar putus asa

“apa?”

“menghilang tiba tiba disaat aku benar bear dalam puncak mencintaimu. Berharap memilikimu dan menghabiskan sisa waktuku bersamamu. Menjalin sebuah rajutan rumah tangga yang indah seperti yang selalu kita impi impikan dulu. Apa aku berbuat salah padamu? Katakan! Katakan dimana salahku?!” suaranya meninggi, namun tersengar sangat sakit ditelingaku

“Aku sudah tidak mencintaimu” bohong. Jawaban yang kukeluarkan barusan tentu kebohongan besar. Sampai detik ini pun masih namanya yang tersimpan di hatiku

“Huh, lelucon macam apa itu?” katanya mendengus. Dia mengalihkan pandangannya dariku beberapa kali. Terlihat urat urat wajahnya yang mengeras menandakan ia sedang menahan emosi. Sama denganku, ingin rasanya aku menangis sekarang. Menangis sekencang kencangnya. Namun tangan Donghae yang masih menghangatkanku bagai sebuah penopang agar aku tidak jatuh sekarang.

“Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang pasti, aku punya alasan kenapa aku harus menghilang dari hidupmu waktu itu. Sekarang, kita sudah mempunyai kehidupan masing masing. Kau berada di jalanmu, dan aku berada dijalanku. Kau harus hidup bahagia bersama Ji Eun dan Hara, dan aku akan bahagia bersama Donghae” kataku sambil menatapnya. Kuberanikan diri untuk menatapnya saat ini. Aku bersumpah, hari ini, detik ini, adalah kali terakhir aku menatapnya. Menatap bola bening favoritku itu.

“sudah tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Aku pergi”

Aku menarik tangan Donghae lalu pergi dari hadapannya. Tak kuhiraukan teriakan Kyuhyun di belakangku. Bukan, bukan teriakan memanggil manggil namaku. Tapi teriakan frustasinya di belakang sana. Dan aku yakin, dia sudah meninju batang pohon di sampingnya. Aku tahu itu, kebiasaan buruknya saat emosinya mencapai ubun ubun.

Maafkan aku Kyuhyun~ah. Kebahagianmu adalah yang utama bagiku. Membuatmu terbebas dari penderitaan adalah prioritasku. Aku tidak mau melihatmu hidup menderita jika hidup bersamaku. Aku terpaksa, terpaksa menuruti permintaan Appa mu waktu itu. Permintaanya yang menyuruhku pergi dari hidupmu.

Apa kau fikir aku bisa dengan mudah meninggalkanmu? Tidak! Tidak Cho Kyuhyun. Kau itu oxygen ku. Kau itu nafasku. Bagaimana bisa aku hidup jauh dari oxygen ku? Tapi aku mencobanya, mencobanya supaya kau tidak menderita. Seperti yang dikatakan ayahmu waktu itu, aku adalah seorang benalu yang hanya bisa mengerocoki hidupmu. Aku yang hanya seorang gadis miskin yang menurut ayahmu akan membuatmu menderita.

Sebenarnya, aku bisa saja mempertahankanmu waktu itu. Tapi, pria paruh baya yang kau sayangi itu mengancamku dengan mengatakan bahwa dia akan menyuruh anak buahnya memukulimu hingga mati. Tapi, aku masih bisa berfikir logis. Bagaimana seorang ayah tega melakukan itu pada anaknya sendiri? Tapi dugaan ku salah. Malam itu, malam sebelum aku meninggalkanmu. Aku melihatmu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Terbalut perban dan ada selang infus menancap di tubuhmu. Dan aku benar benar tidak kuat melihatmu lebih menderita daripada itu. Aku tidak kuat.Lebih baik aku yang terluka daripada kau yang terluka. Aku terlalu mencintaimu Cho Kyuhyun, hingga sulit bagiku melihatmu terluka walau hanya seujung kuku pun.

Berbahagialah bersama keluarga kecilmu oppa.. aku pun akan mencobanya. Mencoba hidup bahagia bersama Donghae, pria berhati malaikat yang saat ini menjadi penopang hidupku agar aku tidak mudah jatuh ditengah usahaku melupakanmu, dan cinta kita.

 

 

 

 

END

Advertisements

29 thoughts on “One Reason

Add yours

  1. chingu, kenapa ga buat kyu tau kejadian sebenernya? soalnya appanya yg ngancem? huwaaaa geregetan banget sama org yg sama2 cinta tp gabisa bersatu ..
    daebak chingu

  2. Gw baru nemu blog ini and baru baca ff kakak yg ini keren kak gw raeders baru izin baca ff yg lain kak annyeong 😂😁😆

  3. cinta ga harus memiliki…. ya karna cinta hyuna ninggalin kyu….dan rahasia dibalik perginya hyuna pun hanya hyuna yg tau…. oh beneran sad end bnget….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: