Lovely Bird

Merpati_副本

Author                  : Dyah Ayu Pytaloka

Title                       : Lovely Bird

Main Cast            : -Cho Kyuhyun -Park Hyun Ah

Genre                   : Romance

Rating                   : 15

Length                  : Oneshot

Desclimer            : Back with another FF ! Hehe.. kali ini ceritanya menurut pengalaman pribadi juga -_- wkwk..  kayanya rata2 ff aku pengalaman pribadi semua ya? -,- but it’s okay laa~ enjoyed !! ^^

 

Happy Reading~

 

“AAAAAAAAAA!!”

Seisi kelas XI A dihebohkan dengan adanya seekor burung merpati yang tiba tiba saja mendarat di salah satu meja dikelas itu. Pelajaran matematika yang tengah berlangsung sempat tertunda akibat reaksi berlebihan dari beberapa siswa yang terkejut.

“Aaaa!!aaa!! pergi pergi!! Hush ! ” Yeon Hwa yang mendapat kunjungan pertama dari merpati putih itu masih terus merengek sambil menghentak hentakkan kakinya sembari melangkah mundur menjauhi burung itu. Hee Chan yang notabene gadis tertomboy seantero sekolah itu merasa jengah dengan teman sebangkunya. Dengan sigap, gadis bermarga Park itu turun tangan mengambil burung itu.

“Hey Hey! Kemarikan!” beberapa anak laki laki berebut untuk mengambil burung merpati putih itu. Tak terkecuali Baekhyun yang duduk tepat dibelakang salah satu gadis yang sedari tadi tidak merasa terusik sama sekali akan kehadiran sang burung merpati putih itu.

“Untuk apa? Lebih baik dilepaskan saja!” seru Yeon Hwa

“Aku tahu pikiran kalian. Kalian pasti ingin menjadikan burung ini untuk menakut nakuti gadis gadis disekolah ini kan??” celetuk Ri Ra. Salah seorang siswi yang duduk di bangku urutan terdepan

“asal kalian pikir saja, tidak semua gadis itu lemah dan akan takut dengan hal seperti ini!” kesal Hee Chan

“Kalian para wanita, kenapa berpikir seenaknya saja? Siapa juga yang bilang akan memanfaatkan burung itu? Aku kan hanya ingin melihat. Dan jika aku suka dengan burung itu, aku berniat akan memeliharanya” jawab Baekhyun terdengar putus asa.

Beberapa gadis disana terdiam, sedikit merasa bersalah dengan perkataan mereka. Jika dipikir kembali, Byun Baekhyun memang bukan typikal siswa yang jahil. Tidak seperti Hyuk Jae yang kerjanya hanya menjahili teman teman disekitarnya, atau sering membuat masalah dengan tidak mengerjakan tugas. Hyuk Jae juga salah satu siswa yang berhasil memecahkan rekor untuk datang terlambat. Padahal, pria bermarga Lee itu adalah ketua kelas di XI A ini.

“Hey, sudahlah.. kalian kan tahu Baekhyun penyayang binatang. Bukan seperti ketua kelas kita itu” kata Sung Rin menengahi. Siswi yang duduk tepat di depan Siwon yang menjadi teman sebangku Baekhyun itu melirik Hyuk Jae sekilas. Membuat pria yang mempunyai gummy smile itu merasa tidak terima

“Ya ya! Kau !!” marahnya

“sudah sudah. Sekarang lebih baik kita pikirkan apa yang akan kita lakukan pada burung itu. Sepertinya kakinya terluka” kata Hyuna. Gadis yang sedari tadi hanya terdiam di tempat duduknya itu merasa jengah dengan percakapan tak penting dari teman teman sekelasnya. Untuk itu, gadis bermarga Park itu mulai membuka suara.

“kita rawat saja dulu” kata Baekhyun yang duduk di belakang Hyuna

Semuanya mengangguk setuju. Hee Chan berjalan mendekat kearah meja Baekhyun dan Siwon. Lantas memberikan burung itu kepada Baekhyun. Membuat pria itu mengernyit heran

“apa? “

“ini. Kau saja yang merawatnya” kata Hee Chan,lalu kembali duduk di tempatnya bersama Yeon Hwa yang sudah tidak seheboh tadi.

Baekhyun mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas tanpa sepengetahuan yang lainnya. Seperti biasa, berinteraksi dengan Hee Chan bisa membuat kerja jantungnya bertambah walau hanya percakapan kecil.

Pria bermarga Byun itu membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah kotak obat. Membuat setengah dari isi kelas melongo dibuatnya.

“Wae?” tanya nya bingung melihat reaksi yang ditimbulkan teman temannya itu

“kau memang benar benar penyayang binatang” seru Yeon Hwa terdengar takjub

“Ck! Biasa saja! Lagipula aku memang selalu membawa ini bukan hanya untuk hewan” jawab Baekhyun membuat yang lainnya mengangguk mengerti

Dengan telaten, Baekhyun mengobati kaki burung merpati putih yang terluka itu. Dengan dibantu Siwon yang ada disampingnya. Beberapa dari teman sekelasnya juga ikut mengerubungi hanya untuk melihat bagaimana dia mengobati burung itu.

Baru setengah jalan kaki merpati itu terobati, tiba tiba saja merpati putih itu menggerakkan sayapnya dan terbang membuat beberapa siswa siswi yang mengerubungi meja Baekhyun terlonjak kaget.

“Ah!” Sung Rin berteriak kaget saat tiba tiba merpati putih itu mendarat di tengah tengah antara mejanya dan juga Hyuna. Hyuna juga kaget, namun tak sampai berteriak. Gadis itu hanya memundurkan badannya dan menabrakkan punggungnya di kursi yang ia duduki.

“Kenapa dia terbang kesini? Ini, kukembalikan. Obati dengan benar” kata Sung Rin sambil meletakkan kembali burung itu kebelakang kursinya, tepat di meja Siwon dan Baekhyun.

Namun tiba tiba, burung itu kembali terbang dan kini mendarat tepat di pangkuan Hyuna. Gadis itu sempat terkejut lagi. Dan sekali lagi, burung itu kembali diserahkan kepada Baekhyun.

Dan untuk yang ketiga kalinya, merpati putih itu kembali berulah dan jatuh lagi dipangkuan Hyuna. Membuat beberapa orang di dekat situ saling memandang heran. Tak terkecuali Sung Rin. Teman sebangku Hyuna itu menatap gadis disampingnya dengan tatapan heran dan menuntut penjelasan. Hyuna hanya mengangkat kedua tangannya tak mengerti.

“Aneh..” Ri Ra bersuara. Gadis itu berhasil mendapatkan perhatian dari seluruh warga kelas

“apanya?” tanya Hyuk Jae. Ketua kelas itu ternyata ikut penasaran.

“sepertinya burung itu… hanya ingin diobati olehmu Hyuna~ya” kata Ri Ra misterius

“M-mwo? H-ha..ha.. k-kau ada ada saja” kata Hyuna gelagapan sembari tertawa hambar. Tapi tak bertahan sukup lama karena dia melihat tatapan teman temannya yang sangat serius

“Jeongmal?” tanya Hyuna penasaran yang dijawab anggukan mantap dari Ri Ra

“Dari mana kau tahu hal seperti ini? Mungkin saja ini hanya kebetulan kan?”

“sshh.. tidak. Firasatku sangat kuat mengatakan bahwa burung itu memang ingin diobati olehmu”

Hening untuk beberapa saat. Semua warga kelas sibuk dengan pikiran mereka masing masing. Hyuna menatap merpati putih di pangkuannya itu dengan bimbang. Namun tiba tiba, kebimbangan itu sirna seketika saat matanya menatap mata merpati putih itu yang terasa meneduhkan. Entah sihir darimana, Hyuna seakan tertarik dengan mata teduh itu. Gelenyar kehangatan tiba tiba merasuk dalam tubuhnya saat itu juga.

“Mana.. kotak obatnya?” kata Hyuna dengan suara yang teramat pelan. Tangannya terjulur kebelakang meminta kotak obat itu dari Baekhyun. Namun matanya tidak lepas dari merpati putih dipangkuannya.

Perlahan lahan, Hyuna meletakkan merpati putih itu di atas meja nya. Lalu dengan telaten mulai mengobati kakinya yang terluka. Selembar kapas ia gunakan untuk mengusap bagian luka itu dengan sebuah obat merah. Hyuna membuka sebuah kertas cokelat yang isinya adalah kain kasa. Gadis itu membuka kasa tersebut dan mulai membungkus luka itu dengan telaten.

“I’m done!”

-o0o-

“Kau yakin akan memeliharanya?”

“apa ibumu tidak akan marah?”

“mengurus seekor burung itu sangat merepotkan, kau tahu?!”

“Ya! Kalian semua bisa diam tidak?!”

Ri Ra, Sung Rin dan Yeon Hwa seketika menutup mulutnya rapat rapat saat Hyuna mengintrupsinya untuk diam. Sedangkan Hee Chan mati matian menahan tawanya saat melihat tingkah sahabat sahabatnya itu

“Aigoo.. mian mian. Aku jadi membentak kalian” kata Hyuna merasa menyesal

“tidak perlu meminta maaf Hyuna~ya. Jika aku jadi kau, aku juga akan membentak mereka. Habisnya, mulut mereka cerewet sekali. Persis seperti burung beo” kata Hee Chan menggoda. Membuat Ri Ra, Sung Rin dan Yeon Hwa menatapnya tajam

Mereka kembali berjalan menuju rumah. Namun, Hyuna hanya fokus dengan merpati putih yang sejak disekolah tadi bersamanya. Gadis itu bahkan tidak terlalu memperhatikan jalanan. Jika ada lubang atau batu, teman temannya lah yang setia mengehentikan langkahnya.

“ada apa dengannya?”

“dia terlihat aneh sejak tadi”

“kurasa semenjak kedatangan burung itu di kelas kita”

Hyuna mendengar dengan jelas teman teman dibelakangnya sedang berbicara tentang dirinya. Namun gadis itu benar benar tidak mau ambil pusing dan lebih memilih untuk memperhatikan merpati putihnya.

-o0o-

Sore itu langit terasa sangat tak bersahabat. Seluruh kota Seoul dilanda mendung yang cukup gelap dan menurut pekiraan cuaca akan ada hujan besar.

Hyuna menatap tanpa minta tumpukan novel yang ada di hadapannya. Tidak seperti biasanya, gadis itu merasa malas hanya untuk sekedar mengambil salah satu novel itu lalu mulai tenggelam dengan dunianya.

Hyunseung, adik kecilnya yang masih duduk dibangku sekolah dasar kelas enam itu tampak memperhatikan kakak perempuannya dengan pandangan aneh.

“Noona~” panggilnya. Hyuna bahkan tidak menyadari bahwa Hyunseung sudah ada di depan pintu kamarnya sejak sepuluh menit yang lalu.

“hmm?” gumamnya. Gadis itu masih belum berminat untuk membalikkan badannya dan tetap fokus pada novel novelnya yang kebanyak bergenre romance itu. Walaupun kenyataannya, novel novel itu hanya berperan sebagai benda mati yang kini dengan sukarela ditatap tak minta oleh Hyuna.

“kami akan pergi. Benar kau tidak ikut?” Hyunseung bertanya dengan lembut. Pria kecil itu mendadak berubah saat melihat tingkah kakaknya yang kurang wajar dari kemarin. Biasanya, Hyunseung suka sekali mengerjai Hyuna, atau bicara dengan berteriak padanya. Namun tidak untuk kali ini

“Ani. Aku lelah dan ingin istirahat dirumah saja”

“ah, arraseo” Hyunseung mengangguk paham kemudian melangkah mundur sembari menarik kembali kenop pintu kamar Hyuna sehingga pintu bercat putih itu kembali tertutup.

Tak sampai dua detik, pintu itu kembali terbuka dan memperlihatkan kepala Hyunseung yang berada di ambang pintu lagi.

“Kau yakin?” tanyanya memastikan.

“eoh”

Hyunseung kembali mengangguk mengerti dan sekarang benar benar pergi dari balik pintu itu. Hyuna teringat sesuatu, gadis itu buru buru meraih ponsel bercase merahnya dengan cepat dan mengetik sesuatu disana.

“Eomma, hati hati dijalan. Menurut perkiraan cuaca akan ada hujan besar hari ini. Sampaikan salamku pada halmoni dan haraboji, dan maaf aku tidak bisa ikut. Aku benar benar lelah dan ingin istirahat  dirumah.

Saranghae~”

 

Hyuna meletakkan kembali ponselnya di atas meja belajar yang tengah ia singgahi. Gadis itu tahu eomma nya belum berangkat dan masih berada dibawah, mungkin masih di garasi rumah mereka. Namun kakinya benar benar berat untuk melangkah ke bawah dan menemui eomma nya untuk sekedar mengantar kepergiannya.

Tak lama, terdengar suara mobil yang semakin lama semakin tak terdengar. Menandakan bahwa appa, eomma, dan namdongsaeng nya itu sudah berangkat.

Drrt..drrt

Satu pesan tertera di layar ponsel Hyuna. Segera gadis itu membukanya dan mendapati balasan dari sang ibu.

 

“Eoh, kau hati hati juga dirumah. Lebih baik istirahat saja. Eomma sudah menyiapkan makan malam untukmu. Besok pagi kami akan pulang. Nado saranghae~”

 

Hyuna mengalihkan pandangannya menuju jendela kamarnya ketika dia mendengar suara rintik hujan. Dan benar saja, kaca bening itu sudah mulai ternodai oleh rintik rintik hujan yang semakin lama kian membanyak.

Gadis itu melangkah perlahan ke arah kendela kamarnya. Tangan mungilnya menyentuh kaca yang sekarang menjadi kebih dingin dari biasanya.

Park Hyuna memang sangat menyukai hujan. Dia bahkan rela termenung di kamarnya sambil menatap hujan selama berjam jam. Menurutnya, hujan itu menenangkan. Hujan seperti suatu sihir yang mengangkat segala beban berat yang dipikulnya. Menyiraminya dengan air dingin itu dan ikut terbawa pergi. Setidaknya, itu opininya.

Matanya beralih pada sebuah sangkar kecil berwarna pink-putih yang terletak disudut ruangan. Merpati putih-nya itu tampak terdiam sambil menatap keluar jendela juga. Seakan ikut melihat hujan bersama dirinya.

Hyuna mendekat. Dengan perlahan gadis itu membuka sedikit tutup sangkarnya. Mengambil merpati putih itu dan ia bawa ke ranjangnya.

Hyuna terduduk dengan bersandarkan kepala ranjang dan sang merpati putih dipangkuannya. Boneka sapi kecil kesayangannya tak luput dari pandangan gadis itu.

Hyuna menatap merpati putih yang sudah menemaninya sejak kemarin itu. Mengelus sayapnya perlahan dengan sayang. Entah kenapa, ada gelenyar hangat yang selalu merasuki tubuhnya setiap dia menatap merpati putih itu.

“Hei, kau suka hujan tidak?” Hyuna mendengar dirinya bersuara. Lebih tepatnya gadis itu bertanya pada merpati putih dipangkuannya itu

“heum.. sepertinya kau tidak suka ya? Bukankah seekor burung membutuhkan sayap untuk bisa terbang? Jika hujan, sayapmu akan basah bukan? Dan kau tidak bisa terbang jika sayapmu basah”Hyuna terus berbicara.

Hyuna menguap. Ia mengusap kedua matanya yang kini mulai terlihat mengantuk. Gadis itu melirik jam dinding yang ada dikamarnya dan mendapati jarum jam yang menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit.

Tapi seperti yang dikatakan sebelumnya, gadis itu memang kurang enak badan dan terasa sangat lelah. Entahlan, sejak kemarin badannya terasa lemas.

Hyuna membenarkan posisi bantal di belakangnya lalu gadis itu mulai menidurkan tubuhnya. Dia merasa tidak perlu meletakkan kembali merpati putih itu pada sangkarnya, jadi gadis itu meletakkannya disamping tubuhnya.

“Kau tidak akan terbang kemana mana kan? Temani aku tidur ya?” katanya. Tak lama mata gadis itu benar benar menutup sempurna.

-o0o-

Hyuna mengerjap negrjapkan matanya beberapa kali. Mencoba menyesuaikan takaran cahaya matahari yang begitu menusuk.

Gadis itu tersadar bahwa ia sedang berada dalam sebuah tumpukan bantal bantal besar yang sangat nyaman. Lengkap dengan warna warni cerah yang menyelimutinya. Dahinya mengernyit heran. Apa ini??

Dia terduduk. Dan matanya sukses membulat sempurna saat menyadari kini, dia ada disebuah kano yang lumayan besar dengan desain mewah yang terpahat disana. Kano itu berjalan dan memberi suguhan indah pada Hyuna. Sebuah taman tak berujung adalah hal yang gadis itu lihat di sepanjang perjalanan.

Hyuna menggapai tepian kano, mencoba menilisik ke tempat di mana kano itu bersandar. Gadis itu mendapati ikan ikan kecil nan cantik berenang di bawah jernihnya air sungai yang turut membawa gadis itu berjalan. Hyuna sangsi, ini adalah air terjernih yang pernah ia lihat selama ia hidup. Bahkan, kerikil kerikil yang tenggelam di dasar sungai itu pun dapat terlihat dengan jelas.

Gadis itu mendongak. Melihat sekumpulan burung dan juga kupu kupu yang beterbangan riang di atas awan. Yang menghantarkan pengelihatan gadis itu pada sebuah pelangi di ujung sungai. Indah. Sangat indah. Hyuna mengerjapkan matanya beberapa kali seakan tak percaya. Setahunya, negeri dongeng itu tidak ada. Hanya sebuah karangan fiksi yang biasanya tersebar di berbagai buku penghantar tidur anak anak. Tapi kini?? Ia yakin bahwa ia sedang berada di negeri dongeng. Tempat tempat ajaib yang sering dimunculkan di setiap seri Barbie atau Princess saja kalah dengan yang satu ini.

Hyuna tersentak saat tiba tiba saja kano itu berhenti. Dengan ragu gadis itu mulai berdiri dan turun dari kano itu. Hyuna melihat dimana kakinya berpijak kini. Dan baru menyadari bahwa dirinya sedang memakai sebuah sepatu kaca yang sangat berkilau. Merambah keatas, dia juga baru menyadari bahwa kini ia tengah mengenakan dress putih selutut yang sangat menawan. Dress itu polos, tanpa ada ornamen ornamen rumit di dalamnya. Namun memberikan kesan yang lebih elegant.

Perlahan, Hyuna menaiki 3 buah anak tangga yang kini tersaji didepannya. Gadis itu melihat sebuah karpet merah panjang yang terbentang jauh ke depan. Sesaat dirinya merasa ragu, akan melangkah.. atau tidak.

‘tap tap tap’

Hyuna memincingkan matanya manakala gadis itu melihat sesosok pria tengah berjalan kearahnya. Pria yang berjalan dengan menimbulkan suara dari sepatu putih menkilat yang digunakannya. Dan terasa pas dengan kemeja, juga celana dasar berwarna senada melekat ditubuhnya.

 Tinggi, tampan, dan rupawan. Itulah kesan pertama yang dapat ditangkap oleh Hyuna saat pria itu semakin memapas jarak diantara mereka.

Untuk sepersekian detik, gadis itu terpaku,terpana dan membisu. Sebuah senyum bak dewa zeus itu terpampang jelas di wajah sang pria. Rambutnya yang tertata rapih dan terlihat sangat lembut itu membuat nilai plus dalam dirinya. Tubuh tinggi dan tegapnya benar benar menggambarkan bahwa dia adalah seorang pria sejati.

Otaknya benar benar rusak. Karena kini, Hyuna menganggap dirinya sudah mati. Berada di surga dan ditemani oleh seorang pangeran penghuni surga yang tingkat ketampanannya benar benar diatas rata rata.

“selamat datang” sapa sang pria

“s-siapa kau? A-aku.. aku dimana?” Hyuna menelan ludahnya susah payah. Menanti dengan was was apa yang akan dikatakan sang pria. Dan gadis itu berusaha menyiapkan mentalnya kalau kalau pria itu memang memberi jawaban bahwa ‘dirinya sudah meninggal’

“Cho Kyuhyun”

“C-cho Kyuhyun?” ulangnya. Dan hanya dibalas anggukan singkat dari pria bak dewa zeus yang bernama Kyuhyun itu.

“lalu sekarang aku dimana?”

“tempat dimana seharusnya kau berada. Tempat dimana kelak kau akan memutuskan untuk tinggal, atau pergi”

Kerutan di dahi Hyuna semakin bertambah. Banyak sekali pertanyaan yang berseliweran diotaknya. Namun sebuah cahaya yang sangat menyilaukan tiba tiba datang menghampirinya.

-o0o-

“NONA PARK!”

Hyuna sontak terbangun dari tidur singkatnya ketika mendengar suara Kim songsaengnim, guru terkiller di sekolah ini meneriakkan namanya. Sepertinya, gadis itu benar benar membangunkan harimau yang tengah tertidur pulas. Pasalnya, Hyuna tidak berpikir dua kali saat akhirnya gadis itu menjatuhkan kepalanya di atas meja sekitar sepuluh menit yang lalu.

“Y-ye songsaengnim” gagapnya. Gadis itu terduduk tegak dengan wajah yang menunduk. Semua warga kelas menatapnya, tak terkecuali sahabat sahabat terdekatnya. Mereka semua tampak khawatir.

“ke ruanganku saat jam istirahat. MENGERTI!!” dan Hyuna hanya bisa mengangguk.

Pelajaran kimia milik Kim songsaengnim kembali berjalan. Namun keadaan sekarang tidak sekondusif sebelumnya. Hingga dua jam kemudian, bel sekolah berbunyi menandakan waktu istirahat telah datang.

Hyuna berjalan gontai keluar kelas, menuju ruang Kim songsaengnim. Sahabat sahabatnya itu hanya bisa menatap kepergian Hyuna dengan was was.

Lima belas menit kemudian, gadis itu kembali ke kelas dengan ekspressi wajah yang masih sama seperti tadi. Muram.

Gadis itu terduduk di kursinya masih menekuk wajahnya. Sung Rin, Yeon Hwa, Hee Chan dan Ri Ra dengan sigap duduk mengelilinginya.

“Bagaimana?” Hyuna menghela nafas lemah saat suara teman temannya itu terdengar secara bersamaan

“Omelan. Point. Dan Hukuman”

“apa?” seakan sudah hafal betul dengan sikap guru mereka itu, keempat sekawan itu serentak bertanya hukuman apa yang diberikan oleh guru killer mereka.

“mengerjakan 200 soal ujian tengah semester kimia dan harus dikumpul besok”

“Lengkap dengan__”

“cara penyelesaian dan rumus”

Semua yang mendengar menelan ludah susah payah. Dan mereka bersyukur tidak mendapat hukuman itu. Mereka terlihat prihatin pada Hyuna yang harus berkutat dan bertarung dengan soal soal mengerikan itu.

“tenang. Kami bisa membantumu” kata Yeon Hwa menenangkan

“memangnya kau bisa?” cibir Hee Chan

“ya! Setidaknya kita bisa mencobanya dulu”

“haha.. calm down Yeon Hwa. I’m just kidding”

Mereka kembai tertawa lepas. Sedangkan Hyuna masih menekuk wajahnya.

“Hey, lagipula apa yang kau lakukan semalam hingga kurang tidur seperti itu?” tanya Sung Rin pada Hyuna

“kau tau aku kurang tidur?”

“jelas aku tahu. Kau bahkan tanpa pikir panjang berani tertidur pada jam pelajaran Kim songsaengnim”

“aish.. kan aku tertidur. Bukan sengaja tidur. Lagipula, tidak lebih dari sepuluh menit aku membaringkan kepalaku di atas meja” sanggah Hyuna

“yah.. apapun itulah. Pasti ada sesuatu yang kau lakukan hingga kurang tidur kan????”

“Anni”

“Lalu?”

“ayolah, cerita pada kami” rengek Yeon Hwa. Ck.. typikal gadis yang tidak sabaran dan ingin selalu update.

“semalam aku bermimpi berada di sebuah negeri dongeng yang.. argh! Intinya aku itu bermimpi aneh sekali semalam. Dan lebih aneh lagi, semua itu terasa nyata. Kalian tahu, gara gara mimpi itu aku terbangun tengah malam dan tidak bisa tidur lagi sampai tadi pagi. Itu sebabnya aku mengantuk sekali hari ini”

“Heumm.. kalau begitu istirahatlah selepas pulang sekolah nanti” saran Ri Ra

“tapi, soal kimia yang bertumpuk itu sudah mengantri untuk kuselesaikan”

“istirahatlah barang sebentar. Jangan memaksakan dirimu” sahut Hee Chan membuat Hyuna akhirnya mengangguk dan tersenyum. Beruntungnya dia mempunyai sahabat sahabat seperti mereka ini

-o0o-

“Kenapa aku berada di tempat ini lagi?” Hyuna bergumam saat mendapati dirinya berada di dalam negeri dongeng itu lagi. Namun dengan lokasi yang berbeda. Kini, gadis itu tengah berada di sebuah ruangan besar seperti kamar yang dilengkapi dengan perabotan mewah di dalamnya. Dari jendela yang berada diujung ruangan, dia dapat melihat hamparan bungan berwarna warni yang jelas berada disana.

“Ehem..” Hyuna sontak berbalik saat mendengar suara deheman seseorang.

“Cho Kyuhyun?” tanyanya saat mendapati pria yang selalu mendatangi dirinya akhir akhir ini kembali berada di hadapannya

“Kau sudah mulai terbiasa rupanya” balas Kyuhyun

“Yaa.. walaupun aku masih sedikit heran”

“Apa?”

“dengan semua ini”

“nanti kau juga akan tahu” Hyuna mendengus sebal. Selalu jawaban yang sama ia dapatkan dari Kyuhyun. Menyebalkan. Meskipun tak dapat dipungkiri, kini menatap wajah Kyuhyun yang bagaikan dewa zeus itu sudah menjadi kegiatan favoritnya .

“ternyata kau tipikal pria yang menyebalkan”

“kau akan lebih mengetahui sifat asliku nantinya. Dan kuharap, kau akan sabar menghadapiku” Hyuna mengerutkan dahinya. Apa maksud perkataan pria itu?

“maksudmu?”

“kau akan tahu sendiri nanti”

Kyuhyun berjalan. Pria itu nampak mempesona dengan hanya memakai pakaian serba putih itu. Pakaian yang selalu dipakainya jika dia menampakkan dirinya di depan Hyuna. Sebelah tangannya ia masukkan di dalam kantung celana dasar yang ia pakai.

Hyuna mengikuti arah jalan Kyuhyun. Gadis itu berhenti beberapa langkah di belakang Kyuhyun saat menyadari pria itu juga sudah berhenti. Berhenti di depan jendela yang terbuka lebar.

Sebenarnya, banyak hal yang ingin Hyuna tanyakan pada Kyuhyun. Tentang siapa dirinya, apakah gadis itu mengenalnya. Atau kenapa bisa dia ada disini, negeri antah berantah yang dia juga tidak tahu diamana.

“Ingin menanyakan sesuatu?” seakan mengetahui isi pikiran Hyuna, pria bernama Kyuhyun itu mulai bersuara

“eh?”

“aku tanya. Apa ada yang ingin kau tanyakan?”

“ani” Hyuna mengutuk mulutnya sendiri setelah itu. Kenapa mulut dan pikirannya tidak seimbang?

“baguslah. Karena tidak lama lagi, kau juga akan mengetahuninya”

Baru saja gadis itu ingin membuka suara, seberkas cahaya yang tidak asing bagi Hyuna lagi lagi muncul. Sedetik kemudian, gadis itu sudah hilang entah kemana.

-o0o-

Hyuna mengusap kedua matanya saat dirasa kedua matanya itu susah sekali untuk terbuka. Dia mengerjap ngerjapkan matanya dan langsung disambut dengan jam dinding pink-putih yang tertermpel di dinding kamarnya dengan menunjukkan pukul lima pagi.

Gadis itu sedikit tersenyum. Dalam benaknya, ia bersyukur untuk bangun terlalu pagi hari ini. Setidaknya dia tidak akan terlambat sekolah.

Masih ada waktu kurang lebih satu jam lagi untuk bersiap siap kesekolah. Hyuna memilih untuk tetap bertahan pada posisinya yang masih berada di atas ranjang.

Pikirannya kembali melayang pada mimpi yang baru saja dialaminya. Membuat gadis itu berjuang ekstra hanya untuk berfikir dengan semua yang terjadi. Mimpi aneh apa yang terus terusan menghantui tidurnya itu? Dan siapa sebenarnya sosok laki laki bernama Cho Kyuhyun itu?

Matanya beralih pada merpati putih yang masih tenang dalam sangkar di pojok kamarnya itu. Jika dipikir kembali, sejak Hyuna bertemu merpati putih itulah dia mengalami mimpi yang hampir sama secara berulang ulang.

Tapi otak logisnya kembali seperti semula. Tidak mungkin ini ada kaitannya dengan seekor burung. Memangnya sekarang jaman apa? Hei, tahun 2013 sudah tidak mengenal hal mistis.

Hyuna membalikkan badannya kesamping. Gadis itu mendapati kalender putih kecilnya yang berdiri tegak disana. Sedikit senyum terukir dibibirnya. Hari ini tanggal 6 Desember. Dan disebelah tanggal itu, dia sudah memberi lingkaran berbentuk ‘love’ dengan spidol warna merah. Rasanya tidak sabar menanti hari esok.

-o0o-

Pagi yang mendung itu tidak membuat sebagian murid Blue World school malas untuk pergi ke sekolah. Mereka masih menjalankan kewajiban mereka sebagai pelajar untuk menuntut ilmu.

“Hei ! teman teman!!”

Suara Yeon Hwa yang melengking terdengar menggelegar dan berhasil mengalahkan suara bising yang ada di halaman sekolah bertaraf internasional itu.

Hee Chan, Ri Ra dan Sung Rin sontak berbalik saat mendengar suara khas milik sahabatnya itu

“Ya! Suaramu itu membuat telingaku sakit tahu!” omel Hee Chan sambil berpura pura mengusap kedua telinganya

“hehe, mian” cengir Yeon Hwa tanpa dosa

“ada apa? Kenapa sepertinya kau terburu buru?” tanya Sung Rin

“kalian tahu ini hari apa?” tanya Yeon Hwa

“Hari sabtu kan?” celetuk Ri Ra

“Yaish! Aku juga tahu ini hari sabtu. Tapi, apa kalian tidak mengingat sesuatu?”

Hee Chan, Ri Ra dan Sung Rin nampak berpikir dengan pertanyaan Yeon Hwa. Terlalu lama. Itulah yang di dapat Yeon Hwa. Membuat gadis itu lagi lagi menggerang frustasi menghadapi teman temannya.

“Hari ini hari ulang tahun Hyuna. Hei, kalian ingat tidak?!” kata Yeon Hwa setengah berteriak

“OMO! Benarkah?” Ri Ra buru buru mengeluarkan iPhone silvernya dari dalam tas sticth kesayangannya. Gadis itu menepuk jidatnya saat melihat kalender yang tertera disana menunjukan tanggal 7 Desember 2013.

“Gawat! Aku lupa” panik Hee Chan

“aaaa! Aku juga. Bagaimana ini?” kata Sung Rin

“kau? Kenapa baru memberitahu kami??” tuduh Hee Chan pada Yeon Hwa

“Ya ya ya! Jangan menyalahkanku. Aku juga lupa. Dan baru ingat saat melihat kalender pagi ini. Hissh.. masih untung kalian kuberitahu” seru Yeon Hwa tidak terima.

“Baiklah. Sekarang waktunya berfikir. Jangan berkelahi!” seru Ri Ra

Keempat sekawan itu saling berfikir. Bagaimana cara untuk memberi sesuatu yang spesial untuk Hyuna. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing masing. Sampai tidak menyadari bahwa Hyuna sudah berada di tengah tengah mereka dan menatap keempat sekawan itu dengan pandangan aneh.

“Hei!”

“AAAAARGH!” Yeon Hwa terlonjak kaget saat melihat Hyuna sudah ada di depannya. ‘bagaimana ini? Hyuna sudah ada disini’ gerutu Yeon Hwa dalam hati

“kalian kenapa? Aku hanya menyapa tapi respon kalian benar benar diluar dugaan” tanya Hyuna

“E..i-itu, a-anu” Ri Ra gelagapan

“H-Hyuna~ya. Sangeil Chukkae Hamnidaaaaaaa!!” seru Hee Chan riang. Tapi terlihat sekali kalau itu dibuat buat.

Ri Ra, Sung Rin dan Yeon Hwa menatap Hee Chan dengan tatapan bertanya seakan ‘apa yang kau lakukan? Kita bahkan tidak menyiapkan apapun untuk ulang tahunnya?!’

“aah.. gomawo. Tapi…” putus Hyuna

“sepertinya kalian sedang tidak bersemangat ya?” lanjutnya. melihat rahut kecewa dari Hyuna membuat yang lainya gelagapan

“A-ah ti-tidak kok. Hei, ucapkan selamat untuk uri Hyuna!” seru Hee Chan

“HAPPY SWEET 17 URI HYUNAAA!!” teriak mereka serempak. Sambil mengembangkan senyum yang Hyuna tau sengaja dibuat buat

“gomawo. Tapi kalian terlihat tidak ikhlas mengucapkannya” kata Hyuna dengan nada kecewa

“Bukan begitu, hanya saja__”

“apa?”

“kami merasa bersalah karena lupa dengan hari ulang tahunmu. Dan kami belum menyiapkan hadiah apapun untukmu”  balas Sung Rin lemah

“aigoo, jadi karena ini?” tanya Hyuna seakan tak percaya.

Hei, dia bahkan tidak membutuhkan barang barang serba mahal atau kejutan seperti yang direncanakan teman temannya. Cukup melihat orang orang yang ia kasihi dalam jarak pandangnya, merupakan kado terindah untuk gadis itu.

“ya, dan kami benar benar merasa tidak enak” sesal Yeon Hwa

“Hei, aku tak apa. Jangan pikir aku akan marah karena kalian tak memberi apapun padaku. Dengan mengetahui kalian masih ingin berteman denganku, itu sudah lebih dari cukup” jawab Hyuna menenangkan hati sahabat sahabatnya itu.

“Benarkah? Ah! Kau memang yang terbaik Hyuna~ya” seru Ri Ra lantas memluk sahabatnya itu. Yang lain pun mengikuti apa yang Ri Ra lakukan.

“sekali lagi, kami mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Semoga kau makin baik dalam segala hal, dan diberikan kelancaran disetiap perbuatanmu”

“dan juga, semoga kau panjang umur” doa teman temannya

“gomawo gomawo, jeongmal gomawo” jawab Hyuna dengan mata yang berbinar

“meskipun begitu, kami akan tetap ingin memberikanmu hadiah. Nah, kau ingin apa dari kami?” tanya Hee Chan antusias

“Ani. Aku tidak perlu apapun”

“isshh.. ayolaaah” rengek Yeon Hwa

“baiklah baiklah” ucap Hyuna mengalah

“Aku ingin__”

“ingin?”

“aku ingin.. eum__”

“cepatlah sedikit Park Hyuna! Seru Hee Chan yang benar benar sudah tidak sabar engan ulah temannya itu

“kkk~ sabar sabar. Baiklah aku ingin.. aku ingin kalian berjanji untuk tetap berada di sampingku. Menjadi sahabat sahabat terbaikku yang akan selalu ada saat aku merasa senang atau sedih. Selalu menjadi penopang ku disaat aku merasa rapuh dan ingin jatuh. Dan aku ingin kalian selalu menyayangiku, karena aku juga menyayangi kalian” jawab Hyuna. Sebuah senyum lebar terukir di bibir tipisnya

“Hyuna~ya” lirih Sung Rin. Gadis itu bahkan sudah menitikkan air matanya karena terharu

“Kami berjanji, kami berjanji akan hal itu” kata Yeon Hwa lalu mereka semua berhambur kepelukan Hyuna

“Terimakasih karena sudah mau menjadi sahabat sahabat terbaikku”

-o0o-

Hyuna membuka pintu rumah dengan santai. Gadis itu mengehmbuskan nafasnya lemah. Di hari spesial seperti ini, seharusnya dia bisa menghabiskan waktu nya bersama orang orang tercintanya. Tapi faktanya, kedua orang tua nya plus adik kecil nya itu malah pergi ke luar negeri.

Indonesia. Sudah dua hari sejak keluarganya pergi ke negeri penuh kekayaan alam itu. Urusan bisnis pastinya. Dan si kecil Hyunseung merengek ingin ikut meskipun sekolah harus ia tinggalkan untuk beberapa hari kedepan.

Waktu berjalan cepat, Hyuna kini terduduk di atas bed single nya. Lampu kamar sudah ia matikan dan menyisakan sebuah lampu remang remang di dalam kamarnya. Jam menunjukkan pukul 11.20 malam. Tak lama lagi, hari spesial ini akan berakhir

Mata bulat indahnya masih betah dalam kondisi terbuka, tak sedikitpun niatan dirinya untuk terlelap dan mengistirahatkan kedua matanya itu.

Sebuah bulan purnama yang tiba tiba muncul di malam itu membuat gadis itu tertarik. Dia berjalan ke arah jendela kamarnya dan membuka jendela itu lebar lebar. Sontak, Hyuna mengambil sweater abu abunya ketika angin malam menerobos masuk ke kamarnya dan menghantam tubuhnya yang hanya mengenakan sepasang baju tidur bergambar doraemon.

Hyuna tersneyum memandang bulan purnama itu. Sedikit perasaan damai menyesak masuk ke relung hatinya. Meskipun begitu, dinginnya angin malam membuat gadis itu terus menggosok gosokkan tangannya di kedua lengannya.

Hyuna mengehntikan laju tangannya yang mengusap usap lengannya sendiri saat merasakan seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. Tubuh gadis itu menegang. Jantungnya berdebar tak karuan. Takut, itu kesan pertama yang ia rasakan. Siapa orang yang kini tengah memeluknya itu. Kim Ahjumma? Tidak mungkin. Dia pasti sudah tidur. Lagipula, untuk apa Kim ahjumma mengunjungi kamarnya malam malam, dan kini memeluk tubuhnya.

“Kau kedinginan bukan? Aku mencoba menghangatkanmu”

Tubuh Hyuna semakin merinding tatkala ia mendengar suara berat seorang pria menyapa indra pendengarannya. Bukah hanya itu, nafas hangatnya menerpa tengkuk Hyuna membuat gadis itu semakin menegang.

“S-si..si-siapa?” tanyanya takut takut

“Aku? Takdirmu”

“eh? M-maksudmu?”

“aku, adalah takdirmu. Pria yang sudah ditakdirkan untuk bersamamu”

Hyuna mencelos. Gadis itu mencoba menelan ludahnya yang terasa sangat sulit. Siapa sebenarnya orang dibelakangnya itu?

“a-aku tidak mengerti” kata Hyuna

Hyuna memejamkan matanya manakala ia merasakan pelukan itu semakin mengerat. Nafas halusnya yang terasa di tengkuk Hyuna membuat gadis itu tidak dapat berfikir jernih. Punggungnya yang bersandarkan dada bidang di belakangnya itu terasa hangat dan terlindungi. Jantungnya berpicu dengan cepat, nafasnya pun memburu.

“Saengil Chukkae Hamnida, Hyuna~ya”

Dengan keberanian yang terkumpul, Hyuna perlahan membuka matanya ketika mendengar suara selembut sutra yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya itu. Tepat saat itu, sebuah kecupan manis mendarat di keningnya.

Hyuna mengerjap. Dia bahkan tidak sadar kini pria asing itu berada di depannya. Tidak, lebih tepatnya dia tidak sadar sudah sejak kapan tubuhnya berbalik menghadap pria itu.

Matanya membulat sempurnya saat berhasil menangkap siapa sosok yang merengkuhnya sedari tadi. Tapi lama kelamaan, tatapan terkejut itu berubah menjadi lembut saat mata mereka bertemu.

Hyuna merasakan jantungnya yang berpicu dengan tempo yang cepat. Aliran darahnya terasa mengalir sangat deras. Pria itu hanya tersenyum dan bisa memberikan dampak seperti ini pada Hyuna? Oh god! Benar benar tidak masuk akal.

“Cho Kyuhyun” ucapnya parau. Hampir tak terdengar

“Ya?”

“I-ini kau?”

“Ya” Kyuhyun tersenyum manis, amat sangat manis.

“kau disini?”

“Ya”

“dikamarku?”

“Ya”

“di hadapanku?”

“Ya”

“Orang yang tadi memelukku?” senyum Kyuhyun makin melebar mendengar pertanyaan Hyuna

“Ya”

“M-me.. me-menciumku?” tanya Hyuna ragu. Terlihat semburat merah menyembul dikedua pipinya. Membuat Kyuhyun tak tahan untuk tidak mengusap pipi chubby itu dengan jemarinya yang halus.

“Of course, darling” jawab Kyuhyun lembut, selembut sutera. Membuat Hyuna bagaikan ingin melayang hanya dengan mendengar suaranya.

“A-aku masih belum mengerti”

“tentang?”

“semuanya. Tentang semua yang terjadi sekarang ini” kata Hyuna parau

Kyuhyun tersenyum –lagi- dan akhirnya mengangguk “Akan kuceritakan”

-o0o-

Hyuna mengerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang dilontarkan Kyuhyun padanya. Apa dia tidak salah dengar? Dia anak dari seorang.. dewi?

“Ini tidak benar kan Kyuhyun~ah?” tanyanya tak percaya. Kini mereka berua sudah duduk di atas ranjang Hyuna dengan posisi yang saling berhadapan. Dan Kyuhyun sudah mulai bercerita sejak bermenit menit yang lalu

Kyuhyun menggeleng, pria itu lantas tersenyum “Ini benar Hyuna~ya”

“Jadi maksudmu? Ibuku seorang dewi?” tanyanya.

“Tidak bisa disebut begitu sih, tapi jika kau ingin juga tidak apa apa”

“Jadi?”

“Ya itu tadi. Ibumu yang notabene adalah seorang makhluk gaib berhati mulia dari kayangan jatuh cinta dengan ayahmu yang notabene adalah seorang manusia. Peraturan langit membolehkan siapapun penghuni langit menikah dan menjalani hidup mereka dengan siapa saja. Termasuk dengan ayahmu”

“Lalu?”

“Mereka menikah dan lahirlah kau”

“Jadi aku—“

“setengah dewi dan setengah manusia” jawab Kyuhyun antusias

“Jinjja??” Kyuhyun mengangguk

“Lalu.. kau itu.. siapa?” tanya Hyuna

“Aku? Aku Cho Kyuhyun”

“Ya! Bukan itu maksudku. Ishh” Kyuhyun terkekeh. Ternyata membuat gadis ini kesal benar benar mengasyikan

“kau memang menyebalkan!” seru Hyuna

“bukankah sudah kubilang tempo hari? Kau harus terbiasa dengan tingkah menyebalkanku ini”

“jadi itu semua benar benar terjadi? Kukira hanya mimpi”

“bertanyalah satu persatu. Kau tidak tahu aku kelimpungan menjawabnya? Biarkan aku menyelesaikan ceritaku baru kau boleh bertanya sesuka hatimu” kata Kyuhyun dan Hyuna mengagguk

“Aku Cho Kyuhyun. Anak dari Kim Hanna dan Cho Seunghwa. Mereka berdua adalah sahabat baik eommamu. Dan kedua orang tuaku sama sama berasal dari langit. Jadi, aku sepenuhnya mengandung darah dewa. Beda denganmu yang setengahnya merupakan darah manusia”

“Lalu?”

“kedua orang tuaku dan orang tuamu menjodohkan kita sejak masih kecil. Awalnya, aku menolak dengan hal ini. Kufikir, aku cukup tampan dan bisa mendapatkan wanita yang kumau tanpa harus menjalani perjodohan ini. Tapi—“

“tapi…?”

“tapi, saat melihat kau adalah orang yang dijodohkan denganku. Aku berubah pikiran”

“kenapa?”

“karena untuk pertama kalinya, ada gadis yang bisa membuat aku kelimpungan hanya dengan menatapnya. Mebuatku tidak bisa istirahat dengan tenang karena terus membayangkan wajahnya. Membuatku seperti orang gila karena tidak sabar menunggu hari ini tiba”

Blush~~~ , rona merah itu kembali terdampar di pipi Hyuna. Membuat Kyuhyun lagi lagi tersenyum.

“Kulanjutkan” kata Kyuhyun membuat perhatian Hyuna kembali fokus padanya

“Aku sengaja menyusun rencana agar pertemuan kita ini tidak terlihat hambar. Jadi aku memutuskan untuk merubah wujudku menjadi seekor merpati putih dan pergi kesekolahmu waktu itu. Sehingga kau merawatku di dalam sangkar itu” Kyuhyun menunjuk sangkar di pojok kamar Hyuna yang kini sudah kosong

“MWO?? K-kyu.. ja-jadi k-kau? Ka-u?”

“wae? Kau takut? Atau terkejut?” goda Kyuhyun

“Kau merpati itu?????” tanya Hyuna tak sabaran

“Yup! Dan akhirnya.. malam ini aku bisa melepas kedok merpatiku itu” kata Kyuhyun

“kenapa malam ini? Kenapa tidak dari kemarin kemarin saja?”

“aku harus menunggu di saat hari ulang tahunmu. Yang jatuh pada hari ini, benar kan?”

“kenapa begitu?”

“karena, kau diwajibkan mengetahui identitas aslimu dan ibumu ini ketika kau berumur 17 tahun. Dan ini juga berlaku pada anak yang terlahir dari pasangan dewi atau dewa dengan seorang manusia” jelas Kyuhyun membuat Hyuna mengangguk mengerti

Appa ku tahu tentang ini?”

“tentu saja. Appa mu bahkan tahu eomma mu itu seorang dewi”

“lalu Hyunseung?”

“tidak. Adik kecilmu itu tidak tahu. Dia akan mengetahuinya nanti,saat umurnya menginjak 17 tahun”

“aah~ untung diasekarang ikut eomma dan appa

“kau pikir itu kebetulan?” tanya Kyuhyun memincingkan matanya

“huh ? maksudmu?”

“tentu ini semua juga sudah di atur Hyuna~ya”

“aaah.. arraseo. Ah ya! Jika kau bisa berubah menjadi burung, apa aku juga bisa?”

“tentu saja. Kau bisa berubah menjadi apapun yang kau inginkan karena bangsa kita mempunyai kekuatan semacam itu. Tapi, kekuatanmu tidaklah sesempurna kekuatan kami karena setengah dari darahmu bercampur dengan darah manusia. Namun, kau masih bisa menggunakannya” Hyuna mengangguk mengerti

“Bagaimana aku memakainya? Apa sulit?”

“tidak. Dengan seiiringnya waktu, kekuatan itu akan muncul dalam dirimu” jawab Kyuhyun

“Oh iya Kyuhyun~ah , aku sering melihatmu di dalam mimpi. Apa itu juga ada hubungannya dengan ini?”

“eum.. kalau itu.. itu—“ Kyuhyun tampak ragu meneruskannya. Pria itu mengusap tengkuknya gusar.

“apaaa?” rengek Hyuna

“Eum.. itu sebenarnya aku yang menyusunnya”

“maksudmu?”

“yaa.. maksudku, aku sengaja membuat mimpi itu terjadi berkali kali sebelum hari ulang tahunmu tiba. Dengan maksud agar kau terbiasa melihatku dan tidak kaget saat pertemuan kita yang sebenarnya” jawab Kyuhyun. Pria itu merasa malu lantas menekuk wajahnya. Membuat Hyuna mengulum senyumnya.

Hening untuk beberapa saat. Mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing masing. Entah kenapa suasana mendadak canggung seperti ini.Kyuhyun benar benar tidak berkutik, berbeda saat tadi, dirinya dengan penuh percaya diri berani memeluk Hyuna yang tengah memandang bulan purnama dari kamarnya.

Kyuhyun yang mulai tak betah dengan situasi ini mulai buka suara “Jadi–?”

Hyuna menoleh ke arah Kyuhyun saat mendengar pria itu bersuara. “Ya?”

“setelah semua ini. Dan penjelasan ini, k-kau mau… meneri—ma perjodohan k-kita kan?” tanya Kyuhyun. Pria itu was was dengan jawaban Hyuna

Butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya gadis bermarga Park itu kembali tersenyum dan membuka suara

“Of course.. Cho Kyuhyun”

Kyuhyun tersenyum lebar. Tepat saat itu, seberkas cahaya masuk ke kamar Hyuna. Membuat gadis itu menyipitkan matanya karena silau.

“Mau ikut denganku?”tanya Kyuhyun

“Kemana?”

“ke tempat asalmu. Hanya sebentar, kau bisa pulang lagi kesini jika kau mau” kata Kyuhyun yang bisa membaca keraguan di mata Hyuna

“baiklah..”

Gadis itu menerima uluran tangan Kyuhyun dan masuk kesana. Mereka berdua seperti melewati zona waktu dan berputar putar di dalam ruang itu. Hingga mereka sampai pada titik terujung dimana lorong itu terbentuk. Tempat dimana Hyuna akan mulai mengenal dengan dunia asalnya. Tempat dimana Hyuna akan merasakan menjadi sebagian dari penghuni langit. Dan tempat dimana dia akan kunjungi ketika dirinya merasa butuh untuk bertemu dengan pria itu, Cho Kyuhyun.

Cho Kyuhyun. Sang merpati putih yang ia percayakan untuk menjaga hatinya mulai detik ini. Sang merpati putih yang kini menjelma sebagai pangeran dari negeri antah berantah. Sang merpati putih yang Hyuna tahu mencintainya dengan begitu besar. Dan sang merpati putih yang dengan penuh cinta menawarkan sebuah mahligai kebahagiaan yang menanti untuk mereka lalui bersama.

END

Advertisements

13 thoughts on “Lovely Bird

Add yours

  1. waow bener2 fantasi yg bagus. ga kaya kebanyakan cerita fantasi bertema vampir(walaupun aku jg suka), tp ini bertema dewa. bagus chingu. daebaak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: