Lucid Dream

7851307978_3b8215dc84_z_副本

Author                  : Dyah Ayu Pytaloka

Title                       : Lucid Dream

Main Cast            : -Cho Kyuhyun -Park Hyun Ah

Genre                   : Romance

Rating                   : 15

Length                  : Oneshot

Desclimer            : Back with another FF ! Hehe.. kali ini ceritanya menurut pengalaman pribadi juga -_- wkwk.. hmm, wish bgt kalo bisa kejadian di dunia nyata! haha.

Happy Reading~

Kuletakkan lagi secangkir kopi panas yang baru saja kubuat diatas meja putih disampingnya. Dia mengalihkan perhatiannya dari koran yang tengah ia baca dan menatapku sekilas dengan senyumannya yang selalu dia berikan padaku.

Kubalas senyuman itu lalu bergumam “ini kopimu” dan dibalasnya nya dengan “terimakasih, sayang”

Kubalikkan tubuhku kembali kedalam rumah meninggalkan kegiatan paginya di balkon rumah kami. Mulai mengambil vacum cleaner dan membersihkan ruang tengah. Dilanjutkan dengan mencuci piring dan membersihkan dapur yang masih kotor.  Lalu kembali keruang tengah dengan membawa kain lap dan mulai membersihkan debu debu yang ada di perabotan perabotan rumah kami.

Pandanganku terhenti pada figura besar yang terpampang jelas di dinding sana. Kudekati figura itu dan tersenyum sekilas. Mulai meraba pinggirannya dan lama kelamaan kuusap dua wajah bahagia yang ada di dalam foto itu.

Sepasang tangan yang kurasakan mulai melingkari perutku membuat aku tersentak kaget dan berhenti mengaggumi foto didepanku.

“Kau mengagetkanku” ucapku seraya menghela nafas lega karena mengetahui dialah yang memelukku.

Kuletakkan taganku diatas tangannya yang tengah merengkuhku. Menyandarkan kepalaku di dada bidangnya dan bersama sama, kami memandang foto itu berdua.

“Kau ingat, saat itu adalah hari yang sangat membahagiakan dalam hidupku”

“aku tahu”

“dan apakah kau juga tahu? Kalau saat itu dan bahkan sampai detik ini, aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini”

“aku tahu. Karena aku juga merasakannya,sayang”

Aku tersenyum lega mendengar jawabannya. Dia mengeratkan pelukannya padaku membuat diriku menjadi lebih nyaman dan terlindungi.

“Foto pernikahan kita ini, apa tidak sebaiknya kita gantung saja di dalam kamar?”

“Ani.. aku ingin setiap tamu yang berkunjung kesini melihatnya”

“kenapa?”

“agar mereka tahu bahwa kau adalah milikku”

Aku terkekeh kecil mendengarnya. Selalu seperti ini. “mereka bahkan sudah mengetahuinya sejak pernikahan dilangsungkan” kataku

“tetap saja”

Aku mengalah dan lebih memilih untuk diam lalu kembali memandang foto di depan ku ini dengan luapan perasaan yang bercampur aduk, namun bahagia tetaplah mendominasi. Menikmati moment moment kecil seperti ini bersamanya adalah hal yang sangat berharga bagiku.

***

Ku kerjapkan mataku berkali kali saat sadar sinar matahari yang mengusik tidurku pagi ini kembali masuk melalu celah cendela kamarku yang tidak terlalu luas.

Mataku terbuka sempurnya, namun aku masih berusaha mengumpulkan nyawaku yang hilang.

Kuhela nafasku pelan. Sepertinya hari ini tak akan berjalan lancar seperti hari hari sebelumnya.

Aku bergegas bangun, mengambil handuk biru kesayanganku dan berjalan ke kamar mandi. Mulai bersiap untuk menjalani aktifitasku seperti biasa.

Kuambil asal potongan baju yang ada di lemari pakaianku. Cukup celana jeans, dan kemeja santai berwarna pink pucat kupadukan dengan sepatu kets berwarna senada.

“sayang, sudah bangun? Kenapa pagi pagi sekali?” tanya eommaku yang sedang menata sarapan di ruang makan saatmelihat  aku keluar dari kamarku dengan pakaian yang sudah rapih.

“ada janji dengan dosenku pagi ini eomma”

“tidak sarapan dulu?”

“ani. Aku sarapan di kampus saja. Oiya, appa dimana?”

“sedang bersiap dikamarnya”

“kalau begitu sampaikan pada appa aku berangkat duluan ke kampus eomma”

“kau benar tidak mau sarapan? Kau terlihat pucat Hyuna~ya. Bagaimana jika nanti kau sakit?”

“ani, gwenchana eomma. Yasudah, aku berangkat “

Kunikmati jalanan kota Seoul pagi ini. Tersenyum sekilas saat melihat beberapa orang mulai melakukan aktifitasnya. Wajar saja, hari ini hari senin. Pasti semua orang terlihat sibuk.

Urusan dengan dosen sudah selesai, jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku memutuskan untuk berjalan menuju kantin kampus. Berhubung masih ada waktu satu jam untuk mata kuliah selanjutnya. Lagipula tadi aku belum sempat sarapan.

“Park Hyun Ah! “ aku menoleh saat mendengar suara seseorang memanggil namaku. Tidak usah ditanya, aku tahu siapa dia. Hwang Sung Rin. Sahabatku.

“Hai” sapaku saat dia sudah sampai di depanku

“Mau kemana?” tanyanya

“Kantin. Wanna come?”

“Arraseo. Kajja!”

Kami berdua melenggang pergi menuju kantin. Duduk di salah satu kursi panjang disana dan mulai memesan makanan.

“Kau sudah dari tadi sampai kampus?”

“Hmm. Bahkan sejak pagi tadi. Kira kira jam___ 7?”

“pagi sekali. Bukanah mata kuliah kita baru satu jam lagi? Untuk apa datang sepagi itu?”

“menurutmu??”

“mmm.. mengepel lantai kampus”

‘PLETAAK’

Kujitak kepala sahabat tersayangku satu satunya ini. Kenapa otak bodohnya tidak hilang hilang sih?

“Aw! Sakit!!” protesnya

“bagaimana bisa kau berpikir aku mengepel lantai satu kampus ini? Otakmu kau letakkan dimana Sung Rin~ah !!!”

“hehe.. mian. Lalu?”

“aku ada janji dengan dosenku untuk membahas masalah skripsi. Kau tahu sendiri bagaimana sifat dosen. Susah ditemui, dan sekalinya dia bisa kita harus langsung menyanggupinya. Yaah.. meskipun harus berangkat pagi pagi sekali seperti tadi” jelasku

“Hmm, aku mengerti”

Seorang pelayan datang membawa dua porsi makanan lengkap dengan minumannya untuk kami berdua. Sung Rin menggumamkan terimakasih sesaat sebelum pelayan itu pergi.

Kami makan dalam diam. Pikiranku entah melayang kemana. Perasaan ku gelisah dan ada rasa yang tidak tenang. Hal ini sudah melandaku sejak berhari hari yang lalu.

“Hei, kau melamun? Kenapa ?” tegur Sung Rin

“Ani, gwenchana”

“maaf sekali nona Park. Mungkin kau bisa bohong dengan orang lain tapi tidak denganku” kuteguk ludahku susah payah mendengar jawaban pelannya yang terdengar sinis. Oke, kuakui temanku satu ini memang terkadang otaknya akan berjalan sangat lambat. Tapi, instingnya benar benar kuat.

“Mimpi itu… datang lagi” jawabku

“Lagi? Ini sudah hampir seminggu dan.. benarkah kau masih mendapat mimpi itu?”aku mengangguk lemah.

“Gwenchana?”

“Fisik ku iya. Tapi, batinku tidak. Kurasa”

“Wae?”

“aku merasa .. gelisah? Setiap kali aku bangun dari tidur hatiku terasa was was. Aku bingung, siapa sebenarnya dia? Sosok pria yang selalu datang di mimpiku tiap malam. Sosok pria misterius yang berstatus suamiku. Kau tahu, aku bahkan merasa menjadi wanita yang sangat bahagia menjalani kehidupanku di mimpi itu. Menjadi sorang istri yang melakukan kegiatan sebagaimana mestinya. Tapi… hhhuft~”

“aku tahu mimpi hanya bagian dari bunga tidur. Tapi ini bahkan sudah hampir seminggu dan mimpi itu selalu sama. Biasanya sepotong mimpi tidak akan membuatku merasa sefrustasi ini. Tidak untuk kali ini. Ini membuatku benar benar pusing memikirkannya”

“Hyuna~ya, sebenarnya apa yang kau pikirkan sehingga kau bisa mendapat mimpi aneh itu”

“seingatku aku tidak memikirkan apapun. Hal terakhir yang kulakukan sebelum mimpi itu datang.. aku mengerjakan tugas di rumahmu hingga larut. Saat pulang kerumah, tubuhku terasa sangat lelah dan tertidur. Lalu aku mulai mendapat mimpi itu”

“apa kau merasa mimpi itu sangat nyata?” tanya Sung Rin penasaran

“Ani.. aku bukan type pecinta drama atau novel yang akan mengatakan ‘mimpi itu terasa nyata’” jawabku malas. Memang benar, aku benar benar tidak suka orang yang mendramatisir sebuah cerita. Mimpi ya mimpi, nyata ya nyata. Bagaimana bisa mimpi terasa nyata?

“lalu kau sadar bahwa itu sebuah mimpi?”

“ya”

“Bagaimana bisa kau sadar itu sebuah mimpi?”

“Jelas saja. Diawal mimpi, aku berada di taman bermain bersama keluargaku. Lalu saat bermain lompat tali, tiba tiba aku terjatuh dan suasana latar berubah. Maksudku, tiba tiba aku berada di sebuah ruangan serba putih dimana aku dan pria misterius dalam mimpiku itu menjalani peran kami sebagai sepasang suami istri. Yah.. kau taulah, mana ada dalam kenyataan hal seperti itu terjadi. Itu jelas mimpi! Mimpi itu biasanya terjadi secara acak”

“Hmmm.. kau benar. Mimpi layaknya sebuah blok puzzle yang disusun oleh otak kita dan biasanya tidak beraturan, meskipun masih dalam satu tema”

“Mulai lagi. Kau berkata seolah olah kau tahu segalanya Sung Rin~ah”

“aku serius. Kau itu seperti mengalami .. Lucid Dream”

“Lucid dream? Apa itu?” tanyaku penasaran

“Lucid dream, sebuah mimpi dimana dalam mimpi tersebut, pikiran kita sadar dan mampu menyadari bahwa saat itu merupakan sebuah mimpi”

***

“Good Morning”

Suara bass lembutnya menyapu pendengaranku pagi ini. Dan seperti biasa, wajah rupawan itu yang menyambutku bangun di pagi hari

“Morning” jawabku serta merta merentangkan kedua sudut bibirku membentuk sebuah senyuman

“Sudah bangun dari tadi? Kenapa tidak membangunkanku?”

“Tidak. Kau terlihat sangat damai jika tertidur. Aku jadi tidak tega membangunkanmu” jawabnya membuat aku terkekeh pelan

Dia membenarkan posisi tidurnya menyamping ke arahku. Lalu menumpu kepalanya dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangannya yang lain mulai menyisir lembut helai demi helai rambutku.

“Kau tidak bekerja?”

“Kau tidak ingat? Ini hari minggu”

“Ah iya, aku lupa”

Dia memajukan wajahnya dan mengecup lembut keningku. Lalu menarikku dalam dekapan hangatnya pagi ini. Rasa nyaman selalu menguar saat aku berada dalam jangkauannya seperti ini. Hatiku merasakan luapan bahagia yang sangat setiap detiknya. Dan tentu saja, dapat kurasakan debaran jantungku yang terus menerus bertalu saat kami melakukan skinship seperti ini.

“Dengar aku. Apapun yang terjadi, jangan pernah mencoba untuk lari dariku. Karena kemanapun kau pergi aku akan mencarimu. Bahkan sampai ke ujung dunia” katanya tiba tiba.

Ku cubit pelan perutnya membuat dia meringis “Aaah~ wae? Kau ini merusak suasana romantis saja”

“bukankah kau tahu aku tidak suka kalimat kalimat mendramatisir seperti itu. Ujung dunia? Memangnya kau tahu ujung dunia itu dimana?”

“Hissh.. arra arra” kesalnya lalu mempoutkan bibirnya seperti anak kecil. Membuatku mau tak mau terkekeh geli dengan tingkahnya yang masih saja kekanak kanakan.

CHU~

Kuhadiahkan sebuah kecupan pagi di bibirnya yang sontak membuat tubuhnya menegang. Terkejut kurasa.

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Percayalah. Bahkan jika hatiku memberontak, aku tidak akan pernah mencoba lari darimu”

***

Aku berlari menelusuri lorong kampus dengan nafas terengah. Sesekali senyumku mengembang saat mengingat ingat sesuatu yang membuatku menjadi aneh hari ini.

Ku percepat lariku saat sudah melihat siluetnya berjalan diujung lorong dan tiba tiba saja menghilang masuk ke dalam ruangan yang dilewatinya.

“Ya! Hwang Sung Rin!” teriakku saat sudah melihatnya duduk di kelas kami.

Dia tersenyum senang melihatku lalu melambaikan tangannya. Memberi isyarat agar aku masuk dan duduk disampingnya.

“Ada apa? Kenapa kau  berkeringat?” tanya nya saat aku sudah duduk disampingnya

“aku habis berlari”

“Berlari? Untuk apa?”

“mengejarmu”

“Memangnya ada apa? Sesuatu yang penting?” aku mengangguk

“Lucid Dream”

“Huh?”

“Bisa kau jelaskan lebih banyak lagi”tanyaku. Sepertinya aku mulai penasaran

“Kenapa tiba tiba?” herannya

“Kau tahu, semalam aku mendapat mimpi itu lagi dan anehnya semua perasaan was was yang kualami selama ini menghilang”

“maksudmu?”

“aku membuka mata pagi ini dan perasaan lega bercampur bahagia menyeruak masuk dalam hatiku. Aku bersumpah aku tidak tahu siapa pemuda dalam mimpiku, tapi.. aku.. aku seperti mengenalinya. Entahlah, seperti ada ikatan batin diantara kami. Dan kau mungkin tidak percaya, saat aku bangun pagi ini, aku merasakan jantungku yang bertalu talu”

“Hee? Jangan bilang kau jatuh cinta pada laki laki di mimpimu itu?”

“Ya, aku jatuh cinta padanya. Suami masa depanku”

“Eiiiiy~ kau bahkan memanggilnya suami masa depan. Kau sendiri saja tidak tahu apakah sosok dalam mimpimu itu nyata atau tidak”

“tapi Rin~ah hatiku menyatakan kalau lelaku itu.. benar benar ada”

Terjadi jeda untuk beberapa saat. Mungkin Sung Rin juga ikut berpikir tentang masalahku ini.

“baiklah aku akan menjelaskannya. berani bayar aku berapa?” suara Sung Rin mulai terdengar

“eisssh! Apa apaan itu?” sungutku sebal

“haha, just kidding. Oke, i’ll tell you”

“aku akan mendengarkan!!” seruku sambil mencondongkan wajahku kearahnya dan menumpunya dengan kedua tanganku

“menurut artikel yang kubaca, Lucid dream juga membawa konsekuensi tersendiri bagi jalannya sebuah mimpi yang sedang terjadi. Konsekuensinya adalah, pikiran kita menyadari bahwa lingkungan yang sedang dialami saat itu adalah sebuah mimpi, sehingga logika kita sebagai manusia yang sudah sering kita gunakan dalam kehidupan sehari hari mulai terangsang dan mulai menunjukkan fungsinya dengan benar”

“contohnya, kau bilang kau sadar kan bahwa kebersamaanmu bersama pria misterius itu sebagai sepasang suami istri hanya mimpi?”tanyanya dan aku hanya mengangguk

“Nah, itu yang kumaksud logika kita sudah mulai menunjukkan fungsinya. Di dalam mimpi itu, kau pasti bertanya tanya. ‘sebenarnya apa yang terjadi’ atau ‘kenapa aku disini’ . itu semua karena kau dalam keadaan sadar dan logikamu menunjukkan fungsi sebgaimana mestinya. tapi kau tidak mampu untuk mengeluarkan pertanyaan itu sehingga semua itu hanya bersarang dihatimu. Karena selebihnya kau meyakini tidak ada yang salah dengan itu semua”

“Ah! Benar sekali. Aku merasa seperti itu. Seringkali bertanya tanya dalam hati tapi benar benar sulit untuk mengungkapkannya”

“Tepat! Seperti yang kita tahu, dalam alam mimpi, pikiran kita merupakan indera kita, sehingga kekuatan pikiran kita mencapai puncaknya dalam alam mimpi, sehingga apapaun yang kita inginkan, jika kita mampu mengarahkan kekuatan pikiran kita pada tujuan kita dalam mimpi, maka akan terwujud goal itu, cuman sisi jeleknya juga ada, semakin kita ragu dalam mimpi maka keraguan itu akan makin kuat, semakin kita takut gagal, maka dalam mimpi goal tersebut kemungkinan besar juga akan gagal. Kekuatan pikiran dan emosi memainkan peranan penting dalam alam mimpi”

“Bahasamu terlalu sulit kupahami” kilahku. Dia ini .. aku bingung menyebutnya apa? Terkadang bisa menjadi sangat pintar, terkadang juga menjadi sangat bodoh.

“Huuh~ Hyuna~ya, yang coba untuk kukatakan padamu adalah. Kau mengalami Lucid Dream kan? kau bisa saja mewujudkannya menjadi kenyataan”

“Huh?”

“Kau bilang kau jatuh cinta pada ‘suami masa depan-mu’ itu kan?” aku mengangguk

“dengar. Aku tahu mimpi hanya sebagian dari bunga tidur, kau pun tahu itu. Dan.. berhubung kau mengalami mimpi ini beberapa kali, aku berfikir, mungkin ini tidak hanya sekedar Lucid Dream. Mungkin, ini adalah suatu pertanda untukmu. Well.. itu menurutku sih. Jadi maksudku adalah, berfikir positiflah tentang yang kau alami. Jika.. kau menginginkan mimpi itu menjadi kenyataan cobalah untuk mengarahkan kekuatan pikiran kita pada tujuan kita di dalam mimpi. So.. jika kau memang ingin menjadi istri dari laki laki misterius itu tetaplah berfikit positif”

“sebaliknya, jika kau bertindak ragu ragu, maka semua itu tidak akan pernah terwujud” jelasnya panjang lebar

“Tetaplah berfikir positif. Seperti apa?” tanyaku

“salah satu contohnya seperti yang kau lakukan tadi. Kau benar benar meyakini bahwa pria itu benar benar ada. Jadi, teruslah berpikir seperti itu. Karena kufikir.. Tuhan menyiapkan sesuatu yang besar untukmu”

“Hmm.. kau benar”

“aku berani bersumpah bahwa kasusmu ini seperti cerita cerita di film” kata Sung Rin. Mendadak dia terlihat ngeri melihatku

“Hei, kau kenapa?”

“Hyuna~ya.. apa kau.. menganut ilmu hitam!”

“Ya!” apa apaan dia? Baru saja otaknya menjadi cerdas, lalu sekarang langsng berubah 180 derajat.

“kenapa kau berpikir begitu?” sebalku

“Habis.. kejadian seperti ini aku baru mengetahui ada di dunia nyata”

“Jinjja? Tapi kenapa kau tahu begitu banyak tentang Lucid dream?”

“Oppaku punya banyak sekali buku buku pengetahuan seperti itu. Yah, saat ada waktu luang, terkadang aku membacanya”

Aku mengangguk mengerti. Perbincangan kami terpaksa kami tunda karena dosen killer yang mengajar kami hari ini sudah memasuki area kelas. Yang berarti.. kuliahku akan dimulai dalam hitungan detik

***

Aku berjalan di sepanjang kawasan perbelanjaan sore ini. Mencari kado istemewa untuk hari ulang tahun pernikahan orang tuaku yang ke 24. Udara terasa sejuk dan membuatku betah berlama lama mengitari seoul.

Mataku menangkap kedai kopi yang lumayan ramai di sisi kanan jalan raya. Seketika, memoriku kembali mengingat setiap detail kejadian dalam mimpiku. Kopi, bukankah ‘suami masa depan-ku’ itu sangat suka minum kopi dipagi hari?

Tanpa kuperintah, kakiku menuntunku untuk mendekat dan menyambangi kedai kopi tersebut. Kulirik sekilas tempat itu. Hmm, sepertinya tempatnya nyaman. Apa salahnya mencoba?

Aku berjalan menuju pintu masuk dan mulai memegang ganggang pintu besi berbentuk panjang yang ada disana. ‘BRAAAK’

Tepat ketika kubuka pintu itu seseorang keluar dari dalam sana dan.. Ya Tuhaaan.. kopi miliknya tumpah dan mengenai bajuku.

“Ah, maaf. Aku tidak sengaja nona” katanya dengan ramah. Dari nada suara yang dapat kutangkap, aku tahu dia adalah pria. Aku sendiripun belum mengetahui rupanya. Masih sibuk dengan bajuku yang terkena noda kopinya.

“tidak, tidak apa apa. Ini salahku juga” jawabku.

Tiba tiba tangan lain membantuku mengelap sisa noda kopi itu dengan sebuah saputangan cokelat. Dan aku yakin, saputangan beserta tangan yang membantuku itu miliknya.

“aku tidak apa apa. Jangan kha__” lidahku terasa kelu hanya untuk melanjutkan bicara sesaat setelah mata kami bertemu. Jantungku tiba tiba berdetak abnormal dan darahku berdesir. Nafasku tercekat dan aku hanya bisa diam mematung saat ini.

Pria itu tesenyum manis, amat sangat manis padaku. Mantel coklat yang dikenakannya begitu memperlihatnya tubuh tegapnya yang bidang. Tingginya kutaksir sekitar 180-an dalam cm. Wajah rupawannya yang begitu mengaggumkan serasa tidak asing dimataku. Senyum itu juga tidak asing dimataku.  Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana?

“Sekali lagi, aku minta maaf atas kecerobahanku nona. Dan maaf, sepertinya aku harus pergi. Aku sedang terburu buru” ucapnya

“Y-ye. Nan g-gwenchana” balasku gugup

“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Kuharap kita bertemu lagi. Karena aku yakin itu”

Dia mulai melangkah pergi meninggalkan sejuta pertanyaan di otakku. Apa katanya barusan?

Kesadaranku mulai pulih saat punggungnya telah hilang di balik pertigaan diujung sana. Aku tersenyum mengingat pertemuan kami barusan. Terasa begitu manis. Seperti di film atau novel novel saja. Eits.. tunggu tunggu. Apa yang barusan ku katakan? Bukankah aku tidak suka mendramatisir ?

Aku mulai melangkah masuk ke caffe dan tiba tiba tersadar sapu tangan miliknya ada padaku. Ingin kukembalikan tapi percuma, dia juga sudah tidak ada.

Sesaat kemudian, aku menepuk jidatku karena sadar akan satu hal “kenapa aku tidak tanya namanya?” pekikku kecil

Aku melihat sapu tangan coklat yang kini berada di atas tanganku itu dengan seksama. Sambil menunggu pesanan satu cangkir kopiku datang.

Tak sengaja, matau menangkap sebaris tulisan hangul di pojok bawah saputangan itu.

‘Cho Kyuhyun’

“Cho Kyuhyun? Namanya kah?”

***

“Hyuna~ya. Kau sudah siap?”

“Ne eomma”

Aku segera keluar dari kamarku saat mendengar eomma memanggil. Kulangkahlan kakiku dengan sedikit malas menuju appa dan eomma yang sudah terlihat ‘sangat siap’ di ruang tengah

“Aigoo, noumu yeppo. Kajja nanti kita telat” kata eommaku seraya membimbingku berjalan keluar dan menuju mobil

Hari ini keluarga kami diundang oleh keluarga Cho, seorang pengusaha sukses dan terkemuka di Korea untuk makan malam. Yang kudengar dari cerita eomma, Tuan Cho dulunya adalah teman SMA appa.

Hubungan mereka sangat dekat dan tiba tiba saja kontak mereka terputus saat Tuan Cho pindah sekolah ke luar negeri. Namun, dua bulan yang lalu secara tidak sengaja mereka bertemu kembali di sebuah acara yang ku ketahui adalah acara Reuni sekolah mereka. Yah.. kalau aku simpulkan, eomma dan appa berniat menjodohkanku dengan putranya. Pasalnya dari seminggu yang lalu, mereka sudah mencekokiku dengan pria ‘yang katanya’ tampan itu.

Sejauh yag kutahu, putra Tuan Cho itu adalah anak kedua. Sudah mendapat gelar S3 nya diusia 26 tahun, untuk yang satu ini aku patut mengacungi jempol. Tampan, tinggi dan digilai banyak wanita. Well.. cukup menarik. Tapi untuk gadis sepertiku, aku sama sekali tidak suka jika masalah pribadiku harus dicampur tangani orang tua.

Untuk namanya, eomma sengaja merahasiakannya padaku. Katanya aku harus berkenalan sendiri dengan dia. Kata eomma, agar kami cepat akrab. Cih.. alasan macam apa itu?

“wuah, selamat datang tuan Park , Ny Park” sambut seorang pria paruh baya dengan wanita disampingnya. Aku meyakininya sebagai Tuan Cho dan wanita disampingnya itu adalah istrinya.

Kesan pertama kuinjakkan kakiku disini, mengaggumkan. jujur, Rumah keluarga Cho adalah rumah termewah yang pernah aku masuki.

“dan ini__” Ny. Cho tiba tiba saja menunjukku

“Park Hyun Ah imnida~” kataku ramah sambil menundukkan kepala sekilas

“aih! Noumu yeppo” serunya membuatku menggumamkan kata terimakasih.

“Mari mari, silahkan masuk”

Kami digiring memasuki sebuah ruangan yang tak kalah besarnya dari ruang tamu. Tuan dan Ny Cho mempersilahkan kami duduk dan tak lama seorang ahjumma membawakan minum untuk kami.

“Hyuna, kau kuliah kan?” tanya Tuan Cho

“ne, ahjussi”

“Jurusan?”

“Kedokteran. Dan sekarang dalam semester akhir”

“Jinjja? Wuah, ternyata menantuku calon dokter” seru Ny. Cho girang membuat aku terperanjat. Sementara yang kulihat, appa dan eomma hanya tertawa saja menanggapi

“m-menantu?” tanyaku

“ah, mian. Maksudku calon menantu” ralatnya. Apa ini? Sama saja artinya kan?

“uri Kyuhyun mana? Panggil dia” perintah Tuan Cho pada istrinya. Tunggu tunggu, siapa tadi katanya?Ky-Kyuhyun? Jangan bilang kalau Kyuhyun yang dimaksud adalah …

“Annyeonghaseyo. Maaf menunggu lama” otakku tidak dapat berpikir jernih sesaat setelah mataku menangkap sosok itu. Benar dugaanku, pria itu. Kyuhyun.. pria yang menabrakku di depan kedai kopi minggu lalu.

Dia melihat kearahku, lalu memberikan senyumnya lagi. Senyumnya yang teramat manis. Senyumnya yang mampu menghipnotisku. Senyumnya yang mulai detik ini kutetapkan sebagai senyum favoritku.

“Hai, kita bertemu lagi”

***

Aku masih terdiam dan lebih memilih untuk meredam detak jantungku yang sedari tadi berulah. Duduk berdua dengan pria bernama Cho Kyuhyun di bawah taburan bintang malam ini ternyata cukup membuatmu sesak nafas.

Pergerakan ayunan yang kami duduki juga tambah membuat kakiku bergetar. Dan aku tahu, sosok disampingku ini masih terus menatapku sedari tadi. Sejak setengah jam yang lalu kami duduk di taman belakang rumahnya ini.

“K-kyuhyun~ssi. K-kenapa melihatku seperti itu” aku mendengar diriku bersuara

“wae? Tidak boleh memandangi wajah calon istri sendiri?” perkataanya sukses membuatku membeku. Ya Tuhaaaaan, cukup kau buat aku linglung dengan hanya melihatnya. Sekarang kau buat aku linglung dengan ucapannya

“A-apa?”

“bukankah sudah jelas yang dikatakan di dalam tadi? Pernikahan kita akan dilaksanakan bulan depan”

“A-ah. Ye” ucapku sedikit lesu

“Kenapa? Kau tidak suka menikah denganku?” tanyanya. Aku gelagapan dan menggeleng cepat kearahnya. Takut kalau kalau dirinya tersinggung atau salah paham

“A-ani. Bukan itu maksudku. Kau tampan, sangat tampan. Pintar dan punya segalanya. Tapi__”

“ah~ kau mengakuinya? Aku tampan? Pintar? dan punya segalanya?” aku menutup mulutku ketika sadar telah berbicara diluar kontrol. Oh! Memalukan.

Kyuhyun tertawa kecil melihat reaksiku. Dan aku hanya berusaha memalingkan wajah agar dia tidak tahu kalau warna pipiku sudah berubah merah.

“Lalu, apa yang membuatmu ragu untuk menikah denganku” tanyanya

“tidakkah kau berpikir ini terlalu cepat? Maksudku, kita baru saja kenal dan bertemu baru hari ini. Ah, ani.. minggu lalu juga. Tapi, tapi.. aduh bagaimana ya menjelaskannya” ucapku sedikit bingung

“Hei, dengar aku” Kyuhyun membenarkan posisi duduknya menjadi lebih nyaman. Pria itu lalu menatap lurus kedalam retina mataku

“Apa kau.. merasa pernah melihatku? Atau apapun dariku?”

Aku mengernyit bingung. Kenapa dia bisa tahu? Aku memang merasa tidak asing dengannya.

“Kau pernah melihatku seperti ini?” tanyanya lalu menunjukkan senyumannya untukku.

“atau kau pernah merasakan aku menggenggam tanganmu seperti ini?” dia menggenggam tanganku membuat sengatan listrik dalam tubuhku bangkit

“Atau mengusap kepalamu seperti ini?” dia mengusap lembut kepalaku

“atau ini?” tangannya beralih mengusap pipiku. Entah perasaanku saja atau bukan, tapi kenapa lama kelamaan jarak diantara kami semakin menipis.

“Ini?” aku mengerjapkan mataku saat kurasakan bibirnya menempel pada keningku.

“atau bahkan.. seperti ini?” dia mendekat dan semakin mendekat. Membuat nafasku tercekat menghirup aroma mint nafasnya yang mulai dapat kucium.

Nafasnya yang membentur wajahku membuat jantungku yang sudah bekerja abnormal menjadi lebih abnormal lagi. Dan detik berikutnya, kurasakan bibirnya menyentuh lembut bibirku.

Ya Tuhaaan! Apa yang dia lakukan sekarang?? Menciumku ? cium??

Memoriku tiba tiba berputar, mengingat detail setiap kejadian yang ada dalam mimpi anehku tempo hari. Mimpi yang seminggu penuh merasuk dalam tidur indahku.

Samar samar, dapat kulihat sosok pria yang selalu menyambutku pagi hari saat aku bangun, sosok pria yang selalu membaca koran tiap pagi dan selalu kubuatkan kopi, sosok yang selalu memelukku saat memandang foto pernikahan kami. Dia.. benarkah? Dia..

“Maldo andwe” lirihku

Kyuhyun tersenyum manis. Nampaknya dia sadar aku menemukan sesuatu.

“kau ingat?”

Aku menoleh kearahnya, menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Kyu~ bagaimana bisa__?”

“Mimpi itu??” aku bertanya

“apa kau percaya jika kukatakan ini adalah takdir?” tanyanya

“huh?”

“asal kau tahu. Selama seminggu, aku bermimpi mempunyai seorang ‘istri masa depan’ . aku sempat frustasi karena mimpi itu. Entah untuk apa aku juga tidak tahu.sampai saat kita bertemu untuk yang pertama kalinya minggu lalu. Kau tahu, saat itu .. aku langsung sadar bahwa kau adalah sosok dalam mimpiku itu. Dan entah kenapa aku bisa berbicara seperti itu ‘Kuharap kita bertemu lagi. Karena aku yakin itu’ kau ingat?” aku mengangguk

“dan sepertinya Tuhan memang mentakdirkan kita bersama. Saat aku pulang kerja kemarin sore, appa bilang bahwa aku akan dijodohkan dengan putri sahabatnya. Appa memberikan fotomu padaku, dan saat aku tahu itu kau.. aku tidak ragu lagi untuk menjawab ‘ya’ “

“sebelumnya, aku tidak pernah merasa seperti ini. Jatuh cinta? Kupikir hanya ada dalam drama saja. Bertemu seseorang lalu merasakan dadamu berdetak cepat. Tidak masuk akal kupikir. Tapi anehnya, aku selalu seperti itu saat mimpi itu datang. Konyol memang, kuakui aku jatuh cinta pada sosok gadis dalam mimpiku. Yang aku sendiri tidak tahu dia nyata atau tidak, setidaknya itu pikiranku waktu itu”

“tapi, dengan bertemu denganmu sekarang. Aku benar benar yakin bahwa aku.. telah jatuh cinta. Jatuh cinta pada gadis misterius dalam mimpiku, jatuh cinta pada ‘istri masa depanku’ , jatuh cinta padamu, Park Hyun Ah”

Aku dengan jelas mendengarkan penuturan panjangnya. Mencoba mencerna dan memasukkan satu persatu kalimat dalam otakku. Oh my god, ini keajaiban! Sungguh ! apa ini??? Aku baru mengalami hal yang seperti ini di dunia nyata!! Ya Tuhaaaan.. i don’t believe it

“I found you~” ucap kami berdua bersamaan.

“Kyu, bagaimana bisa kau membuatku ingat hanya dengan melakukan hal hal seperti tadi?”tanyaku penasaran

“karena aku tahu, kau juga mengalami mimpi yang serupa denganku kan?”

“darimana kau tahu?”

“aku juga tidak tahu, hanya insting. Tapi memang benar kan kau juga mendapat mimpi itu?” tanyanya dan aku mengangguk

“itu berarti, kita memang berjodoh” tuturnya

Kutatap dalam mata teduh itu di depanku. Ku jelajahi segala bentuk rupa wajah ‘suami masa depan-ku’ ini dengan seksama. Aku beruntung, benar kan?

“So.. Park Hyun Ah~ssi”

Kyuhyun bangun dan menarikku berdiri bersamanya. Membawaku ketengah halaman dan menatap dalam kedua mataku.

Tiba tiba dia berlutut, mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Sebuah kotak beludru merah tersaji di depanku.

Aku menanti penuh harap apa yang akan dia lakukan padaku selanjutnya.

Kyuhyun membuka kotak itu, sontak aku menutup mulutku dengan tangan saat melihat isi didalamnya. Sebuah cincin cantik dengan 3 mata berlian diatasnya. Terlihat simple tapi mewah dan elegant.

“…….”

“……..”

.

.

.

“Hyuna~ya.. would you marry me?”

“……”

 

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali dan membuat beberapa tetes air mataku jatuh. Tidak pernah sekalipun dalam hidupku aku bermimpi akan mendapatkan kejadian luar biasa seperti ini. Cho Kyuhyun melamarku! Dia melamarku!!

Aku bahagia? Sangat! apalagi saat melihat sorot matanya yang benar benar menunjukkan keseriusan. Tanpa ada kebohongan..

“Yes, i do” jawabku

Dia tersenyum lalu mengeluarkan cincin itu dari tempatnya. Memasangnya di jari manisku.

Kyuhyun berdiri, pria itu mengusap kedua pipiku lembut. Perlahan tapi pasti, bibir kami kembali bertemu dan kini aku mulai mencoba untuk tidak pasif.

“Gomawo, and.. I Love You..” katanya setelah tautan bibir kami terlepas

“Gomawo, and.. I Love You Too..”

 

 

 

END

 

Epilog :

Kurasakan sinar matahari mengusik tidurku pagi ini. Perlahan tapi pasti ku buka kedua kelopak mataku.

Aku tersenyum tatkala melihat wajahnyalah yang menjadi pemandangan pertamaku di pagi hari.

Kutelusuri wajah rupawan itu dengan jari telunjukku. Kumainkan bulu matanya yang indah.

Kyuhyun perlahan membuka matanya, kurasa dia terganggu dengan aktifitasku.

“Good morning” sapanya dengan suara serak dan sambil tersenyum

“Morning. .. Mian, aku menganggu tidurmu” ucapku penuh penyesalan

“gwenchana” jawabnya.

Kami terdiam, hanya sibuk memandang satu sama lain. Dan aku sudah mulai kewalahan mengatasi detak jantungku yang abnormal.

Kyuhyun membenarkan posisi tidurnya, menjadikan tangannya bantalan untukku lalu menarikku dalam pelukannya.

“Ny. Cho, apa kau merasakan sesuatu?” tanyanya. Tangannya bergerak mengusap lembut kepalaku

De Javu. Aku merasa dejavu

“sama denganku”

“…….”

“…….”

“Kyu..”

“Hmm?”

“apa kau percaya takdir?”

“percaya”

“wae?”

“kau tahu, takdir adalah segala sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Dan aku yakin dan sangat percaya bahwa kau adalah suatu ketentuan yang diharuskan hidup bersamaku. Dengan kata lain, kita berdua memang ditakdirkan untuk bersama. Karena Tuhan sudah menakdirkannya”

 

Aku tersenyum mendengarnya. Kueratkan pelukanku di pinggangnya dan membenamkan wajahku di dada bidangnya. Tuhan, aku tahu dia adalah takdirku. Dan terimakasih telah mengirimnya sebagai takdirku, Cho Kyuhyun ku

 

 

Advertisements

27 thoughts on “Lucid Dream

Add yours

  1. Woah…. Ini sih the dreams came true.
    Aaaa keren deh mimpi Hyuna sama Kyuhyun bisa jadi kenyataan, ada takdir yang mengikat mereka berdua.
    Ah…good job author 🙂

  2. Aku juga mau ngalamin lucid dream.. kyuu kyuu♥♥
    Huaa suami impian dia hahah..
    Ada sequel nya ga?
    Hihi
    Overall aku suka^^

  3. Annyeong aku reader baruu..
    Kerennn ceritanya..
    Sweet bangetttt..
    Huaaa sumpah sampe ga bisa berkata” lagi.
    Author daebakk :-*

  4. asli ketemu jodoh kaya gitu kok aku mauuuuu aaahh mau ngalamin yg kaya gini jugaa!! plus lakinya yg kaya kyuhyun hahahaha

  5. jadi nyata jugaaa

    aaaaa….ku kiranya itu hanya sebuah mimpi belaka dan gk bkalan mereka berdua Bersatu

    aaa…lucid Dream come true

    coba kalo ada lucid Dream versi kyuhyun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: