[Special Post] The Way To Your Heart (Part 8)

 

Pictures16

Author                  : Dyah Ayu Pytaloka

Title                       : The Way To Your Heart

Main Cast            : -Lee Taemin -Park Yeon Hwa

Genre                   : Romance

Rating                   : 17+

Length                  : Part

Desclimer            : This is special Post ! dan cast utamanya Lee Taemin SHINee. Special Request from my friend ‘RAW’ berharap kalian tetep suka sama karyaku. plot dan alur cerita semua murni dari pikiran aku. so, don’t plagiat okay! Comment after reading ! Khamsahamnidaaaa~ ^^

Happy Reading~

Taemin terus menggenggam tangan Yeon Hwa dengan erat. Matanya tak lepas memandangi objek rapuh yang ada di depannya kini. Perlahan tapi pasti, Taemin mengusap genangan air mata yang kian membanyak di wajah Yeon Hwa.

“A-aku.. aku takut” lirih Yeon Hwa. Akhirnya, setelah lama gadis itu terdiam dan hanya air mata yang dikeluarkannya, dia berani membuka suara.

Taemin bergerak maju, memeluk hangat tubuh gadisnya yang bergetar. Ruang tengah dorm Black Rose’s ini terasa begitu hening sejak tadi. Hanya diisi dengan suara jam dinding dan linagan air mata Yeon Hwa.

“gwenchana.. ada aku” kata Taemin masih sambil memeluk Yeon Hwa

Taemin melepas pelukannya pada Yeon Hwa setelah dirasa gadisnya itu sudah lebih tenang sekarang. pria itu mengangkat wajah Yeon Hwa sehingga kini dia bisa melihat mata indahnya terasa begitu mati. Bola mata itu, bola mata yang selalu menunjukkan binarnya ketika melihatnya kini berubah dan dipenuhi dengan linangan air mata yang terus menerus mengalir.

Taemin merasa seperti ada yang menghantam hatinya begitu keras sehingga membuatnya sangat sakit ketika pria itu melihat keadaan Yeon Hwa. Miris. Taemin merutuki dirinya sendiri yang terlalu bodoh dan tidak becus melindungi gadisnya itu. Tangannya yang berada di sisi kepala Yeon Hwa bergetar. Membuat Yeon Hwa memegang pergelangan tangannya dan berusaha mencegah Taemin untuk melakukan hal yang aneh. Gadis itu tahu, bahwa Taemin pasti tidak akan terlihat baik baik saja saat ini. apalagi setelah melihat kejadian beberapa jam lalu itu.

Tangan Taemin berhenti bergetar saat merasakan genggaman halus nan lembut dari gadisnya. Mata sayu nya menatap Taemin dengan penuh cinta.membuat Taemin lagi lagi terhipnotis oleh tatapan itu. Taemin mendekat dan semakin memangkas jarak diantara mereka. menutup kedua matanya saat mulai merasakan nafas Yeon Hwa yang teratur menyapa kulit wajahnya.

Gadis itu dengan sangat perlahan menutup kedua matanya saat merasakan sapuan bibir Taemin yang lembut. Tangannya beranjak naik memegang pundak Taemin. Pria itu tak mau kalah, Taemin menarik Yeon Hwa mendekat lalu sedikit mengangkat tubuhnya hingga Yeon Hwa duduk di pangkuan Taemin.

Yah~ pria itu memang berniat memangkunya. Merasakan lebih dekat Yeon Hwa disampingnya. Menyalurkan semua hasrat dan rasa cintanya pada Yeon Hwa. Menyalurkan semua energi positif yang menguar dari tubuh Taemin dan membaginya untuk Yeon Hwa. Berusaha memberikan sentuhan lembut agar Yeon Hwa tahu dan akan selalu tahu bahwa Taemin ada disisinnya. Gadis itu tidak sendiri.

Kecupan kecupan manis itu kini berubah menjadi sedikit lebih menuntut. Stress yang melanda Yeon Hwa langsung hilang entah kemana saat gadis itu merasakan sentuhan yang lebih menuntut dari Taemin. Gadis itu malah berharap waktu berhenti sekarang juga. Mendapati dirinya bersama Taemin dan melupakan masalah masalah yang terus melandanya.

Yeon Hwa mengalungkan tangannya di leher Taemin dan memeluknya lebih erat, tak lupa bibir mereka juga masih bersatu dalam ciuman yang semakin dalam. Ini membuat Taemin berfikir bahwa gadisnya itu tidak keberatan sama sekali. Tangan Taemin yang tadinya memegang sisi kanan dan kiri pinggang Yeon Hwa beranjak naik hingga menyentuh perutnya. Lalu, melingkarkan tangannya ke tubuh Yeon Hwa sehingga kini dia benar benar memeluk gadis itu. Erat, bahkan sangat erat.

Tapi tiba tiba, Taemin mengangkat lagi tubuh Yeon Hwa dan menundukkan gadis itu di pegangan kursi berwarna cream yang didudukkinya. Dan dengan posisi ini, Yeon Hwa menjadi sedikit lebih tinggi dari Taemin. Kembali pria itu memeluk Yeon Hwa dengan posesif.

Yeon Hwa mencengkram bahu Taemin dengan sedikit keras menandakan bahwa dirinya sudah sulit bernafas. Taemin melepas ciuman panjang mereka tapi dengan cepat beralih ke leher putih Yeon Hwa, membuat gadis itu otomatis mendongak dan menutup matanya, serta mengigit bibir bawahnya untuk menahan segala macam perasaan yang kini mulai ia rasa akibat dari sentuhan sentuhan Taemin.

Taemin menahan punggung Yeon Hwa dengan kedua tangannya dan masih mencium leher gadis itu. Sesekali menghirup feromon nya yang membuat Taemin semakin menggila. Taemin menghisap kasar bahu putih Yeon Hwa yang telah terekspos karena ulah tangan pria itu. Entahlah, untuk saat ini mereka sangat menikmati kebersamaan yang tercipta diantara keduanya. melupakan segala bentuk tekanan yang selalu datang. Untuk sekali ini saja, mereka akan bersikap egois. Hanya memikirkan kesenangan dan memikirkan bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua.

Cukup ! sepertinya mereka harus menghentikannya sekarang. setidaknya Taemin masih berfikir logis. Masalah akan timbul semakin banyak jika dia meneruskan hal ini. waktu ke’egois’an yang mereka ciptakan dengan terpaksa harus Taemin sudahi sekarang.

Pria itu melepas segala bentuk ciumannya di tubuh Yeon Hwa. Membuat gadisnya itu kembali menunduk dan menatapnya. Cantik! Itu kesan Taemin saat melihat Yeon Hwa. Rambutnya yang sedikit berantakan, bajunya juga sudah tidak tahu bentuknya dan kini semburat merah terlihat di kedua pipi Yeon Hwa.

“Mianhe..” ucap Taemin. Yeon Hwa menegakkan sedikit kepalanya yang sempat tertunduk dan menatap sendu wajah Taemin.

“Maaf. Aku tidak becus menjagamu~” lirih Taemin

“Aku memang pria bodoh! Bagaimana bisa aku mengingkari janjiku ? aku sendiri yang mengatakan bahwa aku bersedia menjadi tameng untukmu”

“Bahkan untuk menepati janjiku pun, aku belum mampu. Bagaimana aku bisa melindungimu”

Taemin terlihat kecewa sekarang. kecewa pada dirinya sendiri. Yeon Hwa mengangkat tangannya dan perlahan mendekat ke wajah Taemin, menangkupnya kemudia mengusap pelan pipi itu. Terasa lebih tirus dari sebelumnya.

“Apa kau tidak makan lagi?” tanya Yeon Hwa

“Jangan mengalihkan pembicaraan Yeon Hwa~ya”

Yeon Hwa terdiam, sejujurnya dia bingung untuk menjawab. Tapi pada akhirnya, dia memang harus buka mulut kan?

“Taemin~ah.. a-aku. . tidak apa apa, aku hanya.. takut”

“baru kali ini aku merasakan sakitnya dicaci oleh banyak orang. Terlebih lagi, sekarang pasti sebagian orang di dunia ini tahu masalahku. Aku takut.. aku tahu dunia yang ku geluti sekarang ini memang kejam. Tapi, ini juga bagian dari salahku. Aku tidak menyiapkan diriku untuk hal seperti ini. aku terlalu terlena oleh ketenaran. Aku tidak bisa menebak kejadian apalagi nanti yang akan terjadi padaku. Dan kau.. seharusnya kau tidak perlu minta maaf padaku. Hanya dengan melihatmu berada di sisiku itu sudah lebih dari cukup. Aku belum sepenuhnya hancur sekarang dan aku yakin bisa bertahan karena ada kau. Tapi, aku akan benar benar hancur jika aku.. kehilanganmu”

Taemin menatap lurus kedepan dan tepat menusuk retina mata Yeon Hwa. Pria itu merasa benar benar bersyukur mendapati gadis seperti Yeon Hwa lah yang sekarang memiliki ruang dihatinya. Tak pernah terbayangkan oleh Taemin jika gadis lain yang menempati itu semua.

“Terimakasih, . . sayang” ucap Tamin tulus dan dibalas dengan anggukan mantap dari Yeon Hwa

“apa kau tidak makan lagi Taemin~ah?” tanya Yeon Hwa

“Ani~”

“Jangan berbohong. Aku tidak suka pria dengan wajah yang tirus seperti mu”

“jeongmal? Baiklah aku mengaku. Aku tidak makan karena malas”

Yeon Hwa menyentil kecil jidat Taemin yang membuat pria itu meringis kecil

“kebiasaan buruk!” omel Yeon Hwa. Tapi sejujurnya gadis itu tahu bahwa dia bukan tidak makan karena malas. Malas mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Namun yang lebih dominan adalah tekanan. Ya~ pria itu tertekan. Sama dengan dirinya. ‘kapan masalah ini akan berakhir?’ Batin Yeon Hwa

“buatkan aku sesuatu yang bisa dimakan.. Ny. Lee” ucap Taemin manja

“arraseo. Tunggu disini. Aku akan membuatkanmu sesuatu” balas Yeon Hwa lalu beranjak dan menuju dapur. Namun langkahnya terhenti saat dia mengingat sesuatu. Gadis itu kemudian berbalik dan menatap Taemin yang masih menatapnya

“Jamkkaman. Kau memangilku ..apa?”

“Ani~ lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku sudah lapar” kata Taemin mengelak. Yeon Hwa hanya mengangguk dan kembali ke dapur. Namun wajahnya masih menyiratkan bahwa dirinya tengah dilanda bingung yang amat besar.

‘apa dia tadi memanggilku Ny Lee?’ batin Yeon Hwa

Sementara Taemin masih tersenyum melihat gadisnya. Setidaknya, keadaannya jauh lebih membaik dari sebelumnya. Seperti mayat hidup! Taemin juga berharap, keadaan member Black Rose’s yang lain juga sudah membaik sekarang, yaah~ mereka bersama prianya masing masing tentunya.

‘suatu saat. Suatu saat aku akan menjadikanmu Ny Lee ku.. Yeon Hwa~ya’ batin Taemin

-o0o-

Ri Ra berjalan santai dengan Donghae yang berada disebelahnya. Angin malam ini berhembus dengan lembut dan menerpa wajahnya. Sesekali dia mendongakkan wajahnya ke atas melihat taburan bintang di langit yang entah kenapa terasa indah saat ini.

“Gomawo oppa. Berkat kau, aku sudah lebih baik” kata Ri Ra tersenyum ramah pada Donghae. Pria itu malah terlihat gugup sekarang. berjalan di jalanan yang lumayan sepi (hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang) lalu tiba tiba mendapatkan senyum tak terduga dari Ri Ra. Lagi lagi Donghae harus menahan dirinya untuk tidak lepas control. ‘berhenti membuat jantungku sekarat Park Ri Ra!’ seru Donghae dalam hati

“Oppa..” panggil gadis itu lagi karena merasa tak ada respon dari Donghae

“Ye? A-ah~ ne. sama sama” ucap Donghae

Ri Ra kembali mengarahkan pandangan matanya ke jalanan di depannya. Masih basah. Karena beberapa waktu lalu sempat hujan. Dengan senyum yang terus mengambag gadis itu menghirup dalam dalam udara malam yang terasa sangat nyaman

Donghae diam. Pria itu bingung harus berbicara apa. Dirinya masih merasa canggung berdekatan dengan Ri Ra saat ini. ‘apa dia melupakan kejadian waktu itu? Kenapa tingkahnya biasa saja?’ Donghae bertanya tanya dalam hati. Pria itu tak habis pikir kenapa malah dirinya yang terlihat gugup. Sedangkan Ri Ra biasa saja. sepertinya memang insiden ‘ciuman’ di rumah sakit waktu itu memang sekedar angin lewat (?). jika memang begitu, Donghae merasa kecewa.

“Hanya dengan kutraktir ice cream kau sudah merasa baikan seperti ini?” Tanya Donghae berusaha mencairkan suasana. Setidaknya untuk dirinya sendiri.

“Hmm” Ri Ra mengangguk cepat

“eiyyy.. Gadis kecilku tak berubah rupanya” kata Donghae diikuti dengan kekehan kecilnya

“tapi.. aku masih mengkhawatirkan yang lainnya. Bagaimana keadaan mereka sekarang ya?” kata Ri Ra kemudian. Wajahnya berubah menjadi sedikit lebih murung. membuat Donghae bereaksi. ‘daebaak! Dia bisa merubah ekspresinya hanya dalam sedetik! Wuaaah’ kagumnya dalam hati

“Tenang saja. mereka pasti merasa jauh lebih baik sekarang” jawab Donghae membuat Ri Ra mengangguk dan lagi lagi tersenyum cerah ‘berubah lagi! Cepat sekali?’ batin Donghae –lagi-

Dari sudut mata Donghae, pria itu bisa melihat sebuah bus berjalan dari arah belakang mereka. tak sengaja matanya juga menangkap genangan air yang ada di sisi jalan tepat di samping Ri Ra.

Bus itu semakin mendekat dan dengan sekali gerakan Donghae berhasil memindahkan posisi dan memutar tubuh Ri Ra sehingga kini Donghae melindungi Ri Ra dari air yang ‘mungkin’ akan datang (?)

‘BRUSSSH!’

Tepat seperti dugaan Donghae. Air itu menyebar kemana mana. Untung dia memakai jaket kulit. Setidaknya, kaos yang sedang dipakainya tidak basah.

“Hampir saja kau yang basah” kata Donghae. Pria itu lantas menoleh ke arah Ri Ra yang ada di pelukannya dan tersadar bahwa jarak mereka sangatlah dekat. Dan anehnya, ini tidak seperti yang sudah sudah. Biasanya, Ri Ra akan selalu berteriak dan mengomel jika Donghae sudah mulai menggodanya atau melakukan hal hal romantis untuknya. Tapi kini, gadis itu diam seribu bahasa. Mata coklatnya menari nari menelusuri wajah pria di depannya itu. Matanya yang indah, hidungnya yang mancung, garis rahangnya yang tegas, dan bibirnya yang tipis cukup membuat Ri Ra membatu.

Ri Ra dapat merasakan detak jantungnya yang secara tiba tiba memompa lebih cepat. Dan gadis itu benar benar tidak tahu kenapa tiba tiba hal ini terjadi. ‘sejak kapan aku punya serangan jantung?’ batin Ri Ra karena masih bisa merasakan detak jantungnya yang abnormal.

Sedangkan Donghae? Pria itu baru pertama kali melihat Ri Ra dalam jarak sedekat ini. walaupun dia sudah sering membayangkan gadis itu berada dalam pelukannya. Tapi ini terasa sangat nyata, dan ini memang nyata! -_-

Seulas senyum terpatri di bibir Donghae tatkala dirinya melihat Ri Ra yang diam membatu di depannya. Pria yang terkenal romantis itu sudah menebak nebak isi pikiran Ri Ra. Dan dia berharap, tebakannya tidak salah.

Donghae menyingkap beberapa helai poni Ri Ra yang jatuh dan menutupi sebagian matanya. Jari jarinya kemudian beralih mengusap pipi gadis itu. Tak ada perlawanan dari Ri Ra membuat Donghae berani berbuat lebih. Tatapannya beralih pada bibir cherry milik Ri Ra. Ibu jarinya kemudian mengusap pelan bibir merah itu. Mengingat setiap detik kejadian saat Ri Ra menciumnya di rumah sakit waktu itu.

Mereka benar benar tidak menyadari tempat sekarang. beberapa orang yang masih berlalu lalang hanya dapat melihat kelakuan mereka. bahkan diantaranya ada yang berbisik bisik. Beruntung Donghae dan Ri Ra mengenakan sedikit penyamaran. Dan lampu jalan yang tidak begitu terang membuat mereka susah dikenali.

“Hey anak muda! Jika sedang bermesraan jangan disini” tegur seorang kakek tua yang lantas membuat mereka tersadar dan buru buru membenahi posisi mereka.

“A-ah.. ye h-haraboji” jawab Donghae gugup. Pria itu bahkan menggaruk garuk tengkuknya yang sudah pasti tidak gatal. Sementara Ri Ra berusaha melihat ke arah lain karena dia merasa pipinya memerah saat ini. entah karena apa.

Sepeninggal kakek itu, mereka berdua melanjutkan perjalanan. Namun, tak ada satu patah kata pun keluar dari bibir keduanya. Ini sangat langka. Mengingat setiap mereka bertemu pasti hanya ada canda tawa yang menghiasi. Tapi kini?

Donghae mengantar Ri Ra sampai di depan dormnya. Kemudian pria itu langsung pamit pergi.

Ri Ra masuk dengan cepat. Tangannya memegang dadanya yang masih saja berdetak tak karuan. Gadis itu lalu berlari menuju kulkas dan mengambil sebotol air. Dengan cepat, dia meneguk habis botol itu.

“Mengerikan” komenar seseorang saat melihat Ri Ra minum dengan terburu buru. Bahkan sampai menetes di bajunya.

“Eoh eonnie?” sapanya saat melihat Sung Rin berdiri di depannya sambil bersedekap di depan dada

“Kau sudah pulang?” tanya Ri Ra

“Ne” jawab Sung Rin singkat. Gadis itu lalu mengambil sebotol air mineral dan berjalan melewati Ri Ra. Lalu langsung kembali ke kamarnya tanpa ada satu patah katapun keluar dari bibirnya.

“mengerikan? Apanya yang mengerikan ya? Oh! Hantu!! Pasti Hantu” kata Ri Ra. Gadis itu mengoceh sendiri sepeninggal Sung Rin. dan dia mengingat apa yang sempat dilontarkan eonnie nya itu tadi

“Eonnie! Jangan menonton film horror jika kau takut hantu!!” pekik Ri Ra kemudian. Sung Rin yang baru sampai dikamarnya dan mendengar teriakan Ri Ra hanya menghela nafasnya.

“ya ampuuun. Anak itu” katanya lalu berjalan menuju ranjangnya dan kembali tidur.

Ri Ra menyudahi acara minum meminumnya (?) gadis itu lantas beranjak menuju kamarnya. Tapi dia tidak melihat Hee Chan dikamar itu. Bahkan saat dirinya masuk, kamar itu masih dalam keadaan gelap.

“Hee Chan~ah Kau dimana?” katanya sambil mecari cari Hee Chan. Gadis itu juga menyempatkan dirinya mengintip ke bawah ranjang untuk memastikan apakah ada Hee Chan disana atau tidak -_-

“dia pasti belum pulang” katanya setelah memastikan dikamar itu benar benar tak ada orang kecuali dirinya.

Ri Ra memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Badannya terasa sangat pegal seharian ini. terlebih hari ini, dia mendapatkan kejutan dari banyak orang yang menghujaninya dengan telur. Dan gadis berfikir positif. ‘mungkin mereka ingin melihatku mandi telur’ itu yang dipikirkannya -_-

Ri Ra keluar dari kamar mandi dengan baju mandi berwarna pink kesayangannya. Tak lupa gadis itu membawa handuk yang berwarna senada untuk mengeringkan rambutnya. Secara bersamaan, Hee Chan masuk dan membuat Ri Ra sedikit terkejut

“Oh! Kamchagi!(kau mengagetkanku)” pekik Ri Ra sambil mengusap usap pelan dadanya

“hehe mian eonnie” jawab Hee Chan santai lalu gadis itu langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya juga.

Kini kedua gadis itu tengah duduk bersandar di ranjang mereka masing masing dengan keadaan yang sama sama sudah bersih dan wangi. Keduanya hanya terdiam, dan suara dentuman jam yang berganti tiap detik adalah satu satunya yang mendominasi. Sibuk dalam pikiran masing masin, itulah yang sedang mereka lakukan.

“Hee Chan~ah” panggil Ri Ra. Suarannya terdengar sangat lembut membuat Hee Chan menoleh dengan cepat. Namun Ri Ra masih menatap lurus kedepan.

“Hmm?”

“besok, temani aku ke Rumah Sakit”

“untuk?”

“memeriksa keadaanku” Hee Chan mengerutkn keningnya pertanda gadis itu bingung. ‘Memangnya dia sakit apa?’ Batin Hee Chan

“kau sakit eonnie?” kini nada suara Hee Chan etrdengar khawatir

“Iya”

“sakit apa?”

“dugaanku.. ini masih dugaanku ya. Sepertinya aku terkena..serangan jantung” lirih Ri Ra

“Ne?! se-serangan jantung? Bagaimana bisa?”

“Tadi saat aku sedang bersama dengan Donghae oppa, jantungku berdetak tak karuan”

“Mwo? Apa maksudmu eonnie? Aku tak mengerti. Jadi Donghae oppa yang membuat mu terkena serangan jantung?” tanya Hee Chan penasaran yang lalu dibalas anggukan lemah dari Ri Ra

“aissh.. eonnie. Ceritakan dengan benar. Aku bingung” kesal Hee Chan

“Jadi begini, tadi saat kami jalan berdua tiba tiba saja ada bus yang lewat dan tidak sengaja bus itu melewati kubangan air yang tepat berada disampingku. Lalu Donghae oppa dengan sigap langsung memutar tubuhku dan membalikkan posisi kami. Dia melindunguki agar air cipratan dari kubangan itu tidak mengenaiku” Hee Chan masih terus mendengarkan Ri Ra berbicara.

“saat  itu, aku sangat terkejut. Tapi tiba tiba semua syaraf ku terasa terhenti untuk sejenak saat matanya menatapku dengan jarak yang samat sangat dekat. Saat aku memperhatikan wajahnya dengan seksama kinerja jantungku makin bertambah parah. Ditambah lagi saat tangannya mengelus pipiku dan juga… bibirku. Aku takut saat itu, takut jantungku akan copot jika terus berdetak tak karuan begitu”

“Disini.. disini rasanya” Ri Ra memegang dadanya. Dia bahkan membayangkan bagaimana tadi detik detik kejadian itu terjadi

“Dan anehnya, aku… menyukai itu” lanjutnya.

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!” Ri Ra buru buru menoleh ke arah Hee Chan saat dia mendengar suara tawa menggelegar dari sampingnya. Dan yah.. dia menemuka Hee Chan sedang tertawa terpingkal pingkal. Gadis itu bahkan memegengai perutnya dan memegang boeka pororo nya.

“YA!! Eonnie mu sedang sakit kenapa malah tertawa?!” kesal Ri Ra

“HAHAHAHAHA!!” Hee Chan masih terus tertawa. Gadis itu berguling guling diatas kasur karena tak kuat dengan ‘cerita lucu’ yang dilontarkan Ri Ra barusan.

“YAAAAAA!!!”

“HAHAHA !! Mian.. Mian eonnie HAHA!!”

Ri Ra mengerucutkan bibirnya sebal. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada dan merasa sedikit jengkel

“Eonnie~” panggil Hee Chan yang sudah susah payah menghilangkan rasa menggelitik di perutnya. Namun percuma saja karena dia masih tertawa walau tidak separah tadi

“Ya.. eonnie. Jangan marah , hmm?” kini Hee Chan turun dari ranjangnya dan menghampiri Ri Ra

“Eonnie~” panggilnya lagi. Namun sama sekali tak digubris Ri Ra

“Mianheee.. eonnie mianheeeee” rengek Hee Chan pada Ri Ra

Ri Ra menoleh ke arah Hee Chan yang sudah memasang puppy eyes nya. Membuat Ri Ra luluh dan akhirnya mengangguk.

“Arraseo~ aku tidak marah lagi” kata Ri Ra akhirnya. Senyum lebar langsung terlihart di wajah Hee Chan.

“Eonnie, kita tidak usah ke rumah sakit ya”

“Wae? Kau tidak mau menemaniku?”

“bukan.. bukan itu”

“lalu”

“untuk apa ke rumah sakit coba?”

“aku kan sudah bilang tadi”

“tidak. Tidak perlu. Kita tidak perlu kesana!”

“ya! Wae iraeeee??”

“kau itu tidak sakit eonnie”

“mwo? Kau tahu dari mana?”

“sudah. Percaya kata kataku. Kau itu tidak sakit”

“Jeongmal? Jika tidak sakit lalu aku kenapa?”

“nanti juga kau akan tahu”

Setelah mengatakan itu, Hee Chan langsung beranjak kembali ke ranjangnya. Menarik selimut menutupi tubuhnya hingga sebatas dagu dan mulai memejamkan mata.

“Ya! Park Hee Chan!” kesal Ri Ra karena Hee Chan menimbulkan banyak pertanyaan diotakny. Namun terlambat, Hee Chan sudah masuk dalam dunia mimpinya. Percaya atau tidak, gadis itu bisa langsung tertidur pulas dengan kurun waktu yang sangat singkat. Dan anehnya, dia yang selalu bangun terakhir.

“Yaissh!” serunya lalu dengan cepat masuk kedalam selimut dan menyusul Hee Chan kedalam alam mimpi.

-o0o-

“Oppa!!”

“oh wasseo? Kajja”

Ri Ra melangkah masuk dengan riang ke dalam dorm Super Junior ini. terlihat sangat sepi karena semua membernya memiliki jadwal masing masing. Kecuali Ryeowook yang memang sedang libur dan pria manis itu mengundang Ri Ra yang juga sedang tidak ada jadwal untuk mencoba resep barunya.

“cicipi ini” kata Ryeowook sambil menyodorkan sepiring makanan yang Ri Ra yakin baru pertama kali melihatnya

“walaupun bentuknya aneh, tapi rasanya enak. Ayo cicipi” seru Ryeowook lagi karena Ri Ra tak kunjung mencicipi masakan barunya itu dan hanya menatapnya dengan ragu.

“Ok” Ri Ra mulai mengambil beberapa potong masakan itu dan dengan yakin memasukkannya ke dalam mulut. Perlahan, dia mengunyah nya dan mulai menerka nerka apa yang sedang diolah dalam mulutnya itu.

“Hmmmm! Masshittaaaa!!” seru Ri Ra bersemangat

“Jinjja?!”

“Ne oppa. Oppa.. ajarkan aku masak ini” manja Ri Ra pada Ryeowook

“Tentu saja! untuk itu kau kusuruh kemari. Kajja kajja!”

Ri Ra meletakkan tas tangannya di kursi tengah dan mulai memakai celemek yang disodorkan Ryeowook. Dengan cekatan mereka berdua mulai mengeluarkan semua bahan bahan yang akan dibutuhkan untuk memasak.

*

Donghae masuk dengan sesekali bersiul. Tangannya dengan santai memainkan kunci mobil yang baru saja dipakainya. Acara makan makan bersama beberapa teman SMA nya dulu baru selesai. Dan pria itu punya waktu sampai nanti malam sebelum tampil bersama yang lainnya di sebuah stasiun TV. Dan dia lebih memilih pulang untuk beristirahat.

Sebelah alisnya terangkat saat melihat sepasang high heels pink bertali yang ada di depan. ‘ada tamu? Siapa?’ batinnya.

Donghae membuka sepatunya dan berjalan masuk. Samar samar dia bisa mendengar suara perempuan dari arah dapur. Dan sepertinya, dia kenal betul dengan pemilik suara ini.

“Ya ! oppa. Hentikan !”

“mwo? Aku suka melihatmu belepotan begini. Haha “

“KIM RYEOWOOK!”

“HAHAHA! Kau terlihat aneh Ri Ra~ya”

Tangan Donghae mengepal. Mulutnya mengatup rapat dan rahangya mengeras. Pemandangan di depannya kini sungguh membuatnya merasa marah. ‘Apa ini? Kim Ryeowook? Beraninya kau dengan hyungmu!’ kesalnya dalam hati

“ehem..” Donghae berdehem. Tapi sepertinya kedua sejoli yang masih sibuk mengoles adonan ke wajah mereka masing masing itu tak mendengarnya. Membuat Donghae merasa semakin kesal.

“Ehemm ehemm!!” ulang Donghae. Kali ini sedikit lebih keras dan membuat Ryeowook dan Ri Ra berhenti dan menatapnya

“Oh hyung ! wasseo?” sapa Ryeowook lalu berjalan mendekati Donghae.

“Wook~ah. Prince manager mancarimu. Cepat temui dia. Dia sedang ada di kantor pusat” kata Donghae pada Ryeowook dengan sedikit dingin. Namun pria yang lebih pendek darinya itu tidak menangkap nada dingin yang dilontarkan Donghae barusan.

“Mwo? Jeongmal? Kenapa tiba tiba? Dan kenapa tidak langsung menghubungiku?”

“nado molla. Sudah cepat sana. Dia menunggumu” kata Donghae sambil sedikit mengusir agar Ryeowook benar benar pergi. Bohong? Tentu saja! kapan Donghae bertemu dengan manager mereka itu.  Bukannya dia baru kembali dari bertemu dengan teman teman SMA nya? Ini hanya scrnario yang dirancang Donghae untuk meninggalkannya berdua dengan Ri Ra

“Ne ne ne. bilang pada Ri Ra aku pergi dulu” kata Ryewook sambil memakai sepatu senakers putihnya

“Ne. sudah sana cepat”

“Annyeong!”

Donghae menghela nafas lega saat memastikan Ryeowook benar benar sudah pergi. Pria itu lantas membenarkan tatanan rambutnya sebentar sebelum dia beranjak pergi menuju dapur.

“Oh oppa” sapa Ri Ra dengan senyumnya saat melihat Donghae memasuki area dapur

“kau sedang buat apa?” tanya Donghae. Pria itu kini mendekati Ri Ra. Berdiri disamping Ri Ra yang sedang mmemotong motong apel menjadi dadu.

“Ryeowook oppa kemana?”

Donghae berdecak. Bukannya menjawab gadis itu malah bertanya balik.

“dia pergi menemui prince manager. Kau sedang buat apa?” donghae mencoba bertanya kembali

“kapan diakembali?” Donghae menghela nafasnya. Gadis itu bertanya lagi?

“aku juga tidak tahu. kau sedang buat apa Ri Ra~ya?” tanya Donghae lagi. Suaranya terdengar frustasi

“bagaimana ini? kalau dia tak cepat kembali aku tidak bisa melanjutkannya. Dia kan belum mengajariku bagaimana membuat adonannya terasa lembut dan crunchy secara bersamaan seperti tadi”

“Park Ri Ra” geram Donghae. Sungguh pria itu harus ekstra sabar menghadapi Ri Ra

“Hmm?” Ri Ra menoleh kesamping saat mendengar namanya dipanggil. Sedikit terkejut karena jarak yang dibuat Donghae sangat sangat dekat.

“Kau.. sedang buat apa hmm?” tanya Donghae dengan suara yang sangat pelan. Sambil perlahan wajahnya mendekat dan semakin mendekat.

“O-oppa” Ri Ra gelagapan. Gadis itu mundur sedikit demi sedikit

“Aku bertanya, kau sedang buat apa?” tanya Donghae lagi dan semakin mempersempit jarak diantara mereka. sementara Ri Ra, gadis itu mulai menyangka mempunyai serangan jantung lagi karena sekarang jantungnya mulai berulah seperti waktu itu

”A-aku sedang…” ‘BRUUUK’ sial! Tubuh Ri Ra terbentu kitchen set yang ada dibelakangnya dan menandakan gadis itu sudah tidak bisa lagi mundur.

“Sedang__” Donghae mencoba membantunya. Dan kini kening mereka sudah menempel. Donghae bahkan meletakkan tangannya melingkari pinggang Ri Ra

“A-aku sedang buat__” CHU~~

Kecupan manis mendarat di bibir plum Ri Ra. Membuat gadis itu terkejut dan refleks menjatuhkan pisau yang sedari tadi masih dipegannya. Ri Ra memejamkan matanya kuat kuat. Ri Ra menikmatinya? Tentu saja. Tapi Gadis itu juga tidak membalas ciuman Donghae yang kini memulai menuntunnya menjadi lebih dalam. Bukannya tidak mau, tapi tidak bisa! Dia tidak tahu bagaimana sekarang? dan apa yang harus dia lakukan?

Donghae memutar kepalanya ke kiri sedikit memberi celah untuk Ri Ra bernafas. Perlahan tapi pasti Ri Ra mulai mengikuti alur permainan Donghae. Mencoba melakukan apa yang Donghae lakukan padanya. Instingnya berkerja dengan baik saat ini.

Tangannya yang tadi masih di ambang ambang(?) dan tidak menemukan objek apapun untuk dipegangnya kini mulai berani merambat naik dan memeluk leher Donghae. Pria itu tersenyum di sela sela ciumannya. Merasakan Ri Ra yang memberi respon yang bagus.

Donghae melepaskan tautan bibirnya saat dirasa sudah cukup untuk permulaan. Ibu jarinya mengusap pelan bibir Ri Ra yang memerah karena ulahnya.

Cake” tiba tiba Ri Ra berseuara. Membuat Donghae menampilkan mimik wajah kebingungannya

“Hmm?”

“Aku sedang membuat cake” lanjut Ri Ra

 Donghae tersenyum lebar. Inilah salah satu alasannya menyukai Ri Ra. Gadis yang polos dan selalu bersikap selayaknya dirinya sendiri. tidak pernah mencoba berubah menjadi orang lain.

“Arraseo, ingin kubantu?” tawar Donghae

“A-ani” Ri Ra menatap Donghae dengan ragu. Matanya bahkan berusaha menghindar dari tatapan maut seorang Lee Donghae.

“Lihat aku, sayang” kata Donghae sambil mengarahkan telunjuknya meraih dagu Ri Ra dan menuntutnya untuk menatap pria itu lebih lama

“Apa yang kau pikirkan sekarang?”

“Ne?”

“setelah kejadian tadi, apa yang kau simpulkan?” tanya Donghae. Matanya terlihat berbinar saat itu. Dia bahkan langsung menarik lagi pinggang Ri Ra dan menatap gadisnya itu dengan senyum dan sorot mata yang memancarkan kasih sayang

“M-mollayo” lirih Ri Ra

Tangan Donghae bergerak, menyisir helai demi helai rambut Ri Ra yang terurai.

“Aigoo.. gadis polosku ini belum mengerti juga rupanya” kata Donghae

“oppa.. a-apa kita pa-pacaran?” tanya Ri Ra tiba tiba, terdengar ragu tapi Donghae malah menyukai pertanyaan itu

“Baiklah jika itu yang kau mau”

“Andwe! Kau ini apa apaan?” seru Ri Ra sedikit kesal. Donghae menghela nafasnya dan kembali menatap Ri Ra dalam

“Dengarkan aku. Park Ri Ra, apa kau benar benar tidak menyadari perasaanku padamu hmm? Baiklah jika tidak akan aku ucapkan satu kalimat ajaib yang hanya akan aku ucapkan padamu. Jadi dengar baik baik karena aku tidak akan mengulanginya” kata Donghae membuat Ri Ra mengangguk

“Park Ri Ra . . saranghae..”

“…….”

“Aku mencintaimu”

Ri Ra berusaha sangat keras untuk mencerna apa yang dikatakan Donghae. Cukup lama gadis itu memperlihatkan tampang polosnya hingga membuat Donghae sedikit merasa kesal. Namun sebelumDonghae protes, Ri Ra menampakkan senyum tulusnya dan CHU~

Sebuah kecupan manis mampir di bibir Donghae. Membuat sang empunya sedikit shock. Sudah dua kali Ri Ra mencium nya duluan. Walaupun hanya satu detik dan terkesan biasa saja, tapi bagi Donghae ini luar biasa.

“Itu jawabanku, oppa” kata Ri Ra membuat Donghae tersenyum semakin lebar.

-o0o-

Yeon Hwa berjalan santai sambil membawa kantung belanjaan barang barang pribadinya yang dia beli di supermarket terdekat di daerah dorm mereka. gadis itu bersikeras dan yakin bahwa tidak akan terjadi apa apa padanya, walau semua eonnienya sudah melarang keras agar gadis itu tidak keluar malam malam. Yeon Hwa juga menolak secara halus saat Hee Chan menwarkan diri untuk mengantarnya.

Secarik kertas berukuran sedang yang terbang terbawa angin berhenti tepat di depannya. Membuat gadis itu membungkuk dan mengambilnya karena penasaran.

Yeon Hwa menyesal telah memungut kertas itu. Dia malah melihat poster dirinya yang telah rusak dan dicoret coret, juga terdapat banyak sekali kata kata cacian dan kata kata kotor yang semakin membuatnya jatuh.

Dia membuang kertas itu lalu berjalan kembali. Namun langkahnya menjadi semakin cepat tatkala gadis itu merasakan ada seseorang yang mengikutinya sejak tadi. Yeon Hwa merapatkan jaket kulit berwarna hitam yang dipakainya kini dan mulai berlari kecil.

Sesekali gadis itu melihat kebelakang dan melihat pria bertubuh tegap dengan jaket hitamnya terus berjalan dibelakang gadis itu. Yeon Hwa terus berlari kecil sambil berseru dalam hati ‘Tuhan, selamatkan aku ‘ doanya

Gadis itu telah memasuki halaman apratement dimana dormnya berada dan sedikit mendesah lega karena saat melihat kebelakang orang yang sedari tadi mengikutinya telah menghilang. Namun saat dia kembali menegok kearah depan, sebuah sapu tangan coklat menyambutnya. Yeon hwa berontak, namun tak lama dia pingsan karena pengaruh obat bius di dalam sapu tangan itu.

Pria itu lantas mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang

“Dia sudah ada ditanganku”

—–

Advertisements

8 thoughts on “[Special Post] The Way To Your Heart (Part 8)

Add yours

  1. pasangan paling absurd ya cuma ri ra ama donghae bisa ya mereka pacaran tapi lucu bikin gemessss

    nahh lho siapa tuh yang nyulik yeon hwa ya apa mungkin orang suruhan naeun atau fans fanatik naeun dan taemin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: